Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Januari 2017

Pengumuman Pemenang #KuisDistanceBlues



Hai, temen2... Apa kabar? 😊

Semoga Jumat ini berkah buat kita semua.

Well, kali ini mau ngepost pengumuman pemenang #KuisDistanceBlues, ya...

Hari Senin (16/1) sampai Kamis (19/1) kemarin udah berlangsung #KuisDistanceBlues di Twitter saya dan @KampusFiksi untuk dapetin novel + notes gratis dari saya. 

Eits, bukan cuma dapet itu, kamu yang beruntung berkesempatan baca bareng sama Mbak @evasrirahayu, author TwiRies dan beberapa novel lain, blogger, sekaligus alumni Kampus Fiksi (KF) 1.




Giveaway dan baca bareng ini saya adain buat ngenalin kembali #DistanceBlues. Mwehehehe. Memang, #DistanceBlues udah 'lahir' nyaris setahun lalu. Tapi nggak apalah ya, saya pengen temen2 baca juga. Hihihi.

Saya pengen ada masukan kembali soal kisah Elmi-Dirga-Rasyad ini. Maka dari itu, acara ini bukan sekadar bagi-bagi buku gratis, melainkan ada baca bareng. Masukan berupa review adalah penghargaan tersendiri bagi saya. Rasanya, juga bagi siapa pun yang memiliki karya. :)

Nah, setelah selama empat hari diadakan #KuisDistanceBlues, akhirnya nemu nih 2 nama pemenang. Bingung sih, awalnya buat milih dari sekitar 30 orang yang ikut. Makasih semuanya... Tapi maaf seribu maaf cuma 2 orang yang berkesempatan kali ini. 

Nah, setelah baca jawaban-jawaban temen2 plus kepo2 Twitter dan blog, saya memutuskan 2 orang berikut yang saya mintai tolong untuk baca dan dengan senang hati mereview #DistanceBlues bareng Mbak @evasrirahayu:




Selamat buat:
1. @marlialvi.

Saya suka jawabannya tentang 'belajar' karena kesannya ada effort untuk memahami dan gimana harus menghadapi kekasih yang mengalami gangguan psikologis.


2. @readarnisha.

Saya merasa jawaban di atas menggebu enggak, lempeng juga enggak. Realistis adalah makna yang tersirat dari jawaban @readarnisha.

Ya, saya tahu, jawaban atas pertanyaan Kalau kekasihmu ternyata punya gangguan psikologis, bertahan di sisinya atau merelakan orang lain mengasihinya? bakal normatif dan seragam, tapi bukan masalah. Saya berharap temen2 juga nggak ngambek ya belum berkesempatan kali ini. Hehehe... 

Sekali lagi selamat buat 2 pemenang. Silakan DM nama, alamat, nomor HP yang aktif ke Twitter saya di @agustine_W ya 😊

Dan, saya sertakan juga aturan untuk Baca Bareng Alumni KF ya ~~~



Terima kasih sekali lagi untuk semua temen2 yang ikutan #KuisDistanceBlues. Moga saya bisa buat lagi giveaway buat buku saya yg lain #tsah 😄🙈

Sabtu, 22 Oktober 2016

Menilik Rumah Sendiri (Sekaligus Kenalan Sama 'Penghuni' Baru)




Menilik rumah sendiri.

Demikian aku kasih judulnya. Pasalnya udah lamaaaa banget nggak menilik blog pribadi ini, apalagi 'bersih-bersih' dan menambah 'penghuni' baru. #tampardirisendiri

Setelah dilihat waktu terakhir posting ternyata Desember 2015 lalu. Hampir setahun! Pemalas sekali diriku ini, ya. Xoxoxo.


