Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 September 2015

GEDEBUK

sumber
Jaranan, jaranan, jarané jaran Tèji ... Sing numpak Mas Ngabèhi, sing ngiring para abdi ... Jrèk jrèk nong, Jrèk jrèk gung, Jrèk è jrèk turut lurung ... Gedebuk krincing (2x) ... Thok thok ... Gedebuk jedhèr


Angguk-angguk. Geleng-geleng. Tak sadar kepalaku bergerak kecil mengikuti alunan lagu jaranan ini. Tentu sajalah, sudah tiga belas tahun aku tak menonton kesenian tari jaranan—disebut juga kuda lumping! Tidak peduli matahari sedang terik menebar panasnya, toh, di atasku ada juluran ranting-ranting kokoh beringin tua kompleks punden desaku ini. Pun aku dan ratusan penonton kesenian ini, tidak merasakan sedikit saja aura mistis. Padahal asal kalian tahu, di sebelah utara persis punden, ada permakaman leluhur pembabat alas desa kami. Dan alasan kami semua berkumpul di sini, menonton pertunjukan jaranan dalam rangka memperingati acara tahunan bersih desa pada bulan Suro1 begini.
Tapi ... satu saja yang membuatku (cukup) sumpek.
“Kamu yakin kesenian ini asli dari Kediri?” tanya si Raksasa Botak—badannya menjulang mencolok di antara seluruh penonton yang hadir, ditambah kepala plontos kinclong—setengah berteriak. Bicaranya cukup lancar tapi masih berlogat daerah asalnya.

Jumat, 31 Oktober 2014

HE KNOWS ME SO WELL [Diikutkan dalam lomba cerpen FANGIRL Penerbit Spring]



HE KNOWS ME SO WELL



Ada cowok di dalam kamarnya.
Cath mendongak untuk melihat nomor yang tertulis di pintu, lalu menunduk ke surat penempatan kamar di tangannya.
Pound Hall, 913.
Sudah pasti ini kamar 913, tapi mungkin bukan Pound Hall—semua asrama di sini terlihat sama, seperti bangunan perumahan untuk kaum jompo. Mungkin Cath sebaiknya mencoba menahan ayahnya sebelum ayahnya itu membawa sisa kardusnya ke atas.
“Kau pasti Cather,” kata cowok itu, tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.
“Cath,” kata Cath, merasakan sentakan rasa gugup di perutnya. Ia mengabaikan tangan cowok itu. (Lagian, ia memegang kardus, apa yang diharapkan cowok itu darinya?)
Ada yang salah—pasti ada yang salah. Cath tahu kalau Pound itu asrama campuran…. Apa memang ada kamar campuran?
Cowok itu mengambil kardus dari tangan Cath dan meletakkannya di atas tempat tidur yang kosong. Tempat tidur di sisi lain ruangan sudah dipenuhi dengan pakaian dan kardus.
“Apa barangmu masih ada yang di bawah?” tanya cowok itu. “Kami baru saja selesai. Kurasa kami akan pergi makan burger sekarang; kau mau burger? Apa kau sudah pernah ke Pear’s? Burgernya seukuran kepalanmu.” Cowok itu mengangkat lengan Cath. Cath menelan ludah. “Kepalkan tanganmu,” kata cowok itu.
Cath melakukannya.
“Lebih besar dari kepalanmu,” kata cowok itu, melepaskan tangan Cath dan mengangkat tas punggung yang Cath letakkan di luar pintu. “Apa kardusmu masih ada lagi? Pasti masih ada lagi. Apa kau lapar?” Lalu ia mengulurkan tangannya. “Ngomong-ngomong, namaku Levi.”
Cath membalas jabatan itu sesaat. Kendati cukup risih menghadapi cowok yang terkesan banyak bicara ini, namun Cath memberikan penilaian positif lainnya, friendly. Itulah yang dibutuhkan Cath pada tahun pertamanya di Pound Hall. Mengingat dirinya bukan tipikal cewek yang mudah bergaul.
“Terima kasih.” Cath akhirnya memang harus mengucapkannya walau sebetulnya ia tidak menginginkan pertolongan Levi.
Sejurus itu Cath pamit kembali ke bawah menyusul ayahnya yang membawa barang-barangnya yang lain.
“Izinkan aku membantumu, ya? Barang-barang cewek pasti banyak,” tukas Levi sambil menyengir.
“Kau mengejekku?”
“Tidak. Tapi ya, setidaknya itu yang dilakukan sepupuku, Adele, yang sekamar denganmu. Tempat tidur di sisi lain tadi tempat Adele. Dia membawa barang bawaan dua kali lipat lebih banyak dariku. Hahaha.” Levi tertawa sambil mengimbangi langkah gadis ber-hoodie jacket pink itu menuruni anak tangga.
Lantas Levi melanjutkan tanpa diminta. “Tapi dia sudah pergi terlebih dahulu ke Pear’s bersama yang lain. Kita akan mengadakan semacam welcome party kecil-kecilan. Itu mengasyikkan! Pastikan kita cepat-cepat sampai di sana.”
Cath berhenti di tengah-tengah anak tangga. Tubuhnya segera menghadap cowok yang mengenakan sweater motif tribal warna gelap itu, kontras dengan kulitnya yang putih pucat.
“Aku belum menyetujui idemu untuk makan burger bersama. Dan kau tidak perlu repot-repot membantuku karena ayahku—” Belum selesai Cath bicara, ayahnya sudah ada di ujung bawah tangga, terlihat kesusahan membawa dua kardus besar Cath lainnya. Dan meminta Cath untuk membantunya segera.
“Oh, Paman, biar kubantu,” sahut Levi secepat kilat menghampiri ayah Cath.
Cath melongo melihat tingkah cowok satu ini. Sok kenal. Kejengkelan menyelusup ke dalam dada Cath. Tidak peduli Levi berwajah tampan.
**
Cath tidak bisa menolak bujukan Levi. Belum lagi ayahnya tadi mendesaknya untuk mengikuti ide Levi. Padahal, semula Cath berencana istirahat di dalam kamar, mengumpulkan energi untuk acara resmi welcome party dari pihak Pound Hall yang berlangsung besok pagi. Lagi pula ini sudah sore. Selain itu ia juga hendak merapikan ide-ide yang ia tulis asal di buku catatannya selama tiga jam perjalanan dari rumahnya menuju Pound Hall. Tulisan fanfiksinya tentang Simon Snow—idolanya—masih perlu tambahan poin di sana-sini. Ia sungguh ingin novel fanfiksinya tertulis sempurna. Namun ternyata, cacing-cacing di perutnya juga tidak mau berkompromi dengannya. Alih-alih memihak Levi.
Sesampainya di Pear’s, Levi memperkenalkan Adele dan dua kawan cowok—yang juga baru dikenalnya tadi—kepada Cath. Cath menyambutnya dengan ramah.
Selesai itu Levi menarikkan sebuah kursi untuk diduduki Cath. Beberapa menit berikutnya memesankan burger untuk Cath.
“Untukmu, tanpa bawang bombay.”
Mata Cath mengerjap-ngerjap. “Bagaimana kau tahu aku tidak suka bawang bombay?”
Levi tersenyum manis. “Kau menulisnya di website resmi Simon Snow. Kau penggemar beratnya, bukan? Aku juga.
“Kau...” Cath ragu untuk menyebutkan. Namun dari beberapa gelintir fans cowok dari idolanya, hanya satu yang mengenalnya dengan pasti. Keduanya sering menimpali kolom komentar di website Simon Snow.
“Leonard Villarreal,” timpal Levi dengan kerjapan sebelah mata, genit.
Mulut Cath membulat lebar. Namun ia berusaha untuk mengatasi keterkejutannya. “Jadi, kau suka menyingkat namamu?”
Levi mengangkat kedua bahunya. “Begitulah. Lalu, sudah sampai mana draft novel fanfiksimu, Nona?”
Wajah Cath bersemu semerah tomat. Tak menyangka bisa berjumpa wujud asli cowok yang selama ini membuatnya bersemangat menulis fanfiksi. Ah, hidup ini memang ajaib!
**

