Tampilkan postingan dengan label owop7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label owop7. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Mei 2014

Refleksi Kehidupan


Aku sering berdoa untuk diberi kemapanan dalam hidup. Hidup di dunia. Sering dan selalu aku yakini. Padahal hidup ini akan berujung. Aku memang sering berdoa agar dosaku, orangtua, keluarga dan kerabatku diampuni dosanya, pun berharap diberi keselamatan dunia-akhirat. Tapi celakanya aku hanya berdoa demikian sepintas lalu, tak seperti doa untuk duniawi.
Aku tidak akan berkhotbah tentang surga dan neraka di sini. Aku hanya ingin bercerita yang kualami dan ingin mengabadikannya kemudian menjadi catatan yang selalu kuingat sepanjang hayat.
Surga dan neraka.
Aku berdoa setiap hari hanya untuk duniawi. Berpikir bahwa dengan tercukupinya duniawi, kami bisa hidup lebih tenang beribadah bahkan bisa pergi ke Makkah. Terus dan selalu demikian. Faktanya memang tak banyak yang berubah dalam kondisi duniawiku. Masih sederhana. Dan selalu bersemangat menjalani dinamikanya. Kami merasa lebih hidup. Hanya saja sering juga menyesakkan dadaku. Orang-orang yang kusayangi masih terus berjibaku dengan kerasnya hidup sementara saudara dan teman-temannnya sudah duduk anteng menikmati jerih payah. Hidup terkadang tidak adil, pikirku. Maka aku ingin menggebrak segalanya menjadi lebih sejahtera, hanya saja aku masih berjalan menuju ke sana. Tak apa.  karena aku percaya.
Aku percaya walau belum yakin benar. Aku percaya pada Dia yang punya kuasa namun aku belum yakin karena otakku sering berliar diri. Adakah Dia? mungkin bagi kaum agamawan (adakah istilah seperti ini?) pikiranku picik bahkan terlarang dan haram. Silakan saja kalian berkata.
Namun dalam hati aku berkata, aku tidak mampu hidup tanpaNya. Bahkan aku lahir memang karena kuasaNya untuk tujuan yang entah apa. Secara umum memang untuk berguna bagi semuanya. Benarkah aku sudah berguna? BELUM.
Lantas kapan aku akan berguna?
Sementara aku tak tahu kapan aku akan kembali berpulang. Berpulang padaNya.
Berpulang. Setelah mendengar adik bercerita berdasarkan khotbah ulama yang didengarnya, kita hidup untuk kembali kepadaNya. Bukan untuk surga dan neraka.
Namun,
Aku justru berdoa untuk mengharapkan surga dan menghindari neraka. Kendati aku tahu bahwa masuk surga aku SAMA SEKALI TIDAK PANTAS, tapi juga tidak bisa membayangkan pedihnya siksa neraka. Pernahkah kalian melihat fenomena di alam kubur melalui video yang sudah banyak beredar? Mengerikan. Katanya sih, mengerikan bagi yang tidak beramal-saleh. Allahu a’lam. Tapi kalau di alam barzakh  saja begitu menyakitkan sebagai “imbalan” perbuatan apalagi neraka. Entah, hanya Dia yang Maha Tahu.
Tapi benarkah surga dan neraka itu ada? Jadi teringat lagu Ahmad Dani dan mendiang Chrisye. Jika surga dan neraka tidak pernah ada. Apakah kita masih menyembah kepadanya?
Bisa dimasukkan akal juga. Surga dan neraka itu stimulus untuk orang berlomba-lomba dalam kebaikan. Esensinya kita tetap kembali berpulang dan terserah Dia yang memiliki kita mau berbuat apa terhadap kita.
Tapi sulit untukku. Aku tetap ingin sejahtera di dunia dan selamat di akhirat. Begitu banyak tendensi dalam hidupku yang kuinginkan Dia mengabulkannya. Dasar aku manusia serakah. Tidak tahu malu. Sudah diberi kehidupan dan banyak keberuntungan namun masih saja meminta lebih. Sebenarnya manusiawi. Hanya saja, kalau keserakahan itu bisa dialihkan ke arah yang lebih tulus kepadaNya, misal serakah untuk rajin menjalankan kewajiban kepadaNya, kepada sesama dan kepada semesta alam, mungkin itu akan menjadi keserakahan yang bisa disebut berguna.
Ya, dengan begitu hidupku berguna sebagai manusia yang bertugas sebagai khilafah di muka bumi. Tapi akankah aku bisa?
Aku ingin bisa. Sebelum waktu menghentikan segalanya dan tidak memberiku kesempatan melakukan hal-hal berguna semampuku.
Oh, iya, selain keserakahanku meminta yang enak-enak tadi dan ketakutanku terhadap neraka, yang lebih dulu aku takutkan adalah kematian. Kematian menghentikan segalanya. Kita juga tidak bisa kembali sekalipun mati suri sebab nantinya kita akan mati kembali untuk selamanya.
Kenapa aku takut mati? Jelas karena aku tidak mendapat kesempatan untuk melakukan target yang belum tercapai. Karena sendiri di tempat sempit, gelap, pengap pun tertimbun tanah dan perlahan belatung menggerogoti badan. Karena aku belum melakukan banyak hal berguna. Karena aku belum ini dan itu and so on and so on. Dan ternyata Dia berbaik hati. Pagi ini aku membaca kutipan dari akun twitter berikut:
 Alasan terbaik mengapa kita masih dibangunkan Tuhan pagi ini adalah..krn dosa kita terlalu banyak & Tuhan Mau kita berbuat baik (Imam Ghazali) via @PIDjakarta

