Kamis, 14 Maret 2013

Nania, Ketidakwarasan Nia

Nia masih terpaku diam menatap sebuah foto yang terbingkai rapi terpajang di dinding kamarnya. Terlihat di sana, fotonya dan sahabatnya, Nania. Pikiran Nia melayang kembali ke masa lalu. Masa-masa indah bersama Nania tak akan terlupakan. Hanya Nania yang bisa menjaganya, mendengarkan semua keluh kesahnya tanpa protes dan bentakan tanda geregetan dengan sikap Nia yang selalu berputus asa, membantunya saat kesusahan, selalu membuat Nia tersenyum bahagia di kala benar-benar merasa jatuh dan sendirian. Sekalipun semua itu tak pernah maksimal. Nania memang bukan manusia sempurna seperti orang pada umumnya tapi jiwanya bak malaikat yang selalu dapat mendamaikan hati Nia. Sekalipun orang awam bicara Nania bukan gadis waras tapi bagi Nia, “ketidakwarasan” itulah yang menjadi keistimewaan Nania di hati Nia.
###
 “Ini buat kamu, Nania! Kamu suka kerupuk pedas ini, kan? Hehehe....,” kata Nia ketika menyambangi Nania di “rumah”nya.
“Iya!” sahut Nania cepat.
“Mau makan sekarang?” tanya Nia. Nania mengangguk cepat.
“Tapi... ssstttt...,” Nia belum selesai bicara, Nania menirukan gerakan Nia meletakkan jari telunjuknya di mulut. “jangan berisik. Biar ibu kepala dan mbak-mbak di sini nggak tahu kita makan ini. Oke?” Nia membuat kesepakatan dengan Nania. Nania menyambutnya dengan mantab.
Kemudian Nania melahapnya dengan senang hati. Sesudah itu, ia berekspresi kepedasan bukan main lalu membuka mulutnya lebar-lebar bak naga yang sedang menyemburkan api. Tawa riang pecah lalu keduanya saling membungkam mulut masing-masing memenuhi kesepakatan yang telah dibuat.
“Nania, tahu nggak? Hari ini aku ketemu sama cowok yang aku suka, loh! He-em. Tapi dia jalan bareng cewek lain. Dia bergandengan tangan begini sama cewek itu, gini..iya, begini. Mesraaa banget...Tapi, aku nggak sakit hati lagi kok! Kamu pernah bilang aku harus kuat! Aku nggak boleh cengeng,” kata Nia sambil berusaha menghibur diri. Tapi, Nania jauh lebih peka ketimbang Nia. Nania menyadari bahwa air mata hendak membasahi pipi Nia.
“Jangan nangis! Lihat!" Nania menunjuk seekor Beo dalam sangkar tak jauh dari mereka duduk. "Beo nggak  nangis! Beo nyanyi pelangi pelangi alangkah indahmu merah kuning hijau di langit yang biru.... ” suara Nania menyanyi.
            “Aku iri sama kamu Nania, kamu selalu seneng hidupnya walaupun kamu seperti ini. Kamu tak pernah punya beban dalam hidup. Sekalipun kamu dibuang oleh orangtuamu sejak kecil tapi sejatinya kamu tak akan pernah berpikir terlalu luas dan terlalu jauh sepertiku. Hidupmu bahagia dalam keterbatasan,” gumam Nia.
Sejenak Nia melamun memikirkan hidupnya yang dirasanya tak seberuntung Nania yang baru dikenalnya awal kuliah, tiga tahun lalu. Dalam hidup Nia merasa tak ada satu pun yang mengerti dia sekalipun orangtuanya. Orangtuanya selalu memaksa dia menjadi nomor satu, melarangnya pacaran, “mencetak” seorang Nia menjadi orang yang disiplin, kerja keras, pantang menyerah, perfeksionis, mengingat mereka bukan berasal dari orang kaya. Tapi, orangtuanya tak pernah melihat dari sisi Nia, bagaimana perasaan Nia sebenarnya. Dia tak pernah menyesali nilai-nilai yang ditanamkan oleh oran tuanya tapi dampak dari itu semua, Nia menjadi pribadi yang tertutup, takut melakukan kesalahan, tidak luwes berteman dengan lawan jenis, menganggap semua hal serius sekalipun itu hal sepele dan akhirnya Nia merasa ia menjadi manusia robot, tiada lelah bekerja padahal ia manusia yang punya keterbatasan dan ia stres! Dan saat ia merasakan itu, tak ada satu pun yang mau dijadikan tempat bersandar.
Nia terbangun dari lamunannya ketika Nania menyelipkan setangkai bunga di telinga kanan Nia.
“Cantik!” seru Nania.
“Ah, kamu bisa aja. Terima kasih, ya? Tapi, Edo nggak akan pernah mengatakan itu padaku dan menerima perasaanku...” kata Nia kembali bersedih.
“Nia cantik! Jangan sedih lagi,” sahut Nania menghibur.
###
 “Kamu ngapain pulang malem-malem lagi? Padahal tugas-tugas akhir kamu sudah selesai semua,” tanya ibunda Nia ketika Nia sampai rumah tepat pukul sepuluh malam.
“Dari panti Melati, Bu,” jawab Nia tak bersemangat.
“Kamu ngapain lagi ke sana? Kamu ketemu lagi sama orang ndak waras itu???” tuduh ibunya.
