Senin, 11 Maret 2013

Dia dan Sketsa Rupaku


Dia dan Sketsa Rupaku

Aku menyamankan diri duduk di sofa kesukaanku. Sofa ternyaman yang pernah kurasakan dari sekian banyak yang pernah kududuki dimanapun ia berada. Café di penghujung jalan protokol kota kecil bernama Pare, hanya sejam dari pusat Kerajaan Kediri -dulunya-, memang menawarkan kenyamanan dengan budget sesuai kantong para pemuda kota kecil ini. Bukan level premium tapi apapun yang ada di café ini membuat customernya terpuaskan. Pelayanan, menu-menunya, fasilitasnya. Yah, itu alasan mengapa aku sering menghabiskan waktu ketika sejenak menghibernasikan diri dari rutinitas kota yang bermaskot ikan Hiu dan Buaya itu.
Well, aku memanjakan diriku di café itu. Menyeruput kopi lalu kue lalu entah jajanan apapun yang ada di sana. Sendiri. Di suatu sudut. Kemudian mengamati tindak-tanduk segala yang bergerak di sekelilingku. Kemudian otak mengolah informasi itu lalu menarik kesimpulan berdasarkan persepsiku sendiri. Puas! Senang! Kebiasaan ini sudah lama, delapan tahun lalu. Waktu itu duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku mulai senang mengamati sekelilingku untuk konsumsi pribadiku sendiri. Segala keindahan, keburukan dan apapun itu aku simpan dalam memoriku sendiri. Tak nyana itu memberikan kepuasan tersendiri. Hidup ini nikmat bisa menjalani kesendirian yang berkualitas.
Ternyata sudah sebulan aku tak pernah mengunjungi café ini. Padahal sebelum sebulan kemarin, tiap minggu –aku pulang kampung setiap hari Sabtu dan Minggu- aku menikmati kesendirianku di sini. Rasa senang dan puasku bukan hanya soal kepuasan tentang kesendirian menjadi penikmat sekeliling tapi juga karena sekarang aku bisa menghambur-hamburkan uangku sendiri, hasil kerja kerasku sendiri. Dulu, mana bisa kulakukan ini?
Sebulan berlalu aku rindu. Emm... rindu kenikmatan kesendirian dan alasan lain adalah kegiatan observasiku sudah dua bulan sebelum vakum sebulan kemarin, “parkir” lama pada sebuah “pemandangan”. Di sana ada objek seorang lelaki dengan kaca matanya, pensilnya, kertas-kertasnya, cangkir kopi, piring kecil berisi kue dan senyuman yang ia lempar kepada siapapun yang menyapanya. Bahkan ia nampak sangat akrab dengan pelayan café ini. Pelanggan setia mungkin -pikirku-. Dan kali ini aku menikmati pemandangan itu. Aihh... wajahnya teduh. Mungkin dia tipe good boy.
Sejam berlalu. Dia masih asyik menggores belasan kertas putih polos sejak sejam lalu di tempat itu. Seolah merasa paling aman untuk meleburkan diri ke dalam dunia yang mungkin hanya dia yang paham. Aku tahu dari kejauhan apa yang ia lakukan. Mewujudkan imajinya dalam goresan pensil. Ia seolah hidup bersama yang digambarnya itu dan tak banyak bicara dengan sekelilingnya. Hanya senyum jika ada orang menyapa. Hal ini membuat tak sedikit yang berkasak-kusuk di belakangnya –entah bicara apa- tapi aku mencoba memastikan mungkin terkait kebiasaannya yang seolah tenggelam sendiri dalam dunianya, tak banyak berinteraksi dengan orang lain. Hampir nyaris dikira alien. Sangat pendiam. Tak banyak tingkah. Ya, itu tadi, hanya senyuman –kalau ada yang menyapa-. Selebihnya ia serius mengonstruksi gambar-gambarnya itu.
Heran melintas di otakku. Mengapa ada orang sedemikian hanyut dalam dunianya sendiri tanpa takut dicecar orang lain dianggap sombong sampai dituding makhluk luar angksa yang nyasar ke bumi. Ia cuek. Sedemikian cuek apa kata orang yang “rutin” berkasak-kusuk di belakangnya tapi bermuka manis di depannya. Lalu aku bercermin pada diriku sendiri. Aku? Tipe orang yang sering tak pede, sering memedulikan omongan orang yang terkadang tak penting sampai membuat semua urat syaraf sekujur tubuhku kaku bukan main. Hormon-hormon pemicu kecemasan meningkat. Dan syaraf motorik atas perintah otak melakukan segala tindakan yang dapat “membungkam” mulut orang lain. membuktikan bahwa aku tak seperti yang mereka katakan. Tapi hidupku tak nyaman, tak tenang, tak senang, tak damai. Hidupku untuk menyenangkan orang lain. Kukira bagus karena aku bisa diterima mereka tapi mereka senang aku sengsara. Lalu, dia... ada apakah dalam sistem organ tubuhnya yang membuat dirinya tak ambil pusing apa kata orang? Tuhan memberinya “kelebihan” apa? Apakah dia wujud malaikat? Mana mungkin? Malaikat di zaman sekarang mana mungkin ada? Kalaupun ada bisa dirancu dengan wujud iblis yang suka menggoda anak cucu Adam dan Hawa.
