Tampilkan postingan dengan label share. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label share. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Juli 2014

Gagal



Tumbuh menjadi pribadi yang selalu menomorsatukan prestasi merupakan hal yang menurutku patut dilakukan. Sebab dengan begitu, hidup kita jadi tahu ke mana arah tujuan hidup ini. Namun ketika sudah berbaur dengan gengsi dan tidak mau kalah, itu sungguh sangat menyakitkan. Menyakitkan ketika aku tahu aku kalah dalam sebuah pertandingan.
Oh, maafkan aku jika aku bicara hidup ini adalah sebuah arena pertandingan. Tapi memang itulah yang aku persepsikan. Bahkan Tuhan saja meminta hamba-Nya berlomba-lomba dalam kebaikan. Silakan saja kalau ada yang bilang pemikiranku dangkal. Maka aku pun tidak ingin kalah apalagi mengalah. Tapi faktanya aku tidak pernah menjadi nomor satu. Aku ada di nomor sekian. Dan standar hidupku menjadi nomor sekian ASAL orang masih bisa melihatku. Namun juga bukan nomor bontot yang sama sekali diremehkan orang.
Dan aku menjadi manusia yang takut pada kegagalan. Karena dari dulu aku mendapatkan sesuatu yang prestisius sampai pada akhirnya aku harus menelan pil pahit ada orang yang lebih dariku. Kurasakan dunia ini serba terbalik. Semuanya berjalan tidak sesuai inginku. Semua inginku diberikan Tuhan pada orang lain. Dan yang semula aku mengasihi, berubah menjadi iri dan dengki.
Kubiarkan iri hati menguasaiku namun ternyata itu lebih sakit. Sepertinya lebih sakit ketimbang tertusuk peniti. Dan air mata justru semakin deras mengalir tanpa alasan yang bisa diurai satu per satu. Iri sana, iri sini. Benci itu, benci ini. Bahkan pada akhirnya aku mengutuk diriku sendiri manusia nista tiada guna. Dan pantas untuk diambil nyawanya.
Namun seiring berjalannya waktu, jatah hidupku semakin berkurang, aku ingin mengubah segalanya. Ingin kulepaskan segala beban dan menikmati setiap hembusan napas milik Tuhan. Sembari meyakinkan diri bahwa apa saja yang tidak bisa kutanggung, ada Tuhan yang selalu siap meringankan bebanku. Tapi katanya Tuhan tidak membebankan ujian jika kita tidak mampu. Dengan kata lain setiap ujian yang kita jalani adalah takaran pas yang diberikan-Nya kepada kita – sesuai perbuatan yang telah kita lakukan. Sepertinya begitu.
Kini aku hanya ingin fokus pada Tuhan. Dia yang membuatku hidup, Dia juga yang membuatku mati. Dia menciptakan aku tapi aku tidak tahu fungsi aku lahir di dunia. Kecuali untuk menyembah-Nya. Tapi katanya Tuhan Maha segalanya sehingga tidak perlu kita. Iya, memang. Justru kita yang butuh Tuhan karena Dia Maha segalanya.
Jadi aku ingin belajar tidak mencemaskan kehidupanku terlalu berlebihan. Kegagalan adalah cara Dia menegurku tentang akibat dari perbuatanku dan cara Dia mengarahkanku ke tempat yang lebih tepat. Itu saja.
Seharusnya aku bersyukur aku gagal lagi dan lagi. Karena mungkin dengan begitu, aku akan selalu bergantung pada-Nya. Katanya Tuhan suka dengan hamba yang meminta kepada-Nya dan taat. Tapi aku manusia yang dibekali hasrat. Maka kubiarkan hasrat ini terus berkembang untuk mencoba setelah datangnya kegagalan – sesuatu yang tidak sesuai harapanku.
Bersyukurlah diriku gagal sehingga bisa tahu kualitasku yang buruk. Ah, tapi buruk itu kan persepsi manusia. Mereka bisa berkomentar apa pun selama lidah mereka tidak terpelintir bahkan putus. Biarkan saja. Mari terus berjalan. Semua akan indah pada waktunya. Memang butuh kesabaran dan ketangguhan untuk terus mencoba dan bangkit ketika jatuh. Tapi yakinlah, mereka-mereka yang tidak pernah mengalami penderitaan akan ada masanya berguru kepada si ahli penderitaan. Karena setiap hal akan memberikan pelajaran. Selamat menikmati kegagalan.

‘Aku’.

