Minggu, 01 September 2013

Yang Cantik Yang Menarik

Fatin gembira memasuki pintu gerbang sekolah. Pasalnya nanti sepulang sekolah, ia akan bertemu Baldi, kakak kelasnya yang populer, tampan, kaya, kapten basket, baik hati dan murah senyum.
Well, Fatin memang terbius oleh semua yang melekat pada diri Baldi. Dan betapa beruntungnya Fatin kali ini! Bermula dari ketidaksengajaan Baldi kemarin mendapati Fatin tengah bersusah payah berlatih basket usai bubaran sekolah di lapangan.
Siang itu Fatin putus asa, permainan bola basketnya sangat parah padahal ujian olahraga dua minggu lagi. Tiba-tiba saja Baldi yang sudah sejak tadi memperhatikan permainan payah Fatin muncul dan menawarkan diri untuk membantu latihan basket besoknya sepulang sekolah. Hari ini.
Fatin menyambut riang tawaran itu. Ketika memikirkan latihan nanti, senyum Fatin merekah tanpa ia sadari. Baginya, sepanas apapun lapangan nanti kalau bersama idola sekolah, tak akan berasa lagi di padang Arafah. Saking senangnya, Fatin tak menyadari di depannya berdiri cowok yang sedang mengobrol dengan temannya. BRUUKK!! Fatin menubruk cowok itu dari belakang.
“Aduuh!” Fatin terpental tapi untung ia tak hilang keseimbangan. Tapi hidungnya betulan sakit.
Kemudian cowok itu menoleh dan terdiam memandangi Fatin dengan sorotan tajamnya. Hanya menatap tanpa bereaksi.
“Eh, Ka, jangan dipelototin aja. Bantuin, dong!” salah seorang teman cowok yang tadi ditabrak Fatin menatap Fatin dengan geli. “Jangan ngelamun kalau jalan, dek.”
“I... iya, Mas. Maaf!” Fatin meminta maaf lalu pamit pergi. Cowok yang ditabraknya masih memandanginya dengan sorot dingin. Cukup menakutkan. Mending disemprot daripada cuma dipelototin.
Lalu Tika muncul dari belakangnya, merepet ke arahnya.
“Eh, mas Azka merhatiin kamu terus, tuh! Ih, senengnya dilirik ketua OSIS, duileehhh!”.
Fatin mengernyitkan dahi, tanda tak mengerti. “Azka?”
“Yang tadi kamu tabrak, aku tahu dari jauh,”
“Itu ketua OSIS kita? Adeeeuh, dia mah bukan merhatiin tapi melototin aku! Tadi aku nggak sengaja nabrak dia dari belakang karena aku bengong. Aku minta maaf eh, dia malah melototin aku. Nakutin!”
“Hahaha,” tawa Tika pecah. “Fatin, Fatin... salah kamu juga sih, jalan meleng aja. Eh, emang matanya mas Azka itu mata elang, tajem. Tapi dia baik kali. Terus masa kamu nggak tahu dia ketua OSIS[1]? Kita di sini sudah dua bulan dan bukannya pas MOS[2] dia udah dikenalin sebagai ketua OSIS?”
“Sori, pas MOS aku pernah nggak masuk atau kalau enggak, aku pas masuk tapi nggak fokus. Lagian ngapain fokus sama orang menakutkan begitu?”
“Hati-hati kalo ngomong... nanti suka loh, hahaha.”
Fatin mendesah. “Mending Baldi kemana-mana.”
“Ah, mas Baldi memang cakep tapi soal karakter, aku jamin mas Azka meroket jauh ke angkasa. Kalau nggak, mana mungkin dia jadi ketua OSIS?”
“Baldi kapten basket.”
“Kapten basket cuma ngatur hal-hal berbau basket, sementara ketua OSIS? Tanggung jawabnya besar dan banyak, Tin.”
“Kayaknya yang punya benih cinta kamu deh, Tik, bukan aku.” ledek Fatin tersenyum nakal pada Tika. Tika mesem.
***
Fatin dan Baldi saling menepati janji untuk berlatih basket bersama. Baldi dengan suka hati membantu Fatin untuk bisa mempraktekkan beberapa teknik permainan bola basket demi bisa mengatasi ujian yang diberikan bu Dina, guru olahraga kelas sepuluh.  
Dribble-nya jangan kaku! Ayo jangan kebelibet tangan sama kakinya! Nah, gitu bener Fatin. Ati-ati aja nanti malah jatoh!”
Baldi mengajari Fatin dengan sabar dan ramah. Fatin merasa bahagiaaaaa tak terperi! Ia punya kesempatan emas belajar privat dengan Baldi plus keramahan yang diberikan Baldi. Kurang apa coba? Kurang jadiannya aja kali. Itu pun kalau Baldi menaruh hati juga padanya. Tapi tak mungkin secepat itu. Fatin juga tak tahu apakah Baldi sedang menyukai orang lain atau tidak, yang pasti dia belum punya pacar lagi setelah tiga bulan lalu putus dengan cewek sekolah tetangga.
Kini waktunya Fatin mempraktekkan salah satu teknik basket. Fatin harus belajar melakukan lay up. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Gagal total. Selanjutnya berkali-kali sampai, dia salah mengambil langkah karena bingung mengayunkan kakinya. Akibatnya ia terjatuh, nyaris menyentuh lantai semen lapangan basket. Untung Baldi segera menangkap tubuh Fatin. Mereka jatuh bersamaan, tubuh mereka berdekatan, mereka saling menatap dan terdiam.