Seorang pelayan menghampirinya. Aku tak tahu pasti isi pembicaraan mereka. Atau sudah pasti hanya perihal pesan menu saja.
“Ssstt, itu, tuh, yang di pojok sana! Sumpah ganteng mampus!” celetuk salah seorang cewek yang duduk di seberangku. Aku melirik. Segera kumemicingkan mata.
Lagi. Cewek (sok) metropolis dengan make up menor, cleavage yang nunjukin tonjolan dadanya, rok supermini yang nampaknya pantes untuk anak TK murid tetanggaku di rumah. Ah... glamor yang dipaksakan! Korban kapitalisme yang beredar. Uppss... tapi bisa jadi dia lebih-lebih ketimbang diriku. Lebih cerdas ketimbang aku kali. Entah. Segera kutepis kebiasaanku yang –tak sengaja- meremehkan orang lain.
Kuamati cewek (sok) metropolis itu dan kawanannya. Pengamatanku jitu. Tak salah aku menasbihkan diri sebagai observer yang handal. Itu juga diakui dosen pembimbing skripsiku ketika aku melakukan observasi terhadap pasien skizofrenia. Yah, dibanding dengan kawan lain yang masih strata satu, kemampuan observasiku lebih dibandingkan mereka. Berbanggalah aku. Kemudian, beberapa detik kemudian aku sudah dapat memastikan kawanan cewek (sok) metropolis itu sedang bergosip ria tentang “DIA”. Ya, dia yang sedari tadi asyik menggambar dan sesekali membenarkan kaca matanya, sesekali menyeruput kopi, dan sesekali melahap kue di depannya.
“Mau dong ya, gue jadi bininya. Hahaha...” ujar salah seorang dari kawanan cewek-cewek tadi. Aku mendengarkan dengan seksama. Selain aku punya mata yang jeli, aku juga punya pendengaran yang tajam.
Heran, di kota kecil dipaksakan bicara “elo” dan “gue” tapi medoknya minta ampun. Aku cuman ingin tertawa sejadi-jadinya. Terdengar konyol nona-nona (sok) metropolis!!! Huh!
Heemmm, tapi memang secara fisik, dia adalah “ukiran” Tuhan yang termasuk perfecto. Rambutnya lurus lembut nampaknya, cepak. Jidatnya lebar menandakan dia cerdas –kata orang zaman dulu-, hidungnya mancung –sangat disarankan untuk calon pasangannya yang pesek supaya mengalami perbaikan keturunan-, garis wajahnya kuat dan tegas, sedikit berjambang tapi kulitnya bersih, postur tubuh tegap sempurna. Sayang aku tak pernah mendengar suaranya. Seksikah? Soalnya David Beckham yang tampan itu menurutku suaranya tak begitu seksi seperti bodinya.
Aku sibuk dengan pikiranku sendiri diiringi suara berisik cewek-cewek tadi yang sekarang sudah beralih topik tapi sesekali mereka masih membahas “DIA”. Lalu aku memecah keheninganku sendiri. Aku menoleh ke arahnya. Dia membereskan kertas-kertas berserakan di mejanya dan semuanya ia rapikan. Ia meraih tasnya dan memasukkan perlengkapannya ke dalam tas. Ah, dia beranjak pergi. Sebal. Rinduku belum terpuaskan. Sorot mataku terus mengikutinya sampai tak terlihat lagi satu senti pun bagian tubuhnya. Kecewa.
Jam kuno yang berdiri elegan di samping kasir memberikan tanda dentangan keras menunjukkan pukul empat sore. Belum waktunya pulang. Biasanya aku pulang menjelang maghrib. Kumanfaatkan wifi café untuk mengecek e-mailku. Sudah ada tugas untuk Senin. Kepalaku berat mendadak.
Please... rileks... aku bisa melakukannya tanpa buang waktu sia-sia dan mengambil lagi kedamaianku seperti ini minggu depan. Rileks... rileks... rileks.
Aku melakukan self talk, meyakinkan diri sendiri. Memang susah tapi aku sudah mencoba melakukannya hampir dua tahun terakhir setelah gangguan obsesif kompulsifku “berulah”. Delapan puluh persen berhasil, tentunya dibantu dengan pengubahan pola pikir irasional menjadi rasional.
“Selamat sore, Mbak, ini pesanan Mbak tadi dan satu lagi ini ada titipan untuk Mbak,” suara pelayan café mengalihkan perhatianku sambil ia menyodorkan sekotak kue dan sebuah map.
Aku tersenyum dan berterima kasih padanya.
Map. Kukira tagihan yang harus kubayar, ternyata bukan. Justru kertas bergambar. Mulanya tak kumengerti maksud gambar itu. Wanita? Seharusnya gambar lelaki rupawan yang disodorkan padaku. Aku diam. Aku tak tahu maksud si empunya mengirim ini padaku. Ternyata, gambar itu tak hanya satu. Ada dua. Tiga. Yap, tiga lembar kertas bergambar. Aku membolak-balik ketiganya. Masih tak paham apapun. Tapi... wait... hidung agak besar tak mancung itu seperti milikku. Tiga tahi lalat tak menonjol yang membentuk garis lengkung beberapa senti di bawah mata kiri itu persis punyaku. Rambut lurus mengembang sebahu itu aku juga punya. Senyumku merekah segera. Itu aku! Ada seseorang yang diam-diam membuatnya untukku. Hmmm, aku punya pengagum rahasia. Atau mungkin saja wajahku terlalu eksotis untuk dilukis –penilaian pribadiku tanpa dasar kuat-. Aku tertawa keras di dalam hati. Aku terus mengamati lekat-lekat rupaku itu. Terima kasih menggambarku.