Rabu, 18 Juni 2014

My 24th


Ya ampuunn umurku sudah 24 tahun, mau seperempat abad. Umur segitu ibuku sudah menikah, hihihi. Sepupuku sudah punya anak satu. Aje gilee... terus gue masih gini-gini aje? Syedih...
Oke well... aslinya dengan kondisi ‘masih gini-gini aje’ sebetulnya keberuntungan buatku. Aku single, masih free melakukan apaaaa saja yang kumau, belum ada yang melarang ini dan itu – kecuali orangtua. Harusnya aku bersyukur tidak menikah muda (bukan maksud nyindir yang nikah muda) sesuai keinginanku yang pengen mengeksplor kemampuanku dan dunia ini semaksimal kubisa. Iya, aku punya impian besar. Jadi penulis, jadi wanita karir, melancong ke tempat-tempat indah di belahan dunia mana saja dan berkenalan dengan banyak teman. Aku ingin jiwa dan pikiranku berkembang seluas permukaan bumi ini bahkan sejagat raya #eaaa... tapi itu jujur, sih. Selama ini soalnya nggak jauh dari rumah padahal pengen merantau tapi agak nggak berani juga, heuheuheu...
24 tahun buatku... duh, aku nggak mau sok jadi filsuf. Pokoknya 24 tahun ini aku pengen jadi pribadi yang lebih bisa menahan emosi, sabar, tegas, pokoknya baik dalam segala hal daripada sebelumnya. Pengen dapet kerja yang mapan juga pastinya. Pengen segera nerbitin novel juga tentunya. Pengen... duh... aku nggak kepikiran bakalan nikah usia berapa tapi pengen juga segera ketemu jodoh, hehehe. Tapi yang pasti untuk merangkum semuanya, aku pengen aku menjadi pribadi yang terberkahi Sang Illahi supaya aman dan nyaman diriku ini.
24 tahun tanpa perayaan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ulang tahunku hanya 2 kali dirayakan oleh teman-teman sekolah, pas SD kelas 3 dan SMP kelas 1. Sueneng bukan main! Pas SD aku dikasih semangka, jadi kue tart-nya diganti semangka, dibeli nggak jauh dari sekolahan. Terus pas SMP aku dikasih surprise kue tart trus dicemongin mukaku plus dapat hadiah kliping band favorit aku, Sheila on 7. Sayangnya semakin ke sini, semuanya terasa sepi. Hanya ucapan dari kawan terdekat dan keluarga. Tapi tahun ini hanya segelintir teman dekat dan adik tertuaku. Sedih sih, orangtua nggak ngucapin tapi aku nggak pernah ragu dalam setiap doa mereka selalu tersebut namaku. Aku mau apa lagi coba? Tapi aku juga masih iri sih, sama temen-temen yang pas ulang tahun dapat surprise ini-itu bahkan dari pacarnya. Yah, baiklah... tiada guna aku bermuram durja. Harusnya aku bersyukur Allah kasih aku umur untuk memperbaiki diri. Dan kalian tahu apa yang dikasih Allah ke aku di umur ke-24 tahun ini?
 Ini ceritanya...
Sehari setelah aku ulang tahun ibu memintaku jagain seorang nenek, teman mendiang nenekku, masuk rumah sakit karena kecelakaan tersiram air panas. Aku kagok, dong. Gimana enggak? Aku dijagain mbahku itu terakhir kelas 1 SD lalu beliau meninggal sebelum aku dewasa. Aku bingung jagain beliau di rumah sakit, bingung gimana kalau pipis dan berak. Eh, tapi aku nggak kehilangan akal, dong. Kan, ada suster-susternya, heheheh. Terus aku mikir ‘Ya Allah, kok baik bener ya Engkau, pas aku udah nggak punya mbah (padahal aku juga nggak lagi pengen dan kangen sama mbah) tapi dikasih peristiwa beginian’. Bikin aku merasa Allah sayaaaang banget sama aku. Dia pengen aku melihat kalau orang sudah tua tuh begini loh, sudah kayak anak kecil lucu-lucu manja dan terkadang merasa kesepian karena jauh dari anak-anaknya. Mbahku mungkin dulu enggak, soalnya ibuku tinggal sama mbahku. Tapi aku jadi inget orangtuaku. Gimana kalau suatu hari aku dan adik-adikku merantau, siapa yang jagain mereka? Sedangkan mereka semakin tua dan rapuh. Kasihan. Dan nanti kalau aku tua, apakah aku bisa hidup sampai tua dan punya keturunan? Kalau punya keturunan apakah mereka ingat sama aku? Atau kalau enggak berketurunan lalu aku gimana? Masya Allah, pikiran-pikiran itu berkelebatan di otakku. Oke, mungkin waktu itu pikiranku terlalu pusing mikir kondisi ‘kalau ini dan itu’, akhirnya kulakukan semampuku jagain nenek itu.
Terus yang nggak diduga lagi adalah aku bertemu cucunya yang sudah belasan tahun nggak pernah ketemu. Nggak pernah berubah dia, wajahnya tetap tengil tapi aku kira sih, kepribadiannya sudah baik. Ramah dan sopan. Sempet dibikin GR pula, hehehe.
24 tahun yang... ah, aku hanya memanjatkan doa terbaik pada Gusti Allah... pengen lebih bisa mengambil hikmah dari semua yang kualami dan pandai jadi pribadi bersyukur. Itu aja. Selamat milad untukku sendiri. :)
Someday, akan ada give away novelku untuk memperingati hari lahirku. Aamiin.

