Kamis, 10 Oktober 2013

Al-Qur’an dan Cuaca Panas Surabaya



Baca judul di atas bikin saya berpikir ulang, apa korelasinya ya? Apa pentingnya untuk banyak orang? Apakah jika ada penelitian, bisa kita ambil sampelnya? Bisa digeneralisasi nggak? Ah... jadi inget setahun lalu pada bulan yang sama saya ekstra kerja keras merampungkan penelitian skripsi kualitatif saya. Ih, gemes, deh! Eh, ternyata eh ternyata, kini yang bikin saya nyesek semua data rekaman wawancara subjek, jurnal-jurnal yang saya download dengan susah dan payah, semua link artikel berita tentang Lupus (skripsi saya tentang kesejahteraan psikologis penderita Lupus) amblas bersama hard disk internal saya yang rusak, ooouuchhh... sesek di dada :( ya, sutralah ya.
Well... sebenarnya saya mau cerita tentang pengalaman pribadi saya tentang judul tulisan di atas.
Al-Qur’an. Mu’jizat Allah SWT pada Sang Baginda Rasul Muhammad SAW. Siapapun tahu, Al-Qur’an merupakan penyempurna kitab-kitab sebelumnya (Injil, Taurat, Zabur). Semua orang juga tahu bahwa semua aturan kehidupan umat muslim dan peristiwa yang telah, sedang dan akan terjadi tertulis nyata di dalamnya. Al-Qur’an adalah kitab super komplit. Nah, bahkan Al-Qur’an juga bisa menjadi obat dari segala penyakit (QS. Al Fushilat ayat 44 bersumber dari Tadarus Obat Segala Penyakit). Nah, nah... Al-Qur’an sebagai obat penawar segala penyakit jasmani-rohani inilah yang mau saya ceritakan.
Jadi begini...
Saya bukan umat muslim yang taat sekali. Nafsu duniawi tetap bercokol di otak dan hati saya, segala “kotoran” hati masih sering menancap di diri saya tapi bukan berarti saya tidak punya iman. Alhamdulillah sampai detik ini, Allah masih berwelas asih pada saya dengan menyelipkan iman di celah jantung saya sehingga saya masih takut berbuat dosa (tapi bukan berarti saya nggak pernah berbuat dosa, loh).
Jadi, saya ini pribadi yang mudah sekali tersinggung dan merasa pesimis bahkan mencurigai orang lain aslinya. Perasaan-perasaan negatif itu terkadang menghampiri saya dengan kekuataan super besar yang mendorong kuat saya untuk kufur nikmat Sang Illahi Rabbi. Ketika seperti ini saya ingat, oh mungkin wudlu bisa “mendinginkan” hati, pikiran dan perasaan saya. Tenyata tidak cukup. Kemudian, oh, sholat wajib atau sunnah bisa membuat saya lebih “dingin”, ternyata itu tidak cukup kuat. Dan tibalah ketika saya melirik Al-Qur’an pemberian saudara lelaki saya, saya ingat bahwa ketika hari kiamat Al-Qur’an akan memberikan syafa’at bagi pembaca dan pengamalnya (berdasarkan hadits “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (Diriwayatkan Muslim) bersumber dari Keutamaan Membaca Al-Qur'an). Hati saya tergerak untuk meraihnya dan membacanya. (Level bacaan saya standar dan saya tidak begitu banyak tahu makna ayat-ayat Al-Qur’an padahal usia saya 23 tahun sekarang ini. Menyedihkan bukan? Padahal saya muslim tapi nggak paham kitabnya. :( ). Nah, ketika membacanya ini yang membuat saya takjub.
Saya tinggal di Surabaya yang panas cuacanya sudah lima tahun. Tapi baru beberapa bulan terakhir ini saya mendapati fakta bahwa Al-Qur’an memberikan efek dingin (dalam arti sebenarnya) kepada saya.
Jadi, saya ini sering merasa gerah ketika sholat wajib pada malam hari. Cuaca Surabaya yang panas membuat saya mandi keringat sehingga saya tak pernah khusyuk sholat dan ingin segera selesai sholat. Tapi ketika saya sempatkan membaca Al-Qur’an seketika rasa dingin menjalari ke keseluruhan tubuh saya padahal sebelumnya saya teramat gerah. Transisi gerah ke dingin terjadi cukup cepat pada lantunan awal pembacaan Al-Qur’an dan semakin dingin jika semakin lama membacanya. Subhanallah.
Mulanya saya tidak percaya, apa benar ini efek membaca Al-Qur’an? Akhirnya saya buktikan kembali sampai lebih dari tiga kali. Hasilnya sama! Tapi yang saya nggak ngerti adalah kenapa dulu awal tinggal di Surabaya saya nggak merasa begitu? Justru beberapa bulan terakhir ini saya merasa efek dingin dari baca Al-Qur’an? Padahal Surabaya panasnya dari dulu-dulu, loh. Tapi wallahu a’lam. Saya hanya mencoba meyakini dari hal sepele seperti ini saja. Al-Qur’an menjadi penawar untuk segala penyakit, termasuk “penyakit” gerah karena panasnya Surabaya :p dan akhirnya saya sadari ngefek ke mood saya yang mulanya jelek jadi bagus, mulanya males jadi on fire :). Wallahu a’lam tapi itulah yang terjadi pada saya.
Saya memang bukan muslim taat, membaca Al-Qur’an sesempatnya dan tak tahu makna setiap ayat Al-Qur’an tapi saya sudah membuktikan dari hal sederhana bahwa Al-Qur’an memang rahmat Allah SWT bagi kita semua melalui Rasulullah Muhammad SAW.