Senja segera menjemput malam, meninggalkan matahari berganti menerangi belahan bumi lainnya. Aku beranjak dari sofa biru tosca itu. Waktunya pulang. Aku membawa gambar-gambarku itu ke dalam tas. Akan aku simpan bahkan aku ingin mempostingnya ke blogku. Memakainya untuk profil picture akun jejaring sosialku. Well,  aku senang hari ini.
Aku telah melewati pintu café itu lalu mencoba menelpon adikku yang siapa tahu bisa menjemputku. Angin senja itu berhembus begitu kencang menyibak apapun yang bisa tersibak karena massanya yang lebih ringan ketimbang angin itu sendiri. Kemudian fokus mataku jatuh pada satu titik di seberang jalan sana. Aku kembali mendapati sosok dia. Berbincang dengan seseorang. Tapi ada keanehan. Dia menggerakkan kedua tangannya sebagai tanda isyarat. Siapa yang aneh? Dirinya atau orang yang bicara dengannya? Oh, ya dia sendiri susah untuk menyampaikan pesan pada lawan bicaranya dengan gerakan isyarat karena lengan kirinya mengapit sebuah map. Orang itu pergi dan dia hendak beranjak dari pandanganku. Ia membenarkan posisi kaca matanya dan membenarkan mapnya. Tapi agak sial, angin kembali ekstrim menarik kertas-kertas di dalam map itu bertebaran ke sana kemari. Gerak refleksku mengarah padanya. Membantunya memunguti kertas-kertas itu. Satu. Dua. Tiga. Sketsa arsitektur bangunan. Empat. Lima. Enam. Sketsa arsitektur gedung kuno ala romawi. Tujuh. Sketsa wanita ber-head phone, tangan memegang cangkir, mulut berpelepotan kue. Apik. Aku terpaku sampai akhirnya ia memecahkan lamunanku. Aku menyodorkan kumpulan sketsa itu padanya.
“Maaf,” ujarku. “Gambarnya bagus,” lanjutku tersenyum. Kecepatan degup jantungku bertambah. Grogi berbicara dengannya.
“The-rhi-mha-kha-sih,” balasnya. Aku kaget. Pelafalannya tak jelas. Aku berusaha mengatur ekspresi wajahku agar tak menyiratkan raut tak mengenakkan.
Ia tersenyum lalu menyodorkan gambar terakhir yang sukses membuatku terpaku tadi. Aku tak yakin itu aku tapi...
“Ih-nhi-un-thuk-kha-mhu. She-mho-gha-shu-kha,” ucapnya sambil menggerakkan kedua tangannya. Otakku langsung memberikan sinyal agar segera menarik kesimpulan. Dia unik. Aku tak suka menyebut kekurangan orang lain dengan kata “keterbatasan”.
“Untukku? Wah, terima kasih banyak,” sahutku tersenyum bangga. “Kalau begitu ini juga darimu?” tanyaku sambil mengambil kertas bergambar yang kudapatkan dari pelayan café tadi. Ia nampak tersipu malu. Ia mengangguk.
“Kalau boleh narsis sih, ini gambarku bukan?” tanyaku percaya diri. Ia mengangguk tersenyum.
“Semuanya untukku?”
“Shim-phan-bha-ikh-bha-ikh, yha?” pintanya.
“Tentu saja. Akan kusimpan baik-baik. Oh, ya, aku boleh tahu siapa namamu?” tanyaku.
Ia menunjukkan nama di sudut kertas bergambarnya. Reyhan.
“Oh, Reyhan. Lala,” ujarku.
“Ah-khu-pher-ghi-dhu-lu, yha,”
“Oh, iya. Ehm, betewe, kapan bisa bertemu lagi?” tanyaku super pede.
Dia hanya tersenyum lalu pergi. Aku masih terpaku. Tak ingin kehilangan kesempatan memperhatikannya lagi walau hanya punggungnya saja. Sampai ia hilang dari pandangan. Jauh. Hilang. Sedikit kecewa, kenapa dia tak menjawab. Tapi akan kutunggu. Siapa tahu minggu depan bisa bertemu lagi. Aku bahagia dengan sketsa rupaku yang dibuatnya. Dan aku menyukai sang creatornya. Cerita selanjutnya mungkin akan berlanjut.
JJJ


Sabtu, 02 Maret 2013

Layang-layang, Pesan Rindu Kutitipkan



Sudut Rindu - Desember, 2012
Ah... lelaki itu... delapan tahun terakhir selalu hadir dalam mimpiku, selalu ada dalam do’aku, selalu kuucapkan harapan tentangnya. Sederhana saja, aku ingin bertemu dan melepas rindu. Aku tak berani lebih dari itu. Perbedaan kami jauh. Jauh sekali. Dia salib, aku bintang dan bulan. Dia engkoh, aku mbah kakung. Dia bermerek, aku ala kadarnya. Dia banyak kata, aku lebih suka diam. Dan mungkin banyak hal dari kami yang berbeda. Tapi, perasaan ini begitu manis walaupun aku sendiri yang merasakan. Manis meski terkadang terlalu pahit karena dinding di antara kami menjulang tinggi. Untuknya yang “berenang-renang” di bawah sadarku, kutitipkan rindu melalui layang-layang terbang diterpa hembusan sang bayu. Terimalah salam rinduku.
