Selasa, 04 Juni 2013

Pendamping Sang Dewa

Seorang gadis berusaha sekuat tenaga berlari tunggang langgang agar tak tertangkap dua lelaki yang mengejarnya. Andai saja ada energi super seperti yang dimiliki super car Lamborghini yang bisa melesat cepat atau setidaknya ada mantra penghilang diri, gadis itu tak usah bersusah payah berlarian begini. Ia bukan atlet maraton, sudah pasti ia menguras tenaga ekstra untuk meloloskan diri dari dua sosok itu.
Ini bukan adegan film yang sedang direncanakan oleh seorang sutrada film kawakan negeri ini atau bahkan hanya sekedar sutradara amatir. Tapi ini adegan nyata pengejaran seorang gadis oleh dua orang berpakaian seperti preman di sebuah pusat pertokoan yang tak jauh dari pemukiman padat warga, diselingi gang-gang kelinci yang hanya muat untuk satu tubuh orang dewasa bertubuh “normal” dan sepeda motor.
Gadis itu bukan telah melakukan sebuah kesalahan fatal seperti mencuri, merampok atau lari dari pengawasan mucikari. Tidak seekstrim itu. Ia hanya meninggalkan “asuhan”nya di rumah tanpa izin terlebih dahulu. Si yang diasuh begitu murka tahu pengasuhnya keluar tanpa seizinnya.
Dua sosok kekar bin tambun yang mengejar gadis itu amat sangat kewalahan dengan kegesitan gadis itu berlari. Hingga tiba mereka di suatu ujung jalan buntu yang hanya dipenuhi tong-tong plus sampah-sampah berserakan. Sementara si gadis memang tepat ada di balik sebuah tong itu seraya menggigit bibirnya berharap dua lelaki itu tidak mendapatinya di sana.
Namun... tiba-tiba nada panggil ponsel gadis itu berbunyi keras dalam volume maksimal. Seketika seolah ada aliran listrik menyengat ke tubuhnya kemudian menjalar ke saraf pusatnya, panik! Ia segera merogoh tas kecilnya dan berupaya mematikan ponsel itu tapi sebelum ia berhasil menemukan ponselnya, sorotan empat mata lelaki sudah menghujam kepadanya yang jongkok di balik sebuah tong.
Mati sudah. Goblok banget tadi aku nggak matikan hapeku.
“Mbak Kenes, kok lari-lari? Kita ngos-ngosan ngejar Mbak,” celetuk salah seorang dari mereka yang terengah-engah mengejar gadis itu. Gadis itu meringis sementara ponselnya sudah berhenti berdering.
“Ayo pulang, Mbak! Mas Dewa ngamuk-ngamuk tahu Mbak Kenes nggak ada di rumah,” ujar sosok lainnya.
“Oalah, Mas Parjo, Mas Sidiq, aku itu cuman mau main-main aja sama kalian. Biar kalian itu bisa sekalian diet. Biar nggak gemuk-gemuk amat. Tuh, lihat perutnya sudah kayak ibu-ibu hamil, hehehe,” Kenes justru menimpali ajakan dua lelaki itu dengan guyonan untuk melumerkan suasana tegang yang ia rasakan. Aslinya ini hanya alibi menutupi keinginannya untuk lepas dari “cengkraman” si bos mereka, sementara waktu saja.
Kedua lelaki itu saling berpandangan kemudian menatap perut masing-masing. Sedetik kemudian mereka meringis lebih lebar ketimbang Kenes. Kenes juga ikutan meringis.
“Oke, aku ikut kalian pulang,” Kenes pasrah tapi nada bicaranya tak menunjukkan ia begitu. Walau aslinya juga tak rela pulang secepat itu.
Gagal lagi. Maunya jalan-jalan cari senang malah ketangkap lagi.
Kenes sudah sampai di rumah. Ia masih tetap dikawal ketat oleh kedua lelaki tadi sampai benar-benar ada tepat di depan Dewa. Kenes merasakan detakan jatungnya semakin cepat. Takut ia akan kembali menerima segala cecar dari mulut Dewa yang bisa saja menjadi bengis jika keinginannya tak terpenuhi.
Kenes sudah ada di hadapan Dewa sekarang. Dewa memberi kode pada “pengawal”nya untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
“Sudah cukup senang-senangnya?” Dewa memecah kebisuan di antara keduanya.
“Belum,” tungkas Kenes jujur.
Dewa menahan nafasnya sejenak, berusaha tidak lagi meledak-ledak setiap kali tahu Kenes “melarikan diri”.
“Apa rumah ini tak memberikanmu kesenangan sampai akhirnya kamu harus mencari kesenangan di luar?” suara Dewa penuh tanya.
“Aku bosan setiap hari di rumah. Aku tak bisa hanya diam di rumah. Lagipula ini bulan libur semester, biasanya aku sering jalan-jalan kemana pun aku mau,” suara Kenes makin lama makin lirih.
“Kamu itu sedang bekerja untukku, mengurusku, menyediakan semua kebutuhanku, memerhatikanku dua puluh empat jam penuh, tahu?!” suara Dewa sedikit meninggi. Kenes mengkeret.
“Aku tahu tapi aku but---”
“Aku bisa memberimu kesenangan macam apapun. Tapi satu hal, jangan pernah mengendap-endap di belakangku melarikan diri lagi! Aku kebingungan mengurus keperluanku sendiri dengan dua kaki lumpuhku ini, tahu?!” Dewa merasa darahnya mulai mendidih di ubun-ubun.
“Apa pekerjaan ini begitu membuatmu tertekan?” tuding Dewa.
Kenes merasa tertohok, ia ingin berkata tidak tapi kenyataannya pekerjaan mengurus Dewa juga membuatnya sering tak sabar. Ia bukan ahli medis tapi ia harus melakukan pekerjaan itu.
“Tidak,” suara Kenes mantab menutupi yang sebenarnya ia rasakan.
“Semoga itu benar. Siapkan air hangat untuk mandi! Tak usah memasak, mas Parjo dan mas Sidiq aku suruh membeli nasi goreng di ujung komplek. Kamu tahu, aku kelaparan seharian karena ulahmu. Harusnya kamu bisa lebih cerdik dan bijak jika ingin melarikan diri bersenang-senang, tinggalkan sarapan dan camilan untukku! Bahkan sampai sesenja ini belum ada makanan tersaji di meja. Kamu nggak lupa tugasmu selama bekerja untukku, kan?”
“Iya, maafkan aku. Aku tadi terburu-buru,”
“Kamu bukan terburu-buru tapi sengaja memancing kemarahanku. Sudahlah!”
Dewa memutar roda kursi rodanya.
“Perlu kubantu?” tawar Kenes, ada sedikit rasa menyesal di hatinya.
“Lakukan saja perintahku tadi!” Dewa menolak kemudian berlalu menuju kamarnya.
Kenes berbalik arah menuju dapur, segera melaksanakan permintaan Dewa. Itu memang sudah kewajibannya.
Kenapa aku bisa begitu lupa tak menyiapkan makanan tadi? Pameran di gedung kesenian itu ternyata lebih menggiurkan. Ingat, Nes, sekarang kamu sedang bekerja mengurus Dewa! Ingaaattt...!!
...
Bulan libur semester ini jadi masa liburan yang amat tak terduga bagi Kenes. Kenes mengisi libur kuliahnya dengan pekerjaan yang sama sekali berseberangan dengan bidang yang ia tekuni selama ini. Kesehatan. Sau kali pun Kenes tak pernah berkeinginan berurusan dengan bidang itu. Kenapa? Entah, tak jelas sebab-musababnya, Kenes amat ngeri melihat darah, amat ngeri melihat luka menganga, merinding mendengar orang patah tulang, kepala kegencet ban mobil, ibu-ibu mengalami perdarahan saat kehamilan dan semua berbau medis. Ia sudah menjaga jarak jauh-jauh semenjak ibunya yang seorang bidan mengajaknya menunggui orang melahirkan ketika ia duduk di bangku kelas dua SMP. Entah memang karena itu atau apa tapi intinya, sebenarnya tak ada peristiwa yang begitu meninggalkan trauma tersendiri untuk Kenes tapi Kenes mendadak merasa ngeri sendiri saja. Setidaknya itulah pengakuan Kenes.
Kenes sudah sekuat tenaga menjaga jarak dengan dunia medis yang baginya mengerikan tapi suatu sore telepon dengan rangkaian angka sedikit aneh tertera di layar ponselnya. Roman-romannya angka dengan kode telepon dari luar negeri.
“Halo,” sapa Kenes. “Kenia?! Wah, sialan kamu tak kasih kabar menikah. Di Korea pula,” seru Kenes. “Bukan? Di Guangzhou Cina? Kok bisa? Oh, Ibu mertuamu asli sana.” “Apa? Aku? Aku minggu depan libur semester, sih. Aku mau pulang ke Bali. Kamu tahu kan, orangtuaku sudah lama pindah ke sana semenjak kita lulus SMA.” “Apa? Jangan? Kenapa?” “Dewa? Kecelakaan?! Astaga! Memangnya dia nggak ikut kamu? Bagaimana bisa?” “Kamu memintaku menemaninya? Kamu ini, jadi penulis terkenal nggak ingat aku bahkan menikah juga nggak kasih kabar langsung. Sekarang ada berita duka Dewa kecelakaan baru kamu meneleponku, dasar!” “Oh, enggak. Aku nggak keberatan, kok. Asal kamu mengajakku berpesta di pesta pernikahanmu di Indonesia, ya? Hehehe.” “Iya, setelah ini aku akan segera menjenguk Dewa. Kasih tahu aku di rumah sakit mana. Tapi nggak apa-apa aku  langsung nongol di depannya? Kami nggak begitu saling kenal, Ken,” “Oh, oke-oke.” Terdengar Kenia memutus sambungan teleponnya dari negeri seberang sana.
Kala itu Kenes mengiyakan saja permintaan Kenia, sahabatnya. Lagipula mungkin menemani Dewa juga tak akan lama karena mungkin orangtua Kenia juga tak akan berlama-lama di Cina. Mungkin sekitar satu minggu. Lagipula jika mengingat nama dan membayangkan wajah cowok itu hati Kenes mendadak kembali bergetar. Lama tak bersua, lebih lama ketimbang ia tak bersua dengan Kenia, seperti apa wajahnya sekarang ini? Apakah masih memesona? Tapi dengan berita sedih yang baru saja menghampiri?
Sesampainya di rumah sakit, Kenes tak menyangka bahwa kondisi Dewa begitu menyedihkan. Menurut penuturan dokter yang menanganinya, Dewa amat terpukul ketika tahu bahwa ia lumpuh total akibat kecelakaan hebat yang menimpanya kemarin. Marah-marah kemudian diam dengan tatapan kosong, marah-marah lagi, teriak-teriak merutuki diri. Kenes seketika pening, bagaimana caranya menghadapi orang yang mungkin sudah menunjukkan gejala depresi akibat kecelakaan seperti Dewa? Ia tak punya dasar jadi konselor seperti kakaknya Devi. Kenia juga tak menjelaskan kondisi Dewa separah ini. Apa Kenia dan orangtuanya tak tahu bahwa kecelakaan yang dialami Dewa begitu parah? Kenia hanya berkata agar dia menemaninya, menemani bagaimana? Ini pasti jadi pekerjaan yang lebih dari sekedar menemani. Pikiran Kenes berkecamuk. Apa yang harus ia perbuat sekarang?
Kenes segera meraih ponsel canggihnya. Ia hendak menelepon sahabatnya itu tapi... tunggu! Sekarang ini harusnya Kenia dan orangtuanya dalam kondisi amat bahagia karena pernikahan anak perempuan mereka, sahabatnya, tapi jika rasa bahagia itu berbalut dengan rasa sedih tak terduga jika tahu kondisi Dewa yang sebenarnya amat memilukan, apa jadinya? Malah bisa merusak kebahagiaan Kenia.
Kenes batal menghubungi langsung Kenia. Ia ketik beberapa kalimat dan mengirimnya melalui pesan pribadi. Bagaimanapun Kenia dan orangtuanya harus tahu.
Ken, aku benar2 minta maaf kalo harus bilang bahwa kakakmu dalam kondisi parah. Dia lumpuh! Ini bukan kecelakaan biasa, Nes. Sampaikan pada orangtuamu. Lalu aku? Kenapa kamu nggak minta seorang suster atau bahkan fisioterapis mengurus Dewa? Aku bukan ahli medis. Aku cuman tukang foto dan gambar yang suka pergi kesana-kemari. Tapi tenang saja aku tetap menemaninya sampai kamu kembali ke sini. Tolong segera jawab pesanku, ya. 