“Di sini bukan tempat mesum, ya,” seloroh seorang cowok tiba-tiba.
Baldi dan Fatin menoleh segera dan mereka saling menjauh lalu berdiri sendiri-sendiri.
“Kamu, Ka,” ujar Baldi. “Kita nggak ngapa-ngapain, kok.”
Fatin tertunduk sekaligus kaget. Dia barusan dibilang lagi mesum! Malu-maluin aja!
“Bisa jadi apa-apa kalau nggak ada yang mergokin. Dia masih polos, Di,” Azka melempar tatapan pada Fatin. “Dia bukan seperti cewek-cewek lain yang sering kamu ajak kencan dan dugem,”
Fatin mendongak ketika Azka berbicara sisi lain Baldi. Sementar Baldi hanya tersenyum kecut.
“Oke, Mas Ustadz... aku nggak akan ngapa-ngapain pujaan hatimu, kok. Aku cuma ngajarin dia basket aja. Nggak lebih,”
Azka terperangah, Fatin melongo.
“Aku nggak akan tega hati mengambil milik sahabatku sendiri apalagi bermain-main. Jangan tegang gitu dong, mukanya! Fatin cuma butuh diajarin basket buat ujian,” Baldi bicara sambil menepuk-nepuk bahu Azka. “Sana gih, ngomong sama dia. Jangan dipendem terus nanti muka kamu yang mulus itu jadi jerawatan semua, loh,” goda Baldi.
Fatin masih tak bisa mengerti maksud pembicaraan mereka berdua. Pujaan... hati? Dia? Azka?
Baldi melangkah pergi sambil melempar senyum pada Fatin dan mempersilakan Fatin menghubunginya kalau ingin belajar basket lagi. Kini di lapangan hanya ada Fatin dan Azka berdiri mematung. Aura di lapangan basket seketika langsung berubah, dari yang tadinya riang menjadi senyap.
“Aku permisi, Mas,” Akhirnya Fatin berceletuk seraya melangkah pergi.
“Boleh aku antar?” ucapan itu meluncur saja dari mulut Azka. Azka sedikit ragu. Ia tak pernah membonceng cewek dan ia tak ingin terlibat fitnah membonceng cewek bukan mahromnya. Tapi jujur, dengan Fatin ia tak bisa menahan gejolak asmara yang belakang ini menghujamnya.
Azka menaruh hati pada Fatin semenjak Fatin tak sengaja terkunci di kamar mandi, yang menurut kabar beredar adalah kamar mandi angker. Azka lah yang menolongnya tapi ketika pintu terbuka justru pak tukang kebun yang ada di depan Fatin. Di suatu sudut, Azka memperhatikan sosok yang baru saja terkunci di kamar mandi. Sungguh, makhluk Illahi yang sempurna. Cantik bukan main. Azka tak berkedip beberapa detik. Jantungnya bak bedug yang ditabuh mendadak. Ia jatuh cinta. Tapi segera ia memalingkan pandangannya dan menahan agar tak menoleh kedua kalinya karena tatapan kedua kali itu adalah tatapan haram.
Azka menyukai Fatin tapi tak mungkin ia akan menembak Fatin untuk menjadi kekasihnya layaknya yang dilakukan teman-teman cowoknya ketika naksir cewek. Mustahil, reputasinya yang juga menjabat ketua ekstrakurikuler Sie Kerohanian Islam sangat menentang pacaran. Ia pun ingat pesan ustadz dan orangtuanya untuk tidak pacaran.
Fatin menolak halus.
“Aku menyukaimu, Tin,” Azka memberanikan diri mengutarakan perasaannya.
Langkah Fatin terhenti.
“Aku nggak akan mengajakmu pacaran dan nggak berharap kamu menyukaiku, cukup kamu tahu. Kamu tahu kan, dalam Islam dilarang pacaran? Aku mencoba memegang teguh itu. Tapi Islam tidak melarang kita jatuh cinta dan aku sudah menyampaikan perasaanku. Aku harap kamu mengerti,”
Fatin berbalik. “Aku mengerti. Tika temanku, adik teman sekelas Mas Azka tadi di kelas cerita bahwa Mas sudah sering memperhatikanku. Tika bilang kemungkinan Mas menaruh hati padaku tapi yang aku nggak bisa paham kenapa tatapan Mas ke aku begitu? Maksudku aku nggak nyaman ditatap seperti orang yang punya salah padahal aku juga nggak tahu salahku ke Mas itu apa. Kalau urusan tadi pagi aku nabrak Mas, ya itu salahku tapi aku nggak bisa melihat tatapan seperti itu. Kata Tika itu memang bawaan mata Mas tapi menurutku enggak, tapi aku juga nggak tahu maksud tatapan itu,” Fatin mencerocos mengungkapkan batinnya setelah mengingat-ingat kejadian tadi pagi dan di kelas bersama Tika.
Azka menelan ludah. Fatin bisa menangkap sorotan matanya tapi sayang tak bisa mengartikannya.
Cinta, Fatin. Tapi mungkin aku bodoh nggak bisa mengungkapkannya bahkan hanya dengan tatapan mata.
“Aku minta maaf membuatmu bingung bahkan ketakutan. Kamu mau maafin aku?”
“Tentu,” jawab Fatin tersenyum singkat.
Azka tersenyum pada Fatin lalu melempar pandangannya ke arah lain, Fatin pun tertunduk. Mereka berusaha menjaga pandangan.
Ah, Fatin Ghassani, cantik nan menarik. Ya, itulah arti namamu. Nyaris aku nggak bisa menahan benteng imanku.
-end-



