Jumat, 03 Mei 2013

Cinta Tapi Beda



Cinta tapi Beda

Area parkir kantor Hadi Tjandra Consultant and Associates. Pukul delapan lewat sepuluh menit.
“Kamu sudah tahu semua kekuranganku dan kita jelas berbeda tapi kenapa kamu masih selalu saja mengejarku?”
“Yaa, aku nggak ada alasan pergi dari kamu. Gimana dong?”
“Gini ya, please... sudahi saja sampai sini. Kita nggak akan pernah nyatu sampai kapan pun,”
“Kata siapa?”
“Kataku,”
“Kataku tidak. Kita pasti bisa bersatu. Aku butuh kemauan kamu untuk bersatu denganku. Lengkapi potongan hatiku yang masih separuh. Aku cuman butuh jawaban iya dari kamu, bukan yang lain,”
Laura sudah kehabisan akal membuat Hendri menjauhi dirinya.
“Sudah?” tanya Hendri. “... idemu sudah habis menolakku? Tenagamu sudah terkuras menghindariku?” imbuhnya.
Laura menatap Hendri melotot.
“Ahhh... entah! Aku lapar,” celetuk Laura yang sering bersikap lucu memecah ketegangan dan keresahan suasana ketika bersama Hendri.
Asli, hati kecil Laura tak bisa menolak Hendri. Lelaki itu bermulut pedas tapi semua fakta ia utarakan dengan tepat. Dan itulah yang menjadi pecut semangat orang untuk lebih bisa memperbaiki diri. Termasuk Laura meskipun mulanya Laura sangat tidak bisa terima dengan gaya Hendri itu.
@@@
Bekerja sebagai karyawan baru di perusahaan konsultan bergengsi di Surabaya dan Jakarta menuntut Laura harus bekerja ekstra padat, sungguh di bawah tekanan. Ia masih seorang trainee, level paling awal sebelum menjadi staff tetap di sana. Kekeliruan masih kerap ia lakukan. Laura harus mengeluarkan energi ekstra untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan yang punya deadline pekerjaan singkat, kemandirian, keingintahuan besar dan tanggungjawab yang besar. Maklum selama kuliah kemarin ia minim pengalaman organisasi, cenderung suka menunda pekerjaan, kurang banyak bersosialisasi dengan komunitas ini dan itu sehingga culture shock yang ia rasakan.
Hidup Laura jungkir balik berubah 180 derajat. Bangun tidur tak lagi bisa telat, tidur malamnya maju dari jam 12 malam jadi jam 9 malam seperti pas dia masih SD,  tak lagi “intim” dengan ponsel pintar yang baru dibelinya setelah wisuda tujuh bulan lalu karena akses ponsel selama di kantor dilarang keras, jadi kuper soal up date terbaru gosip artis dalam negeri-luar negeri, jarang pasang status di akun jejaring sosial dan yang membuatnya sesak ialah kenikmatan menulis fiksi yang jadi separuh jiwanya selama delapan tahun ke belakang juga terpangkas, nyaris tak pernah lagi menulis. Dan pastinya pekerjaan yang menumpuk setinggi setengah meter yang tersusun rapi di dalam loker “meneriakinya” untuk segera “dijamah”. Ia tak bisa mengelak. Ia sudah kecemplung di kantornya sekarang. Jalan keluarnya ya dia harus beradaptasi sebaik mungkin dalam waktu sesingkat mungkin.
Namun... di tengah kesibukannya sebagai newbie wanita karir seperti sekarang muncullah nuansa romantis yang diam-diam menggelorakan semangat Laura untuk pergi ngantor dan pulang telat setiap hari bahkan ketika pekerjaannya menuntut ia harus lembur kala akhir pekan. Tapi Laura tak bisa menunjukkan gelora itu jelas-jelas. Ia tak mau mengulangi kesalahan yang sama terlalu GR alias gede rasa terhadap perhatian seorang lelaki. Laura masih menunggu kepastian lelaki itu benar-benar memperhatikannya bahkan menyukainya dan mencintainya pasti.
Laura tahu dirinya mudah jatuh cinta dan mudah merasa GR di satu lokasi yang sama dengan lawan jenis. Ia ingin mengelak tapi ia tak bisa. Bahkan untuk lelaki satu ini. Laura tahu lelaki ini aslinya tak boleh disukai karena sahabatnya yang juga bekerja di kantor dan divisi yang sama dengannya juga menyukai lelaki ini. Laura tetap tak bisa menolak perasaannya. Pertama kali bertemu lelaki ini, Laura merasa lelaki ini punya aura kharismatik, terlebih berwajah oriental, Laura suka wajah oriental walau dia penduduk pribumi. Suara lelaki ini juga sungguh menawan. Penampilannya selalu rapih, jelas dia sering bertemu klien dari perusahaan-perusahaan yang membutuhkan jasa konsultannya sebagai konseptor iklim organisasi perusahaan mereka. Gaya bicaranya menunjukkan dia sangat cerdas dan bijak. Laura tak bisa memungkiri lagi, ia tergoda pesona lelaki itu. Laura tak peduli sahabatnya. Bahkan sahabatnya hanya bilang bahwa ia hanya sebatas fans semata. So,... laura akan terus melenggang memperjuangkan percikan api asmara yang mulai bergelora itu.
@@@
Hari-hari Laura memang menyesakkan tapi ia tak pernah mati semangat melakukan pekerjaannya, semua karena lelaki yang membuatnya kasmaran. Laura terus mengamati lelaki itu dari kejauhan tapi sangat lekat dan teliti. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bisa bersama dalam satu tempat dan satu waktu dengan lelaki itu, jika kebetulan itu terjadi. Hanya saja Laura tak berani bertindak terlalu jauh untuk menyapa lelaki itu. Laura menyukainya tapi ia tak percaya diri untuk bisa membuat lelaki itu menyukainya. Laura hanya bisa berdoa Tuhan memberikannya kemulusan jalan untuk bisa dekat dengan lelaki itu.
Doa Laura terjawab. Ada sebuah proyek besar dari perusahaan multinasional yang sedang berkembang bidang distribusi produk-produk pangan. Laura mulai mendapat tanggungjawab sebagai koordinator pelaksanaan rekrutmen dan seleksi karyawan baru itu. Lelaki itu sebagai senior bidang human capital yang tugasnya merumuskan iklim organisasi sebuah perusahaan, diutus untuk menangani proyek ini. Laura dan lelaki itu bertemu dan interaksi dimulai. Kecanggungan Laura berkali-kali lipat hebatnya. Canggung untuk pengalaman pertamanya mengemban tugas sebagai penanggungjawab dan canggung bertatap muka bahkan berinteraksi dengan lelaki itu.
