Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Desember 2015

REVIEW NOVEL AT THE PARK: Gelora remaja dan kasih sayang terhadap binatang jadi satu

Judul            : At The Park
Penulis         : Kristi Jo
Penerbit       : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah hal   : 288 halaman
Tahun terbit : 2015
 =========================


 Gelora remaja dan kasih sayang terhadap binatang jadi satu
Lama banget nggak baca novel Teenlit, kemarin mulai baca novel hadiah giveaway dari temen, @RizkyMirgawati. Sumpah, rasanya otak jadi cespleng. Suer, aku nggak lagi sok baik karena udah dikasih novelnya.

 Cerita di #AtThePark tuh begini:
Tiara sudah dua tahun menjadi pacar Raymond model keren, ganteng, dan berkelas. Tapi ketika dinner bersama Raymond, kenapa jantung Tiara tidak lagi berdebar kencang seperti dulu ya?
Debar itu justru Tiara rasakan ketika bertemu dengan Al di taman. Alfred Effendi, cowok sederhana, berkacamata, bertampang biasa, dan mempunyai passion yang sama dengan Tiara, yaitu penyayang binatang.
Tanpa terasa, kejadian demi kejadian di taman membuat dunia Tiara jungkir balik. Ia merasakan lagi yang namanya jatuh cinta. Tapi... saat Tiara menyatakan perasaannya pada Al, kenapa Al malah menolaknya?
Nah, mulai baca halaman awal memang agak (sedikit banget) bosen karena perkenalan tokoh yang pakai kata ‘aku’. Tapi masuk bab 2 ke belakang makin enak dibaca. Proporsi narasi sama dialog pas, jadi nggak bosen lagi. Upaya penulis ‘komunikatif’ ke pembaca lewat novel ini sungguh moncer.

Minggu, 25 Oktober 2015

REVIEW NOVEL PROMISES: Emosi naik turun itu manusiawi, kayak kisah novel ini


Judul                  : Promises
Penulis               : Kristi Jo
Penerbit             : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah hal.        : 232 halaman
Bingkisan dari @RizkyMirgawati dan @KristiJoe29 

********************************

Halo ... akhirnya kelar baca novel ini. Untuk kali pertama juga baca karya penulis. Sebenarnya hanya butuh waktu baca beberapa jam aja, kok, tapi karena ada satu dan lain hal yang bikin tunda-tunda , akhirnya baru tuntas dua hari ini.

Di sini bakal ada review singkat aja karena menurutku terbilang nyaris nggak ada cacat di novel ini. 

Awalnya aku memang males sama tema persahabatan tapi duh ... yuk, langsung baca kesanku baca novel hadiah ini :)

********************************

Gilak, baca ini emosi dibikin guling-guling! Para tokohnya ekspresif semua (ya, iyalah namanya anak muda 20 th). 

Sabtu, 24 Oktober 2015

REVIEW NOVEL REWRITE: Kepergian dan kehadiran, keduanya melengkapi seperti adanya


Judul               : Re-Write
Penulis            : Emma Grace
Jumlah Hal.     : 256
Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit    : 2015
Bingkisan dari @fiksimetropop dan @emmagrac3
--------------------------

Novel ini semula hanya aku tahu dari layar komputer, dan setelah membaca blurb-nya, aku langsung ngeklik. Spontan aku berpikir, “Bisakah aku mendapatkan novel ini?”. Pucuk dicita ulam pun tiba. Walaupun kuis dan gratisan, aku bersyukur. Hadiah dari-Nya tuh datangnya nggak disangka-sangka. :D Setuju?

Well, yuk masuk review Re-Write setelah enam hari (sampai hari ini) ikut berpartisipasi dalam Baca Bareng Minjul (BBM_ReWrite) by @fiksimetropop. Simak, yuk!
------------------

“Ketika kau mencintai seseorang, terluka adalah syaratnya. Itu adalah harga yang harus dibayar. Kau akan terluka oleh dan karena orang yang kaukasihi.”—Beth.

