Jumat, 15 Maret 2013

Sepenuh Hati -Dee-

sumber: google

Zarah: Bisa tahu bedanya yang mendengar sepenuh hati dan nggak,     gimana caranya, Yah?
Ayah: Kalau lawan bicara mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu malah tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius mendengar, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu
-Partikel: 160-
-Dee- 

Kamis, 14 Maret 2013

Juli di Bulan Juni


Juli di Bulan Juni

Juli menyelipkan memo ‘selamat pagi’ di loker enam, milik gebetannya enam bulan terakhir ini. Dia Kelana, ketua BEM fakultasnya. Namun, Juli sadar bahwa dia nggak cukup ‘bagus’ bila menjadi kekasih Lana, panggilan akrab Kelana. Alhasil, Juli hanya bisa jadi secret admirer, yang selalu eksis sliwar-sliwer di depan Lana tapi Lana nggak pernah menyadarinya.
Juli mengendap-endap meninggalkan loker Lana. Ia bergegas menuju mabes BEM fakultasnya untuk beralibi menutupi dari semua orang khususnya Lana bahwa ia memuja Lana.
Juli asyik dengan laptop jadulnya untuk mempersiapkan presentasi mata kuliah nanti siang. Ruang BEM masih sepi. Kemudian datanglah Lana dengan gayanya yang menawan walaupun nggak semenawan Edward Cullen.
“Juli, sendirian?,” sapa Lana tersenyum ramah. Spontan Juli tiba-tiba deg-degan. Juli pun mulai mengatur nafas supaya groginya nggak kentara.
“Eh, iya, Mas! Kebetulan ada janji sama temen ngerjain tugas Psikodiagnostik I. Mas sendiri selalu dateng pagi-pagi,” balas Juli.
“Males lama-lama di kos-kosan. Gue cabut sarapan dulu, ya? Mau ikut?” tawar Lana sambil menaruh tasnya di bangku di sebuah sudut ruang BEM
Thanks. Sudah kenyang,” sahut Juli tersenyum manis menyadarkan Lana bahwa gadis ini punya senyum maut.
Setelah Lana pergi, Juli benafas lega.
***
“Sampai kapan elo begini terus? Gue heran sama elo bertahan dengan cinta yang nggak pasti,” tanya Mila, sahabat Juli.
“Kayak lagunya Agnes Monica, Ini memang gila…tapi inilah cinta…Tak ada logika…Tapi inilah cinta. Hahaha…,” kata Juli ketawa ngakak. Mila justru melempar muka Juli dengan kulit kacang. Juli cuma nyengir kuda.
“Gue heran kenapa ada orang yang rajin ngasih memo di loker gue setiap hari,” kata seorang cowok yang tak sengaja terdengar oleh Juli.
“Penasaran nggak lo?” tanya cowok yang satunya.
“Ya,iyalah. Takut aja soalnya sekarang banyak hombreng alias homo yang berkeliaran,” sahut cowok pertama.
“Emangnya elo nglakuin research lapangan apa?” tanya cowok kedua.
“Ya, enggak. Tapi siapa tahu aja. Banci kaleng aja nafsu sama gue waktu gue ikut penelitian PSK sama mas Gilang,” terang cowok pertama.
“Elo ada-ada aja,” sahut cowok kedua.
“Kayaknya orang deket, deh!” komentar cowok pertama.
Juli langsung yakin bahwa cowok yang ngobrol di belakangnya adalah Lana. Juli langsung memalingkan wajah memastikannya.
Mampus gue!
Mila menyadari perubahan ekspresi wajah sahabatnya dan langsung menanyakannya apa yang terjadi pada Juli. Namun, Juli malah menyeret Mila pergi. Sialnya, Juli menyenggol bangku tempat Lana berada sehingga es yang ada di depan Lana menumpahi kemeja Lana.
“Maaf, maaf, Mas!” ucap Juli gugup setengah mati.
“Iya, nggak apa,” sahut Lana dan Juli langsung ngibrit begitu saja.
Setelah sampai di tempat yang dirasanya aman, Juli langsung buka mulut.
“Elo tahu nggak sih, tadi mas Lana penasaran sama memo-memo yang gue taruh di lokernya,” terang Juli. Mila malah tertawa.
“Jelas itu. Elo kan, setiap hari dalam enam bulan naruh memo di lokernya. Kalau sampai terungkap, itu resiko. Untung dia nggak nyewa detektif buat melacak keberadaan elo,” kata Mila.