“Ibu, sudah berapa kali saya bilang, Nania itu nggak gila! Ibu ndak bisa baca, ya? Itu yayasan untuk orang-orang tuna daksa! Bukan rumah sakit jiwa!” balas Nia dengan suara lantang.
“Tapi tetap saja dia nggak bisa berpikir normal kayak kita!” sahut ibunya.
“Ibu, tolong, saya ini sudah hampir lulus dari kuliah ini, tapi kenapa sih, ibu ndak sedikitpun mau memahami apa yang saya lakukan?”
“Karena ibu dan ayah ndak pernah merestui kamu di jurusan nggak jelas begitu! Apa untungnya? Mau jadi apa kamu jadi sarjana sepikologi??!!”
“Psikologi, Bu,” Nia membenarkan pelafalan ibunya.
“Apapun itu! Ngapain pula berurusan dengan orang-orang aneh seperti mereka??!!”
“Sudahlah, Bu, saya capek meributkan hal-hal itu saja sama ibu. Ibu boleh tidak memaafkan saya tapi tolong Ibu rubah mind set Ibu tentang Nania. Dia hanya keterbelakangan mental bukan gila!” tegas Nia segera pergi ke kamarnya.
Nania dongkol lagi dalam hati. Entah apa yang ada di pikiran kedua orangtuanya dan apa yang membuat hati mereka begitu kokoh tak terpatahkan untuk memandang remeh apa yang dilakukan Nania. Ada apa dengan ilmu psikologi? Ada apa bila Nia bergaul dengan mereka yang memiliki keterbelakangan mental dan bahkan gangguan jiwa? Kenapa orangtua Nia begitu tidak meridhoi anaknya berhubungan dengan itu semua. Nia menghanyutkan tubuhnya di kasur dan menangis sejadi-jadinya. Hidupnya sial! Orangtua otoriter, tak pernah disukai lawan jenis, persahabatan yang penuh dusta, tak pernah ada yang beres dalam hidupnya. Kemudian terlintas pikiran gila di otak Nia. Bunuh diri. Ah, tapi tidak, sekalipun ia marah pada orangtuanya tapi ia masih ingin membahagiakan orangtuanya. Lari ke narkoba? Ah, apa kata orang nanti?
“Niatku adalah mengabdikan hidupku untuk kebaikan membantu sesama yang mungkin merasakan hal yang sama denganku. Menjadikan diriku sendiri sebagai contoh yang bisa survive dalam semua masalah yang menempaku, seberat apapun itu. Aku harus survive. Seperti Nania dan kawan-kawan yang lain itu. Mereka mampu melewati kepahitan yang terjadi dalam hidup mereka. Dan aku yang lebih dari mereka harus lebih bisa berpikir sehat,” gumam Nia sambil menyeka air matanya.
###
Nia baru selesai kuliah dan hendak pergi makan siang bersama teman-temannya tapi tiba-tiba telepon dari panti Melati memberitahukan bahwa Nania kecelakaan parah dan dibawa ke rumah sakit dekat kampus Nia. Spontan Nia cemas dan bergegas ke rumah sakit. Tapi di tengah jalan ia bertemu Edo dan Edo “menghadangnya” sebentar.
“Nia, bisa bicara sebentar?”
“Kenapa? Cepetan!”
“Kita ketemu Sabtu besok di taman kota, ya? Ada yang pengen aku omongin ke kamu,”
“Oke, aku bisa dateng. Duluan ya, urgent, nih!” kata Nia sambil buru-buru lari sedang Edo nampak bingung sendiri.
Sesampainya di rumah sakit dengan jalan kaki, Nia segera menuju ruang operasi di mana Nania berada. Di sana ia menemui ketua yayasan yang memang selama ini juga dekat dengan Nania dan menyayangi Nania.
“Gimana Nania, Bu?” tanya Nia khawatir.
“Masih dioperasi, Nia,” jawab ibu itu.
Setelah beberapa waktu menunggu akhirnya dokter keluar dengan raut wajah murung.
“Nania gimana, Dok?? Selamat kan, Dok? Dokter, gimana Nania?” tanya Nia beruntun.
“Maaf, saudara Nania....” kata dokter itu terhenti sejenak.
“Kenapa, Dok?” tanya ibu ketua yayasan tak kalah khawatir.
“Saudara Nania tak tertolong. Kami sudah berusaha keras tapi pendarahan di kepalanya sungguh parah. Kami mohon maaf,” lanjut si Dokter sambil beranjak pergi.
Nia dan Ibu ketua yayasan yang merangkap sebagai kepala sekolah shock berat. Nia segera masuk ruang operasi dan memeluk Nania yang sudah terkapar tak bernyawa itu. Rasanya benar-benar sulit diterima, “malaikat”nya pergi tanpa pamit sebegitu mendadaknya. Nia belum siap kehilangan orang kepercayaannya dan yang paling disayanginya itu. Nia kemudian pingsan untuk beberapa waktu. Bahkan sampai proses pemakaman Nania, Nia masih sering jatuh bangun pingsan. Nia juga sempat menunggui pusara Nania hingga hari hampir menjelang senja setelah Nania dikebumikan. Hingga beberapa hari setelahnya Nania masih menutup diri untuk hal-hal berkaitan dengan Nania.