Waduh, kalau ketahuan begonya aku gimana, nih?
“Hai,kamu ---,”
“Laura. Panggil aja Laura. Ko Hendri, kan?”
Lelaki itu mengangguk tersenyum singkat. Mereka bersalaman. Tangan Laura keringetan. Ia gugup.
“Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik, ya?” kata Hendri. Laura mengangguk pelan tersenyum.
@@@
Kerja sama Laura dan Hendri dimulai sudah hampir sebulan lamanya. Banyak yang Laura alami. Dari segi pekerjaan, ia merasakan sungguh tak mudah. Semua rencana yang tersusun rapi di kantor tak semuanya selaras dengan apa yang ada di lapangan, ada masalah di sana-sini. Walhasil berkas data yang dibawanya pulang ke kantor juga berantakan. Disemprotlah dia sama seniornya yang sudah ia label sebagai nenek sihir di divisi rekrutmen dan seleksi. Kemudian perkembangan kisah asmaranya dengan Hendri? Ikut terkacaukan pula. Trouble yang terjadi di bagian rekrutmen dan seleksi yang dipegang Laura berimbas terhadap pembicaran perencanaan iklim organisasi perusahaan bersangkutan. Sisi lain Hendri keluar. Ia mendudukkan Laura di hadapannya dan menatapnya tajam. Berdua saja mereka seolah intim berdua padahal suasana tegang sedang terjadi.
“Kamu ditraining berapa bulan sama bu Irene?” tanya Hendri dingin dengan tatapan mautnya yang membuat Laura merasa terintimidasi. Laura menunduk. Ia paling tak bisa ditatap seperti itu oleh siapa pun.
“Lima bulan,”
“Sudah ikut proses rekrutmen berapa kali?”
“Sepuluhan kali,”
“Harusnya bisa dong ngatasin hal sepele kayak kemarin itu? Kalau kayak gini, bisa merusak nama baik perusahaan kita, Ra. Kredibilitas perusahaan kita bisa turun, Ra,”
Laura cemas dan ketakutan.
“Angkat kepala kamu!” Hendri menyuruh. Laura tak jua mengangkat kepalanya.
“Angkat, Ra!” kali ini Hendri bersuara cukup lantang.
Laura pelan-pelan menghadapkan wajahnya kepada Hendri.
“Heran, kenapa bu Irene bisa nerima kamu jadi karyawannya. Sudah lima bulan training dan itu... itu waktu cukup lama buat seorang trainee bisa naik level ke posisi staff, harusnya bisa meminimalisasi kesalahan rekrutmen, tapi kamu? Apa?!” sergah Hendri. “Apa kamu nggak pernah belajar? Inget, budaya perusahaan kita itu budaya untuk terus belajar, belajar dan belajar. Aku nggak mau tahu gimana caranya kamu bisa mengatasi kesalahan yang sudah terjadi, saya nggak tahu bu Irene bakal ngapain kamu. Kamu siap-siap menerima semua resikonya. Aku harap kamu masih bertahan di perusahaan kita,” imbuh Hendri yang membuat Laura duduk terpaku kaku. Otot-ototnya menegang. Ia melakukan kesalahan besar yang mempertaruhkan kredibilitas perusahaannya. Inikah akhir karir Laura di sana? Desir-desir darah mengalir cepat di sekujur tubuh Laura. Ia masih belum bisa bergerak.
@@@
Proyek Laura untuk perusahaan distributor produk pangan sudah mendekati final. Banyak kekurangan di sana-sini yang diakibatkan Laura. Dan jelas banyak pula yang didapatkan Laura, omelan sana-sini yang membuatnya kecil hati (maklum Laura tak seratus persen pribadi tahan banting, digertak saja sudah pucat wajahnya) dan pastinya pelajaran untuk jadi lebih baik dalam karirnya. Hanya saja Laura butuh waktu untuk menghilangkan feeling guilty-nya terhadap senior dan perusahaannya juga perusahaan yang ditanganinya. Tapi seiring berjalannya waktu dengan “ditumpuk” fokus pekerjaan lain yang sudah masuk daftar pekerjaannya, ia bisa melupakan itu. Dan ternyata sosok lelaki yang membuatnya sempat kecil hati dan bertahan sampai proyek mereka berdua selesai, Hendri, juga turut andil membuat Laura bisa fokus ke pekerjaan yang lain. Hendri itu terkadang baik, terkadang bicaranya ketus, tapi terkadang senyumnya bisa membawa angin segar bagi Laura. Seolah-olah hati Laura tengah di on-off kan begitu saja sesuka hati oleh Hendri.  Membumbung tinggi lalu jatuh. Naik lagi. Turun lagi.
Sistem interaksi profesional Laura dan Hendri semenjak proyek tempo lalu merembet ke interaksi personal. Tak menyangka Laura dibuatnya, Hendri tiba-tiba saja mengirim pesan singkat untuk Laura tentang motivasi.
 Orang yang gagal bukan dia yang jatuh tapi dia yang jatuh dan tak mau bangkit. Belajar, belajar dan terus belajar. Pasti kamu bisa lebih, lebih dan lebih. J -Hendri-
Terima kasih banyak ko J -Laura-
Pertama kali Hendri mengirimnya, jantung Laura sudah berasa lolos copot dari kerangka tubuhnya. Laura terlewat bahagia. Hal ini terus berulang hingga beberapa kali hingga akhirnya sebuah keajaiban Tuhan turun dari langit.
“Lembur lagi?” tanya Hendri ketika mereka istirahat makan siang.
Laura mengangguk.
“Nanti pulangnya bareng, ya? Sekalian cari makan malam bareng mau?” lanjut Hendri.
Laura spontan melotot ke arah Hendri dengan taoge yang nongol buntutnya di ujung bibir Laura.
Hendri tersenyum lebar.
“Nanti aku samperin ke ruangan kamu ya atau aku langsung tunggu di parkiran?”
Laura masih berekspresi sama.
“Ra?” Hendri menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Laura.
“Oh, oke, oke, Ko. Langsung di parkiran aja,”
“Tumben fokus?”
Laura tersenyum malu. Hendri berlalu meninggalkan senyum manis untuk Laura.
Singkat kata, semenjak Hendri menawarkan untuk pulang bersama kemudian pengiriman pesan singkat naik level menjadi pesan singkat bertanya kabar dan mengajak jalan-jalan bersama, sinyal ketertarikan satu sama lain sudah terbaca. Laura menyukai Hendri, Hendri pun sebaliknya. Tapii.... tapi rasa suka tak pernah tersampaikan lugas melalui bahasa verbal, baik Laura juga Hendri. Perasaan itu masih tertahan di mulut masing-masing.