***
Namanya Robbi, lelaki bermata sipit sedikit tambun dari kalangan superior di sekolah ini. Orangtuanya donatur setiap ada acara di sekolah negeri favorit tempatku bersekolah. Aku masih ingat dulu semasa SMP di sekolah yang sama dengannya, mataku sering tertuju padanya –tanpa sengaja- dan aku memandang benci. Bingung. Entah mengapa.
Kelas sepuluh tujuh. Di sana aku mengenal Robbi dan entah sial, entah untung, aku duduk tepat di seberang samping kanan bangkungnya. Dan kelas kami jarang melakukan rotasi tempat duduk karena kami susah diatur juga aslinya. Hahaha. Interaksi berjalan secara alami.
Beberapa bulan berlalu kami bersama-sama dalam kemajemukan. Aku, Robbi dan 41 siswa lainnya. Sayangnya kami kurang kompak tapi tidak ada kesengitan di antara kami. Hanya segelintir orang saja dan itu jelas siapa biangnya. Biang keroknya jelas “kalangan” superior. Jelas. Robbi. Masalahnya: rebutan wanita!
Robbi menaruh hati pada wanita pribumi berotak cerdas, berparas ayu, bersahaja. Teman sebangkunya, tepatnya sahabatnya sendiri juga tertarik pada wanita itu. Persaingan sengit terjadi sampai mereka “terpecah”. Banyak yang melerai mereka. Mereka pun akur kembali tapi tak serekat sebelumnya. Robbi punya teman dekat baru. Panggil dia Dewa, keturunan Batak-Jawa. Superstar kelasku dan ke depannya dia memang superstar selama di sekolah. Pebasket, anak band, tampan dan manis, postur tubuh jelas oke untuk superstar lokal sepertinya. Lokal karena masih kalangan pelajar di sekolah kami dan sekolah tetangga kami. Dialah Dewa, titik start api asmaraku yang menggebu lalu redup dan kembali membara pada Robbi berada.
***
 “Eciieee... Dewa, Dewi... pasangan baru, coy! Pasangan baru!” seru Robbi suatu siang setelah pelajaran olah raga usai, ketika semua siswa sepuluh tujuh lengkap leyeh-leyeh di dalam kelas.
Aku dan Dewa saling berpandangan lalu menautkan kedua alis masing-masing. Kami menghentikan diskusi kami tentang Matematika logaritma. Iya, Matematika adalah pelajaran paling kubenci sejak SMP. Semakin tinggi sekolahnya, materinya semakin sulit dan aku sebal. Dan Dewa benar-benar menjadi “dewa penyelamat”. Matematika “takluk” kepadanya.
“Wah, wah, opo ae seh, Bi??” ucap Dewa. Aku hanya manyun. Dan seisi kelas sudah sigap menyeru juga, menggoda kami.
Rasanya? Emm... aku suka sekali. Dewa siswa tampan dan cerdas, siapa yang tak suka. Penampilannya juga tak jelek-jelek amat walaupun tak semenarik Robbi yang apapun melekat di dirinya adalah barang bermerek mahal dan terkenal. Entah perasaan Dewa. Tapi, pada akhirnya aku tahu bahwa Dewa menjauhiku setelah penjodohan tanpa alasan jelas oleh Robbi. Tapi itu tak membuat Robbi berhenti usil menjodoh-jodohkan aku dan Dewa. Aku menikmati bahkan akhirnya aku sering berinteraksi dengannya untuk bicara soal Dewa.
Robbi bercerita lepas tentang asmaranya dengan adik kelas. Sesekali dia menggodaku tentang Dewa. Berandai-andai tentang aku dan Dewa. Yah, semuanya menyenangkan. Aku merasa suka pada Dewa tak peduli dia juga suka padaku atau tidak, di sisi lain aku suka mendengar suara Robbi di telpon dan bertemu di sekolah. Bahkan aku pernah melakukan suatu hal cuma-cuma untuknya.
“Tolong dong, bantuin tugas Bimbingan Konselingku. Masa’ gara-gara telat kemarin aku disuruh ngrangkum sebuku gini? Lima ratus halaman!” kata Robbi suatu siang saat istirahat.
“Yee... yang punya tugas siapa?!”
“Tolongin dong! Aku bilangin Dewa lho, ya, kamu jahat sama temennya,” godanya.
 “Bilangin aja sono!” tungkasku.
“Oke, fifty-fifty, ya? Please... bantuin aku, ya, Wi? Banyak banget lho,”
Robbi setengah memaksa. Aku menggeleng sambil menyantap pentol kesukaanku.
“Ayo ta lah! Njaluk tulung. Mosok ndak isa, to?” Logat khasnya sebagai suku peranakan di bumi Jawa bagian timur keluar.
Aku berubah pikiran. Kulirik dia.
“Imbalannya?” tanyaku.
“Gampang nanti ae,
Siapa tahu aku bisa mengeruk informasi tentang Dewa, aku mulai tertarik. Dewa atau Robbi sendiri? Entah.