Well...  lama banget pengen nulis random. Yup, selama ini isi blog ini juga random, sesuai yang pengen ditulis :D

Kali ini pengen ngasih kabar bahwa Maret 2016 lalu satu novel dengan nama Agustine W telah terbit. Berkat bimbingan dengan salah satu editor DIVA Press, akhirnya novel fiksi tersebut bisa lahir juga ke dunia. Fasilitas bimbingan ini juga ditawarkan setelah ikut Kampus Fiksi reguler. Terima kasih nggak terhingga untuk keluarga DIVA Press :)

Seneng banget! Ya, impian bikin nama abadi (aamiin) terwujud. Berharap banget novel dengan tema Long Distance Relationship (LDR) dan Gangguan Obsesif-Kompulsif tersebut bisa menghibur dan bermanfaat buat kamu yang baca. Gimana ceritanya?

Berikut ada review dari temen-temen yang udah baca:




"Kadang saya kesal membaca novel ini dan rasanya pengin nyemprot Elmi, "Oi, Mbak, nyantai dikit napa, sih?!", saking gemasnya akan cara pikir OCD Elmi. Tapi saya angkat jempol buat penulisnya. Pasalnya, gangguan psikologis tokoh utamanya berhasil digambarkan sedemikian detail dan terasa nyata, jadi pembaca bisa merasakan sendiri betapa ribetnya isi otak Elmi dan, bisa jadi, merasa kesal seperti saya. Konflik yang menghampiri hidup tokoh utamanya membangun alur dengan apik. Saya lega karena penulis menyelesaikan konflik-konflik yg dibuatnya secara dewasa dan nggak jadi nge-drama queen. Ending yang heartwarming dan melegakan." -  Frida -

"Sejujurnya, saya paling menghindari cerita orang ketiga. Rasanya nggak tega banget melihat hati seseorang hancur karena orang lain, meskipun itu tokoh fiksi. Terlebih, orang ketiga itu bagi saya pribadi berarti merusak hubungan orang lain dan rasanya … kayak nggak ada yang namanya kesetiaan dalam cinta. Untungnya, Distance Blues ini menghancurkan ketakutan saya. Saya suka bagaimana penulis mengeksekusi masalah demi masalah yang dihadapi Elmi dengan dewasa. Sesuai untuk usianya. Terlebih terkait isu orang ketiga ini.
“Aku nggak mau curiga sama pasangan sendiri. Bukankah sesuatu itu terjadi karena pikiran kita yang mengendalikan? Kalau pikiran kita negatif, ya kejadian yang menimpa kita negatif.” (h. 29-30)
Akhir yang dipilih penulis juga bagi saya pilihan yang baik. Suka sama eksekusi problema orang ketiga dalma hubungan Elmi ini. Cocok banget buku ini dibaca mereka-mereka yang tengah menjalin LDR. Mungkin hubungan Elmi bakal membantumu. X) - Wardahtuljannah -

Selain itu, beberapa waktu setelah dikabarin buku keluar, dengan senang hati minta tolong beberapa temen untuk bantuin promo dan giveaway novel. Moga mereka juga seneng :D. Berikut link review mereka:



Nah, rencananya pengen banget dalam waktu dekat bikin giveaway lagi dengan bonus berikut ini: 


A photo posted by agustine w (@agustine_w) on



Mau???

Kapan dan dengan siapa bakal kerja sama? Kita tunggu kabar baiknya, yaa :)


Senin, 07 Desember 2015

REVIEW NOVEL AT THE PARK: Gelora remaja dan kasih sayang terhadap binatang jadi satu

Judul            : At The Park
Penulis         : Kristi Jo
Penerbit       : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah hal   : 288 halaman
Tahun terbit : 2015
 =========================


 Gelora remaja dan kasih sayang terhadap binatang jadi satu
Lama banget nggak baca novel Teenlit, kemarin mulai baca novel hadiah giveaway dari temen, @RizkyMirgawati. Sumpah, rasanya otak jadi cespleng. Suer, aku nggak lagi sok baik karena udah dikasih novelnya.