Senin, 05 Mei 2014

Refleksi Kehidupan


Aku sering berdoa untuk diberi kemapanan dalam hidup. Hidup di dunia. Sering dan selalu aku yakini. Padahal hidup ini akan berujung. Aku memang sering berdoa agar dosaku, orangtua, keluarga dan kerabatku diampuni dosanya, pun berharap diberi keselamatan dunia-akhirat. Tapi celakanya aku hanya berdoa demikian sepintas lalu, tak seperti doa untuk duniawi.
Aku tidak akan berkhotbah tentang surga dan neraka di sini. Aku hanya ingin bercerita yang kualami dan ingin mengabadikannya kemudian menjadi catatan yang selalu kuingat sepanjang hayat.
Surga dan neraka.
Aku berdoa setiap hari hanya untuk duniawi. Berpikir bahwa dengan tercukupinya duniawi, kami bisa hidup lebih tenang beribadah bahkan bisa pergi ke Makkah. Terus dan selalu demikian. Faktanya memang tak banyak yang berubah dalam kondisi duniawiku. Masih sederhana. Dan selalu bersemangat menjalani dinamikanya. Kami merasa lebih hidup. Hanya saja sering juga menyesakkan dadaku. Orang-orang yang kusayangi masih terus berjibaku dengan kerasnya hidup sementara saudara dan teman-temannnya sudah duduk anteng menikmati jerih payah. Hidup terkadang tidak adil, pikirku. Maka aku ingin menggebrak segalanya menjadi lebih sejahtera, hanya saja aku masih berjalan menuju ke sana. Tak apa.  karena aku percaya.
Aku percaya walau belum yakin benar. Aku percaya pada Dia yang punya kuasa namun aku belum yakin karena otakku sering berliar diri. Adakah Dia? mungkin bagi kaum agamawan (adakah istilah seperti ini?) pikiranku picik bahkan terlarang dan haram. Silakan saja kalian berkata.
Namun dalam hati aku berkata, aku tidak mampu hidup tanpaNya. Bahkan aku lahir memang karena kuasaNya untuk tujuan yang entah apa. Secara umum memang untuk berguna bagi semuanya. Benarkah aku sudah berguna? BELUM.
Lantas kapan aku akan berguna?
Sementara aku tak tahu kapan aku akan kembali berpulang. Berpulang padaNya.
Berpulang. Setelah mendengar adik bercerita berdasarkan khotbah ulama yang didengarnya, kita hidup untuk kembali kepadaNya. Bukan untuk surga dan neraka.
Namun,
Aku justru berdoa untuk mengharapkan surga dan menghindari neraka. Kendati aku tahu bahwa masuk surga aku SAMA SEKALI TIDAK PANTAS, tapi juga tidak bisa membayangkan pedihnya siksa neraka. Pernahkah kalian melihat fenomena di alam kubur melalui video yang sudah banyak beredar? Mengerikan. Katanya sih, mengerikan bagi yang tidak beramal-saleh. Allahu a’lam. Tapi kalau di alam barzakh  saja begitu menyakitkan sebagai “imbalan” perbuatan apalagi neraka. Entah, hanya Dia yang Maha Tahu.
Tapi benarkah surga dan neraka itu ada? Jadi teringat lagu Ahmad Dani dan mendiang Chrisye. Jika surga dan neraka tidak pernah ada. Apakah kita masih menyembah kepadanya?
Bisa dimasukkan akal juga. Surga dan neraka itu stimulus untuk orang berlomba-lomba dalam kebaikan. Esensinya kita tetap kembali berpulang dan terserah Dia yang memiliki kita mau berbuat apa terhadap kita.
Tapi sulit untukku. Aku tetap ingin sejahtera di dunia dan selamat di akhirat. Begitu banyak tendensi dalam hidupku yang kuinginkan Dia mengabulkannya. Dasar aku manusia serakah. Tidak tahu malu. Sudah diberi kehidupan dan banyak keberuntungan namun masih saja meminta lebih. Sebenarnya manusiawi. Hanya saja, kalau keserakahan itu bisa dialihkan ke arah yang lebih tulus kepadaNya, misal serakah untuk rajin menjalankan kewajiban kepadaNya, kepada sesama dan kepada semesta alam, mungkin itu akan menjadi keserakahan yang bisa disebut berguna.
Ya, dengan begitu hidupku berguna sebagai manusia yang bertugas sebagai khilafah di muka bumi. Tapi akankah aku bisa?
Aku ingin bisa. Sebelum waktu menghentikan segalanya dan tidak memberiku kesempatan melakukan hal-hal berguna semampuku.
Oh, iya, selain keserakahanku meminta yang enak-enak tadi dan ketakutanku terhadap neraka, yang lebih dulu aku takutkan adalah kematian. Kematian menghentikan segalanya. Kita juga tidak bisa kembali sekalipun mati suri sebab nantinya kita akan mati kembali untuk selamanya.
Kenapa aku takut mati? Jelas karena aku tidak mendapat kesempatan untuk melakukan target yang belum tercapai. Karena sendiri di tempat sempit, gelap, pengap pun tertimbun tanah dan perlahan belatung menggerogoti badan. Karena aku belum melakukan banyak hal berguna. Karena aku belum ini dan itu and so on and so on. Dan ternyata Dia berbaik hati. Pagi ini aku membaca kutipan dari akun twitter berikut:
 Alasan terbaik mengapa kita masih dibangunkan Tuhan pagi ini adalah..krn dosa kita terlalu banyak & Tuhan Mau kita berbuat baik (Imam Ghazali) via @PIDjakarta

Menancap di hati. Menyuruh kita bersyukur diberi waktu untuk berbenah diri sebelum bertemu denganNya yang Maha Indah dan Suci. Tak heran sih – jika aku boleh berbicara – jika orang-orang yang baik, menyenangkan, beramal-saleh, beberapa di antara mereka, meninggal masih muda (namun dengan cara yang tidak terduga). Itu karena Tuhan teramat menyayangi mereka. Tuhan tidak mau orang-orang baik seperti mereka bertambah dosanya. Mungkin. Itu yang sering kudengar dan mulai kuyakini. Sebab teman-teman dan kemarin saudara perempuanku – yang yah, well, kami tidak begitu dekat tapi aku menghormati dan menyayanginya karena kesupelannya, keberagaman keyakinan dalam keluarganya (beserta pola hubungan baiknya dengan orangtua) dan karena dia istri dari sepupu lelakiku yang sudah tough melalui kehidupan pada tahun ke... mungkin 40-an tahun kehidupannya. Dia dan suami adalah contoh bagiku menjalani hidup dari nol, menghadapi banyak rintangan, hormat orangtua dan dan caranya mensyukuri kehidupan – mengalami proses berpulang dengan cara yang benar-benar di luar dugaan. Aku kira itu hanya terjadi pada orang di luar keluarga dan kerabat kami. Tapi tidak. Siapa pun bisa mengalami. Dengan begini, kematian lebih dekat dari yang kita pikir.
Lalu denganku yang masih bisa bernapas sampai detik ini dan sehat, aku menyesal telah pernah meminta kematian. Kematian sepertinya tidak semudah yang kita duga. Sebab banyak air mata yang tertumpah. Membuatku mungkin akan pilu jika tak sempat membahagiakan mereka yang menangisiku. Padahal seharusnya kita tersenyum ketika meninggalkan orang-orang yang kita sayangi sehingga mereka  menangisi kita. Hal ini impas untuk kita yang menangis keras ketika baru terlahir ke dunia dan orang-orang di sekitar kita tersenyum bahagia.
Semoga catatan ini bisa memberiku semangat untuk menjadi lebih berguna dan tidak hanya memberatkan masalah dunia. Karena kehidupan sejati dan yang abadi jelas bukan di bumi ini. Mungkin abadi ya, sebab rasanya akal manusia tak bisa membayangkan apakah kita akan kembali berpijak di bumi jika sudah mati-dikubur-bangkit-mendapat tiket entah itu surga atau neraka dan? Aku dan kalian tak tahu kan mau ke mana lagi kita? Selamanya di sana? Wallahu a'lam bish-shawabi. 