thanks to editor: Altami Nurmila ^^






[1] Organisasi Siswa Intra Sekolah
[2] Masa Orientasi Siswa

New World, New Experiences, New Life, New on Me



Assalamualaikum Wr wb ^^
Oke, kali ini saya memosting kisah nyata, ya, bukan fiksi seperti tulisan sebelumnya :)
Ini pengalaman pribadi yang bener-bener fresh from the oven dan sedang dalam berlangsung.
Apa itu?
Ya, new world.
Maret 2013 lalu saya baru wisuda (bisa cek postingan saya sebelumnya), alhamdulillah. Seneng menyandang gelar Sarjana Psikologi. Tapi eh tapi setelah lulus ternyata saya nggak ada “harga”nya. Why? I feel so useless.
Ternyata IPK bagus nggak menjamin siap terjun ke masyarakat setelah lulus kuliah. Bahkan nggak menjamin ilmu yang ada di otak awet. Untuk saya, ilmu selama 4,5 tahun nimba ilmu di psikologi, ilmu itu menguap dan musnah diterpa hembusan sang bayu. -_-
Pas sekolah nggak pernah ikut organisasi dan kepanitiaan, kuliah juga pasif. Toh ikut kegiatan dan organisasi pasti setengah hati. Walhasil nggak ada ketrampilan yang saya punya. Serius! Dan you know what? Saya kelimpungan. (Makanya pesen aja nih buat yang masih sekolah dan kuliah, berorganisasilah! Cari pengalaman yang membuka banyak koneksi pertemanan dan menambah ketrampilan. Amat sangat berguna, deh. Jangan nyesel kayak saya -_-)
For your info, saya pengen kerja di kantoran setelah lulus kuliah walaupun saya ambil fokus psikologi klinis (yang terkadang identik dengan rumah sakit dan biro konsultasi psikologi. Yang lulusan psikologi pasti ngeh, deh ini. Soalnya kalo kerja kantoran biasanya fokus peminatannya psikologi industri dan organisasi. Tapi aslinya sih, kalo masih S1 bisa masuk ke mana aja kok asal kualifikasinya psikologi dan umumnya MAMPU MENGOPERASIKAN ALAT TES, PAHAM UNDANG-UNDANG TENAGA KERJA terpenuhi. Tapi emang iya, kalau dari fokus peminatan lain seperti psikologi klinis, psikologi pendidikan-perkembangan atau psikologi sosial, musti belajar dua kali. Kalo yang ambil psikologi industri-organisasi sudah pasti dikit-dikit ngeh). Nah, balik deh, ya.
Saya pengen kerja di kantoran di bagian Human Resources (HR) soalnya cita-cita jadi wanita karir tapi sejauh ini lamaran kerjaan by email banyak yang belum (masih berharap) ngasih feedback. Dan kalopun ada yang manggil untuk tes-wawancara pernah ditolak lalu ada juga yang saya tolak gara-gara nggak sreg. Kalo diinget-inget saya udah ada 3 kali nolak rejeki. Pertama tawaran kerja dari bu dosen penguji ujian skripsi. Kerjanya di biro konsultan psikologi. Saya nggak suka bagian HR yang rekrutmen, nggak punya pengalaman itu dan pasti grogi deh (nah, ini kebodohan fatal saya selama ini. Usia nyaris seperempat abad tapi masih takut show up di depan orang *tampar muka*). Kedua, tawaran dari perusahaan konsultan. Mirip sama bu dosen tadi. Itu perusahaannya yang ngundang buat wawancara, saya tolak. Why? Saya nggak mau kerja di konsultan dan itu bagian rekrutmen. No! Ketiga, emm... tunggu... inget-inget lagi... wah, kayaknya yang ketiga ini juga perusahaan konsultan tersohor di Surabaya dan Jakarta yang pernah menolak saya, tapi kali ini departemen berbeda. Ogah! Kerjanya kayak romusha. Pas ada proyek besar seminggu 7 hari kerja, oh no! Dan karena perusahaan konsultan besar jadinya ya banyak perusahaan yang ditangani dan akhirnya proyek besar juga banyak dong. Dan pernah bantuin temen yang kerja di sana buat skoring, wow! Relasi antarpegawai tegang, nggak cozzy, huufffttt...ngapain hidup kerja cari duit so stress tiap hari. Saya cari kerja yang hubungan dengan rekan baik, santai. Ya, emang saya bukan karakter orang seperti yang mereka mau makanya dulu saya ditolak dan ketika ada lowongan, saya lepas aja.
Setelah menolak rejeki itu, saya ngerasa nyesel juga sih. Takut nantinya nggak dapet-dapet. Maret sampai Agustus pertengahan kemarin saya jadi pengangguran, deh. Memalukan. IPK bagus tapi masih nganggur. Duh! Muka terasa ditampar keras-keras. Belum lagi saya itu kayaknya males-malesan deh, nggak aktif cari info dan susah move on tapi maunya di hati itu pengen jadi orang besar. Saya tahu jadi orang besar butuh susah payah dulu, no pain no gain tapi aduh... otak saya dudul banget.
Berbagai nasehat saya dapet. Ambil kerja adanya dulu aja, nanti merangkak naik. Bener sih, tapi saya juga nggak mau terkesan dungu asal kerja. Masa S1 jadi pembantu? Ya, apa ya... itu bisa jadi tapi setidaknya ilmu kita, ijazah kita bisa diaplikasikan pada tempatnya walau mungkin tak sewarna dan tak sebentuk aslinya. Maksudnya, misal S1 psikologi bolehlah merambah bidang kerja lain seperti broadcasting. Jangan jadi pembantu rumah tangga alias PRT. Rugi bayar kuliah mahal-mahal, merantau... kita cari pemantasan diri sebagaimana mestinya. Ya bukannya materialistis tapi ya realistis dan rasional.
Saya sempet ngrasa desperate padahal baru beberapa bulan. Tapi beberapa bulan bagi saya itu sungguh menyiksa. Saya harus kerja segera biar nggak jadi perawan lapuk nyusahin orangtua yang ubannya sudah mencolok di seluruh kepala, wajah keriput, kulit kusut, lelah. Dan kedua adik saya yang masih jauh masa depannya. Setidaknya, saya bisa cari duit sendiri. Saya ini anak pertama, harusnya sadar tanggungjawab. Tapi saya terlalu bodoh untuk menyadari. Saya berdiam di zona aman dan nyaman versi saya.
Finally, ketika saya terus berdoa penuh harap tapi juga penuh melakukan dosa yang ada aja tiap hari karena rasa sebal dan kesal terhadap keadaan, ternyata Allah SWT masih bermurah hati. Saya minta pekerjaan yang saya ikhlas mengerjakan, barokah untuk saya dan keluarga dan untuk bisa membayar pinjaman ke rekan dekat. Itu fokus saya kerja, sih.
Ternyata... datanglah jawaban Sang Illahi lewat seorang teman melalui teman satunya lagi.
Info saya dapat dari teman bernama Ara. Menawarkan jadi shadow teacher di sebuah sekolah swasta di Surabaya Timur. Saya ngeh whats a shadow teacher, guru untuk Anak Berkebutuhan Khusus  (ABK). Tapi job desc.nya saya belum ngeh secara detil.
Ara ngasih tahu bahwa nantinya saya akan menggantikan teman kuliah saya bernama Iga untuk jadi shadow teacher karena Iga mau lanjut S2 ke Jogja.
Merasa Allah ngejawab doa saya, so I said yess. Saya terima dengan cepat. Saya bersyukur banget walau informasi gaji yang saya dapet nggak sama dengan UMR Surabaya tapi ya lumayanlah untuk guru pendamping. Lagi pula lumayan buat uang jajan saya sendiri dan bisa nyicil pinjaman ke teman dekat. Hehehe. Terus tambah pengalaman juga karena selain guru itu nyaris amat bersentuhan dengan bidang psikologi pendidikan-perkembangan, anak yang saya dampingi itu objek psikologi klinis banget. Nah... maunya melenceng dari psikologi klinis, taunya balik kucing ke sana juga. Hehehe.
Singkat cerita, new experiences dimulai.
Berdasar informasi dari Iga, anak ini (sebut aja NN) dulunya pas balita terkena kejang sampai ngaruh ke otaknya. And then it’s give an influence untuk perkembangan kognitifnya, motoriknya juga. Sampai sekarang usia 9 tahun, NN can’t read, can’t calculate, have a problem with toilet training, can’t spelling. I’m shocked! Tapi saya nggak bisa mundur. Iga nggak mungkin cari pengganti lain.