 Cerita di #AtThePark tuh begini:
Tiara sudah dua tahun menjadi pacar Raymond model keren, ganteng, dan berkelas. Tapi ketika dinner bersama Raymond, kenapa jantung Tiara tidak lagi berdebar kencang seperti dulu ya?
Debar itu justru Tiara rasakan ketika bertemu dengan Al di taman. Alfred Effendi, cowok sederhana, berkacamata, bertampang biasa, dan mempunyai passion yang sama dengan Tiara, yaitu penyayang binatang.
Tanpa terasa, kejadian demi kejadian di taman membuat dunia Tiara jungkir balik. Ia merasakan lagi yang namanya jatuh cinta. Tapi... saat Tiara menyatakan perasaannya pada Al, kenapa Al malah menolaknya?
Nah, mulai baca halaman awal memang agak (sedikit banget) bosen karena perkenalan tokoh yang pakai kata ‘aku’. Tapi masuk bab 2 ke belakang makin enak dibaca. Proporsi narasi sama dialog pas, jadi nggak bosen lagi. Upaya penulis ‘komunikatif’ ke pembaca lewat novel ini sungguh moncer.

Minggu, 25 Oktober 2015

REVIEW NOVEL PROMISES: Emosi naik turun itu manusiawi, kayak kisah novel ini


Judul                  : Promises
Penulis               : Kristi Jo
Penerbit             : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah hal.        : 232 halaman
Bingkisan dari @RizkyMirgawati dan @KristiJoe29 

********************************

Halo ... akhirnya kelar baca novel ini. Untuk kali pertama juga baca karya penulis. Sebenarnya hanya butuh waktu baca beberapa jam aja, kok, tapi karena ada satu dan lain hal yang bikin tunda-tunda , akhirnya baru tuntas dua hari ini.

Di sini bakal ada review singkat aja karena menurutku terbilang nyaris nggak ada cacat di novel ini. 

Awalnya aku memang males sama tema persahabatan tapi duh ... yuk, langsung baca kesanku baca novel hadiah ini :)

********************************

Gilak, baca ini emosi dibikin guling-guling! Para tokohnya ekspresif semua (ya, iyalah namanya anak muda 20 th). 

Kamis, 05 Februari 2015

REVIEW NOVEL A WEEK LONG JOURNEY: Kue Yikes Rasa Nikmat!

Judul             : A Week Long Journey
Penulis          : Altami N. D
Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : 256 halaman
Harga             : Rp 50.000,-

Kue Yikes Rasa Nikmat!

Well, setelah membacanya selama dua hari, menurut saya novel ini tidak hancur. Tidak sepenuhnya tidak hancur, sih. Oke, saya bahas semampu saya. Dan, maafkan kalau caranya ‘semau gue’  sekali, hehehe.

Novel ini sebetulnya punya kisah yang sangat heart-warming. Saya sampai nangis baca, terutama untuk bagian yang mengisahkan tentang keluarga Lina Budiawan. Karakter setiap tokohnya cukup kuat. Ide dasar yang dibahas memang klasik, (upaya) peraihan mimpi yang terbentur realitas. Tapi, sub tema yang mendukung cerita, dalam cerita ini tentang peternakan sebagai background Lina Budiawan (tokoh utama), benar-benar memberikan wawasan baru. Cara bercerita penulis juga lugas. Plotnya juga mengalir.

Sabtu, 31 Januari 2015

REVIEW NOVEL SUAMI SEMPURNA UNTUK TATIANA: Novel Lokal Rasa Kebarat-baratan


Judul                   : Suami Sempurna untuk Tatiana
Penulis                : Astrid Zeng
Penerbit              : Gramedia
Tahun terbit        : 2011
Jumlah halaman : 340
Baiklah, akhirnya menemukan kembali novel Indonesia ‘rasa’ luar negeri. Bukan tidak suka, suka banget malah! Sampai-sampai terbawa suasana dan merasa ini novel luar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tapi langsung diingatkan kembali dengan adanya sayur asem dan iga bakar penyet plus lalapannya, juga ada Kota Malang dan Surabaya sebagai setting tempatnya. Namun demikian, di sisi lain saya juga sedikit menyayangkan karena novel ini agak keterlaluan ‘rasa’ luar negerinya (terutama soal cara bercerita atau penggunaan bahasa). Tapi bukan masalah, saya tidak sepenuhnya pro maupun kontra.