Dari penulis best-seller Eleanor and Park
Penulis: Rainbow Rowell
Terbit: November 2014

words: 745 (judul dan cerita)

Jumat, 20 Juni 2014

JANTUNG HATI

JANTUNG HATI

MASUK Fakultas Psikologi memang keinginanku sejak duduk di bangku SMA. Bukan tanpa alasan. Aku ingin survive dengan kondisi keluargaku yang amburadul. Aku memang bukan anak yang tumbuh menjadi pribadi nakal, alih-alih sangat introvert dan pesimis.
Berhasil menjadi Sarjana Psikologi ternyata tidak berjalan seperti yang aku harapkan. Ekspektasiku terlalu tinggi. Empat tahun dapat mengubah watakku yang kacau selama belasan tahun? Mimpi!
Inilah diriku, kurangkum dalam tipe koleris-melankolis. Sangat ambisius, tidak mau dikalahkan, selalu berpikir negatif dan bisa sangat pemurung. Komplet.
Permasalahanku kompleks, dari urusan keluarga, karir sampai jodoh. Keluargaku utuh namun esensinya tidak. Selalu saja ada pertengkaran akibat perselingkuhan Ayah. Karir mapan tidak bisa segera kuraih bahkan sekarang diriku mandek setelah sempat bekerja selama delapan bulan di sebuah biro konsultasi psikologi ternama di Surabaya. Tidak betah. Tekanan terlalu berat. Sementara aku bisa mimisan kalau terlalu memforsir tenaga. Mulanya aku memang nekat karena tergiur nominal gaji tapi karena aku jadi sering mimisan, Ibu memintaku berhenti saja. Lalu, jodoh? Jangan bicara soal lelaki denganku. Selama 23 tahun hidup, aku hanya bisa memandangi orang yang kusayangi tanpa bisa berkata padanya. Aku sering jatuh cinta tapi sebanyak itu pula aku patah hati karena kisah cinta bertepuk sebelah tangan. Lelaki lain pun tidak ada yang mendekatiku dan berupaya memacariku. Menyedihkan.
Tapi itu kondisi dua tahun lalu. Kini soal lelaki memang berubah tapi tidak untuk kondisi keluargaku yang masih begitu-begitu saja dan karirku hanya sebagai editor lepas sebuah penerbit di Jakarta, modal hasil jadi editor majalah kampus dulu.
Memang tidak ada lelaki yang mendekatiku untuk pacaran apalagi menikah seperti yang dialami teman-temanku kebanyakan. Tapi ada yang serius terhadapku. Serius making love. Yah, melototlah kalau kau mau.
Kami berkenalan ketika menjadi member sebuah situs kencan. Aku sign in ke sana karena memang ingin mendapatkan pacar. Aku yang polos mulanya takut dengan lelaki yang otaknya di selangkangan. Tapi sejak bertemu dengan satu lelaki yang... well, membuatku nyaman, aku rasa aku sudah menemukan yang tepat. Kebetulan dia juga tinggal di Surabaya.
Hardi, accounting manager bank swasta nan rupawan berusia 32 tahun, membuatku bisa melupakan semua permasalahanku. Bahkan aktivitas intim kami di ranjang menjadi ‘obat’ dosis tepat menyembuhkan sakit kepalaku dan mencegah darah keluar dari hidungku. Itu candu bagiku.
Pagi ini, aku membuatkan secangkir teh hangat untuknya. Ia sendiri sedang merapikan diri usai mandi dengan rambut yang masih acak-acakan setelah keramas. Aroma tubuhnya segar sabun milikku yang selalu kubawa saat menemuinya untuk menghabiskan malam bersama.
“Aku ingin bicara, Nggun. Bisa kita duduk sebentar?” pintanya.
Kami duduk berdua di sofa setelah aku meletakkan teh di meja. Kami saling berdekatan. Mata kami bertukar pandangan, sungguh hangat untuk memulai pagi ini.
“Bisakah kita mengakhiri ini semua?” tanyanya tiba-tiba.
Aku terkesiap. Inilah yang kutakutkan. Aku sudah memberikan keperawananku selama tiga bulan terakhir untuknya dan dia hendak mencampakkanku?
Aku meremas kerah bajunya.
“Jangan tinggalin aku, Har. Aku rela menjadi selingkuhanmu jika kamu menikah. Bahkan jika kamu memberikan hatimu sepenuhnya untuk istrimu nanti, aku relakan. Tapi tolong jangan berhenti bersamaku,” tuturku menggigit bibir bawah.
Dia menyentuh kulit tanganku lembut, menurunkannya dari kerah kemeja putihnya.
“Kita menikah, Cantik.”
Mataku mengerjap-ngerjap ingin merebakkan air mata. Apakah aku tidak salah dengar?
“Kamu nggak tahu siapa aku dan latar belakang keluargaku sepenuhnya.”
“Aku menikahimu, bukan keluargamu.”
“Tapi budaya kita itu juga menikahkan kedua keluarga, Har. Lagi pula aku takut.”
Keningnya mengernyit. “Takut apa?”
“Aku takut nggak bisa merelakanmu untuk wanita lain ketika ikatan kita sudah sah. Karena aku paling nggak bisa merelakan milikku pindah tangan walau hanya sesaat. Aku terlalu sayang dan takut kehilangan. Dengan hubungan kita yang begini, aku bisa tenang. Sekalipun aku menginginkanmu tetap di sisiku tapi dengan mengingat tidak ada suatu ikatan yang pasti di antara kita, aku tetap bisa realistis kamu bukan milikku sepenuhnya. Jadi bisa datang dan pergi sesukamu. Asal jangan menghilang selamanya,” jelasku.
Aku memang takut berkomitmen semenjak tahu kelakuan ayahku yang tukang selingkuh.
Hardi menarik napas panjang. Lalu tangannya mengusap rambut lurus cepakku.
“Aku nggak ngerti omonganmu, Nggun. Kenapa kamu membuat segalanya rumit? Kita bisa menikah dan memulai semuanya dari nol. Kita bisa belajar bersama untuk saling setia.”
“Bagaimana bisa, Har? Mungkin aku bisa karena selama ini aku hanya berkencan dan melakukannya denganmu. Tapi kamu? Kamu hyper. Aku takut kamu nggak bisa melakukannya lagi ketika menikah karena aku pasti melarangmu keras. Tapi itu juga bikin aku sedih menahan keinginanmu. Dan apakah bisa kita saling setia sementara nggak cinta?”