Menancap di hati. Menyuruh kita bersyukur diberi waktu untuk berbenah diri sebelum bertemu denganNya yang Maha Indah dan Suci. Tak heran sih – jika aku boleh berbicara – jika orang-orang yang baik, menyenangkan, beramal-saleh, beberapa di antara mereka, meninggal masih muda (namun dengan cara yang tidak terduga). Itu karena Tuhan teramat menyayangi mereka. Tuhan tidak mau orang-orang baik seperti mereka bertambah dosanya. Mungkin. Itu yang sering kudengar dan mulai kuyakini. Sebab teman-teman dan kemarin saudara perempuanku – yang yah, well, kami tidak begitu dekat tapi aku menghormati dan menyayanginya karena kesupelannya, keberagaman keyakinan dalam keluarganya (beserta pola hubungan baiknya dengan orangtua) dan karena dia istri dari sepupu lelakiku yang sudah tough melalui kehidupan pada tahun ke... mungkin 40-an tahun kehidupannya. Dia dan suami adalah contoh bagiku menjalani hidup dari nol, menghadapi banyak rintangan, hormat orangtua dan dan caranya mensyukuri kehidupan – mengalami proses berpulang dengan cara yang benar-benar di luar dugaan. Aku kira itu hanya terjadi pada orang di luar keluarga dan kerabat kami. Tapi tidak. Siapa pun bisa mengalami. Dengan begini, kematian lebih dekat dari yang kita pikir.
Lalu denganku yang masih bisa bernapas sampai detik ini dan sehat, aku menyesal telah pernah meminta kematian. Kematian sepertinya tidak semudah yang kita duga. Sebab banyak air mata yang tertumpah. Membuatku mungkin akan pilu jika tak sempat membahagiakan mereka yang menangisiku. Padahal seharusnya kita tersenyum ketika meninggalkan orang-orang yang kita sayangi sehingga mereka  menangisi kita. Hal ini impas untuk kita yang menangis keras ketika baru terlahir ke dunia dan orang-orang di sekitar kita tersenyum bahagia.
Semoga catatan ini bisa memberiku semangat untuk menjadi lebih berguna dan tidak hanya memberatkan masalah dunia. Karena kehidupan sejati dan yang abadi jelas bukan di bumi ini. Mungkin abadi ya, sebab rasanya akal manusia tak bisa membayangkan apakah kita akan kembali berpijak di bumi jika sudah mati-dikubur-bangkit-mendapat tiket entah itu surga atau neraka dan? Aku dan kalian tak tahu kan mau ke mana lagi kita? Selamanya di sana? Wallahu a'lam bish-shawabi. 