Kenes mengetik kalimat demi kalimat itu dengan perasaan panik sambil sesekali ia melirik Dewa dari celah kain kelambu kaca kamar Dewa. Memastikan Dewa tidak membuatnya lebih panik seperti apa kata dokter, marah-marah. Dewa terlihat tidur nyenyak, berkat cairan penenang yang disuntikkan ke tubuh Dewa.
Kenes mengharapkan Kenia segera membalas tapi itu mungkin nyaris tak akan terjadi, pasti Kenia repot. Mulut Kenes juga mulai berkomat-kamit berdoa semoga orangtua Dewa dan Kenia sesegera mungkin kembali ke Indonesia begitu mengetahui pesan yang sudah ia kirimkan. Ini bukan akibat kecelakaan biasa yang meninggalkan luka yang begitu saja sembuh setelah dibebat perban atau terima beres setelah operasi. Bukan! Dewa lumpuh. Praktis dipastikan ia tak akan bisa berjalan selamanya.
Kenes mulai memutar-mutar kedua bola matanya, bagaimana ia harus menjalani hidupnya beberapa hari ke depan dengan Dewa yang emosinya benar-benar fluktuatif dengan range yang ekstrim. Ia mulai mengirim SMS untuk kakaknya, bertanya bagaimana menghadapi orang depresi akibat kecelakaan hebat. Kenes sudah sekonyong-konyongnya mendiagnosa Dewa depresi.
Tapi pertama-tama yang perlu ia persiapkan adalah mental agar ia juga tak terbawa emosi menghadapi Dewa. Ia harus bersabar. Ini juga amanah dari sahabatnya. Semoga apapun yang ia lakukan merupakan hal yang paling tepat untuk Dewa. Terselip di palung hatinya, ia tak ingin orang yang pernah mengisi hari-harinya -bahkan sampai detik ini- begitu terpuruk dengan kondisinya sekarang ini. Ternyata... Kenes masih menyimpan rasa itu rapi di sudut hatinya.
***
Sudah masuk minggu kedua Kenes merawat dan menjaga Dewa dari semenjak Dewa masih di rumah sakit sampai di rumah Dewa. Dewa menerima Kenes begitu saja karena siapa lagi yang dapat ia andalkan, selain sahabat adiknya itu? Ia tak memiliki saudara di kota ini. Teman dekatnya juga tak sedang berada di kota yang sama karena kesibukan menjadi pekerja kantoran. Pembantunya juga sudah dua bulan lalu minta izin berhenti. Parjo dan Sidiq yang mulanya hanya tukang kebun dan sopir di keluarganya akhirnya beralih fungsi menjadi pengawal pribadinya tapi jelas tak sepenuhnya bisa diandalkan untuk urusan rumah tangga dan pekerjaan yang butuh ketelatenan yang mungkin hanya dimiliki seorang wanita.
Dewa pun tak memberitahu keluarganya tentang kondisinya yang mengenaskan pada telepon perdananya tepat pada malam Kenia usai mengikat janji dengan Kim, kekasihnya. Dewa hanya membenarkan dirinya mengalami kecelakaan pada Kenia dan itu bukan masalah. Dewa mengatakan “bukan masalah” begitu berat dan pedih, hanya demi kebahagiaan adiknya dan tak membuat panik kedua orangtuanya. Dewa memilih tutup mulut.
Di sisi Kenes, ia sekarang punya tugas baru. Ibarat Dewa adalah anak kecil, Kenes pengasuhnya. Istilah apalagi? Terdengar merendahkan tapi itulah faktanya. Kenes melakukan tugas menjadi teman bicara Dewa –kalau Dewa ingin-, memasak untuk Dewa –dan tentu untuk dirinya sendiri dan Parjo juga Sidiq-, menyiapkan kebutuhan Dewa dari keperluan mandi, obat sampai pakaian, memantau toko kue milik keluarga Dewa dan juga mengurus rumah. Lebih tepatnya Kenes menjadi pengasuh dan pembantu dadakan!
Kenes harus menyadari itu sedari awal ia tahu kondisi Dewa. Bukan hanya menemani, seperti kata Kenia. Kenes syok karena hal ini. Kehidupannya dua minggu lalu masih normal sebagai mahasiswa tapi detik ini apa? Ia melakukan pekerjaan rumah plus mengurus semua keperluan orang di kursi roda. Syok, stres, bingung, jenuh menyerangnya secara bersamaan, tak mengizinkannya mengambil nafas lega. Terkadang Kenes masih merasa beruntung ketika Dewa memutuskan menyetujui ada salah seorang kawan Kenes, seorang fisioterapis membantu Dewa. Walaupun Dewa merasa sia-sia memekerjakan fisioterapis setidaknya itu menguntungkan untuk menemani Dewa ke kamar mandi karena mereka sama-sama lelaki. Hanya saja, fisioterapis itu hanya bisa bekerja dari jam tujuh sampai lima sore, selebihnya Kenes yang harus bertanggungjawab terhadap Dewa.
Kenes merenggangkan ototnya di atas kursi bambu panjang di teras belakang rumah Dewa. Matanya melihat ke langit-langit atap rumah itu, bukan kosong tapi penuh pikiran yang perlu diluruskan satu per satu. Jenuhnya belum usai dimusnahkan. Setiap kali berusaha untuk mencuri waktu bersenang-senang dengan kamera khusus para fotografer yang ia dapatkan dari ayahnya ketika ia awal masuk kuliah, ia selalu gagal. Ketahuan dan akhirnya jadi orang yang masuk daftar pencarian si Parjo dan Sidiq.
Kenes tak punya cara lain selain diam-diam pergi karena meminta izin pada Dewa juga tak mungkin. Dewa sudah memintanya untuk dua puluh empat jam penuh siap siaga untuknya. Ini artinya Dewa tak akan mengizinkannya pergi kemana-mana, apalagi bersenang-senang. Kemudian Kenes menyadari satu hal, rasanya dia memang kejam jika pergi mencari kesenangan sementara ia punya tanggungjawab baru, amanah sahabatnya. Kenes pun akhirnya bisa memaklumi, waktu dua minggu jelas tak cukup membuat Dewa menerima kenyataan bahwa ia –terpaksa- bergantung banyak hal pada orang lain, dan porsi kerbergantungan yang besar adalah pada Kenes. Tapi, di sisi lain, dirinya juga belum bisa menyesuaikan diri penuh.
“Kenapa selalu gagal menghubungi ayah sama ibu, sih, beberapa hari ini? Ken juga,” desis Dewa kesal, ia sudah ada beberapa menit setelah Kenes merebahkan diri di kursi. Kenes mendengarnya dan ia beralih menjadi posisi duduk.
“Mungkin acara pernikahan di sana ribet jadi agak lama, deh,” Kenes berupaya menghibur.
“Awal-awal aku di rumah sakit masih bisa bahkan aku meminta maaf tak bisa datang dan berjanji akan memersiapkan pesta pernikahan Ken di sini. Mereka terima beres,” sahut Dewa.
“Lalu kamu juga bilang bagaimana kondisimu sekarang?”
Dewa menggeleng lemah.
“Kamu nggak ngasih tahu mereka? Kenapa?”
“Itu akan merusak kebahagiaan Kenia,”
Kenes membenarkan Dewa. “Tapi, bagaimanapun mereka harus tahu kondisimu sebenarnya. Aku yakin mereka juga akan sangat memedulikanmu jika tahu kondisimu,”