***
Waktu lama berlalu. Aku mulai “gila”. Bagaimana tidak, setiap hari di otakku hanya Robbi, Robbi dan Robbi. Dewa kuabaikan. Robbi adalah “candu” baru untukku. Aku ingin dengar suaranya. Aku ingin menatap wajahnya setiap hari. Bahkan aku selalu bertanya pada mereka-mereka yang menurutku berpengalaman soal cinta tentang “kasusku” dengan Robbi. Lalu, satu statement yang membuatku senang bukan main. Bisa jadi, Robbi menyukaiku karena tiba-tiba saja mencari perhatianku dengan menjodoh-jodohkan aku dengan kawannya sendiri. Percaya tak percaya. Lebih besar tak percayanya. Aku sadar kami bagai langit dan bumi.
Robbi, kata orang culas, congkak, borju, bermulut pedas, merendahkan orang lain, oportunis. Beberapa di antara itu ada benarnya. Buktinya aku, dimanfaatkan mengerjakan tugasnya. Bukan cuman lima puluh persen, delapan puluh persen! Bodohnya, tak kuminta imbalanku. Membuatku “tinggi” tentang Dewa padahal faktanya Dewa justru mengabaikanku tanpa ampun. Tapi, di sisi lain... Robbi tak pernah menolak menerima telpon dariku. Bahkan dia bercerita panjang lebar tentang dirinya, tidak semua tapi seputar asmaranya. Bicara panjang kali lebar dengannya di telpon saja membuatku bahagia. Sikapnya juga tak lagi congkak padaku. Ramah. Lalu sempat membuatku terpaku ketika sepasang bola matanya menatapku  tajam di sebuah lorong kelas. Dia terdiam, aku terpaku. Lebih dari tiga detik kami bertatapan. Itu benar terjadi persis di film-film romansa. Tapi, aku tak tahu apakah adegan itu adegan romantis bertemunya dua pasang bola mata lalu terpaut hati masing-masing. Aku sendiri tak dapat mengartikannya. Aku juga masih terus bertanya-tanya pada hari-hari berikutnya, “Robbi, sukakah kamu padaku?”. Semenjak itu aku sendiri jadi linglung. Apa pesonanya? Mungkin satu, kekurangannya di mata orang lain adalah pesona bagiku. Gila. Seiring dengan itu aku hanya mau tahu satu hal: Robbi, aku menyukaimu.
***
 “Tarik lalu ulur. Ulur lalu tarik. Begitu terus, Wi!” kata Bastian, teman sekantorku berdarah Catalonia sedikit lantang. Karena hembusan angin begitu kuat sehingga berbicara lirih tidak ampuh untuk berkomunikasi dengan orang lain. Ia paham aku belum lihai bermain layangan.
“Berat, Yan! Nggak bisa! Eh, eh... jatuh, jatuh. Mau jatuh. Ini, nih!” seruku sambil segera kuberikan pada Bastian kembali.
“Kamu belum terbiasa, Wi. Nanti kalau terbiasa, seru,” tungkasnya.
“Oke, Guru! Gila ya, kayak anak pribumi kamu,” kataku.
I’m Indonesian too, Dewi. Mami Suroboyo, papa Catalon. Lahir di Kute, besar di Spanyolaaa, hahaha...” kelakar Bastian sambil berubah-ubah logat bahasa. Aku tertawa terpingkal-pingkal. Dia memang punya daya humor tinggi. Tak konyol, jadi wibawanya dan ketampanannya tak luntur.
Aku minggir sejenak. Kubiarkan Bastian asyik dengan yang lain dan layang-layangnya. Aku duduk di sebuah gubuk kecil tak jauh dari bibir pantai. Kuraih tasku untuk melihat ponselku. Siapa tahu ada pesan atau telpon penting masuk.
Belum kutemukan ponselku, fokusku jatuh pada secarik kertas. Kertas itu aku “curi” dari dinding pengumuman di sebuah universitas terkemuka di Jakarta setelah aku melakukan pekerjaanku di biro konsultasi psikologi di sana. Kertas itu bisa menjadi sebuah “jembatan” untukku kembali ke masa lalu, delapan tahun lalu. Aku bisa bertemu dengannya lagi. Melepas kerinduan. Tapi, jika memang Tuhan mengizinkan aku bertemu dengannya lagi, apa yang akan aku perbuat? Aku tak mungkin memeluknya. Lalu aku mengambil bolpoin dari dalam tasku. Aku tuliskan rinduku yang tak pernah terucap dengan lisan tepat di balik secarik kertas pengumuman tentang seminar motivasi dengan pembicara Robbi Pratama Tjandra.
Sudah sewindu berlalu. Terhitung sewindu aku menyukaimu. Tapi ketika aku sadar, kamu “menjauh” walau raga tetap bisa bertemu. Tapi kemudian kamu makin “menjauh” lalu “lenyap”. Tiada suara, tiada raga tapi rasaku makin bertumbuh. Sekarang aku rindu. Kamu tahu? Kamu rasa? Hai, lelaki sipit yang kutahu di profil picture-mu sekarang kamu mengurus, jelek. Aku suka kamu yang chubby. Terimalah pesan rinduku ini. Aku rindu.
Aku melipat surat itu menjadi dua. Aku menghampiri Bastian dan meminta Bastian menurunkan layangannya.
“Bastian, titip surat ini ke angkasa, ya?” kataku sambil menempelkan surat itu di permukaan layang-layang Bastian.
For what?
“Surat cinta,” kataku tersenyum.