Semua yang dialami Iga yang perlu saya tahu tentang NN sudah Iga sampaikan. I think I’m okey tapi setelah sehari, dua hari, tiga hari... oh no... pengalaman langsung emang lebih super ketimbang teori ba bi bu mulut belaka.
NN ngompol sebelum berenang. Saya emang salah, kecolongan. Udah diingetin kalau sebelum renang emang nggak pakai popok, so I must bring him to toilet sejam sekali. Well...
Next. NN poop. Ouuhhh.. saya emang nggak pertama kali membasuh anal anak kecil ya, sebelumnya udah sering praktek sama keponakan tapi kali ini saya harus ekstra sabar. NN memang masih pakai popok dan ketika poop kita harus buangin popoknya tapi kita latih dia mandiri untuk membersihkan tubuhnya sendiri.
Oke, masalah belajar di kelas. NN musti difokusin mengerjakan tugas dari guru. Saya harus ekstra sabar bikin fokus matanya ke arah kertas kerjanya. Belum lagi saya harus “melindungi”nya dari gangguan jahil teman-temannya yang usil dan ketika NN berhasil diusili biasanya dia mewek. Saya harus membesarkan hatinya untuk berani dan nggak mewek.
Masalah interaksi sosialnya. Dia bagus, mau main sama teman lain tapi ya dia rentan jadi bahan cemooh dan main fisik teman-temannya yang emang trouble maker. Korban bullying istilahnya. Kasihan tapi gimana lagi, itulah tujuan kenapa ABK sekolah di sekolah inklusi berbaur dengan teman “normal” lainnya. Biar ABK struggle ke depannya. ^^9. Kalo pas istirahat saya biarin dia main sendiri, itu juga dilakukan Iga.
Yah... itu beberapa pengalaman yang bikin nafas kembang kempis, ngatur channel kesabaran. Tapi ya jujur sih, saya emang nggak bisa marah sama anak orang. Mereka terlalu lucu dan mereka cuma anak-anak yang sudah wajar nakal. Bukan nakal sih, ya memang perkembangan mereka seperti itu, lincah, ceria, banyak eksplor, khas tahap anak-anak. It’s normal. Dulu saya pasti begitu. Dan mungkin saja orang dewasa di sekitar saya kala itu juga pernah ngerasa gregetan sama saya. Sama aja.
Walau shocked sama NN, fakta lain tentang kehidupan yang lain juga nggak bisa diabaikan gitu aja.
New life.
Saya ngajar di sekolah swasta Islam milik organisasi masyarakat tersohor dan besar bernama Muhammadiyah. Sementara saya, didikte orang tua, I’m Nahdlatul Ulama (NU) yang nota bene “saingan”nya Muhammadiyah.
Saya pribadi nggak ambil pusing. Toh pusaran keyakinan kita sama, Allah SWT, Rasul juga sama Muhammad SAW. Saya nggak mau ambil pusing karena akan lebih pusing mikirinnya karena di Indonesia ada sekitar 70-an aliran Islam. Apa aja... aduh, bisa dilihat beritanya pas menjelang mulai dan usai bulan Ramadhan. Ketahuan deh, siapa mulai puasa duluan dan sholat Id duluan atau sebaliknya. Tapi itu juga beberapa aja.
Oke. Saya nggak mempermasalahkan Muhammadiyahnya. Yang saya “permasalahkan” adalah bahwa kerjaan saya sekarang ini adalah upaya Allah menjebloskan saya ke lingkungan yang islami yang selama ini saya nggak pedulikan. Jujur, saya memang berjilbab tapi hati nggak. Makanya ketahuan kan, cara berjilbab saya belum totalitas.
Allah “menampar” saya untuk lebih melek agama karena Allah denger saya punya doa saya mau jadi hamba yang kaffah islamnya, mau punya suami yang sholeh menuntun ke surga terdekat sisi Allah, mau membahagiakan orangtua dunia-akhirat karena selama ini sudah kebanyakan dosa melawan orangtua dan kebaikan hamba yang mukmin lah ya.
Di sekolah dasar swasta inilah saya lihat gimana pendidikan agama patuh diterapkan ke anak-anak plus tenaga pendidiknya. Contoh kecil soal kaos kaki. Kaos kaki itu nggak cuma fungsi untuk melindungi kaki tapi juga penutup aurat untuk cewek. Terus soal minum. Kalo ada murid ketahuan minum sambil berdiri, itu pelanggaran! Medis dan agama islam pun ngajarin minum duduk. Secara medis minum dengan duduk akan mencegah air bablas gitu aja di ginjal sehingga mengurangi resiko sakit ginjal (googling sendiri ya prosesnya gimana tapi emang gitu adanya) dan Rasulullah Muhammad menekankan kita minum duduk. Lalu soal pengucapan salam tiap ketemu guru dan doa di setiap kegiatan misal makan, belajar, masuk kamar mandi, begitulah.
Selain itu ada soal tata krama. Sudah disinggung sedikit ya, pengucapan salam itu tata krama. Selain itu penerapan kata maaf ketika berbuat salah, permisi ke guru atau teman, dan terima kasih. Di setiap sudut sekolah ini, bisa kita dengar. Buktikan :)
Ya, pendidikan emang harus begitu. Bukan saja mengutamakan kognitif tapi juga aspek emosinya, karakternya, agamanya dan lain-lain. Bisa menciptakan generasi muslim yang cetarrr membahana ke seluruh jagat raya. 
Selain itu, yang pasti Allah membuka mata saya bahwa sebenarnya anak-anak gifted atau orang tahunya ABK aslinya anak-anak istimewa. Buat orang awam, mereka mungkin "berbeda" tapi mereka spesial. Mereka bisa membuat saya sadar bahwa saya harus bisa mensyukuri semua kenikmatan Sang Illahi Rabbi. Panca indra saya lengkap dan sehat, sementara anak-anak itu ada yang butuh alat bantu pendengaran. Saya selalu dapat juara kelas dalam rank 1-10, mereka ada yang calistung (baCa-tuLis-hiTung) belum bisa tapi juga ada yang cerdas dalam ketrampilan olah raga, olah suara, maksudnya bukan cerdas kognitif saja. Saya dulu jadi korban bullying juga sempet, sih pas SD dan saya cuma diem sesekali ngelawan tapi lebih banyak diem dan mendem sebel sih, :p tapi mereka, ada yang bertahan bak benteng yang tak tergoyahkan (who knows juga ya, tapi memang memasukkan ABK ke sekolah inklusi mengasah interaksi sosial mereka dengan anak-anak "normal"). Yah, intinya banyak hal yang "dicolokkan" Allah ke depan mata saya langsung. 
Inilah kehidupan baru saya, pencerahan karena “penjeblosan” yang dilakukan Allah untuk saya. Mungkin ini jawaban pekerjaan yang saya ikhlas menjalani da barokah untuk saya dan keluarga. 
Dan saya berharap bisa melahirkan new on me, saya sebagai pribadi yang baru yang lebih baik, lebih sabar, lebih telaten, lebih bersyukur, lebih optimis soalny malu ya sama anak-anak didik yang lucu-lucu baik mereka yang biasa atau yang luar biasa. Mereka punya masa depan yang masih jauh dan penuh pengharapan cita-cita. Maka saya juga harus punya semangat itu.
Bekerjalah seolah kamu hidup selamanya, beribadahlah seolah kamu mati esok hari.
Saya lupa nih, haditsnya siapa... nanti saya googling ya.
Sekian... semoga share tulisan ini bisa memberikan manfaat buat pembaca.
Saya berbagi pengalaman sebagai anak muda yang mentah baru kemarin sore, yang baru mencecap kehidupan nyata, the trully jungle of live.
Hidup nggak selamanya mudah. Dan saya walau hidup tak pernah kaya raya tapi saya hidup tak pernah kekurangan, selalu saja ada rejeki yang datangnya tak terduga asalnya. Tapi setelah bekerja dengan gaji tak terlalu seperti harapan, sadar juga, cari duit susah. Sehingga saya berpikir bahwa sedemikian susahnya orangtua saya banting tulang, jungkir balik, menjatuhkan harga diri untuk menyambung kehidupan saya dan adik-adik saya, begitu pula orangtua-orangtua lainnya dari macam profesi apapun, pasti mereka bersusah payah.
Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur.
Optimis. Optimis. Optimis.
Try. Try. Try.
Pray. Pray. Pray.
Berserahlah secara totalitas, ikhlas.
Allah akan membuka kelancaran rezeki.
Ini yang sedang saya coba terapkan dalam kehidupan saya agar saya benar-benar menjadi new on me.