Beth Samodro memiliki keluarga yang amat mencintainya, tak pelak membuat dia berani memberikan cinta kepada seorang Jared Tanudjaja. Sayang, berulang kali dikecewakan oleh cowok yang dia sukai sejak SMA itu, tak membuat Beth jera. Hal ini jelas membuat Derick Bhrasongko geram setengah mati. Tapi Rick—demikian panggilannya—tak bisa membenci gadis itu terlalu dalam. Perlahan namun pasti, rasa kagum dan cinta justru tumbuh di hatinya. Cinta yang bukan menye-menye, tapi cinta yang tumbuh karena rasa dekat terhadap sebuah cerita masa lalunya.

Ya, Rick memiliki masa lalu yang pahit, tentang keluarganya. Membuatnya tak ingin Beth mengalami hal yang sama. Pun Beth juga punya kisah manis sendiri bersama keluarga tercintanya. Manis sekaligus pilu. Pilu yang membuatnya harus bisa belajar merelakan, melepaskan, dan membuka pintu hatinya kembali.

Kisah dua insan yang saling menemukan meski berlandaskan luka dan amarah, membuat keduanya bisa saling menguatkan. Bukankah sudah seharusnya begitu? Beth dan Rick mengajakmu untuk menyelami dunia mereka lebih dalam di Re-Write.

Kamis, 05 Februari 2015

REVIEW NOVEL A WEEK LONG JOURNEY: Kue Yikes Rasa Nikmat!

Judul             : A Week Long Journey
Penulis          : Altami N. D
Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : 256 halaman
Harga             : Rp 50.000,-

Kue Yikes Rasa Nikmat!

Well, setelah membacanya selama dua hari, menurut saya novel ini tidak hancur. Tidak sepenuhnya tidak hancur, sih. Oke, saya bahas semampu saya. Dan, maafkan kalau caranya ‘semau gue’  sekali, hehehe.

Novel ini sebetulnya punya kisah yang sangat heart-warming. Saya sampai nangis baca, terutama untuk bagian yang mengisahkan tentang keluarga Lina Budiawan. Karakter setiap tokohnya cukup kuat. Ide dasar yang dibahas memang klasik, (upaya) peraihan mimpi yang terbentur realitas. Tapi, sub tema yang mendukung cerita, dalam cerita ini tentang peternakan sebagai background Lina Budiawan (tokoh utama), benar-benar memberikan wawasan baru. Cara bercerita penulis juga lugas. Plotnya juga mengalir.

Sabtu, 31 Januari 2015

REVIEW NOVEL SUAMI SEMPURNA UNTUK TATIANA: Novel Lokal Rasa Kebarat-baratan


Judul                   : Suami Sempurna untuk Tatiana
Penulis                : Astrid Zeng
Penerbit              : Gramedia
Tahun terbit        : 2011
Jumlah halaman : 340
Baiklah, akhirnya menemukan kembali novel Indonesia ‘rasa’ luar negeri. Bukan tidak suka, suka banget malah! Sampai-sampai terbawa suasana dan merasa ini novel luar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tapi langsung diingatkan kembali dengan adanya sayur asem dan iga bakar penyet plus lalapannya, juga ada Kota Malang dan Surabaya sebagai setting tempatnya. Namun demikian, di sisi lain saya juga sedikit menyayangkan karena novel ini agak keterlaluan ‘rasa’ luar negerinya (terutama soal cara bercerita atau penggunaan bahasa). Tapi bukan masalah, saya tidak sepenuhnya pro maupun kontra.

Jujur, baru pertama kali ini saya baca novel milik penulis. Ceritanya manis. Saya juga dibuat terkagum-kagum pada tokoh lelakinya, Michael (apalagi dia bule! blasteran, sih, hehehe) dan Phillips. Tipikal beta male dan alpha male yang oke banget! Saya jadi tidak sabar baca ‘Sleepaholic Jatuh Cinta’ edisi Phillips sebagai alpha male.