“Kenapa kamu tak membuat perahu kertas seperti Kugy atau  surat kaleng dan lempar jauh-jauh ke tengah samudra sekalian?” tanya Bastian.
“Angkasa lebih luas ketimbang samudra. Aku ingin rinduku menggema seisi jagat raya, bukan hanya melampaui bumi ini,”
“Yah... kamu selalu suka berpuitis ria, Dewi. Semoga rindumu tersampaikan untuk pangeranmu,” kata Bastian memberi semangat.
“Kamu siap, Bastian? Kali ini aku butuh bantuanmu. Terbangkan layang-layang setinggi mungkin!” pintaku.
 “UYEEEAAAHHHHH!!!” teriaknya dan layang-layang itu terbang tinggi. Tinggiiii sekali.
Dalam hatiku berkata,”Tuhan, walaupun kami berbeda, bahagiakan Robbi dan katakan aku rindu. Sungguh. Kau lebih tahu dariku, Tuhan. Aku rindu.”
***



Rabu, 20 Februari 2013

Bertemu Pengantri Kematian



Bertemu pengantri kematian

Pembaca, ini tulisan kedua gue pada hari Senin, 18 Februari 2013. Gue tulis ini karena gue pengen cerita perihal kematian. Kenapa tiba-tiba ngomongin kematian? Kematian bukan topik tabu atau langka karena sesungguhnya kematian lekat dengan setiap pribadi yang hidup. Ada hidup, pasti ada mati. Itu cerita klasik. Karena itulah hukum Tuhan yang berlaku.
Oke, to the point. Jadi, pagi tadi sekitar pukul ... pukul berapa ya.. ya katakan rentang setengah enam pagi sampai jam tujuh kurang. Gue lupa. Pas itu gue ada di depan toko milik bude gue, entah mau nyapu atau sekedar sepintas lalu aja. Fokus mata gue ke arah tukang becak yang rumahnya depan toko bude gue pas dan sering mangkal di pos jaga deket toko gue pas. Beliau nampak buru-buru banget dan seolah memanggil orang jauh di belakang gue. Gue fokus tapi gue cuek. Alah palingan pelanggan biasa. Tapi lalu fokus mata gue kembali ke tukang becak itu dan kali ini penumpang di atasnya. Gue fokus karena penumpangnya sedang dalam kondisi mengaduh-aduh lemas bersandarkan bantal yang ada di belakang kepalanya yang nyandar ke becak. Kenapa orang itu? Maksud gue sakit apa ya orang itu? Parah mungkin ya. Okeii.. padahal semalem itu atau kemarin malemnya lagi gue tahu beliau masih jalan-jalan dan duduk-duduk di tetangga bude gue. Malah sempet nyamperin tukang jualan tahu tek-tek keliling. Nah, kemudian beliau naik becak dianter istrinya naik becak itu tadi. Lalu... ya sudahlah... gue prihatin. Kasihan sakit. Sudah itu saja fokusku.
Beberapa jam berlalu... sekarang 11.14 WIB. Mungkin sekitar sejam yang lalu gue baru balik ngajak jalan-jalan keponakan gue yang cowok, adiknya Jasmine, Ero namanya. –profesi serabutan gue sekarang adalah pengasuh anak-anak, tepatnya keponakan gue sendiri. Lumayan... belajar jadi ibu, hahahaii- kemudian gue tahu banyak ibu-ibu yang bawa nampan plus kain penutup. Itu tandanya mereka habis ta’ziyah dong... dan alamakjaannn... –ala tulang togu di sinetron haji sulam tukang bubur naik haji- itu bener. Gue perhatikan arah mereka jalan. Gue sih, nggak tahu pasti ya apa kaitannya arah mereka jalan, ta’ziyah trus tiba-tiba kepikiran bapak-bapak yang jadi topik paragraf sebelumnya. Cuman setelah usut punya usut tanya ke bude, iyaaappp... bapak-bapak berinisial H yang gue sebut di paragraf di atas lah yang meninggal dunia! Innalillahi wainnaillaihi roji’un. Otak gue nggak habis pikir. Kematian. memang bener-bener lekat di diri manusia. Entah seberapa dekat. Mungkin ibarat kematian itu sebuah benarng tajam yang begitu melekat di urat nadi manusia, ia siap “beraksi” begitu saja dengan menekan atau menggores benang itu di urat nadi ketika waktunya tiba. MasyaAllah.
Hal semacam ini bukan pertama kalinya gue alami. Baru ketemu orangnya beberapa waktu lalu, tiba-tiba sudah dipanggil Tuhan itu bukan hal langka tapi yang bener-bener beda beberapa jam sebelum meninggal, masih mengaduh-aduh lalu beberapa jam kemudian meninggal,... Allahu akbar... baru kali ini. Mungkin pas gue tahu beliau mengaduh-aduh tadi di becak, kasat mata gue nggak mampu melihat bahwa malaikat pencabut nyawa sudah mendampingi beliau. Gue nggak kenal beliau. Tapi untuk beliau, ya Rabbi... ampunilah dosa-dosa beliau, terimalah amal-ibadah beliau. Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga sabar dan kuat. Kuatkanlah iman, islam dan ihsan mereka jika mereka bertauhid tapi jika belum berikan mereka hidayah ya, Rabbi.