“Kamu nggak mencintaiku?” tanya Hardi telak.
Aku mengangkat kedua bahuku. Aku memang tidak pernah yakin hatiku pada Hardi adalah cinta atau nafsu posesif belaka.
Aku membalas tatapannya. “Kamu?”
“Kamu sudah memintaku untuk enggak jatuh hati padamu,” jawabnya, mengecewakanku tanpa kuduga.
Aku sendiri bingung dengan diriku sendiri. Betul katanya, aku ini rumit.
“Ah, sudah jam tujuh. Kamu harus siap-siap berangkat. Nanti aku yang akan membereskan apartemenmu. Kita bicarakan nanti setelah kamu pulang,” timpalku mengalihkan topik pembicaraan.
“Hari ini aku pulang ke rumah Mami. Kuncinya bisa kamu bawa pulang. Dan... Anggun,” panggilnya sebelum beranjak berdiri. “Jika memang kamu ingin kita selalu begini, akan aku penuhi permintaanmu,” imbuhnya memberikan senyuman manis padaku.
Kegetiran seketika menyusup ke palung hatiku tapi kupaksakan saja untuk membalas senyuman ‘lelakiku’.
**
Aku mencoba perlahan membuka mataku. Terasa berat. Tubuhku juga rasanya sulit kugerakkan. Di mulutku sudah ada alat bantu pernapasan. Pergelangan tanganku terasa nyeri, seperti ditusuk-tusuk.
“Anggun, kamu sudah siuman, Nak?” suara Ibu menggema di telingaku.
Aku melihatnya berurai air mata. Di sampingnya, Ayah tersenyum bahagia, pipinya juga dihiasi air mata yang sudah mengering. Keduanya kemudian memegang tanganku bersamaan.
“A-ku ke-na-pa?” tanyaku terbata-bata.
“Kamu kecelakaan, sepulang dari pernikahan Hardi, temanmu.”
Memoriku kupaksa untuk keluar setelah Ibu bicara demikian. Perlahan aku pun ingat apa yang terjadi padaku sebelum aku di kamar ini terkapar.
Aku frustrasi dan marah besar menerima undangan pernikahan Hardi yang mampir ke rumahku. Aku menangis, berteriak dan memorak-perandakan kamarku sehancur-hancurnya. Ternyata aku menjilat ludahku sendiri. Kukatakan aku rela dia menikah tapi hati ini meronta menolak. Aku merasa dipecundangi. Aku belum memutuskan menerima atau menolaknya sebulan lalu. Padahal pikiranku mulai mengalami perubahan. Tapi terlambat. Sehari setelah undangan itu datang adalah hari resepsinya. Aku menyesali diri sendiri, menyalahkannya dan marah pada dunia. Aku kalah start. Sialan!
Tapi kuputuskan datang ke Shangri-La grand ballroom. Hanya dia yang mengenaliku dan sebaliknya dalam resepsi tersebut. Aku datang sendiri dengan menahan perih mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan keluarga. Aku tahu mata Hardi sendu memandangku tapi aku abaikan. Aku murka padanya namun merasakan cara tangan Hardi menyalamiku – yang tetap saja lembut dan hangat – membuatku tak tega menyumpah-serapahinya.
Beberapa menit berikutnya, aku berjalan keluar menuju parkiran. Terdengar Hardi memanggilku. Aku merasa telah berhalusinasi. Tapi ternyata tidak. Diraihnya tanganku paksa.
“Kita bisa bicarakan ini. Besok kita ketemu,” ujarnya dalam balutan jas hitam rapi dan bunga di dada kirinya.
Aku terdiam.
“Kamu cemburu?”
Aku melengakkan kepalaku.
“Kamu cinta kan, sama aku? Terus kenapa kamu menolak aku nikahi? Niatku dulu menikahimu sebelum orangtuaku menjodohkanku. Tapi karena kamu menggantungku, kuputuskan begini. Tapi sumpah, aku juga nggak ingin berpisah denganmu, Nggun.”
Air mataku jatuh dalam hitungan detik.
“Masuklah, Har. Kasihan pengantin wanitamu. Kita bisa bicarakan ini besok.”
Ia langsung memelukku erat seraya mengucapkan kata yang selama ini tidak pernah kudengar darinya, pun diriku tak pernah mengucapkannya pada Hardi.
“Aku mencintaimu sampai kapan pun. Kamu nggak akan pernah sendirian. Lupakan semua masalahmu. Aku ada untukmu,” ujarnya menciumi kening dan kepalaku.
Itu yang kuingat darinya saat kami bertemu. Lalu aku pulang mengendarai mobil Ayah keluar dari area gedung resepsi. Kemudian...
BRAKKK!!!
Ada benda berjalan yang menghantam mobilku keras. Aku ikut terpelanting hebat. Dan usai itu hilang kesadaranku.
Aku mencoba menghirup lebih banyak oksigen dari alat yang terpasang di mulutku.
“A-pa Har-di da-tang men-je-ngukku, Bu?” tanyaku.
Ibu menatap Ayah sejenak.
“Hardi...” ucap Ayah menggantung sesaat. “meninggal karena serangan jantung. Kaget kamu kecelakaan parah, Nak,” lanjut Ayah yang membuat jantungku berdentam dahsyat.
Jantung? Sejak kapan? Aku mencoba mengingat-ingat kejadian di antara kami yang bisa saja menunjukkan gejala penyakitnya itu.
Ya, aku ingat ketika kami melakukannya pertama kali. Kami terlalu bersemangat dan dia mengeluh nyeri di dada. Kukira dia berbohong. Sungguh, aku tidak menyangka itu benar. Hardi juga tidak pernah bercerita padaku tentang penyakitnya.
Dadaku menyesak. Jantung hatiku pergi tanpa pamit. Apakah ungkapan cintanya kemarin itu adalah bentuk pamit darinya?
Aku menutup mata untuk mengenang semuanya. Air mataku juga meleleh. Lalu kubuka secara perlahan. Tepat di depanku ada Hardi tersenyum. Wajahnya pun bersinar.
Kini aku yakin bahwa cintanya hanya untukku. Iya, dia-lah lelaki yang sudah mengisi ulang energi hidupku. Bukan semata karena nafsu liar tapi juga karena cinta yang terlambat kusadari.
Hardi... aku mencintaimu,” gumamku lirih.*