Minuman Energi untuk Anak-Anak



Beberapa bulan terakhir ini perusahaan makanan dan minuman ternama di negeri ini memasarkan produk minuman energi ekstrak ginseng dalam kemasan bentuk gelas siap minum. Setahu saya, minuman energi memang berguna untuk orang dewasa walaupun efek sampingnya juga cukup membahayakan jika terlalu sering diminum.
Masalahnya, kini konsumen minuman energi tersebut bukan hanya orang dewasa tapi juga anak-anak sangat menggemari rasanya yang terdiri dari rasa buah-buahan bercampur ginseng. Padahal berdasarkan artikel berita yang saya baca dari situs berita terpercaya (Bahaya Minuman Energi) menyebutkan bahwa minuman energi dapat menimbulkan beberapa efek samping pada konsumen remaja, yakni kegelisahan, gugup, sakit perut, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, sulit tidur dan sering buang air kecil. Nah, kalau bagi remaja saja berdampak buruk bagi kesehatan bagaimana jika anak-anak yang dalam masa tumbuh-kembang mengonsumsi minuman tersebut?
Maka, akan lebih baik bila pihak produsen memikirkan ulang target konsumennya dengan memperhatikan desain produknya agar anak-anak tahu mana minuman untuk anak-anak dan mana untuk orang dewasa. Begitu pula dengan orangtua juga harus berperan  mengarahkan anak untuk mengenali produk makanan dan atau minuman yang sehat bagi anak-anak mereka. Dengan kerjasama secara tidak langsung antara produsen dan orangtua diharapkan bisa menjamin kesehatan anak berdasarkan asupan makanan dan atau minuman yang mereka konsumsi.