Kejadian di atas aslinya ngingetin gue pribadi untuk banyak ingat kematian dan segera memperbaiki diri karena kematian amat sangat begitu dekat dengan gue. Padahal gue sering meminta kematian sama Tuhan karena saking gue pernah dalam kondisi di bawah yang bikin gue ngrasa nggak tahan ngejalani hidup. Tapi ternyata Tuhan berkata lain, sampai detik ini gue masih hidup, gue dikasih segala yang gue butuhkan walau nggak semua keinginan gue diberikan. Gue masih bisa memeluk ibu dan ayah gue, masih bisa ngelus kepala adik-adik gue. Masih bisa berinteraksi sama sahabat-sahabat gue. Dan mereka semua sering gue sakiti tapi gue nggak sanggup jika mereka-mereka pergi. Begitu juga dengan Tuhan dan kematian. Gue sering minta kematian datang ke gue padahal gue juga nggak sanggup nanggung kesendirian di alam kubur sendirian. Gue nggak sanggup nanggung kesakitan di sana. Pengab, sendirian, sesak, gelap. Dan tak ada kesempatan memperbaiki diri. Dan tak ada yang bisa jadi tempat gue mengadu menangis lagi.
Gue, dan Anda, Anda, Anda juga Anda, dan mereka yang masih menghirup oksigen sungguh merupakan pengantri kematian yang setia, baik dikehendaki maupun tidak, suka maupun tidak. Bapak-bapak itu tadi pengantri entah nomor ke berapa dalam antrian kematian. Namanya sudah tertulis jelas di daftar buku kematian makhluk Tuhan di dunia ini. Gue dan siapapun yang masih hidup, namanya masih samar-samar di daftar buku kematian itu, tinggal menunggu titah Sang Khaliq terhadap malaikat pencabut nyawa.
Ini refleksi diri untuk diri pribadi gue, semoga lebih dekat sama Sang Khaliq. Belajar ikhlas dan taat beribadah. Meninggalkan yang munkar, mengabdikan diri pada Illahi Rabbi. Kami mohon petunjukMu ya, Rabbi... ampuni kami.

Seni jadi seorang “ibu”



Oke, pembaca.. (duilleehhh, kasep pisan gue memanggil viewer atau bahkan reader blog ini dg panggilan begitu.. pengennya sih, ada panggilan kesayangan buat Anda semua tapi kok, bingung mau menyebut Anda apa? any idea? ^^) selamat pagiii... semangat pagi!!! Ini gue tulis (belum gue post) pada pukul 05.43 waktu setempat laptop gue.
Gue pengen berbagi soal judul di atas. SENI JADI SEORANG IBU, kata ibu dalam tanda kutib. Why? Dan kenapa harus seni? Jawabannya: gue bingung. Gue nggak ngeh sama makna seni sejatinya. Yang gue tahu adalah mereka yang suka nyanyi, nari, melukis dan sebangsanya. Lalu ibu. Yang gue tahu sih, sejauh ini sosok ibu ya mereka yang melahirkan kita, mengasuh kita, atau mereka-mereka yang sudah menikah, punya anak dan pantas dipanggil ibu. Lalu, letak permasalahannya dimana? Oh, bukan permasalahan sih, istilahnya. Apa ya... emm... jadi begini... sudah 4 malem semalam itu gue hidup nomaden. sedari pagi sampai sore di rumah bude, malem sampai subuh hari di rumah sepupu gue. ngapain? Itu karena keponakan gue cewek satu-satunya, panggil dia Jasmine, minta tolong ditemenin tidur. Ah... seneng gue, gue bisa “dipercaya” sama anak kecil.
Gue suka anak kecil juga tapi terkadang gue takut terhadap penolakan yang mungkin terjadi dari mereka. contohnya, sepupu gue yang masih 2 tahunan, namanya Avi, setiaaaaappppp kali gue godain selalu spontan mewek, cenger!!!! Lah, gue yang kegemukan kayak monster apa gimana? Perasaan nih, ya jujur sedalam-dalamnya dan senyatanya gue nggak pernah lho, bikin track record “kriminal” sama anak kecil, kecuali sama adik gue dulu pas mereka masih kecil, gue masih kecil, gue “bully”ing mereka. eiitttsss... tapi paling gue marah-marahin, gue cubit, itu karena gue dulu masih nakal dan saking gemesnya. Tapi aslinya gue sayang kok, sama mereka. lah, apalagi sudah segede gini, gue mana mungkin nge-bully anak-anak lucu begitu. Jangan sampai! Gue juga nggak mau anak-anak gue dibully  orang. dan gue juga nggak berpikiran mendidik mereka dengan gaya otoriter yang sempet diajarin ayah dulu pas gue masih kecil.oke balik ke sepupu gue. heran minta ampun kenapa ya, dia kayak ketakutan sama gue, sementara keponakan gue dari sepupu gue dengan usia yang sama tapi cowok sih, biasa aja tuh, sama gue.
Nah, ke poin pembicaraan berdasarkan judul di atas. Selama 4 malem tidur bareng keponakan gue cewek yang masih TK –bentar lagi masuk SD- gue jadi belajar. Belajar tentang...