“Aku nggak  tahu bagaimana harus mengatakannya, Nes. Aku nggak  mau merusak hari bahagia Kenia di sana. Padahal sebelum ini terjadi, aku berencana menyusul mereka di sana karena aku harus menyelesaikan beberapa urusan penting di sini. Tapi belum apa-apa musibah itu datang dan dokter menyampaikan berita terkutuk itu,” Ada rasa sakit, kecewa bahkan putus asa tersirat dari ucapan Dewa.
Kenes diterpa serangan panik. Ia belum pernah berhasil menenangkan Dewa ketika marah-marah maupun ketika amat putus asa tapi sedikit yang ia ketahui dari kakaknya, sentuhan tangan di bahu bahkan punggung orang yang sedang marah, gelisah atau sedih bisa membuat mereka sedikit tenang dan merasa nyaman. Kenes ragu melakukan itu karena sejauh ini kontak fisik antara dirinya dengan Dewa adalah kontak fisik “keharusan” yang dilakukan pengasuh atau pembantu atau teman apapun istilahnya, yang hanya terjadi seperlunya atau di saat genting, misal Dewa hendak terhuyung jatuh ketika berpindah dari kursi roda menuju ranjang tidurnya.
“Aku yakin bukan mereka tak peduli. Suara Kenia waktu lalu terdengar sedih ketika tahu kamu kecelakaan makanya dia memintaku sesegera mungkin menemuimu. Tapi mungkin... mungkin mereka nggak tahu kalau akibatnya separah ini. Dan ternyata kamu nggak memberitahu mereka minggu lalu, rasanya memang mereka benar-benar nggak tahu. Seharusnya kamu memberitahu mereka pas awal kamu menelepon Kenia.  Emmm, aku telepon Kenia sekarang, ya? Siapa tahu mereka sudah nggak repot lagi,”
Kenes menawarkan diri membantu Dewa. Dewa membiarkan Kenes membuktikan sendiri bahwa keluarganya tak ada yang bisa dihubungi lagi. Padahal tiga hari setelah kecelakaan itu dan Dewa masih di rumah sakit, Kenia masih bisa dihubungi seperti yang disampaikan Dewa tadi. Tapi setelah itu dan sekarang masuk hari kesebelas mereka di sana, telepon tak lagi bisa tersambung.
Kenes akhirnya mendapati ia juga tak bisa menghubungi Kenia bahkan kedua orangtua Dewa.
 “Aku sih, pernah mengirimkan pesan untuk Kenia tapi ternyata gagal terkirim. Akhir pekan kemarin aku juga mencoba meneleponnya tapi nggak terdengar suara panggilan. Aku kira kamu sudah sering meneleponnya. Dan semenjak itu aku nggak nelpon dia lagi, lagipula bagaimana bisa meneleponnya, kamu selalu punya tugas untukku. Belum lagi kamu memintaku memantau toko kue sekaligus menjagamu penuh, sampai-sampai aku juga tak punya waktu melanjutkan pemotretanku sendiri,”
Dewa mengernyitkan dahi, menatap Kenes. “Pemotretan? Kamu model?”. Nampaknya Dewa mengikuti topik pembicaraan Kenes.
“Oh, bukan,” Kenes lekas menampik. “Maksudku hunting objek foto. Kamu nggak tahu aku tukang foto? Hehehe. Aku pergi kemarin itu aslinya ingin cari suasana baru, hunting objek foto dan lihat pameran foto pastinya, di gedung kesenian. Eh, malah mas Parjo dan mas Sidiq menguntitku bahkan mengejarku kayak aku ini buronan aja,”
“Kamu lupa mematikan sinyal GPS-mu tapi kamu sukses lari seperti Kancil, mereka ngos-ngosan jadinya. Tapi akhirnya kamu tertangkap juga, kan?”
“Mereka cerita, ya? Aku memang nggak berbakat jadi penjahat buron, makanya tertangkapnya cepet, hehehe,” Kenes melempar senyum pada Dewa, Dewa malah terbahak-bahak. Kenes bahagia mendadak melihat Dewa begitu.
“Kenapa kamu nggak cerita kalau ingin hunting foto?”
“Memangnya kamu kasih izin?,” Kenes balik bertanya.
Dewa hanya membuang nafasnya cepat dan berat, melengos begitu saja. Kenes mengira itu jawaban “tidak”.
“Kalau kamu ingin keluar hunting foto, aku ikut,”
Kenes menengok cepat ke arah Dewa.
“Aku ingin tahu seberapa besar kesenangan yang kamu dapatkan dari objek fotomu ---”
“Jelas besar,” sahut Kenes cepat-cepat.
“... dibandingkan kesenanganmu di rumah ini dan tentunya aku,” imbuh Dewa menyelesaikan ucapannya.
Kenes tak mendengar secara seksama ucapan Dewa tapi ia pasti tak salah dengar. Kenes melirik ke arah Dewa. “Bisa perjelas lagi maksud kalimatmu barusan?”
“Apa aku tak cukup memberimu kesenangan di rumah ini? Rumah ini bukan rumah mewah tapi semua isinya adalah fasilitas lengkap untukmu. Bahkan kamu bisa menggunakan apa pun di kamar Ken. Tugasmu hanya mengurusku. Semua tanggungan biaya hidupmu terpenuhi selama kamu bekerja untukku. Itu tak cukup? Kukira kamu menikmati kesenangan yang kuberikan,”
Kenes dibuat berputar-putar berpikir. Kesenangan macam apa? Fasilitas hidup lengkap sudah amat ia rasakan dari kedua orangtuanya. Ia tak pernah kekurangan di usianya yang seharusnya sudah lulus kuliah dan bekerja.
Dewa segera melanjutkan sebelum Kenes berhasil berargumen. “Oh, aku lupa, aku cacat dan itu bukan kesenangan untukmu, kan? Bodohnya aku mengira aku bisa menyenangkanmu berada di dekatku karena yang aku tahu kamu menyukaiku semenjak SMA. Kamu dia-diam menyukaiku, mengamatiku dan tak pernah menyatakannya padaku,”
DEG! Tubuh Kenes seolah dihantam bedug berdiameter satu meter. Dewa angkat bicara dan itu tepat sasaran. Tidakkah cukup menutupi “topeng” yang ia kenakan selama ini untuk menyembunyikan perasaannya pada Dewa.
“Ternyata kakiku yang tak berfungsi ini membuatku jauh lebih egois.  Aku mengurungmu dengan keegoisanku. Maaf kalau itu justru membuatmu merasa menjadi orang yang hanya dibutuhkan di saat hal buruk terjadi, bukan di saat kebahagiaan tercipta,” imbuhnya.
Kenes diam tak berkutik. Dewa ternyata menyadari dirinya menyukai Dewa sejak SMA, sejak Dewa memberikan kue hasil eksperimennya pertama kali padanya dan Kenia. Mundur sekitar tujuh tahun lalu, cowok itu manis, berkulit bersih sawo matang, rambut cepak hitam legam, sorot matanya tajam, jemarinya panjang disukai Kenes, tubuhnya tinggi sedikit lebih tinggi dari lelaki Asia pada umumnya, tapi tak terlalu kurus, proporsional. Usia mereka terpaut lima tahun. Kenes melihat cowok itu kelak menjadi ahli kuliner bidang kue yang sukses. Tahun demi tahun berlalu dan itu menjadi nyata. Seiring dengan itu kekaguman Kenes  berkembang menjadi sebuah perasaan yang begitu manis. Semanis kue hasil eksperimen Dewa. Asli. Subuh bertemu Subuh Kenes tak  bisa melupakan sketsa wajah Dewa. Tapi ia hanya menyimpannnya –teramat rapi-, bahkan Kenia tak pernah tahu hal itu. Ia hanya wanita yang rasanya tak pantas mengobral rasa suka terhadap lelaki. Biar saja, jika memang Tuhan menakdirkan mereka berjodoh, mereka pasti kembali berjumpa.