--------------------------------
Cerpen ini aku ikut sertakan dalam lomba seru-seruan ulang tahun penulis Anggun Prameswari. Memang nggak menang tapi pelajaran berharga aku dapet dari sini. Berikut feedback dari Mbak Anggun:
Anggun Prameswari <mbak.anggun@*****.com> menulis:

Dear Agustin, terima kasih telah mengirimkan cerpen Jantung Hati untuk #KuisUltahAnggun ya. Berikut ini sedikit masukan dariku ya.
Wah ceritanya dramatis sekali, Agustin. Tentang Anggun yang sejak kecil tercabik-cabik jiwanya, kemudian menjalin hubungan dengan Hardi. Anggun perempuan yang rumit, dilandasi oleh problem keluarga yang dialaminya. Namun Hardi memutuskan memilihnya. Anggun takut dengan komitmen. Kemudian Hardi memilih menikah dengan perempuan pilihan orangtuanya. Keren. Tapi begitu masuk tahap berikutnya, terasa seperti drama sinetron. Anggun kecelakaan. Hardi masih cinta. Hardi mati serangan jantung. Twist yang benar-benar di luar dugaan. Sayangnya, penyampaiannya sedikit terburu-buru sehingga terasa seperti ringkasan saja. Kemudian, serangan jantung itu juga seperti tempelan, karena ujug-ujug ada, tidak “diperkenalkan” ke pembaca di awal. Seakan Agustin bingung harus mengakhiri cerita ini dengan cara apa. Apalagi judulnya Jantung Hati, cobalah sejak awal cerita, simbol ini diperkuat agar emosi tokoh dan pembaca sama-sama terbangun.
Jadi begitulah sedikit input dariku ya Agustin. Mohon maaf bila kurang berkenan.
Terus menulis.
Salam,
Anggun Prameswari