###
Dua minggu berlalu Nia menyambangi panti Melati, tempat di mana banyak kenangan dengan sahabatnya terekam indah. Sesampainya di sana, ibu ketua yayasan memberikan secarik kertas pada Nia. Kertas itu ternyata bergambar orang-orang yang dinamai pada masing-masing orang: Nia, Nania, keluarga Nia dan Edo dengan ekspresi wajah bahagia. Mungkin itu adalah doa Nania selama ini untuk dirinya. Tak terasa Nia meneteskan air mata. Kehilangan Nania seolah-olah kehilangan separuh jiwa. Sekalipun Nania tak sesempurna dirinya tapi Nania punya hati yang bersih, tak pernah berburuk sangka dan jahat pada orang lain. Dan Nia kembali merenung, tak lagi ada yang mengerti dia, sementara orangtuanya tetap sama tak pernah berubah. Dan Edo ternyata hanya ingin menegaskan bahwa di antara mereka hanya teman dan tak akan pernah terjalin cinta kasih karena di mata Edo, Nania tak ubahnya pungguk merindukan rembulan. Bagi Nia, semenjak kematian Nania, semua orang semakin kejam dan memuakkan!
...
“Biarkan aku dengan ketidakwarasanku yang menganggap semua orang kejam karena bagiku semua begitu adanya! Hanya dengan ketidakwarasanku ini, aku bisa berkhayal bertemu dengan Nania kembali, bercengkerama dengannya dan menghapus semua kepedihan. Jangan sadarkan aku dari ketidakwarasan ini karena kalian pun tak akan pernah mau mengerti diriku. Jadi, buat apa aku mewaraskan diriku? Percuma!” batin Nia dalam hati sambil memeluk foto kenangan saat ia dan Nania berfoto bersama di salah satu sudut taman panti Melati.
-selesai-


*Ditulis ulang untuk event Moment to Remember 2013 dengan tema "friendship"

Senin, 11 Maret 2013

Ibu-Ayah cuman bilang...

Usiaku nyaris 23 tahun, entah aku bisa melampaui 23 tahun atau tidak, wallahi... 
Aku merasa belum dapat melakukan apapun untuk orang terkasih. Jelas, pasti, orangtua dan kedua adikku.
Tapi aku sering mendengar wejangan dari orangtua
Ayah bilang meski kita tidak kaya harta, kita harus kaya iman, islam, ikhsan dan jangan melakukan tindak kriminal
Ayah bilang menjadi wanita jangan agresif karena tidak ada harganya di mata lelaki
Ayah bilang berbaut baiklah karena siapa tahu anak-cucuku kita juga diperlakukan baik, walau bukan pada kita langsung
Ayah bilang wanita tidak boleh kasar dan kaku
Ayah bilang wanita harus pintar memasak
Ayah bilang kalau makan tidak boleh disangga
Ayah bilang kalau sudah malam nggak boleh nyapu
Ayah bilang nggak boleh berdiri di depan pintu
Ayah bilang kalau aku mapan aku disuruh rendah hati membangun sebuah musholla dan panti asuhan kalau perlu lembaga pendidikan
Ayah bilang jangan berhenti berdzikir dalam hati
Ayah suruh aku jangan meninggalkan ibadah wajib
Ayah suruh aku berhijab dengan baik
Ayah bilang dalam setiap doanya supaya hidupku sejahtera dunia-akhirat.
Itulah ayahku... ayah bilang...
Lalu ibu...
Ibu bilang aku harus mengenyam pendidikan tinggi walaupun biayanya harus utang sana-sini
Ibu bilang aku harus sabar dan kuat menghadapi cobaan
Ibu bilang aku tak boleh suka mengeluh
Ibu bilang aku harus berniat dan konsisten berdiet
Ibu bilang untuk sabar nunggu uang kiriman
Ibu bilang akan membelikan aku apa yang kuperlukan kalau ayah sudah punya rezeki
Ibu bilang ia bercita-cita anaknya bisa sukses dan mapan barokah dunia-akhirat
Ibu bilang ia tak pernah memaksakan kehendaknya padaku dan dua adik laki-lakiku
Ibu bilang aku tak usah iri pada mereka yang berlebih
Ibu bilang aku tak cantik tapi aku harus punya inner beauty
Ibu bilang dia ingin menantu yang sholeh, mapan dan bertanggungjawab
Ibu bilang semuanya... bahkan terdengar olehku ketika kami sholat berjamaah, aku ada di setiap doa’nya.
Itulah yang ibuku bilang...

semua itu sering kudengar selama 23 tahun -pas bayi mungkin aku juga menyaringnya di otakku- 
berusaha kuresapi dan kuamalkan tapi sementara ini aku masih bebal cuman bisa bilang ya itulah yang ibu dan ayahku bilang

Dia dan Sketsa Rupaku


Dia dan Sketsa Rupaku

Aku menyamankan diri duduk di sofa kesukaanku. Sofa ternyaman yang pernah kurasakan dari sekian banyak yang pernah kududuki dimanapun ia berada. Café di penghujung jalan protokol kota kecil bernama Pare, hanya sejam dari pusat Kerajaan Kediri -dulunya-, memang menawarkan kenyamanan dengan budget sesuai kantong para pemuda kota kecil ini. Bukan level premium tapi apapun yang ada di café ini membuat customernya terpuaskan. Pelayanan, menu-menunya, fasilitasnya. Yah, itu alasan mengapa aku sering menghabiskan waktu ketika sejenak menghibernasikan diri dari rutinitas kota yang bermaskot ikan Hiu dan Buaya itu.