Sabtu, 12 April 2014

Tragedi Ahad Siang

from this


Joko hanya termenung menunduk di antara kedua lututnya yang tertekuk. Punggungnya menempel pada dinding. Dinding putih yang telah menguning –bahkan menghijau lumut di beberapa bagian sudutnya- terasa dingin menusuk tulang punggungnya. Namun Joko tak acuh. Memorinya tentang Embok terlalu asyik untuk berenang-renang di alam pikirnya. Joko pun terisak tangis. Dadanya sesak penuh sesal. Andai waktu bisa diputar kembali –ah, Joko sadar ini pengandaian yang sudah basi- ia akan segera menarik tangannya sendiri saat itu juga supaya semua penyesalan ini tak terjadi. Tragedi Ahad siang.
*
Pagi ini Embok ingin menghidangkan nasi liwet untuk sang lelakinya yang tampan dan gagah perkasa. Nantinya nasi liwet itu dihidangkan bersama sambal terasi segar (bahan-bahannya tidak digoreng, dikukus atau bahkan dibakar) bersama ikan asin. Embok menanaknya di atas tungku kayu bakar karena menurutnya aroma nasi liwet akan lebih sedap dibandingkan menanak dengan kompor gas. Kebetulan sambal dan ikan asinnya sudah siap.
“Mbok!” suara lelaki memanggil Embok.
Kepala Embok menoleh kemudian melongok ke dalam rumah melewati pintu yang menghubungkan rumah dan dapur. Kemudian Embok bergegas menghampiri tole[1].
Tole yang sedang mematut diri di depan sebuah cermin besar melirik seraya tersenyum pada Embok yang sudah berdiri di sampingnya.
“Mbok, nanti aku tugas sampai malam. Nggak pa-pa, ya? Kalau ada apa-apa telepon aku,” ujar tole yang memiliki alis tebal, berdagu (nyaris) lancip, hidung mancung yang menghiasi kerupawanan parasnya. “Mbok bisa to mencet hapenya?” lanjut tole dengan senyum lebar, jail pada Embok.
“Iya. Gampang, Le. Jangan kuwatir. Sing penting kowe[2] hati-hati dalam bertugas. Ndak usah mikir sing ndek omah,” balas Embok mengulas senyuman. Pesan ini yang selalu terdengar di kuping tole ketika hendak pergi berdinas. (Tidak usah memikirkan yang di rumah).
Tole kembali melemparkan senyum sambil menyisir rambutnya yang hitam legam sampai mengilap klimis, bekas diolesi minyak rambut nan wangi.
“Sudah ganteng, Le. Tapi percuma kalau kowe masih sendiri. Umurmu makin mateng. Ndang cari istri sana!” celetuk Embok membuat tole tersenyum lebar. “Sudah waktunya kamu merelakan kepergiannya, Le. Kamu masih punya masa depan,” sambung Embok serius membuat tole ingat pada istrinya yang meninggal karena sakit parah hampir lima tahun lalu. Tole dan istri tidak punya keturunan.
Si tole berhenti dari aktivitasnya merapikan rambut. “Tenang saja, Mbok. Aku sudah ikhlas, kok. Tapi mendapatkan istri lagi itu nggak semudah membalikkan telapak tangan. Semua kembali ke hati. Apalagi sudah mateng gini kayak Embok bilang, he-he-he.”
Tole terkekeh. Embok cembetut. Selalu cucunya begitu. Embok pun memilih kembali ke dapur, menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
*
Sudah belasan tahun Joko -si tole Embok- menjadi anggota kepolisian. Sekarang pangkatnya sudah Inspektur Polisi Dua (Ipda) bagian Reserse Kriminal  (Reskrim). Joko ingat dulu, tak mudah untuk bisa menembus seleksi ketat menjadi bagian dari aparat pengayom masyarakat. Joko sendiri kurang beruntung untuk berjuang dengan kemampuannya sendiri. Tapi dia beruntung soal kekayaan materi yang dimiliki Embok.  Iya, Joko masuk ke sana karena duit si Embok.
Embok merupakan petani tebu sekaligus peternak sapi ulet dan sukses. Belum lagi sebagai janda veteran sejak masa orde baru runtuh, dia mendapatkan uang pensiunan mendiang suaminya. Semua pemasukannya itu menyejahterakannya bersama anak dan cucunya. Anaknya cuma satu, Retno. Meninggal pula bersama sang suami -pejabat dinas pendidikan kabupaten- ketika Joko masih berusia sebelas tahun. Mereka mengalami kecelakaan maut ketika pulang dari kunjungan kepada sanak saudara di Probolinggo. Semenjak itu hartanya resmi menjadi harta waris Joko, kelak ia sudah tiada.
 Tapi tidak menunggu dirinya sendiri tiada, Embok sudah mengalokasikan dana untuk pendidikan sang cucu. Embok tidak pernah pelit kalau soal pendidikan keturunannya. Bagi Embok, ilmu adalah pelita kehidupan dan jalan menuju kemuliaan hidup. Mendiang anaknya disekolahkan sampai S2 pendidikan guru. Cucu tunggalnya disekolahkan di sekolah favorit di kabupaten, dari TK sampai SMA. Maunya sih, si Joko dikuliahkan tapi Joko tidak mau. Ia memilih langsung jadi polisi selepas SMA (walau pada akhirnya ia harus menempuh bangku sarjana untuk naik ke jabatan lebih tinggi). Embok tak bisa berkata banyak. Yang penting cucunya bisa berkarya dan bukan malah ongkang-ongkang di rumah, mentang-mentang neneknya ini juragan.
Embok kini sudah semakin tua dengan banyak keriput di paras manisnya, rambut yang seluruhnya sudah memutih kasar dan badannya yang sudah tidak bisa berdiri tegap, harus rela mengubah kenyamanan hidupnya. Bukan berarti tidak nyaman dulunya. Sekarang Embok sudah bisa lebih rileks menjalani hidup. Dulu pontang-panting mengerjakan kebun tebu dan merawat belasan sapinya sementara sekarang lebih banyak melakukan pekerjaan ibu rumah tangga pada umumnya.
Walau kini harta kekayaan Embok sudah tidak sebanyak dulu tapi melihat Joko sudah cukup mapan menjadi pahlawan masyarakat dan memiliki tempat tinggal yang nyaman sudah lebih dari cukup. Tentram hidupnya. Tinggal memaksimalkan amal dan ibadah. Rencananya tahun depan Embok berangkat haji.
Embok juga bangga sama Joko. Joko dikenal sebagai pribadi yang hangat, cerdas dan berprestasi di jajaran kepolisian tempat ia berdinas. Hal ini menjadi sebuah penebusan dari tindakan curang yang Embok dan Joko lakukan dahulu kala. Tidak ada istilah keterlambatan menjadi lebih baik, batin Joko yang diamini Embok.
*