Kali ini di depannya setelah tahun demi tahun terlampaui, ada Dewa yang tegas menyatakan bahwa Dewa sekarang membutuhkannya. Jelas Kenes bahagia, bukan justru merasa dirugikan karena hanya dibutuhkan ketika Dewa dalam kondisi yang buruk, seperti Dewa katakan. Kenes sekali pun tak pernah merasa begitu walau ia pernah berkata secara asal begitu kepada Kenia. Bagi Kenes bisa bertemu dengan orang terkasih ketika mereka terpuruk adalah ujian dan jika kita bisa menerimanya dengan lapang dada adalah ketulusan. Itulah cinta yang tulus, murni, tanpa topeng –menurut Kenes-. Jarang sekali bukan orang bisa begitu jika tidak benar-benar terikat rasa cinta kasih yang kuat? Tapi apakah kali ini rasa itu tumbuh kembali dan mendadak menguat karena Kenes begitu saja meloloskan permintaan Kenia menemani Dewa bahkan lebih dari itu? Beberapa waktu lalu Kenes nyaris melupakan perasaannya pada Dewa karena mereka sudah jarang  bertemu. Tapi tetap saja, mengingat Dewa saja terkadang membuat darah Kenes berdesir-desir.
Kenes masih terdiam. Ia bingung harus berkata apa. Ia mengambil nafas dalam-dalam.
“Jujur saja, aku sama sekali nggak keberatan mengurusmu, menemanimu. Aku hanya merasa syok. Beberapa hari kemarin, jauh kemarin-kemarin aku bisa berjalan-jalan kemana pun aku suka lalu sekarang aku terkurung, ya mungkin itu kata yang pantas, di sini bersamamu. Bukan aku nggak suka tapi aku butuh penyesuaian. Aku suka berlama-lama denganmu, tapi pastinya jika kamu nggak sedang marah-marah. Tapi kamu tahu, caraku untuk bersenang-senang selama ini adalah jalan-jalan dan foto. Ya, itu yang mengalihkanku dari keinginanku bersenang-senang dekat denganmu selama ini. Lebih dari lima tahun aku bersenang-senang dengan foto, semacam ikatan batin tercipta di sana. Jadi aku tak bisa serta merta menghentikan itu semua. Bahkan karena dirimu. Bukan kamu nggak lebih menarik dari foto tapi ini bukan masalah siapa lebih menarik dari apa atau sebaliknya tapi ini masalah penyesuaian. Dua minggu kurang untukku bisa berdamai dengan kondisi ini. Makanya aku butuh penyegaran, aku ingin jalan-jalan.  Tapi kamu tak mengizinkan akhirnya aku diam-diam loncat pagar dan berusaha kembali pulang secepat mungkin tapi kemarin itu aku memang lalai. Terlalu banyak objek foto dan pameran yang menarik sampai aku lupa segalanya, maafkan aku,” Kenes terengah-engah memberikan penjelasan pada Dewa dan mengakhirinya dengan kata maaf.
“Jadi kamu masih merasa senang dekat denganku? Walau aku cacat?”
Kenes menarik nafas dalam dan berat. “Bagaimanapun kamu Dewa, aku rasa aku akan tetap menyukaimu. Kamu pikir apa yang membuatku bertahan menerima tawaran Kenia menemanimu bahkan lebih dari itu? Hanya saja aku orang yang tak bisa dibatasi, aku mudah merasa bosan. Dan yang pasti aku butuh penyesuaian dengan tugasku sekarang,” ujar Kenes tersenyum. Kemudian ia berlutut di samping kursi roda tempat Dewa duduk. Ia meraih tangan Dewa dan mengenggamnya. “Berikan aku ruang untuk bisa menyesuaikan diri, jangan dua minggu! Tapi aku pastikan perasaanku padamu tak akan berubah. Hanya kamu yang bisa membuatku tak pernah bosan. Tapi yang lainnya tolonglah aku, please... aku butuh penyegaran. Tapi aku janji, aku tak akan melalaikan tugasku lagi, oke?” Kenes membuat perjanjian dengan Dewa.
“Kalau begitu besok ajak aku hunting foto! Agar aku percaya kamu tak lari dariku lagi dan membuktikan perasaanmu memang tak pernah berubah untukku,”
Baru saja “diperingatkan” Kenes untuk tak protektif, Dewa sudah cepat-cepat mengelaknya.
“Tentu. Asal kamu nggak marah-marah lagi. Aku ada untukmu selagi keluargamu masih di Cina,”
“Ada untukku selamanya, aku mohon!” Dewa memohon.
“Tergantung,” tungkas Kenes.
“Tergantung apa?”
“Kamu harus membuatkanku kue terenak dan terunik yang belum pernah ada, baru aku mau menerimamu jadi kekasihku. Kamu kira dengan aku ketahuan menyukaimu lalu kamu bisa lolos dari ujian menjadi pacarku? Tidak bisa,”
“Oke, aku terima tantanganmu!” Dewa mantab dan sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas.
“Nah, gitu dong, senyum lagi, semangat lagi. Pelangganmu nggak sabar nunggu kue buatanmu lagi. Mereka sering mengeluh kuenya itu-itu saja,”
Kenes berdiri dan mengusap-usap bahu Dewa sebagai tanda kasih sayang, penenangan sekaligus penguatan.
 Langit sudah semakin senja berwarna keoranye-oranyean. Matahari siap menyembunyikan diri di belahan bumi lainnya sementara rembulan dan bintang siap menemani kisah asmara Kenes dan Dewa yang tertunda selama ini. Sementara itu Parjo berteriak dari arah ruang tamu, “Mas Dewa, bapak, ibu sama mbak Ken, Mas!” Suara Parjo nampak panik.
Parjo sampai di teras belakang rumah sambil menunjukkan raut wajah tegang dan cemas, nafasnya tak beraturan. “Bapak sama ibu sama mbak Kenia, Mas, di berita...”
Dewa dan Kenes menatap tak mengerti. “Di Cina, Guangjo Guangjo sana, bapak, ibu dan mbak Kenes di sana, kan? Itu... apa... badai salju! Parah! Porak poranda, Mas! Sudah empat hari, Mas!”
DEG! Seketika Dewa dan Kenes membelalak. Kenapa beritanya baru hari ini ada di TV? Oh, atau dia lupa bahwa dirinya, juga Kenia dan seisi rumah Dewa tak pernah memantau berita dari media apapun beberapa hari terakhir karena sibuk mengurus dirinya dan semua kesibukan di rumah itu, kebun sayur, toko kue?
Lalu keluarga Dewa, jadi korban kah? Lalu kenyataan mereka tak tahu bahwa dirinya lumpuh? Sial! Dewa tak mengatakannya sejak awal demi tak ingin merusak kebahagiaan adiknya. Tapi faktanya sudah begini. Kepedihannya juga belum usai, ditambah kepanikan akibat berita musibah yang lebih dahsyat lagi yang bisa jadi telah mengancam keselamatan orang-orang tercintanya. Dewa memegangi kepalanya yang mendadak berat sementara tangannya yang lain memegang tangan Kenes erat.
“Aku akan segera mencari tahu, Wa. Kamu tenang dulu, ya? Percayakan padaku! Aku bukan sebatas pengasuh atau pembantumu, aku ada untukmu selama kamu mau,” Kenes memberi usul dan bergegas mencari tahu kepastian kondisi Kenia dan kedua orangtua Kenia dan Dewa.
***