Perasaan keduanya memang tumbuh makin subur dan merekah mengembang berwarna indah tapi seiring dengan itu masalah-masalah lain yang sempat mereka abaikan akhirnya menyeruak muncul menyadarkan mereka. Layaknya benteng yang menjulang tinggi, kokoh tak ‘kan rubuh. Ini perihal iman. Prinsip yang tak bisa mereka abaikan maupun langgar begitu saja. Dilema tercipta, padahal hati keduanya sudah mulai terpaut meski kata tak terucap. Dan Laura juga semakin menyadari ada perbedaan lain yang cukup sulit untuk disatukan.
Hendri. Lelaki yang nampak tegas, berwibawa, bermulut pedas tapi berhati baik nan hangat, justru memiliki sisi lain yang tak bisa diterima Laura begitu saja. Kehidupan malam, alkohol, wanita seksi kerap kali menemani Hendri ketika ia suntuk dengan pekerjaannya dan sudah bertahan selama nyaris sepuluh tahun terakhir. Laura memang bukan umat yang taat tapi kebiasaan Hendri sangat tidak ia kehendaki. Hendri itu sosok yang lebih tapi juga minus di mata Laura tapi Laura tak bisa memutuskan ia harus mengakhiri cintanya atau berlanjut. Sulit. Ia sudah jatuh hati sejatuh-jatuhnya. Terlepas dari urusan keyakinan dan keburukan Hendri, karakter Hendri seolah proyeksi pemimpin dan pendamping hidupnya yang cukup ideal. Tapi satu per satu problem muncul ketika ia dan Hendri dimabuk asmara. Mendorong mereka untuk segera memutuskan layakkah hubungan mereka dilanjutkan?
Keduanya belum menemukan titik terang. Sementara keduanya hanyut dalam pekerjaan padat masing-masing. Tapi ada perubahan dari diri Laura. Kini ia menjauh. Meminimalisasi interaksi dengan Hendri, baik di kantor maupun lewat alat komunikasi. Hendri tak terima. Mereka berjanji tak mengambil pusing permasalahan yang ada sehingga komunikasi tetap terjalin baik dan rasa sayang mereka tak memudar. Hendri ingin terus bersama Laura. Semenjak bertemu dengan Laura, hatinya bergetar. Ia ingat janjinya sendiri, ketika hatinya bergetar bertemu seorang wanita, pertanda itulah jodohnya. Apapun yang terjadi akan ia perjuangkan. Meski benteng menjulang tinggi, kasih Hendri tak memudar.
Suatu malam pukul delapan malam. Laura sudah menuntaskan tugas kantornya kemudian keluar dari ruangannya untuk pulang, mukanya nampak payah. Hendri menyerobotnya dan menarik Laura keluar segera. Mencari tempat aman dan nyaman untuk meluruskan semua masalah dan mengurangi beban ketegangan dan ketidaknyamanan di antara mereka berdua beberapa pekan terakhir.
....
“Sudah?” tanya Hendri. “... idemu sudah habis menolakku? Tenagamu sudah terkuras menghindariku?” imbuhnya.
Laura menatap Hendri melotot.
“Ahhh... entah! Aku lapar,” celetuk Laura yang sering bersikap lucu memecah ketegangan dan keresahan suasana ketika bersama Hendri.
“Oke, kita cari makan, setelah itu kita bicarakan lagi ini,” Hendri memberikan solusi.
“Aku tak mau membahas ini lagi,”
“Itu artinya kamu nggak peduli lagi sama aku? Perasaanku ke kamu gimana?”
“Akhiri saja ko,” kata-kata itu lolos lancar dari mulut Laura tapi mendadak hatinya berat.
“Ngawur kamu! Enggak. Asal kamu tahu, aku sudah bikin janji ke diriku sendiri, suatu hari aku ketemu sama wanita yang bisa membuatku nggak sanggup berkutik, aku janji dia jodohku. Itu kamu, Ra,”
“Aku? Coba dipikir ulang deh, Ko. Mungkin ketika kita sudah berakhir, Ko Hendri bisa ketemu dengan wanita yang Ko Hendri maksud. Tolong Ko, perbedaan kita ini benar-benar jauh, Ko. Aku nggak bisa,”
“Kamu pikir aku playboy kelas kakap? Aku memang sering bergaul dengan wanita seronok penampilan dan kelakuannya tapi aku cari istri yang bisa menjaga dirinya utuh. Aku juga bukan lelaki bejat yang menyalurkan spermanya kemana-mana. Kamu tahu itu dan untuk urusan keyakinan, kita bisa mencari solusi bersama,”
Laura menatap Hendri lekat untuk pertama kalinya.
“Solusi apa Ko? Jangan pernah gadaikan iman untuk duniawi,”.
“Ra, aku sungguh-sungguh cinta sama kamu, bahkan sebelum kamu sering memperhatikanku. Tolong pikirkan! Jangan menghindariku dan jangan minta aku menyudahi semuanya! Tolong!”
Laura melemah, kata-kata itu keluar dari mulut Hendri. Laura juga mencintai Hendri tapi persoalan iman terlalu pelik.
“Itu membuatku berat melepasmu, Ko. Kenapa sih, kamu selalu bisa membuatku susah lepas dari kamu?” Laura berat berkata-kata dan menahan air mata. “... sungguh cukup bagiku mendengar kamu tegas menyatakan cintamu tapi aku tak bisa menggadaikan imanku, Ko. Kamu juga tak bisa menggadaikan imanmu. Kita jalani kehidupan kita masing-masing, Ko. Aku yakin Tuhan akan segera menunjukkan jalan. Kita akhiri saja sampai di sini. Kita renungkan apa yang sebaiknya kita lakukan,” sambung Laura.
Hendri menggenggam kedua tangan Laura menatap Laura perih.
“Kamu melepaskan aku?”
Laura mengangguk perlahan dan menundukkan kepala, ia tak kuasa menatap Hendri.
“Aku juga akan melepaskanmu tapi jangan minta aku berhenti mencintaimu. Tak ada alasan untuk itu, Ra,”
Hendri mengangkat dagu Laura untuk menatap matanya.
“I love you,” ucap Hendri.
“Love you too,” sahut Laura.
Tetesan air mata Laura jatuh sudah. Cinta terhalang benteng iman memang pelik rumit. Entah kemana kisah mereka akan bermuara. Tuhan sedang menyimpan kisah untuk asmara mereka. Mereka hanya bertugas menjalani sepenuh hati tanpa mengabaikan prinsip keteguhan masing-masing. Dua insan beda muara Sang Pencipta kehidupan itu masih memiliki kasih untuk satu sama lain tapi mereka juga tak pernah tahu kemana hati mereka akan berlabuh. Tetap jadi satu ataukah berpisah?
@@@