Pekerjaan Joko semakin hari tidak semakin ringan, justru banyak tanggungjawab. Apalagi beberapa waktu terakhir, ia sering turun lapangan melakukan penyergaban banyak penjahat narkoba. Belum lagi ia berselisih paham dengan atasannya, Kasat Reskrim, Komandan Sentot yang terkenal otoriter. Pimpinannya itu juga suka mencari-cari kesalahan Joko. Tapi bukan hanya Joko yang merasakannya, rekan-rekannya juga. Faktanya Komandan Sentot itu memang memiliki nada bicara yang selalu tinggi, tawanya sering terdengar menggelegar, ucapannya selalu berjewama, kurang asertif dalam menyampaikan pesan terhadap bawahan dan sayup-sayup terdengar kabar bahwa ia tak segan memukul bawahan ketika mereka berbuat salah. Joko memang belum pernah tahu atau mengalaminya sendiri karena ia baru sekitar enam bulan bekerja dengan Komandan Sentot. Tapi Joko tak habis pikir, seorang pemimpin bisa “selucu” itu pada bawahannya. Bukankah sekarang banyak seminar tentang “How To Be A Good Leader?”? Seharusnya diadakan juga di lembaga kepolisian tempatnya bertugas.
Joko bisa bertahan pada awalnya tapi semakin lama kondisi psikologisnya tertekan dari segala penjuru. Sikapnya pun berubah drastis seperti suka berkata-kata kasar bahkan umpatan jorok, mengancam melayangkan bogem mentah setiap kali terjadi perselisihan pendapat dengan rekan sejawat dan sikap kasar kepada Embok di rumah. Joko pun sudah beberapa kali mendapat surat peringatan perihal sikapnya yang tidak pantas tersebut.
Dan sebuah peristiwa memunculkan kehancuran besar melalui kondisi hubungan bersitenggang antara Joko dan Komandan Sentot.
Joko mendapati Komandan Sentot memberikan gratifikasi kepada petugas sipil kepolisian untuk mengurus pembebasan seorang tawanan yang sudah jelas-jelas bersalah karena melakukan perampokan sekaligus pembantaian. Komandan Sentot tertangkap tangan di depan mata kepala Joko.
Terbersit keinginan Joko melaporkan tindakan Komandan Sentot tapi Komandan Sentot justru mengancam keselamatannya dan Embok. Joko tak terima. Namun Komandan Sentot tidak tinggal diam. Ia merasa belum aman kalau tidak memberikan sesuatu yang bisa menyumpal mulut Joko. Ia harus berhasil menyuap Joko bagaimanapun caranya. Satu cara gagal, masih ada ribuan jalan lain.
Suatu hari hampir tengah malam, Joko terpaksa membawa pulang seorang gadis yang kesusahan ban motornya bocor sedangkan sudah tidak ada lagi tukang tambal ban buka. Gadis itu mengaku rumahnya di luar kota, tidak punya kerabat atau keluarga dan tidak tahu dengan cermat setiap sudut kota. Dan seiring waktu berjalan malam itu -Embok juga pergi ke rumah saudara yang memiliki hajatan perkawinan- terjadilah adegan romantis panas di antara Joko dan gadis itu. Joko lelaki normal. Lelaki normal yang dalam kondisi stres berat dan butuh sebuah usapan bahkan pelukan orang yang dikasihi -tapi tak dipenuhi lama-, jelas membuat gelora berahinya terpantik luar biasa.
Tak nyana beberapa hari berikutnya diketahui gadis itu bayaran pimpinannya untuk menjebaknya. Tapi berita yang bergulir memojokkannya sebagai otak skandal seks tersebut. Tak ada yang bisa membuktikan ia dijebak. Akhirnya Joko mendapat putusan dipecat secara tidak hormat karena kasus ulah si tengik Sentot. Lima hari lagi upacara pencopotan jabatannya. 
Joko menjadi frustrasi. Nama baiknya tercoreng dan riwayatnya sebagai polisi hancur sudah.
*
Sulit bagi Joko menanggung semua ini. Pemecatan ini lebih mengerikan dari kondisi post power syndrome. Selama menunggu hari itu tiba, Joko berdiam di rumah sambil sesering mungkin mengepulkan asap rokok lima belas ribunya, menghabiskan beras di gentong Embok kemudian tidur seharian dan tindakan tiada guna lainnya. Seiring itu ia mengumpat kehidupan, mengumpat pimpinannya yang sinting dan mengumpat seisi dunia. Ia juga lebih sering berteriak dan memaki Embok setiap kali berbicara. Ia menjadi terlampau sensitif.
Embok jadi nelangsa melihat cucunya begitu. Didekatinya Joko yang sedang asyik merokok di teras samping rumah. Embok ingin mengusap kepala cucunya, mencoba menghibur dan menguatkan jiwa Joko. Namun Joko malah mencak-mencak dan berkata kasar.
“Sudahlah, Mbok, nggak usah sok peduli begitu!” sembur Joko. “Aku tahu apa yang Mbok bicarakan sama tetangga. Mbok malu punya cucu begundal seperti aku!”
Si Embok terperanjat mendengar kalimat tidak benar dari cucunya.
“Mbok memang suka ngobrol sama mereka, Le, tapi Mbok nggak pernah mengeluh soal kowe. Mbok malah menghindari pembicaraan tentang kowe.”
“BOHONG!!!” sentak Joko melempar tatapan tajam pada Embok. “Memangnya aku nggak tahu mereka semua mengataiku nggak tahu diri dan lelaki berengsek?!”
Embok menekan dadanya seraya mencoba mengatur sirkulasi napasnya supaya tetap tenang.
“Kok, kowe jadi suka kasar begini to, Le?” protes Embok dengan nada bicara sedih dan sedikit ketakutan.
“Nggak usah banyak bacot!” kata Joko berang sambil beranjak dari kursi menuju kamarnya.
Ia jadi “haus” untuk melakukan hal agresif. Bukan memukul dan menendang seperti biasanya, melainkan menembak sesuatu seperti yang ia lakukan ketika masih aktif menjadi polisi. Ia akan latihan di tempat swasta. Joko sendiri memang jatuh hati pada senjata api (senpi) semenjak ia tahu siapa Rambo ketika ia SD. Baginya penembak itu keren. Apalagi penembak dengan status aparat keamanan. Pahlawan. Tapi itu dulu. Sekarang ia muak pada semua hal tentang aparat. Namun ketertarikannya terhadap dunia tembakan jitu tidak memudar. Ia sengaja membeli pistol untuk simpanannya sendiri. Tentu saja ia melakukannya diam-diam. Joko berpikir, siapa tahu pistol itu berguna sewaktu-waktu. Ia bukan tak tahu aturan waktu itu tapi memiliki simpanan pistol pribadi merupakan kesenangan dan kenyamanan tersendiri untuknya. Bahkan jika nanti semua atributnya sebagai polisi diminta kembali oleh dinas, ia tidak akan menyerahkan senpi yang ia beli sendiri itu. Ia akan menyembunyikannya di tempat yang tak bisa terjamah polisi lain –andai kata memang ada penggeledahan rumah. Omong kosong dengan aturan dari (calon mantan) pihak kedinasannya.
“Mau ke mana, Le?” tanya Embok yang melihat cucunya berdiri di mulut pintu sembari mengutak-atik senjata.
“Urusanku! Nggak usah cerewet, Mbok!!” bentak Joko.
Embok lagi-lagi memegangi dadanya, takut jantungnya mencuat ke luar.