Minggu, 04 Mei 2014

Stimulus Penyemangat

Hai, selamat siang :)
Apa kabar?
Semoga always be happy ya.
Hari ini lagi mau posting writing progres bulan narasi oleh @bulannarasi @nulisbuku dan @_plotpoint. Tapi berhubung web-nya error jadi iseng aja ngumpulin cover2 antologi yang ada namaku sebagai kontributor. Ide ini sih dateng setelah liat background twitternya author Pia Devina. Pikirku, seru juga ya, ngumpulin cover2 buku-buku yang ada nama kita. Bedanya aku sama Mbak Pia sih, dia sudah sekalian sama novelnya sendiri sementara aku belum hehe, masih antologi semua. Tapi nggak masalah, ini jadi semangat aku untuk lebih semangat bikin novel! ^^9


Senin, 24 Februari 2014

Ini bukan hoki-hokian

Satu hal yg bikin gue males plus jengkel adalah orang-orang yg punya hoki gede. Punya ini, itu, gitu, gini. Sederhananya, semua yg dia mau selalu dia dapet & itu tanpa dia usaha keras. Bikin gemes nggak, sih?
Lah, sementara gue, buat ngedapetin sesuatu aja kudu jungkir balik dulu.
Tapi ya, daripada gue ngeluh mulu, gue ubah cara pikir gue.

Orang yg dapat hokinya melalui kerja keras adalah orang yang teruji. Pantas bersaing & pantas mendapatkan hasil kerja kerasnya. Why? Karena Tuhan memberikan yg kita upayakan.

Dg kalimat di atas, adem gue. Hehehe.

Nah, kenapa gue bisa berubah pikiran?
Ya, karena dapet buku penulis @nastiti_ds yg baru launching minggu, 23022014 kemarin. Novelnya: (bukan) salah waktu. Cerpen gue: kesempatan kedua (boleh dibuka postingan sebelum ini). Bukan karena gue hoki ikutan kuis tebak jawaban trus jawaban bener dikocok, nooo... Gue nggak pernah dapet hoki semacam itu. (Inget kan, gue dapet sesuatu setelah bikin kepala jd kaki, kaki jd kepala). Gue beruntung karena gue lolos dari seleksi bikin cerpen 1000kata yg sudah ditentukan. Ya, gue gak tahu, berapa banyak saingan gue. Tapi seminimal apa pun kompetisi itu, gue hargai. Artinya gue lolos di tahap ini dan berhak ke tahap selanjutnya. Analoginya sih, begitu, buatku. Betul?
Ini sih, tulisan untuk self-motivation ajah. Semoga bisa menginspirasi.

Gue cuma mau bilang bahwa gede atau enggak hoki seseorang, ingatlah bahwa Tuhan hanya ngasih sesuai upaya kita. Balik-baliknya ke Tuhan juga kok, guys.
Dan bukankah kita ini makhluk beruntung? Kita lolos & sukses jadi manusia mengalahkan jutaan sel sperma? Itulah kenapa Tuhan menyebut kita manusia beruntung & punya maksud diciptakan ke dunia.  Terbukti, ini bukan hoki-hokian.

Happy Monday, guys :)

Senin, 16 Desember 2013

Bersyukur


bersyukurlah kamu yg nggak pernah ada di bawah, karena kamu nggak akan susah payah melakukan pembuktian pembandingan di bawah dan di atas karena kursimu tak pernah tergoyahkan bahkan tertumbangkan. 

dan bersyukurlah kamu yang bisa merasakan di bawah tapi belum bisa membandingkan gimana rasanya di atas dan di bawah karena (katanya) Tuhan sedang tersenyum kamu sering mendekatiNya

dan tetap bersyukurlah kamu yang sudah bisa membandingkan gimana rasanya di bawah dan di atas karena Tuhan tahu saat yang indah kamu pantas menerima semuanya

dan kamu harus tetap bersyukur ketika dunia tidak kau genggam, tapi siapa tahu akhirat sudah di tangan