Bye bye :*


Sabtu, 10 Agustus 2013

Kado Gigantis

KADO GIGANTIS

Bulan Juni merupakan bulan paling dinantikan oleh Ema dari tahun ke tahun. Juni tahun ini menjadi lebih menyenangkan untuknya karena sukses jadi  sarjana psikologi tapi sekaligus galau menyandang status job seeker. Selain itu dia juga merangkap jadi “pengacara” alias pengangguran banyak acara, acara online mencari lowongan kerja di internet. Tapi ia tak bermuram durja, menurut info yang ia dapat di bulan ini juga akan ada job fair. Ema melihatnya sebagai salah satu kesempatan emas untuk menebar surat lamaran dan curriculum vitae-nya. Dia berdo’a, semoga Tuhan memberikan rejeki yang melimpah ruah tepat di usianya yang menginjak 23 tahun bulan ini.
Ema berkacak pinggang di depan cermin besar almari pakaiannya. Penampilannya sudah seperti wanita karir profesional lengkap, blus putih rapi dengan blazer hitam yang  membalutnya, celana kain hitam legam licin hasil setrikaannya sendiri, rambut yang begitu ditata rapi apik, make up yang sudah pas memermanis air mukanya, sepatu high heel tujuh senti yang membuat tubuhnya terlihat tegap sempurna berdiri terlebih berjalan dan tas warna netral yang selalu jadi kesukaannya juga sudah digamitnya. Tak lupa senyum selalu tersungging di bibirnya. Oke, dia siap. Let’s go!!
Sesampainya di tempat job fair, Ema segera berkeliling dari stand satu ke stand lain. Ia melihat, menyimak dan menimbang-nimbang lowongan kerja yang pas untuknya. Ema juga tak lupa mengumpulkan brosur dari sekitar tiga puluh perusahaan yang ikut bursa kerja itu. Baru setelah itu ia menepi di suatu sudut membaca secara seksama brosur-brosur itu dan meneliti lowongan kerja  yang ia inginkan.
Akhirnya ada lima belas brosur yang menawarkan posisi yang menggoda hati Ema, dari posisi staff HRD sampai copy writer. Ema memang menaruh minat di bidang psikologi industri dan organisasi dan media kepenulisan atau publishing.
Ema mengatur berkas-berkasnya untuk siap diletakkan di boks surat lamaran kerja di stand-stand perusahaan yang dipilihnya tadi. Kemudian ia berkomat-kamit sejenak. Ema menyematkan jari-jemarinya menjadi seperti formasi pemain voli yang siap menampik bola ke arah lawan dan semakin kuat berdoa di dalam hati. Lalu ia segera menuju satu per satu  dropbox stand perusahaan yang diminatinya. Bersamaan dengan ia mengucap basmalah ia letakkan berkas penting tentang dirinya di dalam dropbox. Well, kelima belas  berkas lamarannya sudah ada di tempat yang tepat.
***
Job fair itu sudah awal bulan Juni, tepat hari lahir Pancasila dan berakhir dua hari kemudian. Tapi sampai minggu kedua acara itu usai, tak satu pun telepon dengan nomor anyar masuk ke ponsel Ema, email panggilan tes dan wawancara juga tidak. Ema menghela nafas.
“Belum rezeki, Nduk,” ujar ibunya sambil mengusap punggung Ema. Adem sekali ketika merasakan setiap inci sentuhan bundanya. Ema mengangguk tersenyum singkat. Hatinya belumlah ikhlas. Lima belas berkas ia sebar, tak ada satu pun yang memanggilnya untuk tes-wawancara.
“Jangan murung gitu! Usaha lagi, ya?” kata ibunya memberi semangat. “Sebentar lagi kamu dua puluh tiga tahun, kamu harus lebih bisa dewasa, lebih bisa tahan banting, kamu akan masuk dunia persaingan yang lebih sengit ketimbang ini. Jangan putus asa!” lanjut ibunya.
Ema menegakkan posisi duduknya. Dua puluh tiga. Ulang tahun. Astaga, saking sibuknya memikirkan kemungkinan ada panggilan tes-wawancara kerja dua minggu terakhir, ia jadi lupa tiga hari lagi ia akan berulang tahun.  Air muka Ema berubah. Otot-otot pipinya yang mulanya berkerut-kerut berubah tertarik semua, memberikan efek kulit luar untuk menyunggingkan senyum sumringah di wajah Ema. Ema melirik ibunya lalu kembali tersenyum.
Dapat kado apa ya, kali ini?
“Ibu berdo’a, semoga kamu cepet dapet kerja, jadi mapan, bertemu jodoh yang bisa memimpin kamu dunia-akhirat, bahagia selalu.” Ibunya menyahut seolah tahu isi hati Ema. Ema meraih tangan ibunya dan mengelusnya lalu menciumnya. Ema memohon do’a restu ibunya agar ia selalu bisa menjalani hidup yang penuh barokah.
***
Pergeseran angka usia Ema dari 22 menjadi 23 akan terjadi dua jam lagi. Ema ingin tak tidur sampai pukul 12 malam, jaga-jaga jika ada yang memberinya kejutan. Minimal pesan singkat yang mungkin saja “membanjiri” ponselnya.
Dua jam itu nyaris berlalu, Ema terus saja gelisah menunggu tepat pukul 12 malam. Kini jam digital ponselnya sudah menunjukkan pukul 23:59, berarti semenit lagi. Ema mencoba memejamkan matanya berharap “keajaiban” datang. Ema berharap-harap cemas menit per menit penghabisan satu menit menuju jam 00:00 segera berlalu.
Oke, dirasanya cukup. Ia membuka mata perlahan lalu menatap ponsel yang digenggam tangannya tepat di depan wajahnya. Ema memonyongkan bibirnya. Tak ada pesan masuk, mungkin dia harus bersabar beberapa menit lagi.
Lima belas menit pertama tak ada pesan masuk. Lima belas menit kedua layarnya masih tetap sama, tak berhias tulisan “satu pesan masuk”. Lima belas menit berikutnya, ah... tak ada juga. Dan kini sudah jam satu dini hari. Kemudian jam digitalnya sudah berubah angka menunjukkan jam setengah dua lalu jam dua.  Kemudian jam tiga. Selama masa tunggunya mengecek jam demi jam bahkan menit per menit di ponselnya, Ema sudah tak bisa menolak rasa kantuk. Akhirnya, ia terlelap dengan ponsel yang tergenggam tangannya di depan wajahnya. Dia meringkuk memeluk guling kesayangannya.
...
“KRINGGG! KRIINGGG!! KRIINGGG!!!” Suara alarm ponsel Ema berdering menyalak kuping Ema. Matanya membelalak cepat, segera ia mencengkeram ponselnya yang sudah terlepas separuh badan dari genggaman tangannya. Angka 04:30 tertera di sana dan wow lima pesan masuk!
Ema spontan mengambil posisi duduk. Segera ia membuka pesan-pesan itu. Wajahnya memancarkan aura sumringah. Tentu saja, hari ini dia tepat berusia 23 tahun. Dan pesan-pesan itu pasti ucapan dari teman-temannya.
Wah, nomor-nomor dari kelima pesan itu tak bernama. Pasti teman-temannya sengaja mau memberi kejutan atau gebetannya yang secara mendadak juga melakukan hal serupa. Ah, senangnya.
Ema menekan satu tombol untuk bisa membaca pesan-pesan itu segera.
Pesan pertama. Selamat Anda memenangkan sebuah mobil Honda Jazz dari pengundian poin provider “Sinyal Lancar Terus” tadi malam.  Info lebih lanjut bisa klik www.sinyaljalanterus.wordpress.com atau hubungi Bpk. Langgeng 08123456787.
Ema mengernyitkan dahi segarang ekspresi ikon kartun Angry Bird.
Pesan kedua.  Masih dengan nomor pengirim yang sama, isi yang sama tapi beda contact personnya. Kali ini ... hubungi Ibu Intan 031-5553322.
Ema menelan ludah dan sengaja menyuarakan hembusan nafasnya keras.
Pesan ketiga.  Selamat Anda memenangkan uang 50 juta rupiah dari acara gebyar hadiah mie instan “Kriwil-kriwil Maknyus”!! Hubungi Deki Sudeki di 0354-654321 atau bisa lihat website resmi kami www.miekriwil.blogspot.com untuk info lebih lanjut.
Ema mulai menggenggam ponselnya erat dan berkata dalam hati,”Dungu! Mana ada perusahaan mie terkenal punya website kacangan begini!”. Tapi Ema belum menyerah. Ia buka pesan keempat, pesan atas nama provider ponselnya memberitahukan ada promo SMS, telepon dan internet gratis pada pemakaian pulsa  ke sekian rupiah. Ema menggaruk kepalanya dan merasakan seolah darahnya sudah membuat pusaran siap mendidih ke angka 100 derajat celcius di kepalanya. 
Ema cepat-cepat membuka pesan kelima. Selamat ulang tahun. Begitulah tulisan pembukanya. Mata Ema seketika  melebar dan senyumnya tersungging. Ema menggeser layar ke bawah mencari tahu siapa pengirimnya.
Zonk!!!! Ema tertipu lagi. Lagi-lagi dari nomor tak bernama yang ujung-ujungnya memberinya “angin surga”, menyatakan ia mendapat uang 150 juta rupiah dari pengundian berhadiah sebuah provider ponsel beda merek dengan sebelumnya.
Ema mendengus sebal. Mukanya bertekuk-tekuk sedemikian rupa dan menahan dongkol di hatinya. Pengirim-pengirim itu memberinya “kado” dari sekedar SMS gratis sampai yang paling gigantis, uang ratusan jeti! Yah, mereka itu hanya memberikan udara segar semu alias menipu. Perut Ema tiba-tiba merasa mulas. Ia ingin berak segera.
***