thanks to editor:

Kamis, 30 Mei 2013

Kenia Ken

Kenia Ken

“Aku? Suka sama wanita pengkhayal macam Kenia? Hhh! Mustahil!” sumpah itu meluncur dari mulut Kim, lelaki 50% Korea, 25% Sunda, 25% Madura. Jelas wajah orientalnya begitu kental. Super tampan. Super pedas dalam bertutur kata.
Kim lega meloloskan kata-kata itu dari mulutnya setelah selama ini tertahan di hadapan si empunya nama, Kenia Sarasvati, gadis 25% Bali, 75% Jawa, Indonesia tulen. Manis dan bertubuh umumnya wanita Asia. Tanpa ada penyesalan dalam batin Kim. Tiada peduli telah “membakar” telinga Kenia yang tak sengaja melintas di kamarnya.
“Orang yang suka menulis fiksi, apa namanya kalau bukan pengkhayal? Menjadikan nama dan karakter idolanya sebagai tokoh utama? Memosisikan dirinya sebagai lawan dari tokoh utama? Apa itu namanya bukan pengkhayal? Cih!” lanjut Kim lebih pedas lagi. “Sorry, aku tak pernah tertarik dengan wanita yang tak realistis hidupnya. Ia hidup di dunianya sendiri dengan banyak topeng karena setiap ceritanya punya karakter tokoh wanita yang berbeda dan ia memosisikan itu dirinya,” tegas Kim.
Di balik jendela kamar Kim, Kenia pilu hingga keluarlah air mata dari sudut mata teduhnya. Tak ambil panjang pikir, Kenia meninggalkan tempat itu segera. Sementara Kim mencoba menengok sudut dimana Kenia tadi berdiri usai menutup telepon bohongannya itu. Ia hanya berpura-pura berbicara dengan seseorang di telepon dan membahas Kenia. Sekarang dia puas. Itu adalah cara untuk mematahkan hati Kenia, agar Kenia sadar bahwa dirinya tak lagi bisa membuka hati. Bagi Kim, wanita hanya seolah paku payung yang bertebaran dimana-mana yang siap menjebaknya kapan saja, dimana saja dan tak peduli betapa perih luka yang ditinggalkan. Kim telah lelah mengobatinya sendiri dan butuh waktu lama mengobatinya.
***
Pagi cerah disertai merdunya nyanyian burung-burung berkicauan yang terbang dan hinggap kesana dan kemari di antara pepohonan pekarangan rumah Kenia. Di ruang makan yang berkonsep teras lepas disambut taman mini berhias tanaman obat keluarga alias toga sudah berkumpul ayah dan ibu Kenia, Dewa kakak lelaki Kenia dan Kim. Sementara Kenia yang biasanya paling awal bersiap diri di sana, belum juga menampakkan batang hidungnya. Ibunya berinisiatif menyusulnya di dalam kamar.
Kamar Kenia, pukul tujuh pagi. Kenia masih meringkuk di atas kasurnya. Binar matahari yang begitu kuat menembus kaca kamarnya yang berseberangan dengan posisinya sekarang meringkuk, mengenai keseluruhan tubuhnya.
Pintu kamarnya terbuka, ibunya masuk dan tersenyum simpul.
“Ken, kamu tumben masih bermalas-malasan? Biasanya kamu selalu siap sedia lebih awal,” ucap ibunya.
Kenia menoleh malas. “Ibu... aku sedang malas keluar rumah. Hari ini aku tak ikut ayah ke kebun, ya?” tungkas Kenia.
“Tak biasanya,”
“Ya, malas saja, Bu. Berikan aku sehari saja untuk bermalas-malasan. Aku tak pernah bermalas-malasan semenjak Tuan Kim datang kemari, nyaris dua bulan,”
“Apa dengan bermalas-malasan akan membawa panggilan tes dan interview kerja datang padamu? Tidak, kan? Mari bangun! Anak gadis tak pantas bangun siang-siang. Rezekinya dipatuk ayam,”
“Ibu... please... sekali ini saja!” Kenia memohon.
Ibunya begitu saja meluluskan permintaan sang anak perawannya. Mungkin karena kedua mata sembab Kenia. Ibunya tahu persis pasti ada suatu masalah sampai Kenia menguras air mata begitu.
“Tapi ibu tak akan membawakan makanan untukmu ke kamar. Pamali makan di kamar,”
“Siap nyonya,” sahut Kenia masih sempat bercanda.
Ibu mengelus kepala Kenia kemudian beranjak pergi dari kamar Kenia.
Selepas ibunya menutup pintu beberapa menit, Kenia duduk di depan meja dengan sebuah kaca besar.
Kamu tak ada artinya di matanya, Ken! Buat apa kamu bersusah payah mengejarnya? Dia dan kamu berbeda. Tak akan pernah bersatu. Dia tak menghendakimu menjadi kekasihnya.
Kenia melirik ke sebuah rak buku. Di sana berjejer rapi di rak kedua dari paling atas, buku-buku yang mencantumkan namanya di antara belasan bahkan puluhan nama-nama pengarang cerpen lain. Sekitar ada sepuluh buku antologi cerpen, lima buku kumpulan puisi dan prosa dan dua buah buku kumpulan cerpen self-publishing dan sebuah novel komedi romantis produksi penerbit mayor atas nama Kenia Ken, nama pena Kenia. Sebanyak itu karyanya tercipta dan diapresiasi. Kebanggaan tersendiri baginya. Namanya terabadikan. Tiada yang lebih berharga seolah menjadi gajah yang mati meninggalkan gading sehingga akan dikenang bahwa ia pernah hidup melengkapi “koleksi” Tuhan di bumi.
Kenia beranjak menghampiri rak buku itu dan menyentuhnya dari ujung ke ujung.
“Kebahagiaanku tak sama dengan kebahagiaannya. Baginya aku hanya pengkhayal ulung. Andai saja ia mau sedikit memahami, khayalanku adalah buah dari hasil perekaman panca inderaku selama ini. It’s mean, aku justru wanita cerdas yang bisa mengolah hasil rasa panca inderaku dengan begitu ciamik. Jalan kita memang berbeda. Segalanya berbeda. Tapi kenapa dia tak bisa beranjak dari alam pikirku? Tuhan... aku tak boleh mencintainya lagi. Tapi apakah semudah itu? Ah...!” Kenia mengacak-acak rambut sebahunya. Tampangnya kusut. Kemudian mendadak perutnya melantunkan musik keroncong. Lapar. Ia bergegas menuju ruang makan. Mungkin orang-orang di ruang makan sudah sibuk keluar. Ayah dan Kim ke kebun sayur belakang rumah mereka yang begitu luasnya, Dewa dan ibunya ke toko aneka kue milik keluarga mereka yang tak jauh dari rumah mereka.
Kenia membuka lemari es dua pintunya. Ia menelusuri penuh seluruh isi lemari es. Pertama ia mengambil sebotol orange juice yang sering disediakan pembantunya khusus untuknya. Ia tak peduli seberapa kecut. Ia sudah kepalang rutin minum jus jeruk setiap pagi tanpa minuman air putih sebagai pembuka untuk menetralkan lambungnya.
“Ahhh...” suara Kenia merasakan setiap tenggakan kesegaran jusnya itu.
Kemudian ia berdiri dan meletakkan botol jus itu kembali ke tempat semula. Lalu ia membuka tudung penutup makanan di meja makan. Tempe penyet dan lalapan. Kenia menelan air liur kuat-kuat. Matanya melebar. Itu makanan favoritnya! Bergegas ia menyahut piring dan mengambil nasi hangat dari penanak nasi. Usai cuci tangan, segera ia melengkapi sarapan nikmatnya pagi ini.
Kenia makan begitu lahap. Bahkan ia menambah nasinya satu centong lagi. Kenikmatan tiada tara bisa makan nasi sambal seperti itu.
“Enak sekali,” suara itu menghentikan kunyahan Kenia. Kenia melirik. Pemilik suara itu sudah menyunggingkan senyum di bibirnya.
“Tuan Kim,”
“Lanjutkan saja! Aku mau mengambil pacul di gudang,” ujar Kim. “Oh, ya, sudah kukatakan berapa kali, jangan panggil aku Tuan. Kim saja cukup,”