Well, aku memanjakan diriku di café itu. Menyeruput kopi lalu kue lalu entah jajanan apapun yang ada di sana. Sendiri. Di suatu sudut. Kemudian mengamati tindak-tanduk segala yang bergerak di sekelilingku. Kemudian otak mengolah informasi itu lalu menarik kesimpulan berdasarkan persepsiku sendiri. Puas! Senang! Kebiasaan ini sudah lama, delapan tahun lalu. Waktu itu duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku mulai senang mengamati sekelilingku untuk konsumsi pribadiku sendiri. Segala keindahan, keburukan dan apapun itu aku simpan dalam memoriku sendiri. Tak nyana itu memberikan kepuasan tersendiri. Hidup ini nikmat bisa menjalani kesendirian yang berkualitas.
Ternyata sudah sebulan aku tak pernah mengunjungi café ini. Padahal sebelum sebulan kemarin, tiap minggu –aku pulang kampung setiap hari Sabtu dan Minggu- aku menikmati kesendirianku di sini. Rasa senang dan puasku bukan hanya soal kepuasan tentang kesendirian menjadi penikmat sekeliling tapi juga karena sekarang aku bisa menghambur-hamburkan uangku sendiri, hasil kerja kerasku sendiri. Dulu, mana bisa kulakukan ini?
Sebulan berlalu aku rindu. Emm... rindu kenikmatan kesendirian dan alasan lain adalah kegiatan observasiku sudah dua bulan sebelum vakum sebulan kemarin, “parkir” lama pada sebuah “pemandangan”. Di sana ada objek seorang lelaki dengan kaca matanya, pensilnya, kertas-kertasnya, cangkir kopi, piring kecil berisi kue dan senyuman yang ia lempar kepada siapapun yang menyapanya. Bahkan ia nampak sangat akrab dengan pelayan café ini. Pelanggan setia mungkin -pikirku-. Dan kali ini aku menikmati pemandangan itu. Aihh... wajahnya teduh. Mungkin dia tipe good boy.
Sejam berlalu. Dia masih asyik menggores belasan kertas putih polos sejak sejam lalu di tempat itu. Seolah merasa paling aman untuk meleburkan diri ke dalam dunia yang mungkin hanya dia yang paham. Aku tahu dari kejauhan apa yang ia lakukan. Mewujudkan imajinya dalam goresan pensil. Ia seolah hidup bersama yang digambarnya itu dan tak banyak bicara dengan sekelilingnya. Hanya senyum jika ada orang menyapa. Hal ini membuat tak sedikit yang berkasak-kusuk di belakangnya –entah bicara apa- tapi aku mencoba memastikan mungkin terkait kebiasaannya yang seolah tenggelam sendiri dalam dunianya, tak banyak berinteraksi dengan orang lain. Hampir nyaris dikira alien. Sangat pendiam. Tak banyak tingkah. Ya, itu tadi, hanya senyuman –kalau ada yang menyapa-. Selebihnya ia serius mengonstruksi gambar-gambarnya itu.
Heran melintas di otakku. Mengapa ada orang sedemikian hanyut dalam dunianya sendiri tanpa takut dicecar orang lain dianggap sombong sampai dituding makhluk luar angksa yang nyasar ke bumi. Ia cuek. Sedemikian cuek apa kata orang yang “rutin” berkasak-kusuk di belakangnya tapi bermuka manis di depannya. Lalu aku bercermin pada diriku sendiri. Aku? Tipe orang yang sering tak pede, sering memedulikan omongan orang yang terkadang tak penting sampai membuat semua urat syaraf sekujur tubuhku kaku bukan main. Hormon-hormon pemicu kecemasan meningkat. Dan syaraf motorik atas perintah otak melakukan segala tindakan yang dapat “membungkam” mulut orang lain. membuktikan bahwa aku tak seperti yang mereka katakan. Tapi hidupku tak nyaman, tak tenang, tak senang, tak damai. Hidupku untuk menyenangkan orang lain. Kukira bagus karena aku bisa diterima mereka tapi mereka senang aku sengsara. Lalu, dia... ada apakah dalam sistem organ tubuhnya yang membuat dirinya tak ambil pusing apa kata orang? Tuhan memberinya “kelebihan” apa? Apakah dia wujud malaikat? Mana mungkin? Malaikat di zaman sekarang mana mungkin ada? Kalaupun ada bisa dirancu dengan wujud iblis yang suka menggoda anak cucu Adam dan Hawa.
Seorang pelayan menghampirinya. Aku tak tahu pasti isi pembicaraan mereka. Atau sudah pasti hanya perihal pesan menu saja.
“Ssstt, itu, tuh, yang di pojok sana! Sumpah ganteng mampus!” celetuk salah seorang cewek yang duduk di seberangku. Aku melirik. Segera kumemicingkan mata.
Lagi. Cewek (sok) metropolis dengan make up menor, cleavage yang nunjukin tonjolan dadanya, rok supermini yang nampaknya pantes untuk anak TK murid tetanggaku di rumah. Ah... glamor yang dipaksakan! Korban kapitalisme yang beredar. Uppss... tapi bisa jadi dia lebih-lebih ketimbang diriku. Lebih cerdas ketimbang aku kali. Entah. Segera kutepis kebiasaanku yang –tak sengaja- meremehkan orang lain.