Rabu, 07 Januari 2015

REVIEW NOVEL FRIENDS DON'T KISS: Metropop informatif bin asyik

Judul                    : Friend Don’t Kiss
Penulis                 : Syafrina Siregar
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit        : 2014
Jumlah Halaman  : 208 halaman
Cara dapat           : pinjem dari author ‘A Week Long Journey’ Altami N.D

Lomba Menulis Resensi Fiksi Metropop
Metropop informatif bin asyik

Setelah beberapa bulan terakhir dapat iming-iming novel Mbak Syafrina ‘Nana’ Siregar yang baru keluar, akhirnya semalam dapat juga pinjeman buku ‘Friend Don’t Kiss’. Ditambah ‘kompor’ dari temen-temen yang bilang novel ini berkonten apik tapi tetap memiliki unsur romance yang menggemaskan, tambah gatal ingin segera baca!

Alhasil... yeah, satu setengah jam baca semalam—sampai pukul setengah 12 malam—lalu dilanjutkan tadi pagi satu jam, ini yang kukatakan untukmu Mbak Nana: You rock! \m/

Aku selalu suka novel yang memberikan wawasan baru. Dan Mbak Nana kembali membuktikan tanyaku sendiri ketika dulu membaca ‘Dengan Hati’ kaver lama miliknya. ‘Dengan Hati’ bicara tentang AIDS yang mempertemukan dua tokoh utamanya saling berseberangan prinsip. Dalam ‘Friend Don’t Kiss’ Mbak Nana mengulanginya kembali.

Minggu, 04 Januari 2015

REVIEW NOVEL CINTA 24 JAM: Rahasia yang (tak pernah) tersingkap

Judul buku              : Cinta 24 Jam
Penulis                    : Andrei Aksana
Penerbit                  : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit            : September 2005 (Cetakan kedua)
Jumlah Halaman     :184 halaman
Cara dapat              : beli dari koleksi @fiksimetropop

-----------------------
Rahasia yang (tak pernah) tersingkap

Giana terbiasa hidup dalam kemewahan, keglamoran, dan ingar-bingar popularitas dunia hiburan tanah air. Masa lalu menempanya menjadi wanita tangguh. Setangguh keyakinannya sendiri bahwa ... kalau tak ingin ditindas, ia harus menindas lebih dulu (hal. 133). Namun ketika semuanya telah diraih, ketangguhan itu tetap saja runtuh oleh mahakarya agung bernama cinta. Namun ketangguhannya tetap tersisa. Tak pernah jera untuk mencinta—walau berulang kali disakiti. Pun oleh cinta yang disangkanya cinta sejati untuk melabuhkan hati dan ragawi.

Pertama melihat kaver novel ini di daftar baca akun Goodreads Mas Ijul, saya langsung tertarik. Menantang! Ah, tapi sejujurnya pertama kali yang saya lihat itu penulisnya. Sudah lama saya stalking Facebook-nya (duh, ketahuan, deh! Sori, Bang Andrei :p). Pernah pula mengetahui novelnya ‘Janda-janda Kosmopolitan’ yang masih ada di surat kabar nasional. Tapi saya belum tergerak membaca karya beliau. Akan tetapi... yang membuat saya tertarik dengan penulis satu ini adalah garis keturunan di atasnya. Beliau cucu pujangga terkenal dan legendaris, Sanoesi Pane dan Armijn Pane. Hidup ini menakjubkan, bisa ‘bertemu’ dengan orang yang sering dipelajari di bangku sekolah. He-he.Yah, walaupun saya juga tidak hafal karya kakek-nenek Bang Andrei, sih.