Kenia tersenyum singkat mengiyakan saja. Rasanya memang tak pantas memanggil nama begitu saja. Kenia tak tahu pasti panggilan apa yang pantas untuk tamu ayahnya dari Korea yang fasih berbahasa Indonesia itu. Ia adalah anak tertua senior dekat ayah Kenia ketika kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Senior itu berdarah Madura dan Sunda dan mempersunting wanita Korea. Umur Kim sendiri 35 tahun, beda sebelas tahun dengan Kenia. Kenia ingin panggil Mas? Om? Rasanya kurang sreg. Lalu, apa dong? Tuan saja lah, Kenia memutuskan seperti di drama-drama Korea.
Kim masih bersikap biasa seolah tiada yang terjadi. Itulah keputusannya. Ia tak ingin terang-terangan menolak Kenia. Ia tahu Kenia juga wanita tapi Kenia terlalu polos untuk disia-siakannya nanti.
Kenia merasa semakin pilu. Kim seolah merasa tak berdosa atas ucapannya semalam. Kenia menatap pintu gudang yang samar-samar terlihat dari ruang makan. Berharap Kim segera muncul. Begitu muncul Kenia sigap memalingkan pandangannya dari sana. Jantungnya kembali berdegub cepat. Ada sedikit harapan Kim menyapanya lagi tapi matanya mendapati Kim melenggang berlalu begitu saja. Mata Kenia berkaca-kaca. Tangannya spontan meraih sambal yang ada di cobek. Ia meraup lebih banyak, separuh kepalan tangannya. Nasinya yang masih sedikit kini memerah cabai. Dengan rakus ia memakannya tanpa ampun. Hatinya panas, kacau. Tak lagi bisa digambarkan.
***
Kalender sudah berganti lembaran berikutnya. Bulan baru. Kim masih tinggal di rumah keluarga Kenia. Dengar-dengar ini bulan terakhir. Tapi, hubungannya dan Kenia tak makin membaik seperti awal mereka baru saja saling kenal. Kenia menjaga jarak. Kim juga. Tak ada yang ingin meluruskan maksud masing-masing. Kenia  masih salah paham,  Kim ternyata makin terasa terusik dengan perbuatannya tempo lalu. Ada perasaan menyesal menelusup palung hatinya. Mungkinkah dirinya terlalu kejam mengatai gadis manis itu dengan sebutan wanita pengkhayal? Hanya karena dia wanita dan wanita hanya racun dunia baginya sehingga ia memukul rata pandangan itu terhadap semua wanita.
Rasanya tak adil juga. Mengingat nampaknya perasaan gadis itu tulus padanya. Cinta seperti apa sih, dari gadis yang menurut orangtuanya ia tak banyak pengalaman bercinta dan sekalinya bercinta ternyata kepercayaannya dinodai dengan adanya cinta yang lain? Hidup Kenia nyaris seperempat abad tapi pengalaman tentang lelaki tak banyak ia peroleh akibat pengalaman pahit itu. Sama seperti dirinya. Kim, hidup sebelas tahun lebih tua ketimbang Kenia, pengalaman menjalin hubungan serius dengan wanita juga baru sekali dan berakhir dengan ketukan hakim pengadilan memutuskan perceraian. Usia pernikahan itu hanya sekitar satu tahun kemudian wanitanya memutuskan pergi untuk lelaki lebih keren mentereng dengan banyak timbunan dollar. Kenia dan Kim pribadi bernasib sama. Itulah kesamaan mereka, selain darah Indonesia yang sama-sama mengalir di dalam tubuh mereka.
Dari sepenggal kisah yang punya tema sama, aslinya mereka bisa saling mengobati. Tapi Kim tak bisa. Ia terlalu takut jika bawah sadarnya mendorongnya untuk menyakiti Kenia sebagai wujud balas dendam terhadap wanitanya dulu. Itu tak adil. Tapi, mata teduh Kenia semakin lama semakin menariknya melesak ke dalam untuk mengajaknya berjalan bersama, beriringan dengan Kenia. Hingga kekacauan hati Kim semakin menjadi tak bisa diluruskan satu per satu ketika suatu sore seorang lelaki bernama Prio Dewantoro muncul di balik pintu rumah Kenia.
“Wah, saya nggak pernah tepikir seorang Prio Dewantoro datang ke sini. Sama Mbak Uki Palupi sang sutradara kece. Berasa jatuh dari kahyangan gitu, heheh. Jadi, gimana-gimana, Mbak? Mas?” seru Kenia girang kedatangan sutradara dan aktor muda sukses dari ibu kota. Sungguh di luar dugaan. Artis datang ke rumahnya di kota kecil di tengah Jawa Timur.
Maksud kedatangan Uki Palupi adalah “meminang” novel Kenia untuk difilmkan.
“Astaga naga!! Sumpah, Mbak??! Serius?? Berapa rius??” Kenia sontak melonjak dari tempat duduk semula, bergeser beberapa senti.
Uki dan Prio tersenyum lebar. Kenia bahagia bukan kepalang. Dengan segera Kenia menyetujui pembicaraan itu. Esok harinya mereka bicara soal aturan kontrak kerja mereka. Akhirnya, Kenia kini tidur dengan senyum bahagia. Berkali-kali lipat bahagianya dibandingkan ketika namanya tercantum di buku. Sekarang namanya akan menghiasi layar lebar dan poster-poster di gedung-gedung bioskop! Walau dalam skala kecil sih. Intinya judul ceritanya akan terpampang nyata. Bahkan idolanya juga yang akan menjadi tokoh utama. Mimpi sekalipun tak pernah Kenia impikan perihal film ini.
***
Singkat cerita, semenjak Kenia beralih fungsi sementara jadi script writer film besutan Uki Palupi, Kenia merantau ke Jakarta beberapa waktu. Meninggalkan keluarganya dan Kim di rumah. Kenia tak lagi memikirkan perasaannya pada Kim. Tapi Kim tak begitu saja hilang terhapus di memori otaknya.
Seiring dengan itu hari-hari Kenia terisi oleh idolanya. Entah... kiasan apalagi yang menggambarkan kegirangan Kenia bisa berinteraksi begitu dekat dengan Prio. Seketika hal ini menjadi bahan gosip yang menyebar di media massa elektronik dan cetak. Kenia tak henti tepok jidat, mengelus dada, menggaruk kepala, memijat-mijat kepala. Pusing. Apa kabar keluarganya ketika tahu gosip itu
Ponsel Kenia berdering.
“Halo,” sapa Kenia. “Iya, Bu, nanti pasti klarifikasi. Tapi ini kan cuman gosip. Toh gosipnya juga bukan gosip jelek. Hanya dikatakan ada hubungan. Kami tak ada hubungan apapun. Masa’ Kenia pacaran sama artis, mana mungkin?” “Iya, iya, Ibu sama orang rumah tenang ya, pasti gosip ini segera berlalu. Ibu seperti tak tahu saja dunia artis. Hehehe, tenang saja, Bu,” “Apa? Tuan Kim besok lusa pulang? Bukannya akhir bulan?” Kenia melirik kalender sejenak. “Oh, iya, ini akhir bulan. Salam saja Bu, semoga selamat sampai tujuan. Oke, Ken pasti jaga diri di sini,”
Kenia bicara tanpa henti menimpali ibunya di seberang sana. Ia tersenyum senang bisa mendengar suara ibunya. Beberapa detik kemudian ponselnya berdering kembali.
“Ibu, lupa. Maaf. Mmuaacchhh... tidur nyenyak ya, Bu? Dada...” Kenia asal nyerocos tanpa peduli siapa di seberang sana, disangkanya ibunya.
“Kenia...” suara lelaki merdu terdengar seketika.
Kenia tertegun sejenak. Suara itu tak jauh beda dengan suara asli kala bertemu.
“Tuan Kim?”
“Bisakah kita bertemu besok di taman kota dekat hotelmu sekarang?” tanya Kim di seberang sana.
Kenia masih tertegun. Kim sudah sekota dengannya. Oh, oya, ia lupa, ibunya tadi menyampaikan bahwa Kim akan bertolak ke Korea esok hari. Kenia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Sementara ini ia lupa perasaannya pada Kim tapi apakah perasaannya yang biasa saja mendengar Kim akan kembali ke negaranya saat ini akan bertahan setelah Kim ada di sana? Apakah ini awal cintanya pada Kim memudar? Yang pasti Kenia mengiyakan permintaan Kim.