Kesalahan fatal banget bikin ending tokohnya meninggal padahal katanya CEO Diva Press, Pak Edi, nggak boleh bikin penutup cerita yang tokohnya mati, gila maupun bahagia yang berlebihan. Oke, kekeliruanku. Pelajaran. ^.^

Sabtu, 12 April 2014

Tragedi Ahad Siang

from this


Joko hanya termenung menunduk di antara kedua lututnya yang tertekuk. Punggungnya menempel pada dinding. Dinding putih yang telah menguning –bahkan menghijau lumut di beberapa bagian sudutnya- terasa dingin menusuk tulang punggungnya. Namun Joko tak acuh. Memorinya tentang Embok terlalu asyik untuk berenang-renang di alam pikirnya. Joko pun terisak tangis. Dadanya sesak penuh sesal. Andai waktu bisa diputar kembali –ah, Joko sadar ini pengandaian yang sudah basi- ia akan segera menarik tangannya sendiri saat itu juga supaya semua penyesalan ini tak terjadi. Tragedi Ahad siang.
*
Pagi ini Embok ingin menghidangkan nasi liwet untuk sang lelakinya yang tampan dan gagah perkasa. Nantinya nasi liwet itu dihidangkan bersama sambal terasi segar (bahan-bahannya tidak digoreng, dikukus atau bahkan dibakar) bersama ikan asin. Embok menanaknya di atas tungku kayu bakar karena menurutnya aroma nasi liwet akan lebih sedap dibandingkan menanak dengan kompor gas. Kebetulan sambal dan ikan asinnya sudah siap.
“Mbok!” suara lelaki memanggil Embok.
Kepala Embok menoleh kemudian melongok ke dalam rumah melewati pintu yang menghubungkan rumah dan dapur. Kemudian Embok bergegas menghampiri tole[1].
Tole yang sedang mematut diri di depan sebuah cermin besar melirik seraya tersenyum pada Embok yang sudah berdiri di sampingnya.
“Mbok, nanti aku tugas sampai malam. Nggak pa-pa, ya? Kalau ada apa-apa telepon aku,” ujar tole yang memiliki alis tebal, berdagu (nyaris) lancip, hidung mancung yang menghiasi kerupawanan parasnya. “Mbok bisa to mencet hapenya?” lanjut tole dengan senyum lebar, jail pada Embok.
“Iya. Gampang, Le. Jangan kuwatir. Sing penting kowe[2] hati-hati dalam bertugas. Ndak usah mikir sing ndek omah,” balas Embok mengulas senyuman. Pesan ini yang selalu terdengar di kuping tole ketika hendak pergi berdinas. (Tidak usah memikirkan yang di rumah).
Tole kembali melemparkan senyum sambil menyisir rambutnya yang hitam legam sampai mengilap klimis, bekas diolesi minyak rambut nan wangi.
“Sudah ganteng, Le. Tapi percuma kalau kowe masih sendiri. Umurmu makin mateng. Ndang cari istri sana!” celetuk Embok membuat tole tersenyum lebar. “Sudah waktunya kamu merelakan kepergiannya, Le. Kamu masih punya masa depan,” sambung Embok serius membuat tole ingat pada istrinya yang meninggal karena sakit parah hampir lima tahun lalu. Tole dan istri tidak punya keturunan.
Si tole berhenti dari aktivitasnya merapikan rambut. “Tenang saja, Mbok. Aku sudah ikhlas, kok. Tapi mendapatkan istri lagi itu nggak semudah membalikkan telapak tangan. Semua kembali ke hati. Apalagi sudah mateng gini kayak Embok bilang, he-he-he.”
Tole terkekeh. Embok cembetut. Selalu cucunya begitu. Embok pun memilih kembali ke dapur, menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
*
Sudah belasan tahun Joko -si tole Embok- menjadi anggota kepolisian. Sekarang pangkatnya sudah Inspektur Polisi Dua (Ipda) bagian Reserse Kriminal  (Reskrim). Joko ingat dulu, tak mudah untuk bisa menembus seleksi ketat menjadi bagian dari aparat pengayom masyarakat. Joko sendiri kurang beruntung untuk berjuang dengan kemampuannya sendiri. Tapi dia beruntung soal kekayaan materi yang dimiliki Embok.  Iya, Joko masuk ke sana karena duit si Embok.
Embok merupakan petani tebu sekaligus peternak sapi ulet dan sukses. Belum lagi sebagai janda veteran sejak masa orde baru runtuh, dia mendapatkan uang pensiunan mendiang suaminya. Semua pemasukannya itu menyejahterakannya bersama anak dan cucunya. Anaknya cuma satu, Retno. Meninggal pula bersama sang suami -pejabat dinas pendidikan kabupaten- ketika Joko masih berusia sebelas tahun. Mereka mengalami kecelakaan maut ketika pulang dari kunjungan kepada sanak saudara di Probolinggo. Semenjak itu hartanya resmi menjadi harta waris Joko, kelak ia sudah tiada.
 Tapi tidak menunggu dirinya sendiri tiada, Embok sudah mengalokasikan dana untuk pendidikan sang cucu. Embok tidak pernah pelit kalau soal pendidikan keturunannya. Bagi Embok, ilmu adalah pelita kehidupan dan jalan menuju kemuliaan hidup. Mendiang anaknya disekolahkan sampai S2 pendidikan guru. Cucu tunggalnya disekolahkan di sekolah favorit di kabupaten, dari TK sampai SMA. Maunya sih, si Joko dikuliahkan tapi Joko tidak mau. Ia memilih langsung jadi polisi selepas SMA (walau pada akhirnya ia harus menempuh bangku sarjana untuk naik ke jabatan lebih tinggi). Embok tak bisa berkata banyak. Yang penting cucunya bisa berkarya dan bukan malah ongkang-ongkang di rumah, mentang-mentang neneknya ini juragan.