“Astaghfirullahaladzim, Joko... Aku nggak pernah ngajari kowe kasar marang wong tuwo. Ibumu juga nggak pernah begini sama aku. Kok, kowe kejem tenan to Le, Le, sama Mbok,” suara Embok bergetar menunjukkan rasa tidak percaya dan kekecewaan mendalam terhadap Joko. (...kamu kasar sama orangtua)
“Ceklak! Ceklak!” suara pistol diutak-atik Joko. Tampaknya sudah siap untuk dibuat latihan menembak sebentar lagi.
“Nggak usah ikut campur, Mbok! Urus saja urusan Mbok!” sergah Joko.
 Joko bergerak ke luar hendak menghampiri motor bebeknya yang ada di beranda depan. Namun Embok berhasil meraih paksa tangan sang cucu. Ia tidak terima diperlakukan kasar oleh darah dagingnya sendiri.
Joko justru menangkis dengan kasar gerakan tangan Embok dengan menyikutkan sikunya tepat di wajah Embok. Embok spontan terjatuh ke belakang, jatuh terlentang di lantai.
Embok sontak mencaci-maki cucunya sendiri seraya mengacungkan jari telunjuknya ke muka Joko dari tempatnya terjatuh. Hatinya terlanjur teriris perih bahkan terkoyak tiada layak. “Cucu laknat kowe, Joko! Nyesel aku mbelani kowe! Kelakuanmu koyok iblis! Minggat kono!”
Mendengar Embok mengusirnya, Joko murka. Tanpa pikir panjang lagi.
“DORR!! DORR!!” suara pistol berdesing singkat dua kali pada siang bolong hari Minggu akhir bulan Mei.
Beberapa detik Joko merasa puas melepaskan amarahnya namun setelahnya ia tersadar. Matanya menatap nanar Embok yang sudah berlumuran darah tepat di keningnya. Ia menelan ludah berulang kali. Ia segera beringsut mendekati Embok yang sakaratul maut.
“Mbok, maafin aku,” kata Joko menyesal.
Embok tidak mampu berkata-kata lagi. Matanya menutup segera dalam lima detik.
Hati Joko hancur berbaur rasa marah dan benci. Ia telah bertindak keji. Tangannya yang membunuh orang yang ia cintai sendiri.
*
Joko tak bisa memaafkan dirinya sendiri sampai berbulan-bulan kasus ini berlalu. Di dalam sel ia juga sering melamun, tertawa sesekali, tersenyum beberapa kali, namun lebih banyak menangis. Ia belum merelakan kepergian Embok begitu cepat. Ia belum siap ditinggalkan orang-orang yang dicintai. Tapi faktanya orang-orang yang dicintainya sudah meninggalkannya satu per satu. Embok, istrinya dan kedua orangtuanya.
Habis sudah semua yang dimiliki Joko: karir dan kehidupan pribadi. Mungkin Tuhan sedang menghukum Joko atas kesalahannya sendiri. Tapi kesalahannya ini juga diakibatkan pemimpin tak tahu diri. Dirinya hanyalah korban. Joko masih belum bisa memaafkan mantan pimpinan jahanam itu. Ketidakadilan dirasakannya kembali, persis seperti saat ia kehilangan orangtuanya di usia belia dan ketika ia telah mempercayakan sepenuh hatinya pada mendiang istri tercinta.
*
Joko mendengar suara sipir memanggilnya. Katanya ada tamu untuknya. Siapa?
Joko terkejut bercampur rasa benci melihat siapa yang datang.
“Gimana kabarmu?” tanya si (bekas) pimpinan yang tak pernah diharapkan Joko untuk datang.
“Mau apa kamu ke sini, Bangsat?!” balas Joko sarkastis. “Kurang puas melihatku hancur? Padahal sedikit pun nggak pernah aku membocorkan rahasiamu,” imbuh Joko.
Komandan Sentot duduk sementara Joko tidak. Ia enggan duduk satu tempat dengan pimpinan culas itu.
“Juga bukan aku yang menjebloskanmu ke penjara. Untuk apa? Toh kamu menemukan takdirmu di sini dengan caramu sendiri,” kata Komandan Sentot. “Duduklah. Mari kita bicara baik-baik.”
“Katakan saja apa maumu!”
“Aku menawarkan bantuan keringanan masa hukumanmu. Asal kamu melakukan satu hal untukku.”
“CIH! Aku lebih baik di sini menebus salahku pada Mbok daripada menjadi jongos di bawah kaki baumu!”
Mimik wajah Komandan Sentot berubah masam. Merasa tiada guna bicara baik-baik dengan Joko, ia pun memutuskan segera.
“Kalau begitu...” Komandan Sentot diam sejenak dengan tatapan berubah lebih menghunus kepada Joko.
Hanya dalam hitungan detik terdengar pelepasan peluru yang suaranya terdengar di seluruh penjuru lembaga pemasyarakatan (lapas).
Sebuah peluru menembus kening mulus Joko. Tubuh Joko ambruk. Namun ia masih mendengar jelas suara sepatu Komandan Sentot yang mendekatinya. Berdiri di sampingnya dengan wajah angkuhnya.
“Dendam adikku terbalaskan,” suara Komandan Sentot jadi menggema di telinga Joko. “Satu tahun lalu pelurumu membunuhnya.” Komandan Sentot masih melanjutkan ucapannya padahal sudah ramai para polisi sampai tukang sapu lapas mengerubunginya dengan ekspresi terkejut dibumbui ketakutan. Mereka baru saja menyaksikan seorang polisi senior telah membunuh (mantan) sejawatnya di tempat yang seharusnya jeruji besi sudah bisa membuat tahanan jera.
Joko ingin berkata-kata tapi ia tak sanggup. Apalagi merecall ingatannya ke satu tahun lalu. Tapi seketika ia ingat Embok. Seperti inikah yang dirasakan Embok ketika sakaratul maut? Ingin segera bangkit tapi tak bisa, ingin melayang tapi beban badan berat sekaligus sakit tiada tara.
“Kita impas, Joko. Arwah adikku tenang. Haha-haha-haha...” Komandan Sentot bicara disusul dengan tawa laksana raksasa. Ia telah menebus nyawa adiknya yang telah menggeluti dunia haram, narkoba, tanpa diketahui banyak pihak. Dan sialnya mati di tangan Joko.
Pasca penembakan itu tak ada yang bisa diupayakan untuk Joko. Dalam perjalanan menuju rumah sakit Bhayangkara, Joko mengembuskan sisa napasnya. Sedangkan di suatu tempat, Komandan Sentot menjalani uji cobanya sebagai bagian dari upaya diagnosis gangguan jiwa dari pakar psikologi. Berjalan untuk beberapa hari berikutnya.
Tragedi yang terjadi pada siang hari -yang sama ketika Embok pergi meninggalkan dunia- itu sungguh melukai dan mencoreng nama baik lembaga kepolisian.
Tak ada yang pergi dengan membawa nama mewangi. Nilai patriotisme juga terbengkalai. Tapi Joko masih punya nurani. Ia membela harga dirinya di tengah tekanan pekerjaan dan gaya kepemimpinan yang tak bisa diterimanya. Dialah tumbal kelicikan membabi-buta dari sang pemimpin. Fakta bicara Joko juga tak berjiwa tangguh untuk mempertahankan kestabilan emosinya. Namun sungguh ia menyesali seluruh perbuatannya. Kini semuanya impas seimpas-impasnya. Hutang nyawa dibayar nyawa. Apakah pada akhirnya hukum alam selalu (dirasa) benar?