“Mending itu mah, kalau dia sendiri??!,” tungkas Juli. Mila mengangkat kedua bahunya.
“Semoga elo nggak patah hati.,” tambah Mila. Tapi, Juli merasa tersentak dengan kata Mila barusan.
Saat Juli menanyakan apa maksud Mila, Mila malah mengalihkan topik pembicaraan.
***
Juli jengah beberapa minggu terakhir. Tugas yang seabrek hingga membuatnya begadang setiap hari dan efek sampingnya terlihat jelas saat kuliah. Juli sering ketiduran saat kuliah, selalu telat datang rapat BEM, wajahnya juga selalu kusut bak pakaian yang nggak pernah disetrika. Masalah bertambah saat orang tuanya sering cek-cok akhir-akhir ini. Persahabatannya dengan Mila merenggang cuma karena Lana. Kinerjanya menurun sehingga dia menuai protes dari Lana, sang ketua BEM yang disiplin dan terkesan otoriter, kalau ‘taring’nya sudah keluar.
“Kamu masih pengen di BEM, kan??!! Yang becus dong, kerjanya!!” sentak Lana.
Usai rapat BEM, Juli pulang mengendarai mobil ‘kodok’ warisan almarhum kakeknya.
Nggak nyangka mas Lana sekasar gitu ngata-ngatain gue di depan banyak orang. Ah, tapi itu salah gue juga, nggak profesional. Tapi, gimana lagi, badan gue akhir-akhir ini emang payah. Kenapa Tuhan hidupku jadi berantakan begini?” keluh Juli.
Begitu banyak persoalan yang dihadapi Juli saat ini, tapi Juli nggak pernah nuntut orang memahaminya. Justru dia yang selalu berusaha memahami orang lain. Prinsipnya, asal orang lain bahagia walau dia yang harus menderita. Juli hanya butuh tempat berbagi. Juli nggak peduli apakah orang itu ‘memproses’ lebih lanjut curhatannya atau tidak.
Saat berhenti di traffic light, Juli dikagetkan dengan ‘pemandangan’ yang benar-benar membuat hatinya hancur.
“Mas Lana??!! Mila??!!” ucap Juli. Seketika Juli menancap gas tanpa memedulikan bahwa lampu merah masih menyala. Dan terjadilah “Cccciiiiiiiitttttttt…..BRRAAKKK…….!!!!”.
***
Kondisi Juli kritis dan koma selama dua hari. Saat Juli sadar, senyum bahagia merekah di bibir semua yang mengkhawatirkan Juli.
“Ma, Juli dimana?” tanya Juli lemah.
“Di rumah sakit, Sayang? Kamu kecelakaan. Tapi, sudah nggak apa kok, kata dokter,” jawab mama Juli.
Juli mengamati satu persatu orang yang ada di sekelilingnya. Saat pandangannya jatuh pada Mila dan Lana, air mata mengalir di pipinya.
“Juli, maafin gue yang selalu menghindar dari elo. Tapi, gue nggak bermaksud jahat. Cepet sembuh, ya?” kata Mila penuh penyesalan sambil menggenggam tangan Juli.
“Kalian jadian nggak bilang-bilang,” kata Juli merasa miris mengetahui kenyataan bahwa Mila dan Lana memiliki hubungan istimewa.
“Ini nggak seperti yang elo pikirkan,” kata Mila.
“Gue ikhlas kok, Mil! Nitip mas Lana, ya?” sahut Juli.
“Mas Lana, sebenernya yang naruh memo itu aku. Maaf, ya?” tambah Juli.
Nggak apa kok, Juli,” sahut Lana yang nggak sanggup berkata apa-apa.
Juli merasa nggak bisa bertahan lagi. Dia pun meminta maaf pada semuanya terutama mamanya. Juli pun titip salam sayang untuk papanya yang nggak datang dua hari ini untuk menjaga Juli yang sekarat. Dan nafas terakhir pun terhembus dari hidung Juli. Jerit tangis memecah keheningan ruang ICU seketika. Dan datanglah papa Juli bersama suami Juli, seorang dokter muda lulusan universitas luar negeri.
Inilah kisah Juli di bulan Juni, bulan keenam pada setiap tahun. Di saat cintanya pada Lana terbalas, Mila mulai jujur ingin menyatukan Juli dan Lana, suami kawin gantung Juli yang tak pernah diketahuinya datang, Juli harus pergi selama-lamanya. Padahal enam jam lagi tanggal 1 Juli, ia berusia 21 tahun. Manusia tak pernah tahu apa yang terjadi sedetik ke depan tapi manusia wajib berusaha agar tak ada kata terlambat.
***