Jujur, baru pertama kali ini saya baca novel milik penulis. Ceritanya manis. Saya juga dibuat terkagum-kagum pada tokoh lelakinya, Michael (apalagi dia bule! blasteran, sih, hehehe) dan Phillips. Tipikal beta male dan alpha male yang oke banget! Saya jadi tidak sabar baca ‘Sleepaholic Jatuh Cinta’ edisi Phillips sebagai alpha male.

Rabu, 07 Januari 2015

REVIEW NOVEL FRIENDS DON'T KISS: Metropop informatif bin asyik

Judul                    : Friend Don’t Kiss
Penulis                 : Syafrina Siregar
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit        : 2014
Jumlah Halaman  : 208 halaman
Cara dapat           : pinjem dari author ‘A Week Long Journey’ Altami N.D

Lomba Menulis Resensi Fiksi Metropop
Metropop informatif bin asyik

Setelah beberapa bulan terakhir dapat iming-iming novel Mbak Syafrina ‘Nana’ Siregar yang baru keluar, akhirnya semalam dapat juga pinjeman buku ‘Friend Don’t Kiss’. Ditambah ‘kompor’ dari temen-temen yang bilang novel ini berkonten apik tapi tetap memiliki unsur romance yang menggemaskan, tambah gatal ingin segera baca!

Alhasil... yeah, satu setengah jam baca semalam—sampai pukul setengah 12 malam—lalu dilanjutkan tadi pagi satu jam, ini yang kukatakan untukmu Mbak Nana: You rock! \m/

Aku selalu suka novel yang memberikan wawasan baru. Dan Mbak Nana kembali membuktikan tanyaku sendiri ketika dulu membaca ‘Dengan Hati’ kaver lama miliknya. ‘Dengan Hati’ bicara tentang AIDS yang mempertemukan dua tokoh utamanya saling berseberangan prinsip. Dalam ‘Friend Don’t Kiss’ Mbak Nana mengulanginya kembali.

Minggu, 04 Januari 2015

REVIEW NOVEL CINTA 24 JAM: Rahasia yang (tak pernah) tersingkap

Judul buku              : Cinta 24 Jam
Penulis                    : Andrei Aksana
Penerbit                  : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit            : September 2005 (Cetakan kedua)
Jumlah Halaman     :184 halaman
Cara dapat              : beli dari koleksi @fiksimetropop

-----------------------
Rahasia yang (tak pernah) tersingkap

Giana terbiasa hidup dalam kemewahan, keglamoran, dan ingar-bingar popularitas dunia hiburan tanah air. Masa lalu menempanya menjadi wanita tangguh. Setangguh keyakinannya sendiri bahwa ... kalau tak ingin ditindas, ia harus menindas lebih dulu (hal. 133). Namun ketika semuanya telah diraih, ketangguhan itu tetap saja runtuh oleh mahakarya agung bernama cinta. Namun ketangguhannya tetap tersisa. Tak pernah jera untuk mencinta—walau berulang kali disakiti. Pun oleh cinta yang disangkanya cinta sejati untuk melabuhkan hati dan ragawi.

Pertama melihat kaver novel ini di daftar baca akun Goodreads Mas Ijul, saya langsung tertarik. Menantang! Ah, tapi sejujurnya pertama kali yang saya lihat itu penulisnya. Sudah lama saya stalking Facebook-nya (duh, ketahuan, deh! Sori, Bang Andrei :p). Pernah pula mengetahui novelnya ‘Janda-janda Kosmopolitan’ yang masih ada di surat kabar nasional. Tapi saya belum tergerak membaca karya beliau. Akan tetapi... yang membuat saya tertarik dengan penulis satu ini adalah garis keturunan di atasnya. Beliau cucu pujangga terkenal dan legendaris, Sanoesi Pane dan Armijn Pane. Hidup ini menakjubkan, bisa ‘bertemu’ dengan orang yang sering dipelajari di bangku sekolah. He-he.Yah, walaupun saya juga tidak hafal karya kakek-nenek Bang Andrei, sih.