-selesai-

*tulisan ini diikutsertakan dalam lomba "Kompetisi Kreatif Internasional Dialog Muda 2014"


[1] Panggilan untuk anak laki-laki dalam masyarakat Jawa
[2] Kamu

Rabu, 02 April 2014

RUMAH KOS 666 (part of ANTOLOGI GROUND ZERO by DE TEENS)

from this
 Keyla atau Key – demikian panggilannya – berdiri mematung dan mendadak menegang keseluruhan tubuhnya. Binar matanya menunjukkan kilat ketakutan teramat sangat tapi juga keinginan kuat untuk berteriak sekeras-kerasnya dan menyergap lelaki tua itu. Namun keberadaannya saja tak dihiraukan oleh si lelaki tua yang tega mengayunkan keras sebilah bambu tua ke tubuh seorang gadis berulang kali di bawah keran air yang mengucur deras. Terlihat wajah gadis itu membiru lebam bahkan darah menetes dari ujung bibirnya. Gadis itu meronta-ronta tapi si lelaki terus menghunjamkan pukulannya. Sebanyak apa pun gadis itu memohon maaf dan meminta tolong, sebanyak itu pula hukuman fisik yang ia dapatkan. Pedih, pilu, ironis, sengsara dan menakutkan. Itulah yang tertangkap bola mata Key. Key tak tahu kenapa gadis itu dihukum sebegitunya. Apa salahnya? Dan pada kesempatan terakhir, lelaki tua itu meraih sebuah cambuk. Gadis itu dicambuk habis-habisan tanpa ampun. Sadis! Hingga akhirnya, tiba-tiba saja cambuk itu berubah menjadi sebuah kapak. Sontak Key berteriak....
 “TIDAAAAAAKKKK!!!” Key terbangun dari tidur malamnya dengan napas yang tak beraturan sambil ia memegangi kepalanya. Mimpi itu lagi. Ini sudah kali kedua dan sama persis!
“Astaghfirullah,” gumam Key kemudian ia merenung. Pasti ada makna dari mimpi yang sama persis untuk kedua kalinya. Tapi Key tak jua menemukan jawabannya.
Angin Subuh membelai lembut gorden kamar Key. Key lupa menutup jendela kaca model lawas kamarnya. Pantas saja, semalam terasa lebih dingin ketimbang biasanya. Key menutup jendela itu asal tanpa menyibak gordennya. Mendadak saja sekelebatan bayangan orang melintas di depan jendelanya, di depan matanya. Kamar Key terletak di dekat teras lantai dua. Biasanya saat Subuh hari, Karin, teman kosnya beda kamar olahraga ringan di depan situ. Tapi Karin sedang sakit di Gresik. Key segera menyibakkan gordennya dan mengintip dari dalam. Tiada seorang pun. Key menunggu sejenak. Adakah suara aneh? Tidak. Adakah bayangan itu lagi? Ia menunggunya sampai hitungan ke lima menit pertama, tapi tidak mendapati sosok itu muncul lagi di balik tembok kamarnya melalui jendela. Well, mungkin itu tipuan penglihatannya. Atau mungkin tadi itu maling?
Tapi tunggu! Atau sebuah... sebuah... halusinasi? Key menggelengkan kepalanya cepat kemudian termangu sesaat. Teringat masa lalu. Kenapa kejadian ini kembali mengusiknya setelah sekian tahun hidupnya aman, nyaman dan damai tanpa ini. Dulu ketika SMP dia seringkali melihat sosok-sosok transparan berkeliaran di kebun Tebu milik tetangganya yang ada tepat di sebelah rumahnya. Kemudian, ia bisa seketika berhenti berjalan dan melihat serangkaian peristiwa di dalam matanya yang terpejam. Tapi, kala itu Key hanya geleng-geleng, mungkin itu hanya khayalannya semata. Tapi tidak! Apa yang ada di pikirannya benar-benar terjadi. Sialan! Tapi, dua hal tersebut belumlah sering terjadi. Dan seiring ia beranjak dewasa, ia semakin yakin bahwa apa yang ia alami semasa SMP hanya kebetulan dan faktor kelelahan sehingga inderanya mengada-ada.
Tapi, kini tampaknya Key harus berpikir ulang walau ia juga masih sering berupaya mengelak sekuat tenaga. Mimpinya tentang sebuah kejadian tragis di kosnya yang baru, berulang dengan sama persis. Kemudian suara aneh yang terjadi pada suatu pagi.
Hari itu dia bangun tepat pukul setengah lima. Subuh pun pukul setengah lima pagi sehingga ia segera  mengambil air wudlu untuk menunaikan ibadah wajibnya. Usai itu, ia mandi sebelum didahului oleh seniornya di kamar sebelah, Laksmi yang sukanya juga mandi Subuh hari. Key pun menyalakan keran air begitu lebar sehingga suara air menyemprot keras setelah berada di dalam kamar mandi. Beberapa detik kemudian samar-samar ia mendengar suara, “Siapa di kamar mandi?”.
Key memutar keran air supaya suaranya tidak berisik. “Ya?”
“Antri, ya?”
“Oh iya, Mbak,” sahut Key sudah mengenali suara Laksmi sejak pertama bertemu. Cempreng tapi kalau sudah nyanyi, merdu unik kayak Fatin begitu, deh.
Kebiasaan wajib di kos 666 salah satunya bilang: aku antri, ketika hendak mandi supaya tidak heboh seisi kos akibat saling serobot antrian. Sebab kamar mandi yang berfungsi hanya satu untuk sepuluh orang kos 666. Ini yang membuat Key gedeg-gedeg sama ibu kos. Janjinya memperbaiki kamar mandi lantai dua –dekat dengan kamarnya- semenjak ia datang pertama kali untuk ngekos satu tahun lalu tapi sampai sekarang tak jua diperbaiki.
 Satu informasi tentang kos 666 atau sering disebut triple six. Kos ini terletak di gang 6 dengan nomor rumah 66 di dekat Kecamatan Gubeng, Surabaya.
Lima belas menit kemudian Key sudah kembali ke kamarnya. Eh, tapi ia mampir dulu ke kamar Laksmi.
“Mbak Laksmi, udah.”
Tak ada sahutan dari dalam kamar Laksmi yang gelap, terlihat dari ventilasi kamarnya. Akhirnya Key mengetuk pintu bahkan sampai menggedornya dan setengah berteriak, tetap tak ada jawaban dari dalam. Key pun kembali ke kamar lalu mengambil ponselnya. Key mengirim pesan untuk Laksmi.
Mbak, gw udh kelar mandi. Giliran elo.
Beberapa menit kemudian ada balasan dari Laksmi.
Gw lg otw balik SBY nih, Key. Kan, kemarin sore gw balik Lumajang.
Mata Key melotot mau copot. Lah, tadi yang antri mandi siapa???
Kejadian ini membuat Key semakin pening berpikir saat ini. Belum lagi pernyataan temannya, Ratih, beberapa waktu lalu, membuat Key makin tak nyaman balik ke kos. Bahkan sampai detik ini ia masih sesekali parno menatap suatu sudut yang ditunjukkan Ratih.
“Key, thanks ya kemarin lusa udah diizinin nginep kos-an elo. Tenang aja, kamar elo nggak gue obrak-abrik, hehehe,” ujar Ratih. Ratih menginap di kamar Key ketika Key pergi ke rumah saudaranya dan menginap di sana. Ratih kemalaman pulang ke Sidoarjo, sementara sudah tidak ada angkot ke sana. Ayahnya juga pergi keluar kota sehingga tidak ada yang menjemputnya.
“Iya, sama-sama, Tih. Gue percaya, kok,” sahut Key tersenyum lebar.
“Eh, tapi Key, tunggu deh. Elo nggak kenapa-kenapa selama ini tinggal di situ?” Pertanyaan Ratih membuat Key terangkat sebelah alisnya.
Key menggelengkan kepala. “Kenapa-kenapa apanya?”
Ratih menarik napas dalam. Berharap semoga kawannya tidak kaget atau bahkan pingsan di tempat. “Jadi, di pojokan kamar elo, di atas lemari elo ada...” Ratih menghela napas lagi.
Key menunggu tidak sabar. “Ada apanya?”
“... kunti nangkring!” Ratih menandaskan kalimatnya tanpa ampun.
Key terperanjat. “Busyett! Elo pagi-pagi jangan horor, ah, Tih!”
“Gue serius! Elo hati-hati aja. Banyakin sholat sama baca Qur’an.”
Key mencubit lengan Ratih. “Jangan bikin gue nggak berani tidur di kamar sendiri, Tih! Dan gue udah pesen sama elo kan, apa pun yang elo lihat dari gue, sekitar gue, jangan pernah kasih tahu gue! Gue bakal stres mikirinnya. Gue tahu elo cenayang tapi pliisss... jangan berusaha nakut-nakutin gue!” mohon Key.
Mengingat pernyataan Ratih itu membuat Key bukan hanya pening tapi sekarang kebelet pipis. Bulu kuduknya pun merinding seketika. Ia tak berani melihat ke atas lemari di seberang tempat tidurnya. Tapi, ia ingin memastikan tak ada apa-apa di sana dari sudut matanya. Ia tak mau disebut berhalusinasi.  Lagipula dirinya bukanlah cenayang atau titisan nenek moyang yang punya kekuatan supernatural dan -pasti- bukan juga Tuhan yang tahu segala hal yang ghaib dan kasat mata yang tidak diketahui manusia. Dia gadis biasa dan senormalnya manusia. Berstatus mahasiswa semester lima fakultas Psikologi di sebuah PTN ternama di Surabaya. Tapi, kenapa sekarang ia begini? Sensitif. Dan lebih sensitif ketimbang zaman SMP, juga frekuensi mengalami hal aneh semakin sering. Key bukannya takut tapi ia tidak mau pikiran itu memprovokasinya melebihi kenyataan yang ada. Pikiran yang menjelma menjadi sebuah halusinasi bahkan disertai delusi dalam beberapa periode, itu artinya ia bisa didiagnosa mengidap Skizofrenia!
... to be continued


Pengen tahu kelanjutannya? Grab it (Ground Zero: A Crime Behind The Shadow) fast on ur fave book store, guys. Happy Spooky ;) 