Jumat, 09 Agustus 2013

Cintaku Wajib Lari Pagi

Alarm Kikan berdering memekakkan telinga si empunya tepat pukul empat pagi. Volume maksimal jam beker sengaja dipasang Kikan agar ia segera bangun.
Sudah empat kali dalam sepekan ini Kikan sengaja bangun lebih pagi demi menjalankan salah satu program dietnya, lari pagi. Masih itu saja yang mampu ia lakukan, itupun masih sering merasa berat karena kebiasaannya begadang sampai jam satu dini hari. Berbagai upaya untuk tidur lebih awal tak pernah sukses.
Kikan lari pagi sendirian dengan earphone terpasang di telinga. Ia menikmati alunan musik beat yang membuat ayunan kakinya lebih semangat.
Seger juga aslinya lari pagi begini. Kata peneliti lari-lari pagi bisa menjaga daya ingat. Pantesan kapan hari belum olahraga gini, gue gampang lupa. Heemmm... gue bakalan rutin gini. Biar cepetan kurus. Kalo gue kurus, gue bisa milih ukuran baju sesuka gue, kelihatan lebih muda nggak disangka emak-emak dan so pasti cowok-cowok bakal ngejar-ngejar gue. Hehehe...
Kikan termakan penilaian orang-orang yang mengutamakan penampilan fisik. Padahal selama ini sekalipun tubuh Kikan “berisi” ia tak pernah dikatakan jelek. Ia pandai berhias diri. Tapi tetap saja ia merasa tak pede di depan umum.
Kikan sangat ingin kurus supaya bisa menambah daya tariknya di mata orang lain. Ia harus tampil sempurna sebagai wanita, dari ujung rambut hingga ujung kaki tapi ia tak mau mengambil jalan pintas semacam sedot lemak, operasi plastik, memasang silikon apalagi sampai memasang susuk. Ia takut berdampak pada kesehatannya kelak.
Pokoknya penampilan menarik adalah orientasi Kikan menguruskan badan. Kalau kesehatannya ikut membaik setelah diet, itu merupakan bonus buatnya. Pandangan ini memang berseberangan dengan penggila olahraga pada umumnya yang mengutamakan kesehatan baru kemudian penampilan menarik buah dari menjaga kesehatan. Begitulah Kikan. Dia bukan orang yang getol olahraga sejak kecil, jadi pola pikirnya tentang olahraga, diet dan lain-lain adalah demi menguruskan badan sehingga terlihat tampil sempurna di mata orang lain.
“BRUKK!!”
Tubuh Kikan mendadak tersungkur di pinggir badan jalan. spontan Kikan mengaduh kesakitan. Telapak tangannya lecet memerah.
“Waduh, sori-sori! Gue udah teriak-teriak tapi elo nggak denger. Sepeda gue remnya tiba-tiba ngeblong, jadi gini deh,”
Kikan melepas earphone-nya dan menatap sosok yang menabraknya.
“Mas, lihat-lihat dong! Jalan selebar gini masih aja nabrak!” omel Kikan.
“Gue udah bilang, gue udah teriak-teriak tapi elo nggak denger juga,” balas cowok itu. “Gara-gara ini, nih, pasti! Lo pakai beginian jadi nggak denger suara gue!” lanjut cowok itu sambil setengah menarik kabel earphone Kikan.
Kikan memberengut.
“Kalo gini salahnya siapa? Makanya kalo lagi jalan jangan suka pakai beginian! Gaya banget sih, lo! Biar dikata keren? Bukannya disangka keren, elo malah dibilang budek!!,” cerocos cowok itu.
Kikan mengkeret. Ia memang tak pernah nyaman jika berhadapan dengan orang yang nada suaranya tinggi apalagi  sampai ngomel-ngomel. Kikan tertunduk dan tak bicara apa-apa lagi. Dia merasa memang dirinyalah yang salah.
“Bangun gih cepetan! Ikut gue!” kata cowok itu. Cowok itu membantu Kikan berdirisambil menuntun sepedanya. .
“Kemana?”
“Gue beliin obat di minimarket ujung sana,”
Kikan kewalahan mengikuti langkah kaki cowok itu yang berjalan cepat.
“Cepetan! Lelet banget, sih! Keburu infeksi tuh, luka!” sentak cowok itu.
“Judes banget, sih,” gumam Kikan lirih.
“Jangan pernah ngatain gue di belakang!” sahut cowok itu.
Kikan melotot ke arah punggung cowok itu. “Pendengarannya super banget,”
“Ehem!” cowok itu nampak sengaja berdeham memeringatkan Kikan agar diam.
***
Dua hari Kikan tak lari pagi. Badannya masih terasa sakit semua semenjak jatuh ditabrak sepeda cowok kapan hari. Luka lecet di tangannya juga belum sembuh benar. Akhirnya ia hanya berusaha merenggang-renggangkan otot di teras rumahnya.
Ketika Kikan asyik berolahraga ringan, mendadak ia merasa ada yang memperhatikannya. Sudut mata kanannya mendapati sosok di seberang kanannya, tepat di depan rumah tetangganya yang tak terhalangi tembok pembatas. Kikan memberanikan diri menoleh dan seketika menelan ludah dan melotot.
Cowok itu?! Ngapain dia di situ?
Kikan meringis kemudian membungkuk sambil melangkah mundur perlahan untuk segera masuk ke dalam rumahnya. Sosok itu menatapnya datar lalu tersenyum sinis sambil membuang muka. Cowok itu lalu lebih dulu memalingkan badannya meninggalkan Kikan yang masih belum sigap  menyembunyikan diri.
 “Kikaaaan! Ngapain kamu bungkuk-bungkuk gitu?” Ibunya yang keluar dari rumah menatap heran. “Eh ini, Ibu minta tolong ya balikin wadah kuenya tante Santi. Bilang makasih,” pinta ibunya.
Kikan nampak keberatan sambil menunjuk-nunjuk ke arah sisi kiri. “Tante Santi sebelah ya, Bu? Om Anggoro?”
“Iya. Emang ada lagi yang namanya tante Santi?” Ibunya mengangkat sebelah alis.“Cepetan! Jangan lelet jadi anak perawan!”
“Iya,” sahut Kikan malas. Ia mengambil langkah menuju rumah sebelah.
Dengan langkah berat, Kikan memasuki halaman depan rumah tetangga dekatnya yang baru tinggal di situ sekitar lima bulan terakhir. Kikan mengetuk pintu sambil mempersiapkan diri, jangan-jangan begitu pintu dibuka cowok judes itu yang nongol.
“Ngapain?!” suara ketus terdengar dari sosok di depannya.
Nah, bener kan cowok itu.
“Ini, disuruh ibu balikin ini. Terima kasih banyak,” ucap Kikan salah tingkah sambil buru-buru pamit pergi.
“Ya.” Cowok itu hanya berkata singkat. Kikan tersenyum singkat lalu pamit pulang.
“Tunggu!” suara cowok itu menahan langkah Kikan yang sudah berancang-ancang kabur.
Kikan menoleh dan jantungnya berdegup kencang.
Cowok itu mendekati Kikan.“Besok temenin gue belanja, ya?”