wallahu a'lam



----------------------------------------------------------


Minggu, 01 Desember 2013

Aku dan Dia yang Tersekat Benteng Raksasa


credit
Namanya Ro...
Dia cowok tampan -menurutku- menyebalkan kala itu. Iya, ketika aku masih duduk di bangku SMA kelas X (sepuluh).
Aku tahu dirinya sebagai siswa superior semenjak di bangku SMP. Ya, kami satu sekolah SMP dan SMA. Pertama aku tahu dia bersama gengnya semasa SMP, aku tahu betul dia itu dari kalangan parlente. Ternyata benar. Keluarganya donatur di sekolah kami, baik SMP maupun SMA. Tapi ketika SMP aku tak menggubrisnya. Aku menyudutkan sebelah mataku padanya. Dia tak ada menariknya sama sekali!
Tapi...
Berbeda kala aku masuk SMA. Kami satu kelas di sebuah kelas majemuk suku, budaya, dan agama. Di sana aku mengenalnya “lebih dekat”. Dia jadi lebih kurus ketimbang SMP, penampilannya so stylish dengan barang-barang branded dari ujung rambut hingga kaki. Tapi... pun begitu, dia tak sepopuler teman dekatnya di kalangan wanita. Kasihan dia, mengejar satu wanita saja harus “cerai bangku” sama teman dekatnya. Setahuku juga, tak banyak cewek yang mengidolakannya. Sebab, yang kutahu dari seorang kawan yang juga punya “pengaruh” di sekolah, Ro merupakan pribadi bossy bin resek. Aku akui memang begitu. Tapi entah, aku tak memandang itu sebagai keburukan. Ya, positif saja mikirnya, dia dermawan. Titik. Tapi yang menyebalkan sekaligus mendebarkanku adalah ketika dia usil menjodohkanku dengan seorang kawannya. Heboh sekali. Aku jadi tersanjung tapi juga minder. Apa pantas aku dijodoh-jodohkan dengan kawannya itu? -melihatku yang amat standar dalam penampilan dan “warisan” lahiriahku-. Well, alih-alih aku menyukai kawan Ro, aku justru lebih dekat dengan Ro dengan dalih menanyakan kabar si kawannya. Aku senaaanng bukan main bila bercengkerama dengan Ro. Menatap mata dan ekspresi wajahnya saja selalu suka. Entah, dia tersenyum, mengejek, membisu, jengkel, marah, aku suka! Sampai aku tersadar... jantungku makin lama makin tak bisa dikontrol untuk tidak berdebar kencang. Selalu terasa digedor-gedor palu paku bumi! Ya, aku jatuh cinta padanya.
Menyadari aku mencintainya, aku mulai menghindarinya bahkan ketika berpapasan di jalan aku berusaha mengalihkan ruteku walau lebih panjang lagi untuk sampai ke tempat tujuan. Kenapa? Aku tak kuasa berhadapan dengannya. Aku takut ia tahu I’m so paralyzed ketika bertemu dengannya. Takut dia mengejekku.
Waktu semakin maju, meninggalkan masa lalu. Semenjak kuliah aku tak pernah bertemu dengannya bahkan sampai detik ini, meskipun kami satu kota. Tapi menghirup udara yang sama dan berpijak di tanah yang sama membuatku nyaman. Tak peduli dia sedang bersama siapa. Sebab aku selalu memikirnya dan alam bawah sadarku berkonspirasi untuk menyimpannya di sebuah kotak ajaib. Ya, Ro selalu ada dalam kotak ajaib alam bawah sadarku, menyesak ke setiap dindingnya dan “terealisasi” dalam mimpi. Ya, mimpi. Hanya itu. Menyedihkan bukan? Mencintai seseorang tapi hanya bisa menatapnya di dalam mimpi. Tapi, meskipun begitu aku pernah memberanikan diri untuk menghubunginya lewat pesan singkat. Aku girang bukan main ketika dia membalas pesanku walau itu hanya basa-basi. Pesan yang paling aku ingat adalah pesan darinya yang tak sengaja menginformasikan bahwa dirinya selama ini pacaran tiga kali dan semuanya, dialah pihak yang “tersakiti” alias diputusin duluan. Ya, ampun... dalam hati aku berkata “Aku di sini untukmu,”. Sempat ingin menangis aku kala itu. Mencintai orang yang sama sekali tak bisa diraih bahkan hanya “melirik” kita barang hanya satu “lirikan” saja.
Ya,tak bisa diraih...
Kami berbeda dalam banyak hal. Tapi perbedaan paling mendasar yang aku sendiri sadar tidak mungkin aku meneruskan perasaanku padanya adalah perbedaan keyakinan. Aku sih, tak peduli kami dari etnis yang berbeda, justru itu yang aku cari dari calon suamiku nanti! Tapi untuk keyakinan, maaf. Itu prinsip sampai mati.
Sampai akhirnya cinta gila sepihakku semasa SMA “menjinak” seiring berjalannya waktu. Sekarang. Dan keberanianku muncul untuk mengutarakan apa yang pernah kurasakan padanya.
Sekitar, dua bulan lalu aku mengungkapkan cintaku padanya lewat sebuah pesan singkat untuk Ro yang sedang menuntut ilmu di negeri seberang.
 Sungguh aku terharu dan lega. Akhirnya setelah tujuh tahun...
Terharu karena melalui pesan singkatnya, aku menangkap  bahwa ia begitu welcome dengan perasaanku.
Lega sebab aku tak menanggung beban perasaan lagi. Tidak penasaran lagi bagaimana reaksinya dan reaksiku sendiri.
Ya, dia telah berubah jadi lebih baik. Tampaknya. Aku kira dia akan mengejekku. Aku memang tak tahu bagaimana ekspresi wajahnya tapi dari bahasa tulisannya kala itu, aku tahu dia tulus walau tetap tak  pernah –dan tak akan pernah- tersirat dia memiliki minat padaku.
Bukan masalah. Hidupku lebih enteng kini. Dan terus berlanjut menyongsong hari esok lebih cerah. Lebih bisa move on.
Tapi harus kuakui, hanya Ro yang mengakar kuat di dinding alam bawah sadarku.
Hhhh.. lucu. Cinta sepihak yang tak akan pernah aku amnesia dibuatnya.
Suatu hari, mungkin ada yang menggantikan atau menindih memori-memori Ro dan lebih kuat mengurat akar di alam bawah sadarku. Semoga.
Untuk Ro, jika suatu hari ada keajaiban membuatmu membaca ini dan kamu paham tulisanku ini... terima kasih, secara tidak langsung kamu memberiku pembelajaran sendiri.
Tentang cinta lintas etnis
Perbedaan prinsip
Cinta diam-diam
Cinta bertepuk sebelah tangan
Ketulusan menerima perasaan orang yang mencintai kita walau kita tidak cinta
Dan semuanya...
Terima kasih
Semoga hidupmu bahagia.
Aku ingin berjalan kembali, melanjutkan hidupku yang yah... selama ini sudah selalu berjalan walau harus menahan cinta sepihakku.