Nania, Ketidakwarasan Nia

Nia masih terpaku diam menatap sebuah foto yang terbingkai rapi terpajang di dinding kamarnya. Terlihat di sana, fotonya dan sahabatnya, Nania. Pikiran Nia melayang kembali ke masa lalu. Masa-masa indah bersama Nania tak akan terlupakan. Hanya Nania yang bisa menjaganya, mendengarkan semua keluh kesahnya tanpa protes dan bentakan tanda geregetan dengan sikap Nia yang selalu berputus asa, membantunya saat kesusahan, selalu membuat Nia tersenyum bahagia di kala benar-benar merasa jatuh dan sendirian. Sekalipun semua itu tak pernah maksimal. Nania memang bukan manusia sempurna seperti orang pada umumnya tapi jiwanya bak malaikat yang selalu dapat mendamaikan hati Nia. Sekalipun orang awam bicara Nania bukan gadis waras tapi bagi Nia, “ketidakwarasan” itulah yang menjadi keistimewaan Nania di hati Nia.
###
 “Ini buat kamu, Nania! Kamu suka kerupuk pedas ini, kan? Hehehe....,” kata Nia ketika menyambangi Nania di “rumah”nya.
“Iya!” sahut Nania cepat.
“Mau makan sekarang?” tanya Nia. Nania mengangguk cepat.
“Tapi... ssstttt...,” Nia belum selesai bicara, Nania menirukan gerakan Nia meletakkan jari telunjuknya di mulut. “jangan berisik. Biar ibu kepala dan mbak-mbak di sini nggak tahu kita makan ini. Oke?” Nia membuat kesepakatan dengan Nania. Nania menyambutnya dengan mantab.
Kemudian Nania melahapnya dengan senang hati. Sesudah itu, ia berekspresi kepedasan bukan main lalu membuka mulutnya lebar-lebar bak naga yang sedang menyemburkan api. Tawa riang pecah lalu keduanya saling membungkam mulut masing-masing memenuhi kesepakatan yang telah dibuat.
“Nania, tahu nggak? Hari ini aku ketemu sama cowok yang aku suka, loh! He-em. Tapi dia jalan bareng cewek lain. Dia bergandengan tangan begini sama cewek itu, gini..iya, begini. Mesraaa banget...Tapi, aku nggak sakit hati lagi kok! Kamu pernah bilang aku harus kuat! Aku nggak boleh cengeng,” kata Nia sambil berusaha menghibur diri. Tapi, Nania jauh lebih peka ketimbang Nia. Nania menyadari bahwa air mata hendak membasahi pipi Nia.
“Jangan nangis! Lihat!" Nania menunjuk seekor Beo dalam sangkar tak jauh dari mereka duduk. "Beo nggak  nangis! Beo nyanyi pelangi pelangi alangkah indahmu merah kuning hijau di langit yang biru.... ” suara Nania menyanyi.
            “Aku iri sama kamu Nania, kamu selalu seneng hidupnya walaupun kamu seperti ini. Kamu tak pernah punya beban dalam hidup. Sekalipun kamu dibuang oleh orangtuamu sejak kecil tapi sejatinya kamu tak akan pernah berpikir terlalu luas dan terlalu jauh sepertiku. Hidupmu bahagia dalam keterbatasan,” gumam Nia.