Embok kini sudah semakin tua dengan banyak keriput di paras manisnya, rambut yang seluruhnya sudah memutih kasar dan badannya yang sudah tidak bisa berdiri tegap, harus rela mengubah kenyamanan hidupnya. Bukan berarti tidak nyaman dulunya. Sekarang Embok sudah bisa lebih rileks menjalani hidup. Dulu pontang-panting mengerjakan kebun tebu dan merawat belasan sapinya sementara sekarang lebih banyak melakukan pekerjaan ibu rumah tangga pada umumnya.
Walau kini harta kekayaan Embok sudah tidak sebanyak dulu tapi melihat Joko sudah cukup mapan menjadi pahlawan masyarakat dan memiliki tempat tinggal yang nyaman sudah lebih dari cukup. Tentram hidupnya. Tinggal memaksimalkan amal dan ibadah. Rencananya tahun depan Embok berangkat haji.
Embok juga bangga sama Joko. Joko dikenal sebagai pribadi yang hangat, cerdas dan berprestasi di jajaran kepolisian tempat ia berdinas. Hal ini menjadi sebuah penebusan dari tindakan curang yang Embok dan Joko lakukan dahulu kala. Tidak ada istilah keterlambatan menjadi lebih baik, batin Joko yang diamini Embok.
*
Pekerjaan Joko semakin hari tidak semakin ringan, justru banyak tanggungjawab. Apalagi beberapa waktu terakhir, ia sering turun lapangan melakukan penyergaban banyak penjahat narkoba. Belum lagi ia berselisih paham dengan atasannya, Kasat Reskrim, Komandan Sentot yang terkenal otoriter. Pimpinannya itu juga suka mencari-cari kesalahan Joko. Tapi bukan hanya Joko yang merasakannya, rekan-rekannya juga. Faktanya Komandan Sentot itu memang memiliki nada bicara yang selalu tinggi, tawanya sering terdengar menggelegar, ucapannya selalu berjewama, kurang asertif dalam menyampaikan pesan terhadap bawahan dan sayup-sayup terdengar kabar bahwa ia tak segan memukul bawahan ketika mereka berbuat salah. Joko memang belum pernah tahu atau mengalaminya sendiri karena ia baru sekitar enam bulan bekerja dengan Komandan Sentot. Tapi Joko tak habis pikir, seorang pemimpin bisa “selucu” itu pada bawahannya. Bukankah sekarang banyak seminar tentang “How To Be A Good Leader?”? Seharusnya diadakan juga di lembaga kepolisian tempatnya bertugas.
Joko bisa bertahan pada awalnya tapi semakin lama kondisi psikologisnya tertekan dari segala penjuru. Sikapnya pun berubah drastis seperti suka berkata-kata kasar bahkan umpatan jorok, mengancam melayangkan bogem mentah setiap kali terjadi perselisihan pendapat dengan rekan sejawat dan sikap kasar kepada Embok di rumah. Joko pun sudah beberapa kali mendapat surat peringatan perihal sikapnya yang tidak pantas tersebut.
Dan sebuah peristiwa memunculkan kehancuran besar melalui kondisi hubungan bersitenggang antara Joko dan Komandan Sentot.
Joko mendapati Komandan Sentot memberikan gratifikasi kepada petugas sipil kepolisian untuk mengurus pembebasan seorang tawanan yang sudah jelas-jelas bersalah karena melakukan perampokan sekaligus pembantaian. Komandan Sentot tertangkap tangan di depan mata kepala Joko.
Terbersit keinginan Joko melaporkan tindakan Komandan Sentot tapi Komandan Sentot justru mengancam keselamatannya dan Embok. Joko tak terima. Namun Komandan Sentot tidak tinggal diam. Ia merasa belum aman kalau tidak memberikan sesuatu yang bisa menyumpal mulut Joko. Ia harus berhasil menyuap Joko bagaimanapun caranya. Satu cara gagal, masih ada ribuan jalan lain.
Suatu hari hampir tengah malam, Joko terpaksa membawa pulang seorang gadis yang kesusahan ban motornya bocor sedangkan sudah tidak ada lagi tukang tambal ban buka. Gadis itu mengaku rumahnya di luar kota, tidak punya kerabat atau keluarga dan tidak tahu dengan cermat setiap sudut kota. Dan seiring waktu berjalan malam itu -Embok juga pergi ke rumah saudara yang memiliki hajatan perkawinan- terjadilah adegan romantis panas di antara Joko dan gadis itu. Joko lelaki normal. Lelaki normal yang dalam kondisi stres berat dan butuh sebuah usapan bahkan pelukan orang yang dikasihi -tapi tak dipenuhi lama-, jelas membuat gelora berahinya terpantik luar biasa.
Tak nyana beberapa hari berikutnya diketahui gadis itu bayaran pimpinannya untuk menjebaknya. Tapi berita yang bergulir memojokkannya sebagai otak skandal seks tersebut. Tak ada yang bisa membuktikan ia dijebak. Akhirnya Joko mendapat putusan dipecat secara tidak hormat karena kasus ulah si tengik Sentot. Lima hari lagi upacara pencopotan jabatannya. 
Joko menjadi frustrasi. Nama baiknya tercoreng dan riwayatnya sebagai polisi hancur sudah.