Senin, 15 Desember 2014

Perjodohan... again and again



Judul                    : Learning to Love
Penulis                 : Eni Martini
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman    : 184 halaman
Harga                  : - (dapet kado kuis dari mbak @RizkyMirgawati ^_^)

Amore kedua yang justru bikin terjun bebas gairah baca tema perjodohan—kalau ceritanya lempeng kayak gini. Maaf harus jujur, ekspektasi saya terlalu tinggi di sini.
Padahal beberapa waktu terakhir dicekokin drama perjodohan yang melibatkan benci jadi cinta, rasanya girang bukan kepalang. Terus baca novel ini? Sempet hore banget, sih. Tapi...
Oke, poin plus novel ini, justru memelencengkan dugaan: perjodohan tapi tidak benci jadi cinta. Hubungan Ken dan Eliz justru baik-baik saja.
Sebaik-baik saja jalan cerita novel ini dari awal sampai akhir. Maksudnya, novel ini tuh flat, gregetnya nggak ada. Padahal menurut saya, hubungan Ken dan Eliz di setiap bagian novel ini, masih bisa dieksplorasi lebih jauh sehingga bikin emosi pembaca bergejolak. Iya, memang ada konflik utama, tapi andaikan cerita novel ini sebuah garis yang lurrruuuus saja mulanya, konflik itu hanya berupa lanjutan garis yang secuil menukik ke atas kemudian lempeng lagi.
Belum lagi yang cukup mengganggu adalah ketidaksesuaian informasi cerita atau apalah istilahnya. Contohnya:
1.     Nina (sahabat Eliz) dikatakan di bab awal, memiliki anak berusia 10 tahun. Ia menikah sejak usia 27 tahun (par. 10, hal.10). Tapi di bab belakang, Nina seumuran Eliz, 33 tahun (par. 2, hal. 130). Emmm, agak aneh, ya?
2.    Ken adalah anak sulung. Ia memiliki 2 adik perempuan yang telah menikah dan memiliki anak (par. 4, hal. 26). Tapi dikatakan Ken memiliki kakak-kakak yang telah menikah dan memiliki anak di bab belakang (par. 4, hal.109)?
Lantas gangguan lain adalah terkait EYD dan typo, antara lain:
1.     Penulisan ‘per-temuan’ (par. 5, hal. 42). Padahal itu di tengah paragraf, dan bukan di posisi yang harus dipenggal. Biasanya kalau kena batas layout kudu dipenggal bukan, ya? Bener nggak? Berlaku juga untuk kata ‘melun-cur’ (par. 1, hal. 44)
2.    Penulisan tanda baca titik (.) yang diketik ganda (par. teratas, hal. 47)
3.    Penulisan tanda petik dua penutup dialog (”) dibubuhkan bukan untuk menunjukkan dialog, melainkan paragraf narasi. Jelas itu narasi, sebab di awal tidak ada tanda petik dua pembuka dialog (“). (par. 3, hal. 47)
4.   Penulisan tanda baca koma (,) yang diketik ganda (par. 5, hal. 47)
5.    Yang ini typo atau sengaja, ya? à “Ini efek mahasiswi psikolog masuk ke distribusi kali, ya?” gerutunya.  Setahu saya, psikolog itu profesi, masa’ mahasiswa/ mahasiswi? Kalau psikologi, itu baru ilmunya. Dan sepertinya maksud dialog Eliz kepada Nina itu, mengacu ke maksud ilmunya, psikologi. Jadi, mahasiswi psikologi (par. 6, hal. 53)
6.   Typo ‘menujukkan’ (par. 5, hal. 91), harusnya menunjukkan
7.    Penggunaan kata depan (preposisi) ‘di’ dan ‘pada’ yang kurang tepat. Setahu saya, ‘di’ itu digunakan untuk menunjukkan tempat atau lokasi, sedangkan ‘pada’ untuk menunjukkan waktu. Di novel ini kurang tepat penggunaannya, seperti ‘di umur 27 tahun’ (par. 10, hal. 10) seharusnya ‘pada umur 27 tahun’ dan ‘di Senin sore’ (par. 7, hal. 43) seharusnya ‘pada Senin sore’. Betul, nggak?