Selasa, 23 April 2013

Pelayan Masyarakat Macam Apa?!

Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan pihak aparat kepolisian dan semua anggota instansi terkait. Mohon dijadikan bahan saran dan kritik dari masyarakat yang butuh keamanan dan kenyamanan setiap kali berurusan dengan pihak kepolisian, terlepas dari tindak kriminal.

Walaupun sudah agak kadaluarsa cerita ini tak tak apalah. ingin berbagi informasi aja, pengalaman tak mengenakkan yang didapat dari yang -katanya- pelayan masyarakat di instansi kepolisian tepatnya Rabu, 17 April 2013 lalu. 

Waktu itu saya sudah sangat bersemangat mau mengurus SKCK untuk keperluan bekerja. Informasi saya tak banyak tapi saya berpikir datang langsung dapat memberikan informasi akurat mengenai apa saja yang perlu saya persiapkan untuk memperoleh SKCK. 

Pagi harinya saya sudah beres mendapatkan surat pengantar dari tingkat RT sampai polsek kecamatan tempat saya tinggal. Sekitar pukul 10.30 WIB saya ke Polres Pare-Kediri (saya minta maaf kalau saya sebutkan instansinya karena saya benar2 kecewa dengan apa yang saya alami) langsung menuju bagian pengurus SKCK. Bertemu orang pertama cukup ramah seorang ibu2. Saya diberi informasi berkas apa saja yang perlu saya persiapkan. Pergilah saya meng-copy berkas yang diperlukan. 

Usai itu saya menemui pihak kedua pengurusan SKCK. Bertemu bapak2 menyerahkan sebuah formulir yang wajib saya isi. Nah, kecerobohan saya terjadi. Saya tak melihat bahwa ada kolom2 atau pernyataan yang harus diisi di balik halaman pertama. Jadi, saya mendapat 2 formulir. Formulir satu yang ukurannya lebih besar ternyata terdiri dari 2 halaman, saya lupa mengisi halaman kedua dan saya pede masuk kembali ke ruangan bapak2 tadi. Kali itu saya berhadapan dengan bapak2 berbeda yang berkumis bak pak raden. Saya serahkan tapi... -di sinilah mood bagus saya diuji- saya segera menyadari kekeliruan saya yang tak mengisi halaman kedua ketika formulir itu ada di atas tangan2 bapak2 berkumis pak raden itu. Lah... saya ngomongnya "maaf belum diisi," bapaknya melempar kertas ke arah saya! keluar lagi saya (pengisian formulir dipersilakan di laur ruangan). Setelah melengkapi 2 lembar formulir saya masuk lagi, belum sempat masuk, bapak2 berkumis pak raden itu sudah ada di ambang pintu, menerima berkas saya. Masalah kedua muncul, -kembali mood jelek disulut- dengan bicara nada suara agak tinggi beliau mempertanyakan keperluan saya memperoleh SKCK apa? Saya jawab "Melamar Pekerjaan". "Kerja apa? Dimana?". Setelah bicara seperti itu saya sadari kekeliruan saya, tapi tiba2 saja bapak2 berkumis pak raden itu menutup paksa pintu di hadapan muka saya. Oke, saya mundur, membenahi tulisan itu. Saya lengkapi lagi keterangan, "Melamar pekerjaan di perusahaan di Surabaya". Ini mungkin kekeliruan murni saya. saya pikir pembuatan SKCK di Polres, Pare-Kediri itu boleh secara global keterangannya, ternyata tidak, calon penerima SKCK harus menyebutkan dengan jelas misal mau melamar pekerjaan di PT X atau apa. Karena menurut keterangan teman saya di Kabupaten tetangga, pembuatan SKCK boleh secara umum hanya "Melamar Pekerjaan Swasta atau BUMN" jadi SKCK masih digunakan jaga2 dulu karena maklum masih fresh graduate belum tahu pasti ke BUMN atau swasta. Well, saya terima alasan itu tapi yang saya tidak terima bapak2 berkumis pak raden itu kembali melontarkan kata2 bernada tinggi tepat di wajah saya seolah sedang marah2. Dan nampak sekali, pada saat itu beliau tidak sedang dalam kondisi perasaan yang bagus karena seperti ogah-ogahan melayani calon penerima SKCK -entah apa istilahnya-, maksudnya kami yang mau cari SKCK. 

Saya nyatakan saya kecewa berat dengan sikap seperti itu. Mungkin saya memang orang yang sensitif tapi saya yakin pada saat itu ada yang tak beres dengan bapak2 itu. Entah karakter orangnya yang meledak-ledak, bicara lantang atau saat itu suasana hati sedang tidak bagus? Saya tak mau tahu. Mungkin saya egois. Beliau pelayan masyarakat, harusnya bisa memberikan pelayanan terbaik. Bukan ogah-ogahan dan bersikap seenaknya begitu. Abdi negara atau abdi masyarakat macam apa itu??!! Mentang-mentang jadi ujung tombak yang dibutuhkan masyarakat kemudian seenaknya saja memperlakukan tidak baik? 

Saya berpikir, mungkin kita tidak lepas berurusan dengan pihak kepolisian tapi ya kalau bisa diregenerasi bapak2 itu yang sudah tak ramah, terkesan ogah-ogahan melayani masyarakat, regenerasi saja ke pribadi2 muda yang lebih ramah dan melayani masyarakat. Soalnya sudah expired juga kalau mau ditraining pembentukan karakter yang ramah, sabar dan melayani masyarakat. Upppss...