***
Taman kota jam sepuluh pagi. Kim sudah duduk manis di suatu sudut taman itu. Berpenampilan rapi meski tak seperti eksekutif muda ala aktor drama Korea pada umumnya. Kuning langsat kulitnya semakin terlihat cerah terkena “hujan” cahaya matahari Jakarta. Wadahnya teduh meski garis wajahnya begitu terlihat jelas yang sering identik dengan orang yang tegas dan sangar. Ia siap untuk mengutarakan segalanya pada Kenia.
Kenia datang dengan dres selutut corak bunga dengan dominasi warna merah maroon diselingi warna putih dan kuning.  Tas kecil bertali yang menyelempang serong di pundaknya. Rambutnya yang ikal bergelombang diikat seolah digelung di belakang dengan tusuk rambut. Segar. Manis.
Kenia menyapa Kim. Kim menoleh tersenyum.
“Aku tak mengganggumu, kan?” tanya Kim. “Duduklah!”
“Tidak. Syuting dimulai nanti setelah makan siang. Ada apa?”
Hati Kim sontak bergetar menatap kedua bola mata Kenia kali ini. Mengapa baru sekarang ketika hendak pergi meninggalkan Indonesia? Kenia dengan kuat menatap balik mata Kim.
“Apa kabarmu?”
“Beginilah. Baik,” sahut Kenia tersenyum.
Darah Kim berdesir. Ada apa ini?
“Kamu senang berada di sini?” tanya Kim yang masih belum menemukan timing yang tepat untuk masuk ke inti pembicaraan.
“Tentu. Ini lebih dari impianku. Dan sungguh Tuhan luar biasa memberikan hadiah untuk hamba-Nya,” Kenia menyahut semangat, senyumnya merekah.
Inilah alasan mengapa aku tak mau menerimamu, Ken. Anggunmu jangan ternodai olehku. Tapi kenapa semakin ke sini, anggunmu justru menarikku kuat-kuat larut? Mendobrak keras pintu hatiku yang terkunci rapat. Kini anggunmu sukses mengoyak kuncinya. Terlepas. Tinggal menunggunya terbuka. Tapi sebelum itu Kenia... berhentilah menggodaku! Hentikan anggunmu merajukku!
Kim bingung harus bicara apa, akhirnya hanya kata maaf yang meluncur lancar. Kenia mengernyitkan dahi. “Untuk apa?” tanya Kenia.
“Malam itu. Malam ketika aku menamaimu wanita pengkhayal, tak realistis, aku sengaja. Aku tahu kamu ada di situ. Sungguh aku minta maaf. Aku hanya tak ingin membuatmu terluka lebih dalam. Aku bukan lelaki baik yang seperti kamu bayangkan,” jelas Kim akhirnya bisa masuk ke poin pembicaraan.
Kenia dua kali lipat tak tahu harus bicara apa dan akhirnya ia mulai berkata,“Itu artinya Tuan Kim tahu bahwa aku menyukai Tuan Kim?”. Kim mengangguk.
Suasana hening sejenak di antara keduanya.
“Aku tak peduli ketika ibu menceritakan bahwa Tuan seorang duda, seorang pengusaha, seorang Korea dan separuhnya Indonesia. Yang aku pedulikan adalah ketika aku pertama melihat Tuan Kim, aku merasa tertarik. Tak ada cerita buruk tentangmu di keluarga kami. Jadi tak ada alasan aku tak menyukaimu, walaupun tak ada alasan kuat juga mengapa aku harus menyukaimu. Usia kita terpaut jauh, lho, hehehe,”
“Jadi, apakah kamu akan bertahan dengan perasaanmu setelah tahu malam itu aku melukaimu?”
“Aku tak tahu. Aku belum menemukan alasan untuk itu. Sekarang ini saja aku sudah lupa pernah menangis malam itu. Tak ada yang bisa menjamin,” Kenia tak mantab benar dengan ucapannya, ia hanya asal bicara menimpali pertanyaan Kim.
“Kalau begitu aku bisa meninggalkan negara ini dengan tenang,”
Kenia melengos cepat ke arah Kim. Apa maksudnya “dengan tenang”?
“Aku tak perlu mengkhawatirkanmu dengan sakit yang kutinggalkan karena kamu nampaknya sudah biasa saja,”
Kenia menajamkan sorot matanya. Nampak biasa saja? Kim tak tahu kalau proyek film tak datang, mungkin Kenia tetap terngiang-ngiang dengan luka sembilu akibat ulah Kim. Kali ini Kenia mulai fokus.
“Kim...” panggil Kenia untuk pertama kali tanpa permulaan “tuan”. Kim menatap Kenia lekas. Nadanya berbeda dibandingkan ketika Kenia memanggilnya “tuan Kim”.
“Aku hanya ingin jadi milikmu. Aku tak yakin sekarang apakah rasaku masih ada atau tidak. Tapi cinta juga tak mungkin pudar dalam hitungan minggu bahkan hari bukan? Mengapa tak kita coba jalan bersama, siapa tahu kita cocok? Aku tahu, di usiamu sekarang bukan waktunya coba-coba tapi apakah dengan sekali lihat kita bisa tahu rasanya pacaran, menjalin asmara atau apalah istilahnya. Apalagi kamu yang katanya trauma menjalin hubungan dengan wanita. Bagaimana bisa kamu menyamaratakan semua wanita busuk kalau kamu tak pernah punya pembandingnya? Aku juga tak punya banyak pembanding, dulu pacarku yang menikah dengan orang lain lalu kamu. Aku bisa membandingkan. Tak semua lelaki busuk tapi aku juga tak bisa menjamin kamu begitu. Tapi intinya tak kita coba, tak bisa kita rasakan bagaimana rasanya, ”
Kim terdiam menamati Kenia. Gadis muda anggun yang sudah pantas disebut wanita anggun. Mungkinkah terkait ia suka menulis kisah romantis dan puitis sehingga pemikirannya mengarah ke dewasa dan berlumur nuansa romantis, bijaksana, puitis dan ah... hanya kalangan tertentu yang bisa memahami. Tak salah Kenia menjadi penulis yang cukup dipertimbangkan di dunia penulisan. Wanita pengkhayal satu ini tak bisa dipandang remeh. Ia dibentuk oleh tulisan-tulisan yang ia baca dan tulisannya terbentuk oleh pribadinya yang berkutat cukup lama dengan kepenulisan romantis dan puitis. Dan dirinya salah menilai Kenia. Kenia bukan wanita pengkhayal biasa.
“Kamu yakin ingin menjadi milik lelaki yang berseberangan denganmu? Aku lelaki realistis empiris, tak suka fiksi,”
“Itupun bukan alasan untukku berhenti menyukaimu dari awal sampai sekarang. Pasangan kekasih tak akan bisa berjalan beriringan jika mereka punya karakter sama. Sepatu tak akan bisa digunakan jika semua bersisi kiri atau bersisi kanan semua, kan? Cobalah aku, jadi kekasihmu!”
Kim beranjak dari duduknya mendekati Kenia yang berdiri memijakkan tangannya di besi tua di bibir sungai yang membelah taman kota.
Kim memegang tangan Kenia, menyematkan jari-jarinya di sela-sela jemari Kenia. Menghadapkan tubuh Kenia ke arahnya.
“Kalau begitu, mulai detik ini jangan pedulikan artis lelaki itu! Aku cemburu,”
Kenia tersenyum lebar.
“Aku akan segera kembali bersama keluargaku untuk meminangmu. Bukankah tadi kamu bilang, usiaku bukan waktunya coba-coba? Aku akan segera meminangmu. Tak kuberi kamu kesempatan mengenal lelaki lain,” ujar Kim tersenyum mantab mengunci hati Kenia untuknya.
“Tentu. Kunci aku sebelum Prio yang meminangku,”
Mereka berdua berkelakar. Kim memeluk Kenia erat tanpa sekat. Mereka akan semakin merekatkan diri apapun yang terjadi. Mereka merasa sudah menemukan obat hati yang selama ini mereka cari walaupun terkadang masih ada gengsi yang tinggi untuk mengakui. Kisah cinta mereka dimulai kali ini
***