Ya memang, nggak ada gading yang nggak retak. Masalah ketidaksesuaian informasi cerita, typo, atau problem EYD, saya juga payah, hehehe. Hanya sebatas tahu setelah membaca beberapa novel dari penerbit yang sama.
Overall, novel ini bisa terbangun secara utuh sebagai sebuah cerita. Tapi entah, rasanya kecewa karena:
1.        Melihat packaging-nya kok tipis (tapi masih berharap ceritanya cetar karena mengusung tema perjodohan)
2.      Setelah baca, ternyata tidak ada kejutan sama sekali. Oke, mungkin dari blurb hampir bisa ditebak atau dipastikan kedua tokoh berjodoh. Kalau sudah begini, apa yang mau diharapkan pembaca yang (mungkin sudah) bisa menduga ending-nya, kalau bukan ‘letupan-letupan’ yang menghiasi jalan cerita tokoh utama?

Saya gemes kenapa Ken dan Eliz nggak dikasih kesempatan beromantis ria? Kurang mengoyak emosi. Padahal sudah kebayang perjodohan yang akan dibumbui konflik-konflik cetar, dan ah... maaf, saya kasih bintang 2.5 saja. Kalau novel ini ditulis ulang (dieksplorasi lagi konflik-konfliknya yang bikin emosi jiwa), saya akan menaikkan jumlah bintangnya sampai 5. Serius! Tapi salut untuk penulis yang sudah mengemas cerita perjodohan antimainstream (bukan benci jadi cinta, tapi hubungan baik jadi cinta) ini, hehehe. ^_^
Terakhir, saya suka quote-nya Indra (teman baik Ken), nih:

“Bukannya dalam berumah tangga itu seperti menanam bibit dari pohon yang kita cintai, yang ktia inginkan untuk tumbuh, berbunga, dan berbuah? Jadi, kupikir menikah atau berumah tangga itu proses seumur hidup untuk terus mencintai.” (par. 5, hal. 150)



Selasa, 16 September 2014

Mr. and Mrs. Roarke yang (nggak terlalu) Bikin Mikir


Judul Buku              : Betrayal in Death (Terjemahan)
Penulis                     : J.D. Robb (Nora Roberts)
Penerbit                   : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit          : Mei 2011
Tebal                         : 504 halaman
Harga                        : - (pinjem dari temen ^.^ )

 


Mr. and Mrs. Roarke yang (nggak terlalu) Bikin Mikir


Jujur baru pertama kali baca novel misteri. Awalnya nggak tertarik pas temen-temen bilang J.D. Robb a.k.a Nora Roberts bagus. Novel yang pakai nama aslinya saja saya belum pernah baca. Eh, tapi karena lagi butuh asupan otak yang bikin mikir, disodorin temen novel ini yang masih dalam kondisi berplastik (dia sendiri belum baca) okelah saya pinjem bawa pulang ke rumah.
Baca halaman pertama kok agak males. Soalnya opening-nya langsung kasus pembunuhan. Karena pengen beneran baca yang bikin mikir akhirnya saya lanjutin.
Dan... suka!
Saya suka sentuhan romansanya, sih. Suka banget sama pola hubungan suami-istri Roarke dan Eve. Si Miliuner dan Si Polisi. Yang laki mempesona-kaya-luwes-menggoda sedangkan yang cewek ketus-prinsipil, saling melengkapi, deh. Dan ternyata saya baca #12, lompat banget, yah. Hehehe. Jadi pengen tahu sebelum mereka ijabsah pasti seru banget bertengkar tapi romantis. Xixixi.
Tapi yang bikin gemes lagi di sini selain Roarke dan Eve adalah Pea(sea)body dan McNab. Setali tiga uang sama Roarke dan Eve, benci tapi demen. Iuew... Tapi suka banget yang beginian. :p
Sejauh baca sih, untuk sisi misteri pembunuhannya ya... saya bilang oke. Nggak pinter banget soal misteri sih saya. Tapi selama ini kalau lihat film sejenis ini bisa menikmati kok walau tetep yang dicari sentuhan romansanya. Apa sih yang nggak bikin saya terkesan kalau ada romansanya? Xixixi.
Tapi memang agak kurang greget karena tersangka pembunuhan sudah ketahuan sejak awal. Soalnya Si Pembunuh sudah punya track record busuk dan kriminal banget. Terus yang terlibat juga sudah dikasih clue sejak awal. Jadi, sudah cukup ketebak. Saya kira bakal ada gebrakan di belakang yang bikin nganga. Tapi okelah, saya juga belum tentu bisa bikin cerita beginian. Cukup menikmati saja. Hehehe.
Saya nggak nyangka kalau novel ini setting waktunya 2050-an. Pantes semuanya serba canggih. Belum lagi pencarian data sampai nyangkut luar planet segala. Ya, ampun... muaju banget nih penulis. Berasa tahun ini adalah tahun kakek-nenek. Ya, memang betul, kalau saya bisa hidup sampai tahun itu saya sudah jadi nenek-nenek. Hahaha.
Setiap kali baca novel terjemahan, saya sering kagum sama pembahasaannya. Terkesan apa ya... anggun? Nggak seperti novel ‘gaul’ Indonesia. Pokoknya apik. Tapi terkadang juga bikin bingung, sih. So far saya tetep bisa menikmati. Kecuali yang agak (sedikit) mengganggu di novel ini tuh typo-typonya yang sesekali muncul dan itu (hampir) ada dari awal sampai akhir. Nggak banyak tapi kok yang ‘rata’. Misal salah tulis terlalu jadi terlalalu, McNab jadi McNag (lupa di halaman berapa), dan lain-lain.
Yah, walaupun nggak cukup sukses bikin saya mikir dan menganga banget, novel ini punya 4,5 bintang dari saya. Eve bikin saya takjub bisa naklukin taipan macem Roarke yang punya masa lalu nggak begitu bagus juga. Keren! Pengen baca yang lainnya. Katanya sampai seri 40-an, ya? Wow! ^.^