-selesai-





 *Ditulis untuk event Moment to Remember #MTR2013 oleh Bety dan Momo dengan tema "Love"



Kamis, 28 November 2013

Bersyukur Lebih Baik

credit
Maret 2013 lalu aku lulus menyandang gelar Sarjana Psikologi. Kini, aku melihat teman-temanku sudah bekerja cukup mapan dan ada pula yang melanjutkan kuliah profesi. Sementara aku? Aku memang sudah bekerja tapi belumlah mapan.
Kalian tahu? Aku ini wisudawan berpredikat cum laude tapi aku hanya shadow teacher atau guru pendamping Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sementara teman-temanku bekerja di kantoran, berkemeja rapi, berkutat dengan semua hal berbau HRD, berangkat pagi dan pulang sore.
Aku geram. Ini tak adil! Aku juga mau seperti teman-temanku. Tapi aku agak sial, aku gagal masuk perusahaan yang cukup besar pilihanku. Akhirnya aku berdo’a, “Ya Allah, berikan segera aku pekerjaan untuk meringankan beban kedua orangtuaku tapi berikan aku pekerjaan yang aku ikhlasi, Engkau barokahi,”. Kemudian tawaran menjadi shadow teacher datang dari seorang kawan. Aku serta-merta menerimanya karena aku butuh uang untuk diriku sendiri walau kenyataannya gajiku tidak sebesar Upah Minimum Rakyat (UMR) Surabaya. Mulanya aku pede saja. Tapi setelah dua bulan menjalaninya, ketidakpuasan dan kejengkelan mulai memberondongku!
ABK yang aku dampingi mengalami learning disability karena sistem otaknya mengalami gangguan kejang ketika balita. Akibatnya, kemampuan kognitif dan motoriknya terganggu. ABK ini walaupun berusia delapan tahun dan duduk di kelas dua SD tapi seperti anak TK. Ia belum bisa sepenuhnya membaca, menulis dan menghitung. Mewarnai saja berupa coretan dan sering tabrak garis sana-sini. Problem seperti ini mungkin masih bisa aku atasi meskipun terkadang aku merasa tensi darahku naik mendadak, geram! –tapi aku tak membencinya-. Nah, problem lainnya yang membuatku stres adalah masalahnya dengan toilet training. Dia pipis dan poop di popoknya lalu aku harus menggantikannya! Duh! Seperti hari ini. Ini bukan pertama kalinya aku menggantikan popoknya tapi hari ini aku melihatnya terbengong-bengong dan justru menginjak-injak pelan poop-nya! Aku langsung muntah sejadi-jadinya. Spontan aku mengomel, “Nak, kamu kalau pengen poop bilang!”. Ouuhh, aku seharusnya sadar diri, dinasehati berapa kali pun, anak itu tak akan pernah bisa mengatakannya padaku. Why? Kata bundanya, dia takut bilang, makanya orangtuanya membiasakannya menggunakan popok. Padahal di rumah tidak begitu. Selain itu, dia terhambat dalam wicaranya.
Jadi shadow teacher itu ternyata susah. Tapi tergantung ABK yang didampingi. Ada pula ABK yang anteng dan penurut. Makanya ada shadow teacher yang nyaman dengan pekerjaan itu dengan upah yang hanya setengah UMR Surabaya. Sementara aku? Helooo, aku lulusan universitas ternama se-Indonesia Timur, masa seolah kerja sosial dengan upah minim??! Padahal aku mau jadi wanita karir di kantoran. Tapi dengan start pengalaman pekerjaan seperti ini apakah bisa menjadi batu loncatan yang baik untuk karirku ke depan? Sesak rasanya. Tapi Tuhan Maha Pengasih. Terkadang kalau stres menemani murid ABK-ku belajar, nanti ketika jam istirahat aku bercanda-tawa dengan anak-anak lain yang “normal” dan lucu. Lalu ketika pulang sekolah aku sering berpapasan dengan pemulung yang mengais sampah sepanjang aku berjalan pulang, aku berpikir, “Berapa sih, upah yang mereka dapatkan? Pasti untuk membiayai dirinya sendiri tak cukup, apalagi keluarganya? Jadi, aku lebih beruntung dong digaji sejuta. Aku juga tak perlu bingung membayar uang kost karena ada bude yang berbaik hati menampungku di rantau. Tapi aku lulusan S1, teman-temanku gajinya dua juta,”. Gejolak hati seperti ini sering aku alami sampai tak terasa air mataku mengalir.
Aku jadi berpikir janji Tuhan itu pasti. Siapa yang bersabar dan mensyukuri nikmat Tuhan, maka akan ditambah  kenikmatannya. Aku belajar bersabar dan berempati pada ABK-ku atau ABK lain. Mereka anak-anak istimewa untuk siapapun karena sebagai bahan introspeksi bagi kita, khususnya diriku bahwa kita yang “sempurna” ini harus lebih bisa optimis dan memanfaatkan segala pemberian Tuhan dengan baik.
Aku memang ingin bekerja kantoran nantinya, tapi sahabatku benar bahwa aku diberi kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu psikologi klinisku terlebih dahulu, psikologi yang juga membahas ABK-ABK itu.
Tuhan sudah memberikan yang aku do’akan dan usahakan. Artinya, jika aku ingin lebih, maka aku harus lebih giat berusaha dan terus yakin bahwa Tuhan mengikuti prasangka hamba-Nya. Selain itu aku memang harus lebih banyak bersyukur, agar damai jiwaku.
-end-
*Ditulis untuk event buku #MyDream oleh Penerbit Diva Press dan lolos :) dengan catatan nama akun twitterku @agustinsudjono berganti jadi @agustin_sudjono
*Tulisan ini tidak ditujukan untuk menyudutkan pihak mana pun. Mohon maaf sebesar-besarnya bila ada kata yang kurang berkenan. Tulisan ini murni berbagi kisah pelajaran untuk diambil sisi positifnya :)