Kamis, 23 Mei 2013

Ucapan Cinta Ala Penyair (UCAP) #1 untuk Lelaki di balik "Benteng"



buku kumpulan puisi & prosa
UCAP #1
Wow! Entah apa yang bisa kuucapkan selain alhamdulillah pada Sang Khaliq. Di saat lagi jenuh, bosan, penuh pengharapan segera dapat pekerjaan atau tulisan cerpen bisa menang lomba atau dimuat di majalah tapi tak kunjung datang DIA memberikan hadiah istimewa.

Beberapa waktu lalu iseng coba ikut lomba puisi yang temanya aku banget! Iya, romans-romans gitu deh. UCAP alias Ucapan Cinta Ala Penyair oleh sebuah penerbit dari Malang Meta Kata Nah, karena pada waktu itu lagi teringat sang (mantan) gebetan yang sudah merantau nun jauh terpisah lautan akhirnya bikin deh, secara instan. Malam itu juga buat, malam itu juga aku kirimkan. Cuman butuh waktu sekitar 1 jam buat ngrangkai kata plus editing. :D

Info lomba itu kusebar juga (karena satu syarat ikut lomba suruh nyebar info ke-25 orang lewat akun jejaring sosial). Terus setelah kukirim ya sudah mengalir begitu saja. Nothing to lose. Menang alhamdulillah, enggak juga nggak apa-apa. :p

Tapi apa yang terjadi? Pengumuman pemenang lomba maju sehari. Waktu itu aku tahu up date karya terpilih dari home blog. Ada namaku di situ urutan ke-3. Setelah aku lihat blognya aku masuk 111 karya terpilih!! Senangnya. Dan itu sudah terjamin akan dibukukan. \O/. And then... ya kukira aku tak dapat juara. Ternyata semakin kursor kugerakkan ke bawah wallaaaa.... #8!!! Hahaha.... tak sangka daku. Puisi itu... ah, entah apa yang dipertimbangkan juri sampai masuk #8 besar. Tapi... aku senang! Seketika lubang kecil di sudut mata ini mulai mengeluarkan cairan air berlebih. Air mata yang bikin mata berkaca-kaca maksudnya. Ah, Tuhan membawa “angin segar” untukku. Ternyata... karyaku bisa diapresiasi sampai sedemikian rupa. 

Aku bukan orang romantis sih dan nggak jago bikin puisi. Dulu waktu SMP sering tapi setelah itu nggak ah. Ternyata banyak senior yang lebih jago. Bahasanya sastra banget. Puisi-puisiku tak ada artinya. Hanya berkecimpung di dunia romantis dan tak banyak kata indah sastranya. Ya, memang aku tak begitu suka sastra dengan konten berat yang membuatku harus jungkir balik dan jambak rambut untuk memahaminya. Tak sampai otakku berpikir ke arah sana :D

Puisi
based on true story itu aku persembahkan untuk (mantan) gebetan yang merantau menimba ilmu yang mungkin nggak pernah tahu, nggak pernah sadar aku pernah suka. Ah, tapi berkat dirimu aku bisa “menelurkan” sebuah karya dan menang. Kalau saja ini adalah ajang penghargaan dan hadiahnya berupa piala, dedikasi pertamaku ya untuk lelaki bernama... bernama... xoxoxox... RAHASIA. :p terima kasih untuk semua pengalaman sepihak yang berharga ini. Harapku, semoga kamu bahagia dengan hidupmu.  

Atas apresiasi ini saya ucapkan begitu banyak terima kasih untuk juri penerbit Meta Kata. Kemudian teman2 terdekatku yang sudah sering memberikan motivasi bahkan saran & kritikan ini dan itu yang membangun Altami, Intan, mbak Maya, Yuli Asih Putri, Andi, Weni dkk yang tak bisa disebutkan satu per satu. Orangtua yang tak tahu anaknya punya sense of romantic juga (ada darah romantis dari ayah? Dari ibu? Ehmm... kurasa tidak. Hohoho. Dari eyang? Dari buyut? Entah!). Adik-adikku, Adi & Agung, lihatlah mbakmu yang bisa romantis ternyata ^^. Kemudian terutama adalah Allah SWT yang selalu bisa menyembuhkan luka para hamba-Nya di kala sedih, sendu, pilu, perih, pedih. Tak ada yang abadi. Semua akan berganti. Seperti hidup ini bak roda yang terus berputar. Alhamdulillah... :) 
Mau tahu puisinya seperti apa? cek di sini >> Aku, Kamu, Benteng 
Happy Reading :)