*
Sulit bagi Joko menanggung semua ini. Pemecatan ini lebih mengerikan dari kondisi post power syndrome. Selama menunggu hari itu tiba, Joko berdiam di rumah sambil sesering mungkin mengepulkan asap rokok lima belas ribunya, menghabiskan beras di gentong Embok kemudian tidur seharian dan tindakan tiada guna lainnya. Seiring itu ia mengumpat kehidupan, mengumpat pimpinannya yang sinting dan mengumpat seisi dunia. Ia juga lebih sering berteriak dan memaki Embok setiap kali berbicara. Ia menjadi terlampau sensitif.
Embok jadi nelangsa melihat cucunya begitu. Didekatinya Joko yang sedang asyik merokok di teras samping rumah. Embok ingin mengusap kepala cucunya, mencoba menghibur dan menguatkan jiwa Joko. Namun Joko malah mencak-mencak dan berkata kasar.
“Sudahlah, Mbok, nggak usah sok peduli begitu!” sembur Joko. “Aku tahu apa yang Mbok bicarakan sama tetangga. Mbok malu punya cucu begundal seperti aku!”
Si Embok terperanjat mendengar kalimat tidak benar dari cucunya.
“Mbok memang suka ngobrol sama mereka, Le, tapi Mbok nggak pernah mengeluh soal kowe. Mbok malah menghindari pembicaraan tentang kowe.”
“BOHONG!!!” sentak Joko melempar tatapan tajam pada Embok. “Memangnya aku nggak tahu mereka semua mengataiku nggak tahu diri dan lelaki berengsek?!”
Embok menekan dadanya seraya mencoba mengatur sirkulasi napasnya supaya tetap tenang.
“Kok, kowe jadi suka kasar begini to, Le?” protes Embok dengan nada bicara sedih dan sedikit ketakutan.
“Nggak usah banyak bacot!” kata Joko berang sambil beranjak dari kursi menuju kamarnya.
Ia jadi “haus” untuk melakukan hal agresif. Bukan memukul dan menendang seperti biasanya, melainkan menembak sesuatu seperti yang ia lakukan ketika masih aktif menjadi polisi. Ia akan latihan di tempat swasta. Joko sendiri memang jatuh hati pada senjata api (senpi) semenjak ia tahu siapa Rambo ketika ia SD. Baginya penembak itu keren. Apalagi penembak dengan status aparat keamanan. Pahlawan. Tapi itu dulu. Sekarang ia muak pada semua hal tentang aparat. Namun ketertarikannya terhadap dunia tembakan jitu tidak memudar. Ia sengaja membeli pistol untuk simpanannya sendiri. Tentu saja ia melakukannya diam-diam. Joko berpikir, siapa tahu pistol itu berguna sewaktu-waktu. Ia bukan tak tahu aturan waktu itu tapi memiliki simpanan pistol pribadi merupakan kesenangan dan kenyamanan tersendiri untuknya. Bahkan jika nanti semua atributnya sebagai polisi diminta kembali oleh dinas, ia tidak akan menyerahkan senpi yang ia beli sendiri itu. Ia akan menyembunyikannya di tempat yang tak bisa terjamah polisi lain –andai kata memang ada penggeledahan rumah. Omong kosong dengan aturan dari (calon mantan) pihak kedinasannya.
“Mau ke mana, Le?” tanya Embok yang melihat cucunya berdiri di mulut pintu sembari mengutak-atik senjata.
“Urusanku! Nggak usah cerewet, Mbok!!” bentak Joko.
Embok lagi-lagi memegangi dadanya, takut jantungnya mencuat ke luar.
“Astaghfirullahaladzim, Joko... Aku nggak pernah ngajari kowe kasar marang wong tuwo. Ibumu juga nggak pernah begini sama aku. Kok, kowe kejem tenan to Le, Le, sama Mbok,” suara Embok bergetar menunjukkan rasa tidak percaya dan kekecewaan mendalam terhadap Joko. (...kamu kasar sama orangtua)
“Ceklak! Ceklak!” suara pistol diutak-atik Joko. Tampaknya sudah siap untuk dibuat latihan menembak sebentar lagi.
“Nggak usah ikut campur, Mbok! Urus saja urusan Mbok!” sergah Joko.
 Joko bergerak ke luar hendak menghampiri motor bebeknya yang ada di beranda depan. Namun Embok berhasil meraih paksa tangan sang cucu. Ia tidak terima diperlakukan kasar oleh darah dagingnya sendiri.
Joko justru menangkis dengan kasar gerakan tangan Embok dengan menyikutkan sikunya tepat di wajah Embok. Embok spontan terjatuh ke belakang, jatuh terlentang di lantai.
Embok sontak mencaci-maki cucunya sendiri seraya mengacungkan jari telunjuknya ke muka Joko dari tempatnya terjatuh. Hatinya terlanjur teriris perih bahkan terkoyak tiada layak. “Cucu laknat kowe, Joko! Nyesel aku mbelani kowe! Kelakuanmu koyok iblis! Minggat kono!”
Mendengar Embok mengusirnya, Joko murka. Tanpa pikir panjang lagi.
“DORR!! DORR!!” suara pistol berdesing singkat dua kali pada siang bolong hari Minggu akhir bulan Mei.
Beberapa detik Joko merasa puas melepaskan amarahnya namun setelahnya ia tersadar. Matanya menatap nanar Embok yang sudah berlumuran darah tepat di keningnya. Ia menelan ludah berulang kali. Ia segera beringsut mendekati Embok yang sakaratul maut.
“Mbok, maafin aku,” kata Joko menyesal.
Embok tidak mampu berkata-kata lagi. Matanya menutup segera dalam lima detik.