“Hah?” Kikan mengernyitkan dahi mendongak menatap cowok yang jauh lebih tinggi darinya.
“Gue baru di sini. Gue nggak tahu tempat belanja oleh-oleh murah di sini. Gue juga nggak hafal jalan. Sebagai imbalannya gue traktir makan deh,” sambung cowok itu.
Buset dah... dikira gue beruang Taman Safari Badan gede begini bukan berarti gue suka disogok makanan, Mas! Dulu sih, iya. Sekarang gue lagi diet. Gue nggak akan tergoda makanan sekalipun digratiskan!
“Sudah sono pulang! Jangan lupa besok!” imbuh cowok itu.
Kikan nyelonong pergi tanpa permisi kedua kali.
***
Cowok itu bernama Bimo. Wajahnya memang sebelas dua belas dengan Bimo VJ MTV yang tak seberapa tampan tapi keren dan macho. Putih, bersih, mulus plus tinggi. Cowok seperti inilah dambaan Kikan. Tapi, alih-alih mengkhayalkan si Bimo jadi  kekasihnya, menjadikan Bimo tetangga saja Kikan tak pernah. Justru ia berharap Bimo segera pergi enyah kembali ke Taipei supaya tak berlama-lama menjadi tetangganya. 
Menurut cerita Bimo yang cukup singkat, ia sedang berlibur kuliah S2 dari kuliahnya di sebuah perguruan tinggi bergengsi di sana. Ia juga baru merasakan suasana rumah barunya semenjak orangtuanya memutuskan pindah rumah, kembali ke kampung halaman sang ayah setelah ayahnya pensiun dari perusahaan multinasional besar di kota berjuluk Big Durian alias Jakarta. Makanya Bimo buta arah kemana-mana. Terakhir ia ke kota ini ketika ia SMP kelas satu. Itupun tak banyak memberikan kenangan.
Bimo tak  banyak bicara. Ia hanya menunggu Kikan memberikan komando kemana ia harus masuk ke toko cindera mata. Bimo tak banyak komentar mengenai rekomendasi Kikan untuk membeli oleh-oleh untuk kawan-kawannya di Taipei. Tapi ketika Kikan asyik menilik satu per satu kalung etnik, mendadak Bimo memberikan protesnya.
“Jelek!” cela Bimo. Kikan melirik tajam dan mendengus kesal. Kemudian ia pergi meninggalkan kalung-kalung itu dan menunggu Bimo di luar toko sembari mengutak-atik ponsel canggihnya.
Kikan segera bosan. Dia menoleh ke sana-ke mari mencoba mengusir penat menemani orang seperti Bimo berbelanja. Entah kiasan seperti apa yang pantas ia sematkan untuk Bimo. Kalau sudah bicara, nyerocos tanpa henti sepanjang rel kereta api. Sekalinya diam, diam mulu. Sekalinya ngomong juga seringnya menohok. Kikan juga tak bisa mengeremnya. Setiap kali ingin bicara, Bimo sudah berhasil mendahului. Mau melawan, Kikan tak punya daya argumentasi kuat. Salah-salah Kikan didamprat telak oleh Bimo. Aslinya, hati Kikan juga jengkel mendapat perlakuan seperti itu. Dapet apa coba dari pertemuan tiga kali dengan pola komunikasi yang seringnya hanya satu arah saja? Bisa-bisanya Kikan “tunduk” pada Bimo mau mengantar jalan-jalan? Kikan geleng-geleng kepala sendiri.
“Elo mau apa? Gue traktir,” celetuk Bimo yang sudah berdiri di belakang Kikan tepat.
Kikan menoleh kaget. “Oh, enggak. Kalau sudah selesai, pulang aja gimana? Atau mau keliling lagi?”
“Sudah sih, ini cukup,” ujar Bimo melihat-lihat isi kresek sejumlah enam berukuran sedang di tangan kiri dan kanannya. Kikan bernafas lega, sejak tadi dia memang mau cepet pulang. “Elo beneran nggak mau jajan?” tanya Bimo memastikan. Kikan menggeleng tersenyum singkat.
Sesampainya di rumah Bimo menyerahkan sesuatu untuk Kikan. Isinya dua toples cookies.
“Ini rendah kalori. Bagus buat diet,” Bimo meyakinkan Kikan menerimanya. Kikan mengernyitkan dahi.
“Makasih,” sahut Kikan menerima kantong yang disodorkan Bimo. Bagaimana Bimo tahu Kikan sedang menjalankan program diet?
Xie-xie ya, sudah mau nemenin. Besok mau nggak jalan pagi bareng?” tawar Bimo.
Kikan menunjuk jarinya ke arahnya, lalu ke arah Bimo, bolak-balik. Bimo mengangguk. Kikan mengacungkan jempolnya dan tersenyum. Mereka berpisah setelah Bimo mengucapkan selamat malam. Di otak Kikan... kesambet apa dia ngajak gue jalan pagi bareng? Hehehe... semoga saja kesambet lagi, kesambet nggak jutek lagi.
***
Singkat cerita semenjak Bimo mengajak Kikan jalan-jalan pagi untuk olahraga entah mengapa Kikan jadi selalu semangat tidur lebih awal dan bangun pagi. Kikan sudah tak peduli dengan kejutekan Bimo. Menikmati ketampanan Bimo saja sudah cukup.
Ya, siapa yang mau menyangkal kalau Bimo cowok keren mentereng? Ibu-ibu sampai ABG-ABG di komplek mereka tinggal selalu melek lebar-lebar ketika Bimo melintas. Pesona Bimo yang jutek, irit senyum dan irit bicara membuat mereka begitu gemas padahal Bimo baru sekitar sebulan tinggal di sana.
Mulanya Kikan mengabaikan hal ini. Bagaimana bisa kaum hawa di luar dirinya terpesona hingga sedemikian rupa pada Bimo yang jutek? Aduh... tiada pesona selain tampangnya. Tapi Kikan akhirnya jatuh juga pada ucapannya sendiri. Ia benar-benar mulai menikmati pesona lahiriah seorang Bimo. Kikan tanpa sadar memasukkan dirinya ke golongan hawa yang “terhipnotis” oleh Bimo.
Dulu Kikan tak ambil pusing pujian-pujian tanda kekaguman kaum hawa itu pada Bimo tapi kali ini ia merasa sebal. Dan herannya Bimo sekarang justru seolah menikmati tingkah polah centil mereka. Kikan mengepal-ngepalkan kedua tangannya, geram.
“Noh, lihat cewek-cewek itu! Mereka rutin ikutan senam pagi. Ikutan sana! Katanya mau kurus. Rutin olahraga. Tapi inget, jangan nahan lapar lagi! Salah-salah kena anoreksia. Catetan asupan makanan dari gue kapan hari dilaksanain. Jangan buat pajangan doang! Mau kurus harus konsisten olahraga dan jaga pola makan, bukan menahan-nahan makan,” suruh Bimo suatu pagi di taman komplek. Seperti biasa, sekali keluar satu pernyataan maka pernyataan-pernyataan lain terus berlanjut. Dan ini hanya berlaku untuk Kikan.