FIRST CHAPTERS COMMENTATORS ALLY-ALL THESE LIVES


Genre novel pertama, yang tokohnya konon punya dunia paralel dan bisa pindah-pindah, yang akan aku masukkan MOST WISHLIST! Dan kusayang-sayang selama bacanya. ^^


Baca bab awalnya saja sudah sangat membuat penasaran. Memangnya ada manusia yang bisa berpindah dimensi dengan mudahnya, dengan ujug-ujugnya, dengan tiada dikehendakinya? Apa Ally (tokoh novel ini) punya kekuatan supernatural? Membayangkan Ally yang panik dengan ‘Saat Ketidakberadaanku’, aku ikutan panik. Bisa-bisa linglung karena nggak habis pikir, kok bisa si tokoh berpindah dimensi? Nggak masuk akal. Tapi justru itu, aku suka ide cerita antimainstream, yang pikiran awam—seperti aku—sulit menjangkaunya. Pasti keseluruhan novel ini superb! Serius penasaran, Ally kenapa, sih? Terus gimana cara dia mengatasi ‘kelebihan’nya ini? Kuharap tidak berakhir pada kegilaan. Nggak sabar baca cerita utuhnya. Come on, Mbak Arleen... aku pengen baca segera \o/\o/\o/ 

Senin, 15 Desember 2014

Perjodohan... again and again



Judul                    : Learning to Love
Penulis                 : Eni Martini
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman    : 184 halaman
Harga                  : - (dapet kado kuis dari mbak @RizkyMirgawati ^_^)

Amore kedua yang justru bikin terjun bebas gairah baca tema perjodohan—kalau ceritanya lempeng kayak gini. Maaf harus jujur, ekspektasi saya terlalu tinggi di sini.
Padahal beberapa waktu terakhir dicekokin drama perjodohan yang melibatkan benci jadi cinta, rasanya girang bukan kepalang. Terus baca novel ini? Sempet hore banget, sih. Tapi...
Oke, poin plus novel ini, justru memelencengkan dugaan: perjodohan tapi tidak benci jadi cinta. Hubungan Ken dan Eliz justru baik-baik saja.
Sebaik-baik saja jalan cerita novel ini dari awal sampai akhir. Maksudnya, novel ini tuh flat, gregetnya nggak ada. Padahal menurut saya, hubungan Ken dan Eliz di setiap bagian novel ini, masih bisa dieksplorasi lebih jauh sehingga bikin emosi pembaca bergejolak. Iya, memang ada konflik utama, tapi andaikan cerita novel ini sebuah garis yang lurrruuuus saja mulanya, konflik itu hanya berupa lanjutan garis yang secuil menukik ke atas kemudian lempeng lagi.
Belum lagi yang cukup mengganggu adalah ketidaksesuaian informasi cerita atau apalah istilahnya. Contohnya:
1.     Nina (sahabat Eliz) dikatakan di bab awal, memiliki anak berusia 10 tahun. Ia menikah sejak usia 27 tahun (par. 10, hal.10). Tapi di bab belakang, Nina seumuran Eliz, 33 tahun (par. 2, hal. 130). Emmm, agak aneh, ya?
2.    Ken adalah anak sulung. Ia memiliki 2 adik perempuan yang telah menikah dan memiliki anak (par. 4, hal. 26). Tapi dikatakan Ken memiliki kakak-kakak yang telah menikah dan memiliki anak di bab belakang (par. 4, hal.109)?
Lantas gangguan lain adalah terkait EYD dan typo, antara lain:
1.     Penulisan ‘per-temuan’ (par. 5, hal. 42). Padahal itu di tengah paragraf, dan bukan di posisi yang harus dipenggal. Biasanya kalau kena batas layout kudu dipenggal bukan, ya? Bener nggak? Berlaku juga untuk kata ‘melun-cur’ (par. 1, hal. 44)
2.    Penulisan tanda baca titik (.) yang diketik ganda (par. teratas, hal. 47)
3.    Penulisan tanda petik dua penutup dialog (”) dibubuhkan bukan untuk menunjukkan dialog, melainkan paragraf narasi. Jelas itu narasi, sebab di awal tidak ada tanda petik dua pembuka dialog (“). (par. 3, hal. 47)
4.   Penulisan tanda baca koma (,) yang diketik ganda (par. 5, hal. 47)
5.    Yang ini typo atau sengaja, ya? à “Ini efek mahasiswi psikolog masuk ke distribusi kali, ya?” gerutunya.  Setahu saya, psikolog itu profesi, masa’ mahasiswa/ mahasiswi? Kalau psikologi, itu baru ilmunya. Dan sepertinya maksud dialog Eliz kepada Nina itu, mengacu ke maksud ilmunya, psikologi. Jadi, mahasiswi psikologi (par. 6, hal. 53)
6.   Typo ‘menujukkan’ (par. 5, hal. 91), harusnya menunjukkan
7.    Penggunaan kata depan (preposisi) ‘di’ dan ‘pada’ yang kurang tepat. Setahu saya, ‘di’ itu digunakan untuk menunjukkan tempat atau lokasi, sedangkan ‘pada’ untuk menunjukkan waktu. Di novel ini kurang tepat penggunaannya, seperti ‘di umur 27 tahun’ (par. 10, hal. 10) seharusnya ‘pada umur 27 tahun’ dan ‘di Senin sore’ (par. 7, hal. 43) seharusnya ‘pada Senin sore’. Betul, nggak?