Selasa, 18 Maret 2014

Sabar adalah Penolong

Malam semakin dingin untuk sebuah desa bernama Gadungan, bagian kecil dari Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Padahal jam dinding masih pukul setengah sembilan malam. Tapi memang inilah “musim dingin” di sini, di saat -waktu yang baik bisa diduga maupun tidak- rezeki air dari Tuhan turun. Hujan. Tapi langit malam ini cerah walaupun rasanya menggigil.
 Di bangku susunan bambu lebar ini, aku dan kamu duduk berdua. Tanpa ayah yang sedang bekerja mengonstruksi sebuah bangunan hotel di bibir pantai selatan Jawa, di Trenggalek sana. Tanpa dua anak lelakimu yang sibuk mengurus kegiatan OSIS di sekolahnya. Hanya aku, anak perempuanmu satu-satunya yang menemanimu di emperan sebuah gubuk berdinding kayu dan lantai semen peninggalan mendiang nenek dan kakek.
Engkau pun berceletuk. “Ibu seneng kamu di rumah, Nduk[1]. Biasanya ibu sendiri kalau ndak ada kamu. Paling kalau siang ke tokonya Mbak Sukis situ buat cerita-cerita biar nggak sepi di rumah pas adik-adikmu sekolah, ayahmu nyambut gawe.” (bekerja)
Aku memilih meletakkan kepalaku di pangkuanmu. Engkau mulai mengusap lenganku.
“Tapi Ibu jangan mau diajak ngrasani orang. Nanti kita dituduh yang macam-macam.” (membicarakan keburukan)
“Enggaklah. Ibu ndak pernah ada niat untuk menjelekkan orang, Nduk. Gae opo to? Wong kita juga bukan manusia suci.” (Untuk apa? Lagi pula)
Memoriku akan topik ini membuatku terlempar ke masa lalu. Pada masa di mana aku mengingat kamu dan ayah terkena fitnah telah menyantet tetangga kita yang telah memakan sekian meter tanah peninggalan mendiang kakek-nenek, di depan mataku yang masih SMP kelas satu dan di depan banyak orang, se-RT dugaanku. Tetangga kita itu memang sudah memberikan biaya ganti rugi padamu tapi entah mengapa beberapa hari setelahnya ia sakit lalu menuduhmu dan ayah seperti itu. Dan aku melihatmu, juga ayah tentunya hanya beristighfar kuat. Semenjak itu aku mengenal rasa sakit hati pada orang yang lebih tua dariku. Namun, kamu menghiburku, “Jangan dipedulikan! Kamu harus sabar, Nduk. Ndak boleh dendam. Nanti juga bakal tahu siapa yang benar.” Hatiku pun mendingin tapi sampai detik ini, setiap kali aku bertemu dengan orang itu, ingin sekali aku menyumpal mulutnya dengan batuan lahar dingin gunung Kelud bahkan menyemennya sekalian.
Aku ingat kenangan pahit itu sehingga merasakan betapa kuatnya dirimu menjadi pribadi yang hidup di tengah masyarakat yang majemuk etnis, budaya dan agama di desa ini. Belum lagi karakternya yang beraneka macam.
“Bu, besok lusa aku mau ke Jogja. Aku mendapat panggilan tes-wawancara kerja sebagai editor di penerbit mayor. Padahal aku sudah lama nglamarnya, lho.  Aku pikir aku nggak kepanggil. Ya, walau ini nggak sesuai sama jurusanku kuliah di psikologi tapi aku suka tulis-menulis, Bu.”
“Iya. Siapa tahu itu rejekimu, Nduk,” sahutmu bersuara renyah. “Apa kamu punya uang saku berangkat ke sana?”
Aku terpana sesaat. Di usiaku yang seharusnya sudah mapan dan produktif, ternyata masih pengangguran dan merepotkanmu. Tapi kamu masih bersedia dan berusaha menyediakan uang saku untukku. Entah, dapat dari ayah yang bekerja atau hasil meminjam pada tetangga kanan-kiri. Setidaknya itulah yang kuingat setiap kali aku merasa kantongku “kering” di perantauan.
“Punya. Sisa gajiku jadi freelancer shadow teacher[2] kemarin,” jawabku. “Bu,” panggilku.
Engkau berdeham.
“Maafin aku, belum bisa membahagiakan Ibu sama Ayah. Mana Ayah sekarang kena jantung kan? Dan masih nekat bekerja jauh.”
Air mata mulai keluar dari sudut mataku. Aku memang sensitif soalmu dan ayah.
“Oalah Nduk, ora popo. (tidak apa-apa). Yo, ibu sama ayah yang harusnya minta maaf, nggak bisa membuatmu sama adik-adikmu sejahtera. Tapi selama ibu sama ayah hidup, ya kami usahakan. Kalian tanggung jawab kami,” tuturmu tegar tanpa terpancing untuk meneteskan air mata.
Aku pun berkesimpulan, betapa dirimu adalah pribadi yang tertempa kuat semenjak kecil. Katamu, semasa kecil dirimu belajar di bawah temaram lampu tempel dengan sumbu kompor dan membantu orang panen kacang untuk mendapatkan uang saku. Semasa remaja, kamu kehilangan ayahmu yang paling mengasihimu dan mulai menjadi gadis yang berani bertualang sendiri. Semasa dewasa, kamu mengabdikan diri pada suami sekaligus ibumu sampai ia menutup mata. Di sela-sela itu kamu melahirkanku sampai harus bertaruh nyawa dalam koma. Dan sekarang, dirimu masih dalam garis kehidupan yang amat sederhana, tak seperti saudara-saudaramu yang sudah bisa menaiki mesin besi berjalan mentereng dengan keturunan yang sukses. Selain itu kamu juga masih harus memeras darah agar anak-anakmu ini bisa mengenyam pendidikan tertinggi supaya mendapat kehidupan yang layak.
Sungguh, aku merasakan selaksa pedih memenuhi dinding hatiku. Aku memang memberontak mengapa aku harus terjebak bersamamu dalam situasi ini. Tapi Tuhan menghendakiku melihatmu yang begitu kuat dan sabar menghadapi semua ini. Aku seketika malu pada diriku sendiri. Aku belum lah matang dalam kehidupan, malah mudah terbawa nafsu dunia. Sementara kamu bisa bertahan menghalau gelombang kehidupan ini bersama ayah. Kalian pun rela merendahkan harga diri supaya kehidupan kami -anak-anakmu- layak dan mapan. Sungguh, betapa keras perjuangan hidupmu sampai sekarang.
“Ibu.” Aku bangkit dari pangkuanmu. Engkau memandangku teduh. Mungkin, jika saja mataku mampu melihatmu dengan jelas ketika aku baru dimandikan suster dari lumuran darahmu, aku mereka-reka kuat, itulah ekspresi pertamamu ketika melihatku hadir di bumi ini. Seolah aku ini anugerah terbesar untukmu dari Tuhan. “Aku benar-benar minta maaf atas nama pribadi maupun adik-adik. Kami sudah sering menyakitimu dan Ayah. Sering membangkangmu, menyentakmu. Tapi kami mencintaimu dan nggak pengin jauh dari kalian selamanya.”