Minggu, 06 Oktober 2013

Shadow



Shadow

Aku ketrima di perusahaan minyak, La!! Akhirnya berhenti jadi pengangguran, hahaha.
Demikian isi SMS Rida. Lala tersenyum getir. Kabar bahagia dari sahabatnya semasa kuliah itu sungguh menusuk hatinya.
Tuhan tak adil. Rida yang mahasiswa kupu-kupu alias Kuliah-Pulang setiap hari bisa diterima di perusahaan besar, sementara dirinya yang selalu punya IPK kepala tiga dan aktif di organisasi pers kampus, justru “terjebak” di sebuah gedung dengan banyak anak usia tujuh sampai tiga belas tahun menimba ilmu.
Lala jelas sebal. Rida sudah pasti mendapat upah jutaan rupiah, sementara dirinya? Sejumlah Upah Minimum Rakyat (UMR) kota Surabaya saja tidak!
Lala merasa ingin meneteskan air mata. Hatinya dongkol bukan main. Kenapa ia serta-merta menerima tawaran dari temannya untuk menggantikan temannya itu menjadi shadow teacher atau guru pendamping untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)? Kenapa dia tidak menerima saja tawaran dosennya bekerja di sebuah perusahaan konsultan bagian rekrutmen walaupun ia juga tak suka tapi setidaknya gajinya pasti lebih mahal dong dibandingkan di sekolah ini.
“Bu Lala!” panggil Akbar, murid paling lucu di kelas Lala. “Zidan ngompol, celananya basah. Bau!” lanjutnya.
Lala sigap menghampiri Zidan, ABK yang ia pegang, tentunya dengan kejengkelan dua kali lipat. Sementara di luar kelas, teman-teman Akbar berteriak, “Kelas dua Dolphin masoook!!”.
-end-

*Tulisan ini sih, mulanya aku ikut sertakan di sebuah ajang kuis sebuah penerbit ternama, Bentang Pustaka dengan tema besar "PROFESI" dan subtema "Kantor" tapi nggak boleh nulis kata "Kantor" di dalamnya. Tapi berhubung nggak kepilih, aku post di sini aja. Hitung-hitung belajar bikin flash fiction. Sudah pas belum kalau disebut flash fiction? Semoga menikmati :)
Satu lagi, sekalipun based on true story tapi aku nggak bermaksud menyudutkan apalagi merugikan pihak manapun.

Numpang Pipis

credit



 Original Version

Kita kadang (atau bahkan sering) mendapati orang kencing di sembarang tempat, terutama di ruang publik seperti pinggir jalan raya. Hal ini dilakukan bukan di balik semak-semak melainkan justru di ruang yang benar-benar terbuka. Hal ini membuat pemandangan yang tak sedap dipandang. Bahkan saya pernah mendapati bau kencing yang menusuk di sarana publik (jembatan) di dekat pintu keluar bus antarkota terminal Bungurasih, Surabaya. Kala itu saya berjalan bersama seorang bapak berprofesi sebagai pilot maskapai penerbangan ternama di negeri ini. Beliau mengeluh, “Duh, baunya!”
newspaper version 
(Jawa Pos, Rabu, 25 September 2013, 
kolom Gagasan)
Belumlah masalah tersebut di atas selesai, muncul masalah lain berasal dari orangtua yang (mungkin mereka tidak sadar) mengajari anaknya pipis sembarangan, bahkan di area publik, tempat orang banyak berlalu-lalang.
Nah, seharusnya, anak yang sudah memasuki usia toilet training mendapat pendidikan yang tepat dimana pun ia berada, baik di rumah maupun di luar rumah. Tapi yang sering saya dapati, orangtua justru membiarkan anak (bahkan menyuruh anak) pipis di tempat umum padahal mereka tidak jauh dari toilet umum atau rumah warga yang memiliki kamar mandi. Setidaknya, jika orangtua berat membayar 1000 rupiah untuk ke toilet, minta izinlah pada salah seorang warga yang memiliki kamar mandi. Saya yakin pasti ada warga yang merelakan kamar mandinya dipakai untuk sekedar pipis. Saya pikir tidak semua warga negara ini materialistis.
Dengan demikian, anak menjadi terlatih sejak dini untuk menempatkan sesuatu sesuai tempatnya. Selain itu, ke depannya pendidikan seperti ini dapat pula menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri anak untuk bersama-sama menjaga kebersihan, keindahan dan kenyamanan bersama kelak mereka dewasa.