Ya memang, nggak ada gading yang nggak retak. Masalah ketidaksesuaian informasi cerita, typo, atau problem EYD, saya juga payah, hehehe. Hanya sebatas tahu setelah membaca beberapa novel dari penerbit yang sama.
Overall, novel ini bisa terbangun secara utuh sebagai sebuah cerita. Tapi entah, rasanya kecewa karena:
1.        Melihat packaging-nya kok tipis (tapi masih berharap ceritanya cetar karena mengusung tema perjodohan)
2.      Setelah baca, ternyata tidak ada kejutan sama sekali. Oke, mungkin dari blurb hampir bisa ditebak atau dipastikan kedua tokoh berjodoh. Kalau sudah begini, apa yang mau diharapkan pembaca yang (mungkin sudah) bisa menduga ending-nya, kalau bukan ‘letupan-letupan’ yang menghiasi jalan cerita tokoh utama?

Saya gemes kenapa Ken dan Eliz nggak dikasih kesempatan beromantis ria? Kurang mengoyak emosi. Padahal sudah kebayang perjodohan yang akan dibumbui konflik-konflik cetar, dan ah... maaf, saya kasih bintang 2.5 saja. Kalau novel ini ditulis ulang (dieksplorasi lagi konflik-konfliknya yang bikin emosi jiwa), saya akan menaikkan jumlah bintangnya sampai 5. Serius! Tapi salut untuk penulis yang sudah mengemas cerita perjodohan antimainstream (bukan benci jadi cinta, tapi hubungan baik jadi cinta) ini, hehehe. ^_^
Terakhir, saya suka quote-nya Indra (teman baik Ken), nih:

“Bukannya dalam berumah tangga itu seperti menanam bibit dari pohon yang kita cintai, yang ktia inginkan untuk tumbuh, berbunga, dan berbuah? Jadi, kupikir menikah atau berumah tangga itu proses seumur hidup untuk terus mencintai.” (par. 5, hal. 150)



Rabu, 21 Mei 2014

Jangan Menikah Jika Tak Kuat Mental!

sumber

Judul Buku     : (Bukan) Salah Waktu
Penulis           : Nastiti Denny
Penerbit         : PT. Bentang Pustaka
Tahun Terbit  : Desember 2013 (Cetakan Pertama)
Tebal             : viii + 248 halaman
Harga           : - (didapat dari kuis yang diselenggarakan penulis :) )
 




Jangan Menikah Jika Tak Kuat Mental!