Kuamati cewek (sok) metropolis itu dan kawanannya. Pengamatanku jitu. Tak salah aku menasbihkan diri sebagai observer yang handal. Itu juga diakui dosen pembimbing skripsiku ketika aku melakukan observasi terhadap pasien skizofrenia. Yah, dibanding dengan kawan lain yang masih strata satu, kemampuan observasiku lebih dibandingkan mereka. Berbanggalah aku. Kemudian, beberapa detik kemudian aku sudah dapat memastikan kawanan cewek (sok) metropolis itu sedang bergosip ria tentang “DIA”. Ya, dia yang sedari tadi asyik menggambar dan sesekali membenarkan kaca matanya, sesekali menyeruput kopi, dan sesekali melahap kue di depannya.
“Mau dong ya, gue jadi bininya. Hahaha...” ujar salah seorang dari kawanan cewek-cewek tadi. Aku mendengarkan dengan seksama. Selain aku punya mata yang jeli, aku juga punya pendengaran yang tajam.
Heran, di kota kecil dipaksakan bicara “elo” dan “gue” tapi medoknya minta ampun. Aku cuman ingin tertawa sejadi-jadinya. Terdengar konyol nona-nona (sok) metropolis!!! Huh!
Heemmm, tapi memang secara fisik, dia adalah “ukiran” Tuhan yang termasuk perfecto. Rambutnya lurus lembut nampaknya, cepak. Jidatnya lebar menandakan dia cerdas –kata orang zaman dulu-, hidungnya mancung –sangat disarankan untuk calon pasangannya yang pesek supaya mengalami perbaikan keturunan-, garis wajahnya kuat dan tegas, sedikit berjambang tapi kulitnya bersih, postur tubuh tegap sempurna. Sayang aku tak pernah mendengar suaranya. Seksikah? Soalnya David Beckham yang tampan itu menurutku suaranya tak begitu seksi seperti bodinya.
Aku sibuk dengan pikiranku sendiri diiringi suara berisik cewek-cewek tadi yang sekarang sudah beralih topik tapi sesekali mereka masih membahas “DIA”. Lalu aku memecah keheninganku sendiri. Aku menoleh ke arahnya. Dia membereskan kertas-kertas berserakan di mejanya dan semuanya ia rapikan. Ia meraih tasnya dan memasukkan perlengkapannya ke dalam tas. Ah, dia beranjak pergi. Sebal. Rinduku belum terpuaskan. Sorot mataku terus mengikutinya sampai tak terlihat lagi satu senti pun bagian tubuhnya. Kecewa.
Jam kuno yang berdiri elegan di samping kasir memberikan tanda dentangan keras menunjukkan pukul empat sore. Belum waktunya pulang. Biasanya aku pulang menjelang maghrib. Kumanfaatkan wifi café untuk mengecek e-mailku. Sudah ada tugas untuk Senin. Kepalaku berat mendadak.
Please... rileks... aku bisa melakukannya tanpa buang waktu sia-sia dan mengambil lagi kedamaianku seperti ini minggu depan. Rileks... rileks... rileks.
Aku melakukan self talk, meyakinkan diri sendiri. Memang susah tapi aku sudah mencoba melakukannya hampir dua tahun terakhir setelah gangguan obsesif kompulsifku “berulah”. Delapan puluh persen berhasil, tentunya dibantu dengan pengubahan pola pikir irasional menjadi rasional.
“Selamat sore, Mbak, ini pesanan Mbak tadi dan satu lagi ini ada titipan untuk Mbak,” suara pelayan café mengalihkan perhatianku sambil ia menyodorkan sekotak kue dan sebuah map.
Aku tersenyum dan berterima kasih padanya.
Map. Kukira tagihan yang harus kubayar, ternyata bukan. Justru kertas bergambar. Mulanya tak kumengerti maksud gambar itu. Wanita? Seharusnya gambar lelaki rupawan yang disodorkan padaku. Aku diam. Aku tak tahu maksud si empunya mengirim ini padaku. Ternyata, gambar itu tak hanya satu. Ada dua. Tiga. Yap, tiga lembar kertas bergambar. Aku membolak-balik ketiganya. Masih tak paham apapun. Tapi... wait... hidung agak besar tak mancung itu seperti milikku. Tiga tahi lalat tak menonjol yang membentuk garis lengkung beberapa senti di bawah mata kiri itu persis punyaku. Rambut lurus mengembang sebahu itu aku juga punya. Senyumku merekah segera. Itu aku! Ada seseorang yang diam-diam membuatnya untukku. Hmmm, aku punya pengagum rahasia. Atau mungkin saja wajahku terlalu eksotis untuk dilukis –penilaian pribadiku tanpa dasar kuat-. Aku tertawa keras di dalam hati. Aku terus mengamati lekat-lekat rupaku itu. Terima kasih menggambarku.
Senja segera menjemput malam, meninggalkan matahari berganti menerangi belahan bumi lainnya. Aku beranjak dari sofa biru tosca itu. Waktunya pulang. Aku membawa gambar-gambarku itu ke dalam tas. Akan aku simpan bahkan aku ingin mempostingnya ke blogku. Memakainya untuk profil picture akun jejaring sosialku. Well,  aku senang hari ini.