RAMSES II BIKIN OTAK DAN HATI JUNGKIR BALIK


Judul Buku              : The Mummy/ Ramses The Damned (Terjemahan)
Penulis                     : Anne Rice
Penerbit                   : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit          : Desember 2000 (Cetakan Kedua)
Tebal                         : 608 halaman
Harga                        : - (pinjem dari temen ^.^ )

 


RAMSES II BIKIN OTAK DAN HATI JUNGKIR BALIK


Takjub!
Jujur baru baca novel yang memadukan sejarah-supernatural-romans. Dan langsung suka!
Nggak ngerti sama penulis-penulis yang mengkhayalnya sesuatu tingkat tinggi begini. Geleng-geleng kepala. Mereka jenius!
Soal Ramses II, Cleopatra, mumi, dan tetek bengeknya memang ada (walau nggak pernah ke Mesir juga dan tahu wujud mumi mereka). Tapi ‘ramuan’ Anne Rice menulis novel ini bikin bertanya-tanya ‘benerankah ini?’, ‘apa memang Ramses II berkodrat abadi?’, ‘apa Cleopatra beneran jatuh cinta sama Ramses II?’ Ya ampun, penulis ini bikin otak jungkir balik! Dia bikin tulisan fiksi, yang kemungkinan hasil imajinasi lalu ditambahin ke sejarah sebenernya, dengan begitu ciamik. Mungkin perasaan takjub semacam inilah yang bikin fans novel fantasi Harry Potter tergila-gila banget sama tulisan J.K Rowling. Kalau sudah suka, terpikat, bisa menikmati cerita ini sampai terlena. Sori, lebai, hehehe.
Yang bikin saya betah baca novel ini adalah sisi sejarahnya. Saya suka sejarah dan kepengen tahu masa lalu. Ah, andai memang ada mesin waktu untuk mengetahui fakta sebenarnya di masa lalu. Di samping itu, sentuhan romansanya. Terus saya juga paling demen sama tokoh lelaki yang terlihat tampan-berwibawa-penuh kasih-pengayom-dominan. Gila, kalau Ramses II seganteng itu, apa kabar Nabi Yusuf? *istighfar banyak2*.
Dilhat dari sisi magis, novel ini tidak terlalu membuat bulu kuduk merinding. Karena toh Ramses II di sini – walaupun sebagai pribadi dengan kodrat hidup abadi – hidup kembali sebagai lelaki biasa, tidak punya kekuatan supernatural apa pun, bisa mewek pula. Begitu pula Cleopatra. Cara mereka bangkitlah yang sedikit di luar akal kita-kita ini. Tapi, bisa dicerna dengan sentuhan ilmu kimia zaman modern bahwa sebuah ramuan kimiawi akan memberikan efek pada sel-sel organisme.
Kalau bicara sisi mengerikannya sih jelas, pas bagian Si Ratu Mesir sukses membunuh beberapa korbannya dengan ‘enteng’.
Novel ini bertahun 1989 (saya belum lahir :p), diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2000 (cetakan ke-2), sangat mudah dicerna. Yang berbelit-belit dan membuat bingung justru deskripsi ceritanya sendiri yang detail sehingga terkesan panjang sampai saya skip. Maklum, nggak sabaran juga. Xoxoxo.