Senin, 11 November 2013

Gelora 10 November A La Saya dan Murid SD Kreatif Muhammadiyah 16 Surabaya


Hari ini memang sudah lewat sehari setelah peringatan hari pahlawan, 10 November. Tapi semangatnya belum -dan tak akan pernah- pudar dari tahun ke tahun. Terbukti hari ini saya membaca sebuah koran nasional yang berbasis di Surabaya, ada rubrik khusus foto-foto tentang peringatan hari pahlawan dari setiap sudut kota Surabaya dan dari berbagai kalangan, yang cukup menyita perhatian adalah adanya pembuatan drama kolosal di daerah jalan Tunjungan. Wow! Walau saya bukan arek Suroboyo tapi gelora peringatan hari pahlawan bikin bulu kuduk merinding bukan main!
Nah, termasuk sekolah tempat saya jadi shadow teacher juga merayakan hari pahlawan. Mereka juga bikin drama kolosal gitu. Haduuuhhh... merinding banget lihat antusias anak-anak memerankan tokoh pejuang arek-arek Suroboyo :’)
Bhinneka Tunggal Ika of 
2 Climbing
(not) 3 idiot of 
2 Climbing in action
Acara hari ini dibuka dengan acara fashion show kelas 1 dan 2 yang memakai pakaian adat, timur tengah dan berbagai macam profesi. Lucu-lucu melihat mereka berpakaian tidak seperti biasanya.
"Bung Tomo" cilik berorasi
Lalu... usai itu, kelas 4-6 (kalau tidak salah) nyaris keseluruhannya mengikuti drama kolosal kisah heroik 10 November. Dari mereka, salah satunya ada yang berperan sebagai sebagai Bung Tomo, pemimpin gerakan arek-arek Suroboyo untuk merebut Surabaya dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah! Merinding sekali lagi. 
Robek bendera Belanda!!

Kehebohan juga terjadi ketika mereka beradegan perang, baku tembak antara arek Suroboyo dan para sekutu.
Sebagai pungkasan acara ada sharing dari para veteran yang berjuang dalam kisah heroik 10 november 68 tahun silam. Di sini saya pengen nangis karena bisa melihat langsung para veteran bercerita di hadapan puluhan bahkan ratusan anak-anak, biasanya hanya lihat di tv. Terharu juga karena dengan usia mereka yang begitu sepuh, mereka tetap bersemangat berkata “MERDEKA!!!” 
Veteran bercerita
MERDEKA!!
Sekali merdeka, tetap merdeka!!
Satu hal yang saya sadari adalah bahwa orang yang tulus membelas negara itu benar-benar ada di tengah para koruptor yang –di zaman ini- sibuk pura-pura sakit ketika kasusnya diperkarakan atau cengengesan bangga dengan harta hasil rampasan uang rakyat. Miris. Kakek-kakek veteran itu bukti nyata bahwa pahlawan itu ada. Dan kini pahlawan itu berganti oleh generasi-generasi baru yang harus bisa punya pribadi unggul dalam segala aspek kehidupan. Ah, tampaknya saya terlalu absurd bicara ini. :p
Kemudian... usai cerita tentang rangkaian kegiatan di sekolah hari ini, saya mau share foto-foto intermezo :p