Ya begitulah... dan mohon untuk pihak kepolisian -terutama Polres Pare-Kediri-, pegawai2 sipilnya juga diperhatikan biar kepercayaan masyarakat terhadap aparat bisa lebih meningkat. Dan silakan buat forum penampung saran dan kritik masyarakat yang up to date, lancar, langsung dan akurat. Jangan pakai birokrasi bertele-tele dan bermenye-menye. Masyarakat jengah sudah dengan birokrasi ruwet kayak bolah ruwet.

Sekian.





Selasa, 09 April 2013

Thanks Giving for Odapus (Orang dengan Lupus)




            Kembali menulis tapi kali ini menulisnya sudah dimulai awal tahun lalu (untuk jurnal) bahkan memulai berkas aslinya (skripsi) sudah 1,5 tahun lalu. Tulisan ini merupakan tulisan ilmiah pertama saya untuk dapat memperoleh gelar S1 Psikologi. 
Kebanggaan tersendiri untuk saya. Bangga karena saya akhirnya bisa mengatasi rasa malas dan godaan kanan dan kiri dan bisa mempersembahkan bacaan informatif -semoga- ini kepada para sahabat odapus (orang dengan lupus).
Alasan kenapa saya mengambil tema Lupus tergerak ketika saya membaa artikel di sebuah koran nasional beberapa tahun lalu ketika saya SMA (saya lupa waktu itu kelas berapa, atau mungkin saya sudah tidak SMA kala itu). Penyakit Lupus ini penyakit langka dan punya seribu wajah, demikian artikel itu berisi. Namanya unik seperti tokoh komik atau drama serial itu "LUPUS". Kemudian lupa, lupa, lupa akhirnya ketika semester akhir kuliah dihadapkan pada tugas untuk mengambil tema skripsi. Mantab sudah. Saya pilih LUPUS. Kajian psikologi kesehatan untuk penyakit fisik seperti diabetes, kanker, sudah jamak. Lupus berbeda. Pasti penelitian saya unik. Pede :D
"Tualang" berjalan. Saya cari informasi semua tentang Lupus. Termasuk langsung turun lapangan pedekate dengan para sahabat odapus di "kantong-kantong" komunitas odapus di Surabaya, Malang, Jakarta baik melalui media jejaring sosial atau bertandang langsung. Dan, saya takjub, saya dianggap keluarga baru oleh mereka. Sahabat odapus begitu welcome pada saya. Sampai saya ingat namanya ibu MRTS, odapus yang bekerja sebaga staf administrasi di kecamatan Lawang, Malang, menganggap saya seperti anaknya sendiri. (Ah, ibu, jika membaca ini, maaf saya belum bisa bersilaturahim ke sana lagi :( ). Termasuk pada partisipan skripsi saya yang sudah membuka tangan mereka lebar-lebar menerima saya, ibu NA, DA, dan RS. Dan akhirnya, walau tak tahu banyak Lupus secara medis setidaknya saya tahu info dasarnya. Anda ingin tahu, silakan klik link di bawah ini. Mudah-mudahan menjawan rasa penasaran Anda apa itu penyakit Lupus.


Poin pentingnya adalah 
1. Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu (dalam bentuk apapun) saya merangkum bacaan informatif ini, antara lain
a)   Partisipan skripsi saya ibu NA, mbak DA dan mbak RS yg telah menerima saya dengan suka cita, amin.
b)   Ibu Karin dan mbak Rossi dari pengurus Yayasan Lupus Indonesia Surabaya, Jatim, yang memberikan banyak informasi.
c)    Mbak ... (maaf saya lupa yang berdomisili di Tuban sebagai guru di sebuah SMA atau STM ya, yang aslinya Plosoklaten Kediri), Mbak RN (Sidoarjo), Bu MRTS (Lawang, Malang) yang bersedia berbagi cerita 
d)   Mbak Ron Azzahra dan mbak Nur Hidayati yang meminjamkan buku-bukunya yang terbilang langka :)
e)   Beberapa odapus yang domisilinya jauh tapi menawarkan diri untuk menjadi partisipan tapi saya tidak sanggup menjangkau karena jarak, heheh :)
f)     Pihak-pihak akademisi seperti dosen pembimbing, Bu Endang lalu dosen Bu Wiwin, Bu Ike, Mbak Amel, dosen penguji Bu Retha, Bu Hamidah... salam hormat saya untuk Anda semua
g)   Sahabat-sahabat dekat yg bersedia membantu seperti Amira (psikologi Unair 2009), Syailendra (psikologi Unair 2008), Altami (IPB 2008), Citra (psikologi Unair 2008), Ratu Lensi (psikologi Unair 2008) dan semua teman-teman yg tidak bisa disebutkan satu per satu dan semua pihak yah... maaf kalau ada yang kelupaan saya ucapkan TERIMA KASIH BANYAK SEBESAR-BESARNYA, semoga Tuhan selalu merahmati Anda semua dan saya. amin.

2. Saya mohon maaf sebesar-besarnya jika ada kekurangan dan kesalahan yang telah saya perbuat selama ini.
3. Saya berdoa semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Sekian...
Salam sehat selalu untuk sahabat odapus J