Lalu, ada yang bikin sedikit bertanya-tanya sebenarnya: kenapa Ramses Terkutuk (Ramses II) membangunkan Cleopatra lagi? Hanya ingin uji coba ramuan yang telah lama dia simpan atau yang lain? Tapi, mungkin itulah sisi yang bikin pembaca gemes. Belum lagi si tokoh Julie (yang ditaksir sama Ramses II) ini kok berasa tersihir sama kegantengannya Ramses, jatuh cinta setelah – katakanlah – sekali/ dua kali berinteraksi. Dan sempet mikir, wajahnya Ramses itu ganteng-ganteng Arabic apa Eropa? Soalnya bermata biru, apa memang orang ke-Arab-an ada yang matanya biru? Tapi seru sih, bisa bayangin kegantengannya yang unik itu. Hehehe. Duh, daripada saya spoiler mulu, coba deh baca sendiri, pasti sensasional banget rasanya! ^.^
Penulis membuat ending menggantung yang bikin kesel (jujur, sebel kenapa harus digantung, sih? Hehehe). Ramuan Ramses II diminum oleh orang-orang yang dipilihnya. Apakah akan memberikan efek yang sama mengerikannya seperti yang terjadi pada Cleopatra? Duh, ada sekuelnya nggak sih ini novel? :p Jujur saya baru ‘kenal’ Anne Rice sekarang dan setelah searching ternyata beliau sukanya menulis hal-hal berbau gotic, supernatural, dan tentu saja berbaur dengan romansa.
Novel ini juga memberikan sentuhan psikologi tentang orientasi seksual sesama jenis dan tentang fenomena electra complex, lho. Ternyata fenomena semacam itu sudah ada sejak zaman itu (1914 kalau nggak salah setting waktu novel ini), sementara zaman tersebut mungkin hal-hal semacam itu (penyimpangan orientasi seksual) merupakan hal tabu.
Pokoknya saya suka novel ini. Siapa pula yang nggak meleleh membayangkan lelaki yang gantengnya luar biasa-bermata biru tajem-gagah-berkarisma? :p
Selain itu, gara-gara baca novel jadul ini saya sering menemukan istilah ‘mendoyongkan’ tubuh/ diri (dalam terjemahan). Saya malah sering nemu istilah ‘mencondongkan’ tubuh/diri di novel-novel zaman-zaman ini. Hehehe. Atau masih ada yang pakai kata ‘doyong’? Kok saya jadi inget lagu dangdut ‘waru doyong’ :D. Istilah lainnya lagi yang ‘baru’ yaitu ‘menghela’, di novel ini pemakaiannya bukan hanya untuk ‘menghela napas’ tapi juga ‘menghela tubuh’. Nambah kosa kata dan pemakaiannya yang baru lagiii... asyik! (Berasa jadi Cleopatra di sini yang selalu bilang ‘asyik’ setiap nemu sesuatu yang baru di zaman modern :p)
Pokoknya, novel ini seru! Bintang 5 buat novel ini. :p