Kini air mataku meleleh, menetesi pipiku. Udara dingin makin menusuk tulang. Aku meraih kerah jaket kain coklatmu yang turun, membenahi posisinya supaya kamu lebih terasa hangat.
“Ibu terima maafmu, Nduk. Ndak usah dipikir lagi. Namanya kita hidup harus saling memaafkan. Terlebih orangtua sama anak. Dunia-akhirat saling  memengaruhi. Kalau orangtua gagal masuk surga, anak juga ikut. Kalau anak gagal masuk surga, sumbernya juga gagalnya orangtua menjalankan amanah Gusti Allah dengan baik. Ibu sama ayah selalu berusaha dan berdo’a biar kalian hidupnya barokah dunia-akhirat. Mapan, cukup, berkah. Itu aja,” jelasmu. Kemudian tanganmu menangkup wajahku, membelainya lembut, berusaha menghangatkanku.
Iya, aku tahu dirimu adalah orang yang selalu sabar, ikhlas dan pemaaf. Tak salah jika kamu awet muda, Bu. Kamu tidak punya letupan amarah –sepengetahuanku-. Malaikatkah dirimu ini? Ibuku malaikat? Sungguh ayah beruntung mendapat wanita sepertimu. Dan lebih-lebih beruntung aku memiliki ibu sepertimu.
Aku kembali teringat kekurangajaranku semasa aku kuliah di Surabaya. Aku jengkel tak jelas waktu itu. Aslinya sih, karena kamu tak jua mengirimiku uang bulanan padaku yang sudah kere padahal awal bulan. Aku pun membuat sebuah konspirasi sendiri. Memberitahu semua saudara bahwa aku mendapat kecelakaan ringan namun berdarah. Kamu pun sontak meneleponku dengan rentetan kalimat penuh kekhawatiran. Aku tertawa sinis dalam hati dan bermulut kasar padamu. Aku merasa bangga ternyata kamu peduli jika aku sakit. Bangga, bukan bahagia. Bangga atas kemenanganku mengelabuhimu. Padahal situasi kala itu, untuk membeli beras sembako kualitas rendah saja, kamu sulit karena gagal panen jagung yang kamu dan ayah tanam di belakang rumah.
Malam ini pun membuatku tersadar, aku begitu kejam padamu. Begitu teganya aku padamu. Aku begitu bernafsu menjadi kaya melalui penempuhan ilmu di kota, berharap bisa mendapat pekerjaan yang mentereng di kantoran kota. Tapi apa? Sekarang aku di sini, kemarin baru menjadi pekerja lepas untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus dan seringnya disebut baby sitter oleh orang lain, bahkan kakakmu sendiri, Bu. Sakit! Tapi sungguh aku sadar. Rezekiku seret karena aku melukaimu. Mungkin kamu sudah memaafkan aku tapi mungkin Tuhan ingin memberiku pelajaran. Supaya aku lebih bisa menghormatimu dengan tulus, mensyukuri setiap nikmat yang ada sehingga merasa selalu cukup dengan karuniaNya.
Aku menggenggam tanganmu dan menurunkannya dari pipiku.
“Bu, apa pun yang terjadi, aku akan menjaga Ayah dan Ibu. Aku dapat kerja di sini nggak pa-pa asal cukup buat kita semua. Aku juga nggak terlalu berharap untuk tes besok di Jogja itu. Aku bakal jaga Ibu sama Ayah. Kalau bukan aku siapa lagi? Adik-adik itu laki-laki dan mereka harus merantau dan sukses lalu kembali pada Ibu dan Ayah juga. Giliran mereka yang pergi menimba ilmu sebanyak-banyaknya, aku yang akan menjaga kalian. Aku yakin restumu ampuh untukku, Bu. Rezeki datang dari mana saja kan, Bu?”
Kamu mengangguk tersenyum padaku dan mengusap tanganku.
“Jadi, aku tetap berusaha semampuku bagaimana caranya agar roda kehidupan kita terus berjalan tanpa Ayah bekerja keras ketika sudah tua begini. Sudah waktunya aku mengambil alih tanggung jawab Ayah tapi dengan caraku sendiri, Bu. Do’ain aku ya, Bu? Cuma do’a Ibu dan Ayah yang aku jadikan jimat kesuksesanku kelak. Do’ain aku ya? Aku cinta sama Ibu walau aku sering nyakitin Ibu,” ujarku sambil merasakan air mata sudah tumpah ruah membasahi wajahku.
Aku sontak memelukmu dan kamu membelai kepalaku lembut.
“Alhamdulillah Nduk kamu bilang begitu. Ibu bersyukur kamu bertekad seperti itu tapi kamu juga eling kamu wanita yang ada masanya ikut suami. (Ingat). Asal kamu berbakti pada suamimu nanti, ingat sama kami, itu cukup. Kami seneng kalau kehidupan keluargamu dan keturunanmu bahagia dunia-akhirat, juga adik-adikmu kelak. Ibu nggak pernah berhenti berdo’a, Nduk. Kalian itu harta terbesar dan berharga kami. Kalian harus lebih sejahtera dan barokah dari kami.”
Aku mendesah lega. Betapa kamu adalah makhluk jelmaan malaikat, Bu. Sabar, tulus, kalem, selalu bersandar pada firman Tuhan dan selalu mengasihi kami dalam kondisi apa pun. Aku tak tahu harus berterima kasih macam apa pada Tuhan karena telah menjadikanmu sebagai ibuku.
“Kamu juga harus lebih sabar, Nduk. Sabar itu penolong bagi orang beriman. Sabar bukan berarti diem, menyerah tapi terus berjuang, ikhlas sama ketentuan Gusti Allah dan terus berdo’a, juga berbuat baik pada sesama. Insya Allah jalan hidupmu selalu barokah dan cukup. Ndak perlu yang wah, kaya raya, berlebihan. Nggak. Cukup. Gusti Allah yo ndak suka sama orang yang berlebihan. Tapi kalau ada orang yang kaya ya itu ujian, sejauh mana dia bisa berbuat baik di jalanNya. Percayalah dalam hatimu!” tuturmu menyentuh dadaku, tepat di hatiku.
Oke Bu, kamu memang bukan orang berpendidikan tinggi sepertiku tapi jiwamu dan mentalitasmu mengalahkan siapa pun yang bertitel banyak di dunia ini yang kebanyakan serakah, culas dan pongah. Aku berani jamin. Tuhan Maha Tahu.
Aku memelukmu lebih erat sehingga sensasi hangat menjalariku. Abaikan dinginnya udara yang kian menggila malam ini. Aku hanya ingin melindungimu seaman dan senyaman mungkin seperti kamu menjagaku dalam perutmu, di balik gendongan kainmu dan harga dirimu.
-selesai-

*pernah diikutkan dalam lomba #Everlastingwoman untuk memperingati hari ibu 2013 oleh Penerbit Diva Press tapi enggak menang :p


[1] Panggilan untuk anak perempuan dalam masyarakat Jawa
[2] Guru pendamping Anak Berkebutuhan Khusus