Aku telah melewati pintu café itu lalu mencoba menelpon adikku yang siapa tahu bisa menjemputku. Angin senja itu berhembus begitu kencang menyibak apapun yang bisa tersibak karena massanya yang lebih ringan ketimbang angin itu sendiri. Kemudian fokus mataku jatuh pada satu titik di seberang jalan sana. Aku kembali mendapati sosok dia. Berbincang dengan seseorang. Tapi ada keanehan. Dia menggerakkan kedua tangannya sebagai tanda isyarat. Siapa yang aneh? Dirinya atau orang yang bicara dengannya? Oh, ya dia sendiri susah untuk menyampaikan pesan pada lawan bicaranya dengan gerakan isyarat karena lengan kirinya mengapit sebuah map. Orang itu pergi dan dia hendak beranjak dari pandanganku. Ia membenarkan posisi kaca matanya dan membenarkan mapnya. Tapi agak sial, angin kembali ekstrim menarik kertas-kertas di dalam map itu bertebaran ke sana kemari. Gerak refleksku mengarah padanya. Membantunya memunguti kertas-kertas itu. Satu. Dua. Tiga. Sketsa arsitektur bangunan. Empat. Lima. Enam. Sketsa arsitektur gedung kuno ala romawi. Tujuh. Sketsa wanita ber-head phone, tangan memegang cangkir, mulut berpelepotan kue. Apik. Aku terpaku sampai akhirnya ia memecahkan lamunanku. Aku menyodorkan kumpulan sketsa itu padanya.
“Maaf,” ujarku. “Gambarnya bagus,” lanjutku tersenyum. Kecepatan degup jantungku bertambah. Grogi berbicara dengannya.
“The-rhi-mha-kha-sih,” balasnya. Aku kaget. Pelafalannya tak jelas. Aku berusaha mengatur ekspresi wajahku agar tak menyiratkan raut tak mengenakkan.
Ia tersenyum lalu menyodorkan gambar terakhir yang sukses membuatku terpaku tadi. Aku tak yakin itu aku tapi...
“Ih-nhi-un-thuk-kha-mhu. She-mho-gha-shu-kha,” ucapnya sambil menggerakkan kedua tangannya. Otakku langsung memberikan sinyal agar segera menarik kesimpulan. Dia unik. Aku tak suka menyebut kekurangan orang lain dengan kata “keterbatasan”.
“Untukku? Wah, terima kasih banyak,” sahutku tersenyum bangga. “Kalau begitu ini juga darimu?” tanyaku sambil mengambil kertas bergambar yang kudapatkan dari pelayan café tadi. Ia nampak tersipu malu. Ia mengangguk.
“Kalau boleh narsis sih, ini gambarku bukan?” tanyaku percaya diri. Ia mengangguk tersenyum.
“Semuanya untukku?”
“Shim-phan-bha-ikh-bha-ikh, yha?” pintanya.
“Tentu saja. Akan kusimpan baik-baik. Oh, ya, aku boleh tahu siapa namamu?” tanyaku.
Ia menunjukkan nama di sudut kertas bergambarnya. Reyhan.
“Oh, Reyhan. Lala,” ujarku.
“Ah-khu-pher-ghi-dhu-lu, yha,”
“Oh, iya. Ehm, betewe, kapan bisa bertemu lagi?” tanyaku super pede.
Dia hanya tersenyum lalu pergi. Aku masih terpaku. Tak ingin kehilangan kesempatan memperhatikannya lagi walau hanya punggungnya saja. Sampai ia hilang dari pandangan. Jauh. Hilang. Sedikit kecewa, kenapa dia tak menjawab. Tapi akan kutunggu. Siapa tahu minggu depan bisa bertemu lagi. Aku bahagia dengan sketsa rupaku yang dibuatnya. Dan aku menyukai sang creatornya. Cerita selanjutnya mungkin akan berlanjut.
JJJ


Sabtu, 02 Maret 2013

Layang-layang, Pesan Rindu Kutitipkan



Sudut Rindu - Desember, 2012
Ah... lelaki itu... delapan tahun terakhir selalu hadir dalam mimpiku, selalu ada dalam do’aku, selalu kuucapkan harapan tentangnya. Sederhana saja, aku ingin bertemu dan melepas rindu. Aku tak berani lebih dari itu. Perbedaan kami jauh. Jauh sekali. Dia salib, aku bintang dan bulan. Dia engkoh, aku mbah kakung. Dia bermerek, aku ala kadarnya. Dia banyak kata, aku lebih suka diam. Dan mungkin banyak hal dari kami yang berbeda. Tapi, perasaan ini begitu manis walaupun aku sendiri yang merasakan. Manis meski terkadang terlalu pahit karena dinding di antara kami menjulang tinggi. Untuknya yang “berenang-renang” di bawah sadarku, kutitipkan rindu melalui layang-layang terbang diterpa hembusan sang bayu. Terimalah salam rinduku.
***
Namanya Robbi, lelaki bermata sipit sedikit tambun dari kalangan superior di sekolah ini. Orangtuanya donatur setiap ada acara di sekolah negeri favorit tempatku bersekolah. Aku masih ingat dulu semasa SMP di sekolah yang sama dengannya, mataku sering tertuju padanya –tanpa sengaja- dan aku memandang benci. Bingung. Entah mengapa.
Kelas sepuluh tujuh. Di sana aku mengenal Robbi dan entah sial, entah untung, aku duduk tepat di seberang samping kanan bangkungnya. Dan kelas kami jarang melakukan rotasi tempat duduk karena kami susah diatur juga aslinya. Hahaha. Interaksi berjalan secara alami.