Sekar dikejar-kejar mimpi buruk tentang masa lalu yang ia sembunyikan dari suami tercinta, Prabu. Ia tidak ingin keluarga Prabu yang fokus pada reputasi baik orang lain, harus menerima kenyataan bahwa dirinya adalah “produk” dari perceraian – yang ia tidak ketahui sebab-musababnya. Yang ia tahu, dulu orangtuanya sering bertengkar karenanya.
Namun ternyata Prabu juga menyembunyikan masa lalu, justru lebih rumit dengan mantan kekasih dan melibatkan ayahnya. Laras, sang mantan, datang secara perlahan ke dalam kehidupan barunya bersama Sekar. Mengusik perlahan kemudian menukik tajam bersamaan fakta yang terungkap tentang ayahnya dan tentang anak yang tak pernah ia ketahui sudah lahir ke dunia.
Sekar dan Prabu dirundung masalah dari masa lalu secara bersamaan sehingga merenggangkan hubungan mereka. Bahkan Sekar yang tak sengaja tahu masa lalu Prabu menjadi layu kepercayaannya pada Prabu. Namun pada akhirnya, keduanya saling menyadari tak bisa berpindah ke lain hati kendati “guncangan” ada di depan mata.
Novel ini mengisahkan bahwa ada rahasia di balik rahasia. Ya, novel ini mengisahkan setiap konflik secara step by step dan pasti pada pungkasannya tapi tidak terduga. Hal ini membuat pembaca benar-benar terkecoh. Ketika dikiranya sudah bertemu jawaban dari permasalahan di awal, ternyata masih ada lagi. Namun yang sedikit membuat pembaca bertanya-tanya – terutama yang masih single – adalah bagian ketika Sekar sebagai seorang istri tidak memberikan kabar sama sekali pada Prabu ketika menjaga mamanya sakit. Pun Prabu sibuk dengan Laras. Kok, tahan sih, berlama-lama tidak saling tukar kabar?
Karakter Sekar dan Prabu cukup detil digambarkan melalui dialog dan narasi. Namun pembaca harus sedikit meraba-raba untuk membayangkan fisik dari keduanya, pun tokoh lain. Sedangkan bicara soal setting, novel ini menuliskan secara rinci kondisi suasana yang dialami tokoh. Bahasanya pun sangat lugas, mengingatkan pembaca bahwa ini novel “rasa” Indonesia (nama tokoh sampai konflik) di tengah maraknya novel-novel populer yang mengusung tema-tema budaya barat. Mengingatkan pembaca juga pada novel Mira W yang beberapa di antaranya juga berkisah tentang rumah tangga beserta konfliknya. Selain itu nilai yang ingin disampaikan penulis juga bisa dicerna dengan baik yaitu tentang sikap dan tindakan tokoh terhadap konflik rumah tangganya, kasih sayang orangtua – sekalipun bukan orangtua kandung – dan penerimaan masa lalu.
Desain sampul manis dan sederhana. Sedangkan blurb, meskipun bisa membuat penasaran tapi blurb yang berupa kalimat-kalimat isyarat bisa membuat beberapa calon pembaca malas karena tidak segera tahu siapa lakon dan masalah di dalam cerita. Bisa saja membuat mereka menunda memasukkan novel ini ke dalam wish-list.
Secara keseluruhan, novel ini “berbobot”. Novel ini membagi kisah rumah tangga untuk menghadapi masa lalu yang mendadak muncul dan mengisahkan cara mereka menghadapinya agar bisa mempertahankan mahligai rumah tangga. Sementara banyak kasus perceraian di Indonesia yang dapat dilihat dari banyaknya selebritis yang berbondong-bondong mengajukan gugatan cerai.
Novel ini berusaha menyampaikan bahwa kehidupan rumah tangga bukan hanya membutuhkan cinta dan materi melainkan juga mental baja untuk menyongsong masa depan sampai Tuhan yang memisahkannya dengan maut.
Bagi yang ingin menikah atau baru saja menikah, novel ini memberikan semangat dan keyakinan: sedari awal kita harus bermental baja mencintai, menerima dan mempertahankan pasangan kita sampai maut menjemput!*

*terdiri dari 499 kata (judul dan resensi, minus data buku dan intermezo penulis)


Untuk Mbak Nastiti, Kampung Fiksi dan Bentang, thanks novelnya yang manis. Semoga suatu saat aku bisa punya rumah tangga yang manis. #eaaa #tratakdungces #intermezo :D