Miss Dian and boys of 2 Climbing
Me-ustadzah Ida-2 Climbing okeeee

Me-Nashwan
Me-Fahmi-Dani

2 Climbing cheeeerrsss....


Kumyus-kumyus wif Hafiz
Absurd picture wif  Danta

Minggu, 27 Oktober 2013

Blogger atau Bukan, Aku Tetap Menulis


Selamat datang di dunia alfabetika. Dunia rangkaian huruf-huruf alfabet. Aku menamainya demikian karena di sinilah aku menumpahkan nyaris semua yang ada di otakku.
Dulu sih, sebenarnya tahu blog itu wadah untuk curhat. Tapi tampaknya aku tak berbakat artis yang mengumbar kehidupan pribadi :D Hehehe. Jadi, kualihkan saja pada hal lain. Dan, akhirnya pada suatu hari –entah tanggal, bulan dan tahun berapa- aku punya ide untuk menge-post semua cerpen-cerpenku atau bahkan puisi-puisiku di blog. Kalau perlu tulisan artikel juga –kalau aku memang bisa membuat sebuah artikel-. Aku berpikir, asyik kali ya, jika kita membuat blog berisi karya-karya kita, orang di belahan dunia manapun pasti tahu karya kita walau ada yang tak mengerti bahasanya (pengunjung dari luar negeri).
Akhirnya, aku post semua cerpen-cerpenku, untuk puisi ternyata dari tahun 2009 aku membuat blog ini cuma satu puisi, :P. Lalu, sesekali aku juga menulis tentang curhat(curahan hati)anku tapi bukan yang teramat pribadi. Malu lah kalau terlalu pribadi. Blog itu salah satu wadah untuk kita mencitrakan diri juga, loh. Sama kaya akun media sosial lain. Kita bisa “dibaca” orang dari apa dan bagaimana kita menulis sesuatu. Tapi selama ini, sekalipun aku keep  curhatan paling pribadiku, aku tak bermaksud melakukan pencitraan diri yang terlalu lebai. Cukuplah prinsipku, aku harus memanfaatkan blogku ini supaya bermanfaat untuk orang lain. How? Ya, melalui cerpen-cerpenku itu. Aku berbagi kemampuanku yang masih level pemula dalam menulis fiksi dan juga ada beberapa karya non-fiksi. Aku juga sedikit “menghibur” pengunjung blogku dengan satu atau dua kisah sedih atau menggembirakan yang aku alami secara pribadi dan riil.
Meskipun blogku belum terkenal tapi setidaknya, sahabat-sahabat karibku sering mengunjungi blogku. Artinya, blogku tak jelek-jelek amat, kan :p.
Blog adalah sarana aku menunjukkan eksistensiku dalam bidang menulis sehingga bermakna dan bermanfaat bagi orang lain. Itulah esensi blog untukku yang pertama. Esensi kedua adalah blog memberiku kesenangan karena respon yang cukup baik dari beberapa pengunjung, termasuk para sahabatku :p. Mereka juga memberikan saran dan kritik yang membangun. Dengan demikian, aku juga bisa belajar untuk meningkatkan kualitas menulisku dan lebih untuk aspek yang lebih luas lagi, aku bisa belajar bijaksana menerima saran dan kritik dan orang asing bahkan yang sama sekali belum pernah aku temui sebelumnya. J
Aku mungkin bisa dibilang blogger, bisa juga tidak. But anyway, aku akan terus menulis dan menyebarkan kebermanfaatan yang -mungkin- bisa kuciptakan darinya, termasuk menulis di blog.
Selamat hari blogger nasional, guys ;)



#Tulisan ini untuk lomba memperingati hari blogger nasional oleh @NBC_IPB

Selasa, 22 Oktober 2013

Lelaki dari Ujung Timur Indonesia (Vinton Nolland S)




Hai, lama nggak ngeblog. Kali ini cuma mau cerita aja, intermezo lah ya.
Jadi, saya lagi seneng banget beberapa hari terakhir. Kenapa?
Penyebabnya adalah orang ini:


Sumber: NBL Indonesia
Do you know who is he?
#devilssmile #kipaskipas
Dia pebasket profesional National Basketball League (NBL) Indonesia yang cukup punya nama karena bagusnya dia main. (maaf-maaf kata ya, saya nggak ngeh sama permainan basket tapi saya suka nonton basket karena pemainnya “bening2”. #tepokjidat #rahasiakebuka)
Dia adalah pemain pertama yg bikin jantung mau copot :D
Lihat saja tampangnya, mature dan tampan :) #kedipkedipmata
Saya tahu dia.. ah, lupa sebut nama, perkenalkan namanya Vinton Nolland Surawi, putra Papua. Jadi, saya tahu dia itu ketika saya nonton liga profesional basket kasta tertinggi Indonesia ketika namanya belum NBL, melainkan IBL (Indonesia Basketball LEague) yang ada di bawah naungan Perbasi (kini NBL dikelola oleh PT. DBL).
Nah, kala itu sekitar akhir Mei atau awal Juni 2009, saya diajak teman dekat nonton IBL (yang kala itu adalah kisah akhir IBL, tahun berikutnya/ 2010 sudah berganti NBL) di GOR Kertajaya Surabaya. Aspac versus Stadium Bhinneka (dulu, sekarang Stadium Jakarta). Nah, mulai deh, “cuci mata” ke sana-ke mari. Dan jatuhlah pandangan saya sama sosok di atas dan waktu itu sama om J’ko alias Antonius Joko (sekarang asisten pelatih Aspac). Kenapa dua orang itu? Alasan yang sama mature dan tampan penampilannya. Ahhh... hehehe.
Kemudian mulai deh searching siapa saja roster Aspac kala itu di facebook –lagi hebohnya facebook-. Usai ketemu and then mulai deh, stalking foto-foto yang dia posting. Hihihi. Tampan bukan main. Hwehehehe. (duh, maaf ya, siapa pun yg jd suami saya nanti, jangan cemburu dengan tulisan ini :p).
Tapi... lamban laun... udah biasa aja, sih. Nggak ngefans fanatik. :p
Ternyata juga kita punya zodiak yang sama, gemini :)
Terus tahun loncat tahun dari 2009 sampai sekarang, nggak sangka pas punya akun instagram eh, dia follow saya,  semringah dong, ya. Nama akunnya "pacemanis". Padahal sebelumnya saya merasa belum follow dia, loh. Tapi entahlah mungkin saya yang lupa.


Trus, nggak disangka juga dia kasih like foto yang saya upload.  Saya mention dia, eh, ternyata dibales. Aaaahhh... sungguh di luar dugaan. :)

Ini bukan pertama kali sapaan saya ke pebasket idola dibales tapi yang murni follow akun saya pertama (bukan saya duluan) itu bang Vinton tapi dia juga salah satu pebasket yang kasih like untuk postingan saya, selain mas Acil (Stadium Jakarta).
Terima kasih, :)
FYI aja, setelah dari Aspac, bang Vinton pindah ke Garuda Bandung dan tahun ini direkrut Satria Muda. Selamat :)
Kapan kita foto bareng, ya? Belum keturutan foto bareng. Padahal foto-foto dengan pemain NBL lain sebagian besar amblas "kemakan" HD internal yang aus :(
Well, sekian intermezonya :)