Beberapa bulan berlalu kami bersama-sama dalam kemajemukan. Aku, Robbi dan 41 siswa lainnya. Sayangnya kami kurang kompak tapi tidak ada kesengitan di antara kami. Hanya segelintir orang saja dan itu jelas siapa biangnya. Biang keroknya jelas “kalangan” superior. Jelas. Robbi. Masalahnya: rebutan wanita!
Robbi menaruh hati pada wanita pribumi berotak cerdas, berparas ayu, bersahaja. Teman sebangkunya, tepatnya sahabatnya sendiri juga tertarik pada wanita itu. Persaingan sengit terjadi sampai mereka “terpecah”. Banyak yang melerai mereka. Mereka pun akur kembali tapi tak serekat sebelumnya. Robbi punya teman dekat baru. Panggil dia Dewa, keturunan Batak-Jawa. Superstar kelasku dan ke depannya dia memang superstar selama di sekolah. Pebasket, anak band, tampan dan manis, postur tubuh jelas oke untuk superstar lokal sepertinya. Lokal karena masih kalangan pelajar di sekolah kami dan sekolah tetangga kami. Dialah Dewa, titik start api asmaraku yang menggebu lalu redup dan kembali membara pada Robbi berada.
***
 “Eciieee... Dewa, Dewi... pasangan baru, coy! Pasangan baru!” seru Robbi suatu siang setelah pelajaran olah raga usai, ketika semua siswa sepuluh tujuh lengkap leyeh-leyeh di dalam kelas.
Aku dan Dewa saling berpandangan lalu menautkan kedua alis masing-masing. Kami menghentikan diskusi kami tentang Matematika logaritma. Iya, Matematika adalah pelajaran paling kubenci sejak SMP. Semakin tinggi sekolahnya, materinya semakin sulit dan aku sebal. Dan Dewa benar-benar menjadi “dewa penyelamat”. Matematika “takluk” kepadanya.
“Wah, wah, opo ae seh, Bi??” ucap Dewa. Aku hanya manyun. Dan seisi kelas sudah sigap menyeru juga, menggoda kami.
Rasanya? Emm... aku suka sekali. Dewa siswa tampan dan cerdas, siapa yang tak suka. Penampilannya juga tak jelek-jelek amat walaupun tak semenarik Robbi yang apapun melekat di dirinya adalah barang bermerek mahal dan terkenal. Entah perasaan Dewa. Tapi, pada akhirnya aku tahu bahwa Dewa menjauhiku setelah penjodohan tanpa alasan jelas oleh Robbi. Tapi itu tak membuat Robbi berhenti usil menjodoh-jodohkan aku dan Dewa. Aku menikmati bahkan akhirnya aku sering berinteraksi dengannya untuk bicara soal Dewa.
Robbi bercerita lepas tentang asmaranya dengan adik kelas. Sesekali dia menggodaku tentang Dewa. Berandai-andai tentang aku dan Dewa. Yah, semuanya menyenangkan. Aku merasa suka pada Dewa tak peduli dia juga suka padaku atau tidak, di sisi lain aku suka mendengar suara Robbi di telpon dan bertemu di sekolah. Bahkan aku pernah melakukan suatu hal cuma-cuma untuknya.
“Tolong dong, bantuin tugas Bimbingan Konselingku. Masa’ gara-gara telat kemarin aku disuruh ngrangkum sebuku gini? Lima ratus halaman!” kata Robbi suatu siang saat istirahat.
“Yee... yang punya tugas siapa?!”
“Tolongin dong! Aku bilangin Dewa lho, ya, kamu jahat sama temennya,” godanya.
 “Bilangin aja sono!” tungkasku.
“Oke, fifty-fifty, ya? Please... bantuin aku, ya, Wi? Banyak banget lho,”
Robbi setengah memaksa. Aku menggeleng sambil menyantap pentol kesukaanku.
“Ayo ta lah! Njaluk tulung. Mosok ndak isa, to?” Logat khasnya sebagai suku peranakan di bumi Jawa bagian timur keluar.
Aku berubah pikiran. Kulirik dia.
“Imbalannya?” tanyaku.
“Gampang nanti ae,”
Siapa tahu aku bisa mengeruk informasi tentang Dewa, aku mulai tertarik. Dewa atau Robbi sendiri? Entah.
***
Waktu lama berlalu. Aku mulai “gila”. Bagaimana tidak, setiap hari di otakku hanya Robbi, Robbi dan Robbi. Dewa kuabaikan. Robbi adalah “candu” baru untukku. Aku ingin dengar suaranya. Aku ingin menatap wajahnya setiap hari. Bahkan aku selalu bertanya pada mereka-mereka yang menurutku berpengalaman soal cinta tentang “kasusku” dengan Robbi. Lalu, satu statement yang membuatku senang bukan main. Bisa jadi, Robbi menyukaiku karena tiba-tiba saja mencari perhatianku dengan menjodoh-jodohkan aku dengan kawannya sendiri. Percaya tak percaya. Lebih besar tak percayanya. Aku sadar kami bagai langit dan bumi.