Senin, 01 April 2013

Lelakiku Wanitaku


Lelakiku wanitaku

Dua gelas ukuran jumbo ada di hadapanku kosong menyisakan es batu saja. Isinya berupa es teh jeruk sudah aku tenggak habis. Tapi rupanya aku masih kehausan. Surabaya begitu panas beberapa hari terakhir. Minum es dua gelas jumbo tak serta merta mengusir dahagaku. Mungkin lebih baik aku berendam di kamar mandi saja atau membiarkan shower di kontrakan mengalir deras mengguyur badanku. Tapi eh, aku masih belum rela beranjak dari tempat ini walaupun kegerahan sudah kurasakan semenjak satu jam berlalu. Ada "pemandangan" menakjubkan yang tak bisa kutinggalkan begitu saja. Seseorang di suatu sudut asyik berhaha-hihi bersama gerombolannya.
   Senyumnya manis, kepalanya nyaris plontos, macho dengan tubuh atletisnya yang tak berlebihan. Tahu Vin Diesel yang bermain di Chronicle of Riddick atau yang paling tak asing adalah Fast and Furious? Yap, seperti itulah "pemandangan" yang kumaksud tadi. Bukan versi aslinya, mungkin ini versi duplikatnya dalam versi Indonesia. Aku tak jelas apa yang ia bicarakan dengan kawan-kawannya. Mereka semua nampak gagah dengan gaya rapi casual. Aku memerhatikan mereka, teristimewa lelaki duplikatnya Vin Diesel.
"Mbak mau pesen minum lagi?" tanya seorang pelayan.
Aku "bangun" dari lamunanku mengagumi ciptaan Tuhan satu itu.
"Oh, boleh, Mas. Satu gelas super jumbo lagi, ya? Sama kayak tadi, ya?," pintaku.
“Ditunggu ya, Mbak?”
Pelayan itu hendak pergi tapi aku bergegas menghadangnya.
"Iya, Mbak?"
"Mas, mau tanya," suara kulirihkan. "... lelaki itu siapa?" tanyaku begitu saja tanpa berkedip menatap lelaki di sudut sana.
"Yang mana ya, Mbak?" tanya pelayan itu.
"Itu yang plontos, kemeja garis-garis," sahutku.
"Wah, maaf Mbak, saya kurang tahu. Tapi dia memang sering kemari Mbak,"
"Oh, begitu. Oke, terima kasih. Saya tunggu esnya ya?"
Pelayan itu pergi dan aku kembali memerhatikan lelaki itu tanpa jeda. Di dalam hatiku aku mengumpat-umpat memuji-muji kesempurnaan desain Tuhan yang ada di hadapanku. Mengapa ada lelaki setampan itu?
Ketika asyik mengalunkan segala sanjung puji di dalam hati, keasyikanku musnah seketika bersambung dengan rasa tak nyaman dan akhirnya seluruh syaraf maluku bekerja membuat yah, mungkin sekarang pipiku sudah merah merona. Jantungku berdegup cepat mendadak. Gerak-gerikku tak bisa kukontrol. Aku salah tingkah. Mata tajam lelaki itu sekonyong-konyong menyorot ke arahku! Mampus! Hatiku meleleh seketika kemudian. Aku menolehkan kepalaku ke kanan, ke kiri, memutar arah bolah mataku ke atas, ke bawah, tak fokus! Aku bingung berekspresi bagaimana, melakukan apa setelah tertangkap basah memandanginya.
Sepersekian menit aku mencuri pandang lagi. Masihkah dia melihatku? Masih. Melihat tanpa ekspresi. Tuhan, apa-apaan ini? Aku kembali melempar arah pandanganku ke lain arah. Aku tak bisa berlama-lama di sini. Aku harus pergi sebelum aku semakin salah tingkah. Aku tak bisa ditatap orang begitu tajam berlama-lama. Aku mengemasi barang-barangku yang berserakan di meja dan segera pergi. Kutinggalkan pesananku dan segera ke kasir. Aku tak berani menatap ke arah lelaki itu.
Aku terburu-buru sampai serampangan berjalan dan akhirnya menabrak seorang wanita super bohay, lebih bohay dariku yang sudah terkenal bohay –menurut sepupu lelakiku-. Aku seketika memohon maaf. Lalu, mendadak ada suara lantang memanggil nama wanita itu. Aku menoleh juga, refleks. Lelaki itu yang memanggil wanita yang kutabrak tadi. Ia melambaikan tangan kepada wanita itu. Kepalaku tak bisa kupalingkan dari lelaki itu dan wanita tadi. Secara tiba-tiba saja aku merasa kecil hati. Ah, lelaki tampan dan gagah dengan wanita cantik seksi. Nampaknya mereka juga bukan dari kalangan proletar semacam diriku. Mereka borjuis. Ah, lupakan! Aku akhirnya memaksakan seluruh tubuhku meninggalkan tempat itu.
@@@
Seminggu berlalu. Aku kembali ke café itu. Menghabiskan jam makan siangku di sana sendiri sebelum kembali berkutat dengan para klien bunda Tantri yang sudah antri ingin konsultasi dari jauh-jauh hari.
Pekerjaanku memang hanya sebagai resepsionis di sebuah biro konsultasi psikologi ternama milik psikolog yang sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri tapi kebosanan acapkali aku rasakan. Interaksi dengan para klien yang antri padat setiap hari kerja membuatku cukup jengah. Mendata mereka, mengatur jadwal pertemuan mereka dengan bunda Tantri atau psikolog lain, membuat mereka bersabar menunggu giliran mereka, bahkan menerima segala macam komplain dari mereka, termasuk membantu asisten bunda Tantri mengelola administrasi data-data klien yang sudah ada juga kukerjakan beberapa kali.
Bosan tak bisa kutolak. Mungkin pekerja lain juga pernah merasakan bosan. Wajar. Aku ambil sisi positifnya. Rutinitas sehari-hari itu membuatku belajar untuk bisa mengendalikan diri ketimbang masa laluku yang meloloskan semua impulsivitasku terhadap apapun yang aku kehendaki. Kesabaran sebagai resepsionis yang awalnya berat itu sudah cukup berhasil membuatku mengendalikan impulsivitasku walaupun belum seratus persen.