Hati Joko hancur berbaur rasa marah dan benci. Ia telah bertindak keji. Tangannya yang membunuh orang yang ia cintai sendiri.
*
Joko tak bisa memaafkan dirinya sendiri sampai berbulan-bulan kasus ini berlalu. Di dalam sel ia juga sering melamun, tertawa sesekali, tersenyum beberapa kali, namun lebih banyak menangis. Ia belum merelakan kepergian Embok begitu cepat. Ia belum siap ditinggalkan orang-orang yang dicintai. Tapi faktanya orang-orang yang dicintainya sudah meninggalkannya satu per satu. Embok, istrinya dan kedua orangtuanya.
Habis sudah semua yang dimiliki Joko: karir dan kehidupan pribadi. Mungkin Tuhan sedang menghukum Joko atas kesalahannya sendiri. Tapi kesalahannya ini juga diakibatkan pemimpin tak tahu diri. Dirinya hanyalah korban. Joko masih belum bisa memaafkan mantan pimpinan jahanam itu. Ketidakadilan dirasakannya kembali, persis seperti saat ia kehilangan orangtuanya di usia belia dan ketika ia telah mempercayakan sepenuh hatinya pada mendiang istri tercinta.
*
Joko mendengar suara sipir memanggilnya. Katanya ada tamu untuknya. Siapa?
Joko terkejut bercampur rasa benci melihat siapa yang datang.
“Gimana kabarmu?” tanya si (bekas) pimpinan yang tak pernah diharapkan Joko untuk datang.
“Mau apa kamu ke sini, Bangsat?!” balas Joko sarkastis. “Kurang puas melihatku hancur? Padahal sedikit pun nggak pernah aku membocorkan rahasiamu,” imbuh Joko.
Komandan Sentot duduk sementara Joko tidak. Ia enggan duduk satu tempat dengan pimpinan culas itu.
“Juga bukan aku yang menjebloskanmu ke penjara. Untuk apa? Toh kamu menemukan takdirmu di sini dengan caramu sendiri,” kata Komandan Sentot. “Duduklah. Mari kita bicara baik-baik.”
“Katakan saja apa maumu!”
“Aku menawarkan bantuan keringanan masa hukumanmu. Asal kamu melakukan satu hal untukku.”
“CIH! Aku lebih baik di sini menebus salahku pada Mbok daripada menjadi jongos di bawah kaki baumu!”
Mimik wajah Komandan Sentot berubah masam. Merasa tiada guna bicara baik-baik dengan Joko, ia pun memutuskan segera.
“Kalau begitu...” Komandan Sentot diam sejenak dengan tatapan berubah lebih menghunus kepada Joko.
Hanya dalam hitungan detik terdengar pelepasan peluru yang suaranya terdengar di seluruh penjuru lembaga pemasyarakatan (lapas).
Sebuah peluru menembus kening mulus Joko. Tubuh Joko ambruk. Namun ia masih mendengar jelas suara sepatu Komandan Sentot yang mendekatinya. Berdiri di sampingnya dengan wajah angkuhnya.
“Dendam adikku terbalaskan,” suara Komandan Sentot jadi menggema di telinga Joko. “Satu tahun lalu pelurumu membunuhnya.” Komandan Sentot masih melanjutkan ucapannya padahal sudah ramai para polisi sampai tukang sapu lapas mengerubunginya dengan ekspresi terkejut dibumbui ketakutan. Mereka baru saja menyaksikan seorang polisi senior telah membunuh (mantan) sejawatnya di tempat yang seharusnya jeruji besi sudah bisa membuat tahanan jera.
Joko ingin berkata-kata tapi ia tak sanggup. Apalagi merecall ingatannya ke satu tahun lalu. Tapi seketika ia ingat Embok. Seperti inikah yang dirasakan Embok ketika sakaratul maut? Ingin segera bangkit tapi tak bisa, ingin melayang tapi beban badan berat sekaligus sakit tiada tara.
“Kita impas, Joko. Arwah adikku tenang. Haha-haha-haha...” Komandan Sentot bicara disusul dengan tawa laksana raksasa. Ia telah menebus nyawa adiknya yang telah menggeluti dunia haram, narkoba, tanpa diketahui banyak pihak. Dan sialnya mati di tangan Joko.
Pasca penembakan itu tak ada yang bisa diupayakan untuk Joko. Dalam perjalanan menuju rumah sakit Bhayangkara, Joko mengembuskan sisa napasnya. Sedangkan di suatu tempat, Komandan Sentot menjalani uji cobanya sebagai bagian dari upaya diagnosis gangguan jiwa dari pakar psikologi. Berjalan untuk beberapa hari berikutnya.
Tragedi yang terjadi pada siang hari -yang sama ketika Embok pergi meninggalkan dunia- itu sungguh melukai dan mencoreng nama baik lembaga kepolisian.
Tak ada yang pergi dengan membawa nama mewangi. Nilai patriotisme juga terbengkalai. Tapi Joko masih punya nurani. Ia membela harga dirinya di tengah tekanan pekerjaan dan gaya kepemimpinan yang tak bisa diterimanya. Dialah tumbal kelicikan membabi-buta dari sang pemimpin. Fakta bicara Joko juga tak berjiwa tangguh untuk mempertahankan kestabilan emosinya. Namun sungguh ia menyesali seluruh perbuatannya. Kini semuanya impas seimpas-impasnya. Hutang nyawa dibayar nyawa. Apakah pada akhirnya hukum alam selalu (dirasa) benar?

-selesai-

*tulisan ini diikutsertakan dalam lomba "Kompetisi Kreatif Internasional Dialog Muda 2014"


[1] Panggilan untuk anak laki-laki dalam masyarakat Jawa
[2] Kamu