Kikan mengangkat sebelah alisnya dan cemberut. Kalo nggak protes, ngoreksi, ya nyuruh. Predikat irit bicara ternyata hanya berlaku untuk orang lain. Beberapa waktu terakhir Bimo amat cerewet pada Kikan terlebih soal diet. Seolah sekarang Bimo sudah merangkap jadi tetangga, teman jogging, pakar gizi dan semua peran penunjang program diet Kikan. Walaupun semuanya yang dikatakan Bimo ada benarnya tapi cara penyampaiannya tak dikehendaki Kikan. Ada cara yang lebih halus kenapa harus “kasar”?
Kini alih-alih Kikan melaksanakan “titah” Bimo seperti biasanya, justru Kikan ngeloyor pergi menghampiri pedagang kue jajanan pasar di pinggiran jalan  tak jauh dari mereka.
“Eittss, kemana?” tanya Bimo menarik tangan Kikan.
“Laper,”
“Elo mau beli jajan itu?”.
Kikan mengangguk.
“Jangan!” larang Bimo.
“Katanya nggak boleh nahan lapar. Emergency banget,” Kikan memegangi perutnya.
Bimo merogoh kantong celananya. Keluar dari sana sebuah roti kemasan yang sudah penyet. Kikan melongo. Tega nian Bimo memberinya roti penyet.
“Ini! Lebih steril dan belum kadaluwarsa. Diet itu bukan cuman urusan kurus aja tapi juga kesehatan. Dan penunjang kesehatan salah satunya adalah makanan higienis. Catet itu!”
“Iya, iya, bawel!” meluncurlah juga kata-kata “pemberontakan” itu dari mulut Kikan. Selama ini kejengkelannya hanya ada di dalam hati.
“Demi kebaikan elo juga. Gue nggak mau elo sakit,”
Semriwing... angin sepoi-sepoi tiba-tiba bertiup menerpa wajah Kikan. Terpesona. Bimo bicara demikian membuatnya GR alias Gede Rasa.
“Nanti nggak ada yang nemenin gue belanja. Pesenan gue nambah, nih! Jadi besok lo bantuin gue bawa belanjaan,”
Apa??? Gue alih fungsi dari tetangga jadi jongos? Huh! Ogah!
“Sori, dalam minggu besok gue ada beberapa tes dan interview kerja. Jadi, elo cari temen lain aja buat nemenin belanja,”
 “Nggak usah banyak alesan, deh! Elo bohong mau ada tes, aslinya lo mau ngehindarin gue, kan? Elo risih gue deket-deket sama elo? Kalo iya ngomong dong! Jangan diem aja! Emang lo kira gue nggak tahu apa tiap berhadapan sama gue, elo itu selalu tegang ketakutan. Elo kira gue buaya kelaperan yang siap-siap nerkam elo? Gue begini adanya, nyablak to the point  dan paling nggak suka sama orang lelet. Gue gemes sama elo yang kayak kebo dicucuk hidungnya, disuruh kemana aja nurut. Heran gue ada makhluk macam elo,”
Nah, lho sekarang Bimo bertambah titel sebagai cenayang yang tahu bagaimana reaksi dan isi hati Kikan setiap kali di dekatnya. Dan kali ini Kikan terasa hatinya tertusuk perih bukan main. Tapi itu benar. Bersama Bimo ia sering tak bisa berkata tidak. Herannya, Kikan tak lama menganggap itu menjengkelkan. Cara Bimo berkomunikasi memang dibenci Kikan tapi semua saran dan kritik Bimo, terutama terhadap program dietnya juga cukup berhasil. Dan di luar itu, Bimo selalu ada di pihak benar. Betapa Kikan merasa jadi orang bodoh sedunia. Bimo memang cowok komplit. Rupawan iya, otak keren bisa tahu banyak hal, pekerja keras, bisa lanjut S2 ke luar negeri, peduli kesehatan dan terakhir informasi yang Kikan dapatkan, Bimo adalah mantan coverboy  sebuah majalah remaja dulunya. Subhanallah! Pesonanya bertambah satu lagi, Bimo begitu perhatian padanya di balik kejutekannya itu. Ini membuat Kikan semakin GR.
“Kalau bicaranya sudah selesai, gue mau pulang. Gue mau makan di rumah aja. Gue geli mau makan roti begini, iuuhhh... sudah berapa hari ada di saku elo?”.
“Baru... baru tiga hari kayaknya,” Bimo tak yakin. Kikan pun meragu, segera ia cek tanggal kadaluwarsa roti itu.
“Pendusta lo, ini sudah basi dari kemarin!” sergah Kikan sambil mencubit lengan Bimo
“Idih, genit banget lo, nyubit gue segala. Tumben,” Bimo tersenyum menggoda. “Kalo gitu boleh dong minta senyumnya dikit, tegang amat,” lanjut Bimo sambil menjawil dagu Kikan.
“Ih, elo berani sentuh-sentuh gue. Genit juga lo sekarang,” balas Kikan menabok lengan Bimo.
Bimo berusaha menghindar setengah berlari tak tentu arah. Kikan mengejarnya sampai dapat.
“Gendong dong,  Mas Bimo!” Kikan tiba-tiba mulai berani genit.
Bimo berjongkok dan menyodorkan punggungnya.
“Kita lihat elo sudah seringan apa,” Bimo mulai merasakan beban berat tubuh Kikan. “Waduh, masih kelebihan sepuluh kilo. Diet lagi, nih, berat,” Bimo bercanda. Kikan membalasnya manyun.
“Setengah tahun lagi gue lulus. Ketika gue balik lagi ke sini elo sudah harus kurus. Lebih beberapa kilo tak apalah. Tapi yang terpenting elo jaga kesehatan dan wajib lari-lari pagi biar tetep bugar badan elo. Intinya elo ikutin aturan gue kalau mau kurus. It’s work!” ujar Bimo.
Kikan mencibir.
“Elo kira gue nggak tahu di belakang elo manyun-manyun gitu,”
Ih, nih cowok cenayang apa gimana sih? Tahu aja gue lagi apa di belakang dia.
“Kalo aturan biar jadi nyonya Bimo ada nggak?” Kikan terlewat berani. Sedetik kemudian ia menyesal bertanya seperti itu. Bimo berhenti berjalan sejenak.
“Ada,” balas Bimo membuat degup jantung Kikan semakin cepat. “Elo harus cintai gue setulus hati elo apapun yang terjadi. Itu cukup,”
“Serius?!”
Bimo mengangguk.
“Nggak perlu cantik? Seksi? Bohay? Dan lain-lain?”
“Asal dia cewek, orientasi seksual normal, cekatan, pinter, setia sama gue, cinta sama gue, itu cukup. Gue cari pendamping hidup setia, bukan lagi milih putri Indonesia,”
“Ahhh.... Bimo... ” seru Kikan sembari mempererat rangkulannya di leher Bimo. Hingga bimo merasa tercekik seketika.  “Sori, sori. Tapi jangan jutekin gue lagi, dong. Enek gue lihat elo ngomel mulu kayak kereta yang nggak bisa distop,”
Bimo tersenyum. Kikan serasa terbang melayang. Syarat jadi kekasih Bimo tak susah amat. Ia sudah punya itu. Entah semenjak kapan tapi yang jelas Kikan memang sudah jatuh hati pada Bimo. Mau Bimo jutek kek, irit senyum dan bicara kek, bawel dan apapun itu, Kikan terima Bimo secara utuh menyeluruh. Simpel kan? Saling mencintai cukup sebagai fondasinya, lain-lainnya adalah pemerkokoh. Cinta itu simpel. Sesimpel lari-lari pagi.
-SELESAI-

thanks to editor: Altami Nurmila Daniari