Kuusir kejengahanku dengan izin keluar makan siang di café seberang kantor. Sebenarnya kantorku tidak mengondisikan karyawannya yang hanya beberapa orang untuk keluar makan siang bahkan jam istirahat pun aslinya tak menentu. Istirahat siang pada pukul dua belas siang hanya aturan tak tertulis jika memang ada yang sudah bebas dari pekerjaan. Kalau masih ada klien, aku juga harus melayani mereka. Kalau mereka masuk konsultasi dan tak ada yang bisa menggantikanku, aku terpaksa makan siang di tempatku semula. Kalau ada penggantiku, aku dengan sangat senang hati pergi keluar dan hanya ingin sendirian. Bandel. Tak ada karyawan lain yang senang makan di luar sepertiku. Hanya aku yang sering nekat keluar makan siang, yang lain tetap berada di kantor. Itu karena aku bosan. Kalau bisa keluar kenapa tidak keluar cari suasana baru. Dan di café seberang kantor aku memusnahkan kejengahanku sejenak. Dan beberapa waktu terakhir hormon kesenanganku semakin banyak karena lelaki tempo hari. Ah... senangnya jika hari ini aku bisa bertemu kembali.
Belum ada satu menit aku memanjatkan doa pada Tuhan, muncul sosok itu lagi datang bersama kawanannya. Aih... detak jantungku cepat seketika. Aku meletakkan telapak tanganku di sana, merasakan benar-benar detak jantung yang makin cepat. Dan mataku terus tertuju padanya dan sialnya baru saja aku memerhatikannya dia mendadak sigap menoleh ke arahku. Aku reflek memalingkan muka. Leherku tercekat. Aku tak bisa bertindak aneh-aneh, alih-alih pergi. Aku kelaparan. Pesan makanan saja belum. Biarkan saja. Aku akan terus di sini. Makan dengan kondisi tegang, bagaimana rasanya? Entah.
Beberapa menit berlalu aku menikmati makananku. Tak kurasakan apapun dari makanan itu tapi perutku akhirnya mengenyang. Es di hadapanku hanya berasa dingin. Aku tak mencecap dengan baik setiap apa yang masuk ke mulutku baru saja. Saraf tegangku sedang aktif. Itu karena aku sudah dua kali tertangkap basah oleh lelaki itu. Aku yakin aku tertangkap pasti olehnya. Nyatanya aku langsung merasa seperti maling kepergok mencuri. Dan perasaanku sering tak meleset.
Rasa ini agak menyesakkan. Membuat kandung kemihku menimbulkan efek ingin ke toilet. Aku bergegas ke toilet usai menyantap makananku.
Lima menit berlalu. Aku masih berusaha mengontrol distribusi oksigen dan karbondioksidaku dan degupan jantungku. Berusaha agar nanti ketika keluar dari toilet dan melewati lelaki itu aku bisa berlaku elegan. Aku berkaca di depan cermin. Melakukan self talk bahwa aku bisa melaluinya. Aku keluar dari toilet dengan janutng berdegup cepat dan tak sangka ada peristiwa yang membuatku menganga. Seseorang menabrakku. Aku kesakitan lalu aku mulai fokus siapa itu. Mataku hendak copot. Beberapa detik aku sempat tak bernafas. Wajah itu tersenyum padaku.
“Ada yang salah dariku, Nona?” suaranya lelaki sekali.
Aku salah tingkah. “Tid-tidak,” sahutku terbata-bata.
“Lalu?”
“Lal-lalu?” tanyaku balik.
“Kenapa kamu tak berkedip memerhatikanku?” tanyanya masih tersenyum, mungkin senyum menggoda. Entah apa. Aku menggeleng.
Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku seraya berkata,“Mata wanita yang sedang jatuh hati tak pernah berbohong,” dia berbisik di telingaku, dekat sekali. Bibirnya separuh menempel di telingaku. Kembali aku melemah tak berdaya.
Dia menegapkan diri lalu mengulurkan tangannya.
“Evan,” katanya.
Aku agak ragu menyambutnya tapi akhirnya aku memperkenalkan diri juga.
“Febri,”
“Senang berkenalan denganmu. Nanti malam ada pesta kecil di rumahku. Adikku berhasil menembus beasiswa Boston University, silakan datang! Apartemen jalan protokol dekat sini, kok. Senang jika kamu bisa datang, Nona Febri,” ujarnya nampak bersemangat.
Aku tersenyum. Lelaki ini baru saja bicara sudah menawarkan undangan. Ramah sekali pikirku.
“Pastikan kamu datang, ya? Ini PINku, hubungi aku segera jika kamu berkenan. Pastikan kamu berkenan datang, honey!”
Bbhhh... maut. Baru saja berkenalan sudah dipanggil honey aku. Meleleh bukan main. Aku ingin salto di tempat. Tapi ah... ini akan menjadi hal memalukan. Benar kata sepupuku dan sahabatku, aku mudah terlena pada keindahan. Mudah tertipu. Semoga kali ini tidak.
...
Aku baru saja pulang dari kantor. Tak ada lagi yang aku kerjakan sepulang kerja. Aku teringat undangan Evan tadi siang. Tapi apakah aku pantas datang begitu saja? Aku baru saja kenal dengannya. Tapi daripada aku menganggur bosan di kontrakan. Menimbang berulang kali tawaran Evan akhirnya aku putuskan aku datang ke pesta adik Evan. Aku coba hubungi Evan untuk memastikan aku datang.
Aku sudah melewati puluhan meter jarak dari kontrakanku ke apartemen Evan. Aku sudah ada di depan pintu apartemen Evan. Aku memencet bel sekali. Sekali langsung ada yang membukakan pintu. Seorang lelaki yang tak asing bagiku. Dia sering bersama Evan di café. Dia tersenyum dan mempersilakan aku masuk.
“Febri?” tanyanya. “Evan masih terima telepon, tunggu di dalam, ya? Anggap aja rumah sendiri, Feb!”  lanjutnya.
Aku tersenyum dan melangkah masuk. Tak seberapa ramai, ada tiga lelaki, empat termasuk Evan di luar sana. Dan aku. Lalu mataku menjelajahi seisi ruangan apartemen itu. Nuansa interior Amrik kental di sini. Fokusku jatuh ke suatu foto yang terpajang cukup besar di dinding. Mataku fokus. Dua wanita. Salah satunya aku tahu. Iya, wanita yang kutabrak di café beberapa waktu lalu. Ingatanku memang selalu pasti, sekalipun pada hal sepintas lalu. Apa hubungan wanita ini dan Evan? Otakku masih belum menemukan titik terang pertanyaanku sendiri. Lalu, wanita di sampingnya sepertinya... sepertinya tak asing bagiku. Tapi aku juga tak tahu. Tanyaku makin banyak.
Aku melihat Evan agak samar dari balik tirai jendela. Aku tersenyum sendiri mengagumi segala tindak-tanduknya. Aku mendekatinya dari balik jendela, menyingkap tirai. Tak kupedulikan tiga lelaki yang ramai di belakangku. Kembali aku takjub. Pesona Evan  malam ini sungguh sempurna! Maskulin menonjol memukau! Kemeja dengan dua kancing atas terbuka merepresentasikan bidang tubuhnya. Kakiku hendak melangkah mendekatinya lebih dekat lagi tapi seketika terhenti. Seorang wanita berjalan menuju ke arahnya. Dari mana wanita itu berasal?