Robbi, kata orang culas, congkak, borju, bermulut pedas, merendahkan orang lain, oportunis. Beberapa di antara itu ada benarnya. Buktinya aku, dimanfaatkan mengerjakan tugasnya. Bukan cuman lima puluh persen, delapan puluh persen! Bodohnya, tak kuminta imbalanku. Membuatku “tinggi” tentang Dewa padahal faktanya Dewa justru mengabaikanku tanpa ampun. Tapi, di sisi lain... Robbi tak pernah menolak menerima telpon dariku. Bahkan dia bercerita panjang lebar tentang dirinya, tidak semua tapi seputar asmaranya. Bicara panjang kali lebar dengannya di telpon saja membuatku bahagia. Sikapnya juga tak lagi congkak padaku. Ramah. Lalu sempat membuatku terpaku ketika sepasang bola matanya menatapku  tajam di sebuah lorong kelas. Dia terdiam, aku terpaku. Lebih dari tiga detik kami bertatapan. Itu benar terjadi persis di film-film romansa. Tapi, aku tak tahu apakah adegan itu adegan romantis bertemunya dua pasang bola mata lalu terpaut hati masing-masing. Aku sendiri tak dapat mengartikannya. Aku juga masih terus bertanya-tanya pada hari-hari berikutnya, “Robbi, sukakah kamu padaku?”. Semenjak itu aku sendiri jadi linglung. Apa pesonanya? Mungkin satu, kekurangannya di mata orang lain adalah pesona bagiku. Gila. Seiring dengan itu aku hanya mau tahu satu hal: Robbi, aku menyukaimu.
***
 “Tarik lalu ulur. Ulur lalu tarik. Begitu terus, Wi!” kata Bastian, teman sekantorku berdarah Catalonia sedikit lantang. Karena hembusan angin begitu kuat sehingga berbicara lirih tidak ampuh untuk berkomunikasi dengan orang lain. Ia paham aku belum lihai bermain layangan.
“Berat, Yan! Nggak bisa! Eh, eh... jatuh, jatuh. Mau jatuh. Ini, nih!” seruku sambil segera kuberikan pada Bastian kembali.
“Kamu belum terbiasa, Wi. Nanti kalau terbiasa, seru,” tungkasnya.
“Oke, Guru! Gila ya, kayak anak pribumi kamu,” kataku.
“I’m Indonesian too, Dewi. Mami Suroboyo, papa Catalon. Lahir di Kute, besar di Spanyolaaa, hahaha...” kelakar Bastian sambil berubah-ubah logat bahasa. Aku tertawa terpingkal-pingkal. Dia memang punya daya humor tinggi. Tak konyol, jadi wibawanya dan ketampanannya tak luntur.
Aku minggir sejenak. Kubiarkan Bastian asyik dengan yang lain dan layang-layangnya. Aku duduk di sebuah gubuk kecil tak jauh dari bibir pantai. Kuraih tasku untuk melihat ponselku. Siapa tahu ada pesan atau telpon penting masuk.
Belum kutemukan ponselku, fokusku jatuh pada secarik kertas. Kertas itu aku “curi” dari dinding pengumuman di sebuah universitas terkemuka di Jakarta setelah aku melakukan pekerjaanku di biro konsultasi psikologi di sana. Kertas itu bisa menjadi sebuah “jembatan” untukku kembali ke masa lalu, delapan tahun lalu. Aku bisa bertemu dengannya lagi. Melepas kerinduan. Tapi, jika memang Tuhan mengizinkan aku bertemu dengannya lagi, apa yang akan aku perbuat? Aku tak mungkin memeluknya. Lalu aku mengambil bolpoin dari dalam tasku. Aku tuliskan rinduku yang tak pernah terucap dengan lisan tepat di balik secarik kertas pengumuman tentang seminar motivasi dengan pembicara Robbi Pratama Tjandra.
Sudah sewindu berlalu. Terhitung sewindu aku menyukaimu. Tapi ketika aku sadar, kamu “menjauh” walau raga tetap bisa bertemu. Tapi kemudian kamu makin “menjauh” lalu “lenyap”. Tiada suara, tiada raga tapi rasaku makin bertumbuh. Sekarang aku rindu. Kamu tahu? Kamu rasa? Hai, lelaki sipit yang kutahu di profil picture-mu sekarang kamu mengurus, jelek. Aku suka kamu yang chubby. Terimalah pesan rinduku ini. Aku rindu.
Aku melipat surat itu menjadi dua. Aku menghampiri Bastian dan meminta Bastian menurunkan layangannya.
“Bastian, titip surat ini ke angkasa, ya?” kataku sambil menempelkan surat itu di permukaan layang-layang Bastian.
“For what?”
“Surat cinta,” kataku tersenyum.
“Kenapa kamu tak membuat perahu kertas seperti Kugy atau  surat kaleng dan lempar jauh-jauh ke tengah samudra sekalian?” tanya Bastian.
“Angkasa lebih luas ketimbang samudra. Aku ingin rinduku menggema seisi jagat raya, bukan hanya melampaui bumi ini,”
“Yah... kamu selalu suka berpuitis ria, Dewi. Semoga rindumu tersampaikan untuk pangeranmu,” kata Bastian memberi semangat.
“Kamu siap, Bastian? Kali ini aku butuh bantuanmu. Terbangkan layang-layang setinggi mungkin!” pintaku.
 “UYEEEAAAHHHHH!!!” teriaknya dan layang-layang itu terbang tinggi. Tinggiiii sekali.
Dalam hatiku berkata,”Tuhan, walaupun kami berbeda, bahagiakan Robbi dan katakan aku rindu. Sungguh. Kau lebih tahu dariku, Tuhan. Aku rindu.”
***