Pertama, bangun pagi. Hahahha... gue ketawa dulu yee... :p begimana enggak, soalnya kalo tidur di rumah bude gue, gue sering molor lagi sehabis subuh sampai jam setengah 7 pagi. Hahaha. itu ya, kebiasaan yang agak sulit diubah, secara gue kalo tidur selalu jam 12 malem atau lebih. Aslinya jam-jam 9 atau 10 malem udah tidur tapi karena kalo di rumah bude gue ada gadget satu ni, “dark bluish” alias laptop gue yang bisa ngasih gue hiburan macam apapun, akhirnya gue berkutat dengannya. Apalagi semenjak “Reddish” alias ponsel gue hilang pertengahan Januari lalu. cuman laptop ini kesayangan gue satu-satunya. Kalo tidur sama keponakan gue, gue ikut ritme tidurnya dia, tidur awal. Ya sudah, insting ngantuk gue apda awal jam 9 atua 10 terpenuhi langsung, deh. ^^ Nah, itu himkah pertama gue tidur bareng kepokan gue.
Kedua, gue jadi sering terjaga. Namanya anak kecil ya, bisa aja dan kemungkinan besar bangun di tengah-tengah malam itu ada banget. Mulai dari minta susu, ngompol atau sekedar minta garukin punggung atau dipuk-puk atau apalah, dielus-elus lah bahasa lazimnya. Ya, gue merasa “bertanggungjawab” sama keponakan gue karena gue tidur sama dia, so kalo ada apa-apa ya gue. Gue nggak keberatan, serius! Gue justru seneng karena akhirnya gue belajar jadi “ibu”. Nah, ini poinnya. Jadi “ibu”. Minimal ini pelajaran berharga buat gue jadi seorang ibu kelak. Gue nggak bisa ngebayangin ya kalo jadi ibu beneran apalagi dnegan anak bayi, mungkin hampir setiap jam malamnya terkuras untuk ngurus bayinya. Gue kepikiran sepupu gue di Kediri sana yang bayinya baru menginjak 5 bulan. Ya Rabbi... pantesan ya ibu itu dimuliakan banget, dari hamil 9 bulan dibawa kemana-mana bayinya tanpa ada rasa kesal dan sesal lalu melahirkan, merawat, mengasuh, mendidik, kemudian nanti kalau dewasa mencarikan atau minimal mendoakan supaya lancar sekolah, kerja dan jodohnya lalu kalau sudah menikah ibu dan ayah juga ngemong cucu –anaknya kita- masyaallah... ibu ya... bener-bener profesi maha wow!!! Pantesan penguji skripsi gue bernama bu Hamidah, mengkritik pedas tulisan skripsi gue yang menulis “ibu rumah tangga biasa”. Menurut beliau, profesi “ibu rumah tangga” itu nggak biasa lho! Catet! Bener sih. Menurut kenalan gue seorang penderita Lupus –skripsi gue mengkaji wanita dewasa awal berstatus menikah atau ibu-ibu usia 18-40 tahun yang terkena Lupus- bahwa pekerjaan ibu rumah tangga sebenarnya lebih banyak menguras energi ketimbang ibu sebagai wanita karir. (gue nulis ini lepas dari permasalahan opsi jadi ibu rumah tangga atau wanita karir lho, ya ^^). Intinya, baik jadi ibu rumah tangga maupun ibu rumah tangga yang bekerja di luar, statusnya sama, mereka atau sama-sama jadi seorang ibu bagi anak-anak mereka dan mereka wajib memenuhi tanggungjawabnya. Ini jadi pelajaran buat gue yang masih single supaya siap mental jadi seorang ibu dan segala hak dan kewajibannya kelak walaupun nggak sepenuhnya ya.
Ketiga,yang ini mungkin bukan hikmah sih, karena gue jadi sering terjaga juga gara-gara faktor ini. lampu menyala! Oh, Tuhan... jujur gue nggak suka tidur dalam kondisi lampu menyala. Dilihat dari segi kesehatan juga nggak bagus. Dan beberapa waktu terakhir ini, konsep tidur malem gue itu lingkungan gue harus ruangan yang bener-bener disebut k.a.m.a.r, harus gelap atau sedikit pencahayaan, pintu terkunci atau minimal selambu. Itu wajib! Lainnya semacam guling, itu tambahan. Selimut juga, yang penting ada sandaran buat kepala lebih tinggi. Cukup. Tapi tidur bersama Jasmine... dia ogah dimatikan lampunya. Tapi kamarnya kalo dimatikan lampunya emang gelap gulita, sih, agak horor. Soalnya kalo bener-bener gelap, gue juga agak sesak napas tiba-tiba. Tapi, baik gelap maupun enggak, gue belajar untuk saling berbagi, ikhlas nerima kondisi yang harus mengesampingkan ego gue buat orang lain, apalagi sama anak kecil. Kan, nggak mungkin gue adu argumen sama anak kecil. Yang gede yang ngalah. Belajr juga, janga-jangan pasangan gue nanti juga suka berseberangan sama gue nanti untuk hal sepele.
Ketiga hal itu emang nampaknya remeh temeh tapi aslinya nggak ada kesia-siaan kok setiap yang terjadi pada kita. pasti ada hikmahnya. Gue sih, belajar untuk ngambil hikmahnya. Emang kalau dipikirkan dengan seksama memang begitu, segalanya terjadi karena suatu alasan. Itu cara Tuhan memberikan pemahaman untuk hambaNya. Happy Monday, pembaca... semoga rezeki Anda dan saya dan kita semuanya selalu lancar dunia-akhirat. ^__^