Wanita itu mendekatkan tubuhnya pada Evan yang baru saja menutup teleponnya. Semakin dekat, dekat, rapat, lekat! Wajah mereka saling mendekat, seolah ada daya magnet dari masing-masing pihak. Dekat, dekat, melekat dan akhirnya mencecap. Aku menutup mataku beberapa detik. Kubuka dan mereka masih menikmati itu. Hancur! Hatiku hancur! Lelah aku datang kemari penuh harap bisa merasakan kesenangan bertemu Evan, pemandangan laknat ini yang kutemui. Aku menarik diriku spontan tanpa kusadari di belakangku lelaki bernama Dion yang tadi membukakan pintu untukku. Aku terjatuh.
“Febri, kamu nggak apa?” serunya.
Aku menggeleng kuat. Ia membantuku berdiri.
“Febri!” suara Evan terdengar.
Evan menghampiriku bersama wanita itu. Ternyata wanita yang di foto dan kutabrak di café tempo hari.
“Kamu dari tadi?” tanya Evan.
Aku mengangguk.
“Maaf,” aku mengucap maaf begitu saja.
“Kenapa harus minta maaf?” tanya Evan.
“Aku tak sengaja melihat itu,” jawabku.
“Itu apa?” tanya Evan.
“Dia ngelihat kamu kissing sama Jane, Van!” sahut Dion.
“Oh, nggak masalah, Feb! Kita di sini sama-sama dewasa jadi bukan hal tabu lagi, kan?” tungkas Evan.
“Dia Febri yang kamu ceritakan itu?” tanya wanita bernama Jane itu.
Evan mengangguk. Jane mengulurkan tangan padaku dan mencium pipi kiri dan kananku.
“Evan sudah memerhatikanmu lama. Bodohnya dia baru menyapamu hari ini dan sekonyong-konyong mengundangmu ke sini. Ini trik dia menggoda wanita, Feb. Berhati-hatilah, Evan player,” ujar Jane. Aku tersenyum terpaksa mencoba membaur dengan suasana yang ada.  Di satu sisi aku sedikit terpana, Evan memerhatikanku? Lama? Artinya selama ini dia juga ada rasa padaku? Ah... senang!
Pesta berjalan sampai jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka semua teler. Hanya aku dan Evan yang masih sadar. Aku memang tak pernah sekalipun mengecap minuman beralkohol seumur hidupku. Aku juga tak suka baunya. Minuman memabukkan juga meninggalkan luka lama bagiku. Ayahku meregang nyawa setelah pesta miras di kampungku sana.
Aku dan Evan duduk di luar menikmati malam Surabaya. Langit malam itu cerah. Berlian-berlian seperti kata Rihanna berkelip indah di sana. Kami berdua duduk dekat tak ada sekat.
“Terima kasih sudah mau datang,” celetuk Evan.
“Sama-sama. Tapi maaf aku tak membawa apa-apa. Aku tak enak pada Jane,” sahutku.
“Tenang saja. Jane tak butuh itu. Dia itu hanya ingin orang-orang yang dia sayangi ada di sekitarnya setiap saat. Itu hadiah terindah baginya,”
“Lalu bagaimana kalau dia hidup di Amrik? Dia bakal sendiri,”
“Siapa bilang? Ibunya ada di sana, kok,”
Aku mengangguk. Suasana hening sejenak. Lalu ada pertanyaan mengusik pikiranku.
“Jane itu adikmu?” tanyaku. Evan mengangguk.
“Bukan adik kandung. Aku dan dia pernah terlibat hubungan asmara ketika masih SMA,”
Deg! Asmara? Tanyaku terjawab. Hatiku sakit lagi.
“Dulu. Tapi sekarang kami sudah seperti saudara sendiri. Dia adalah wanita terhebat dan terbaik yang pernah kutemui. Dia selalu ada saat aku benar-benar jatuh dan menggenggam tanganku agar tak lepas kontrol ketika bahagia. Super women,”
Cih! Di depanku dia memuji wanita lain. Lihat aku! Aku ada rasa untukmu! Aku mengomel spontan dalam hati.
“Hebat ya, dia...” pujiku terpaksa.
Evan diam lalu menatap erat dan tajam membuatku salah tingkah lagi dan lagi.
“Bagaimana denganmu, Nona?” tanyanya.
“Ak-ak-aku? Aku bukan super women,” sahutku terbata-bata.
“Jangan! Jangan jadi wanita super! Aku ingin dirimu adanya dirimu seperti ini,”
Aku mendengar desahan nafas Evan semakin dekat di hadapanku. Mataku tak bisa beralih dari tatapan matanya yang hanya beberapa inci dari mataku.
“Jane wanita super yang pernah kupunya tak bisa aku terima karena aku tak ingin didominasi. Aku... ingin... wanita... sepertimu,” lanjutnya lalu seolah bumi berhenti berputar beberapa detik. Rasanya sempurna. Ini bukan pertama kalinya aku berciuman tapi hanya ciuman Evan yang begitu hangat menyesap kuat, bukan semata nafsu liar.
Evan membopongku ke dalam. Kami tak peduli pada mereka yang sudah tergelepar tak jelas di sofa. Evan membawaku masuk ke kamarnya. Di dalam sana sebuah aktivitas dua insan sedang terlena terjadi dan kemudian sampai pada satu titik kami berdua tercengang! Rahasiaku terbongkar! Rahasia Evan!
"Kamu??!!" ucapku dan dia bersamaan saking kagetnya.
"Ya," ucapnya.
"Ya," sahutku.
Kami berdua masih memasang wajah tercengang.
"Ternyata kita sama saja," ujarnya.
"Aku sendiri tak menyangka," sahutku.
Kami mengambil jarak duduk dengan rileks di ranjang itu.
“Sungguh di luar dugaan. Hhh. Kamu wanita bertampang lelaki,” celetukku.
“Aku juga tak menyangka kamu lelaki. Hidup ini menakjubkan! Hehe,” tungkasnya.
Kami tergelak tawa akhirnya.
“Andai kata kita masih pada kodrat kita masing-masing, apakah kita merasakan seperti ini?” tanyaku tiba-tiba.
“Mungkin,”
“Kita akan berlanjut?” tanyaku.
“Tentu. Aku ingin kita berlanjut,”
“Berlanjut seperti apa?”
“Kita jalani saja. Kita berjalan sampai menemukan ujung,” ujar Evan mantab sembari menyorotkan tatapannya padaku, kali ini hangat. Ia memberikan senyuman terindahnya lagi.
“Aku mencintaimu siapapun dirimu,” tambahnya. Tangannya merengkuh kepalaku dan mengelusnya lembut. Tak nyana semenjak malam itu dia lelakiku sekaligus wanitaku, begitu pula sebaliknya.
@@@