Sejenak Nia melamun memikirkan hidupnya yang dirasanya tak seberuntung Nania yang baru dikenalnya awal kuliah, tiga tahun lalu. Dalam hidup Nia merasa tak ada satu pun yang mengerti dia sekalipun orangtuanya. Orangtuanya selalu memaksa dia menjadi nomor satu, melarangnya pacaran, “mencetak” seorang Nia menjadi orang yang disiplin, kerja keras, pantang menyerah, perfeksionis, mengingat mereka bukan berasal dari orang kaya. Tapi, orangtuanya tak pernah melihat dari sisi Nia, bagaimana perasaan Nia sebenarnya. Dia tak pernah menyesali nilai-nilai yang ditanamkan oleh oran tuanya tapi dampak dari itu semua, Nia menjadi pribadi yang tertutup, takut melakukan kesalahan, tidak luwes berteman dengan lawan jenis, menganggap semua hal serius sekalipun itu hal sepele dan akhirnya Nia merasa ia menjadi manusia robot, tiada lelah bekerja padahal ia manusia yang punya keterbatasan dan ia stres! Dan saat ia merasakan itu, tak ada satu pun yang mau dijadikan tempat bersandar.
Nia terbangun dari lamunannya ketika Nania menyelipkan setangkai bunga di telinga kanan Nia.
“Cantik!” seru Nania.
“Ah, kamu bisa aja. Terima kasih, ya? Tapi, Edo nggak akan pernah mengatakan itu padaku dan menerima perasaanku...” kata Nia kembali bersedih.
“Nia cantik! Jangan sedih lagi,” sahut Nania menghibur.
###
 “Kamu ngapain pulang malem-malem lagi? Padahal tugas-tugas akhir kamu sudah selesai semua,” tanya ibunda Nia ketika Nia sampai rumah tepat pukul sepuluh malam.
“Dari panti Melati, Bu,” jawab Nia tak bersemangat.
“Kamu ngapain lagi ke sana? Kamu ketemu lagi sama orang ndak waras itu???” tuduh ibunya.
“Ibu, sudah berapa kali saya bilang, Nania itu nggak gila! Ibu ndak bisa baca, ya? Itu yayasan untuk orang-orang tuna daksa! Bukan rumah sakit jiwa!” balas Nia dengan suara lantang.
“Tapi tetap saja dia nggak bisa berpikir normal kayak kita!” sahut ibunya.
“Ibu, tolong, saya ini sudah hampir lulus dari kuliah ini, tapi kenapa sih, ibu ndak sedikitpun mau memahami apa yang saya lakukan?”
“Karena ibu dan ayah ndak pernah merestui kamu di jurusan nggak jelas begitu! Apa untungnya? Mau jadi apa kamu jadi sarjana sepikologi??!!”
“Psikologi, Bu,” Nia membenarkan pelafalan ibunya.
“Apapun itu! Ngapain pula berurusan dengan orang-orang aneh seperti mereka??!!”
“Sudahlah, Bu, saya capek meributkan hal-hal itu saja sama ibu. Ibu boleh tidak memaafkan saya tapi tolong Ibu rubah mind set Ibu tentang Nania. Dia hanya keterbelakangan mental bukan gila!” tegas Nia segera pergi ke kamarnya.
Nania dongkol lagi dalam hati. Entah apa yang ada di pikiran kedua orangtuanya dan apa yang membuat hati mereka begitu kokoh tak terpatahkan untuk memandang remeh apa yang dilakukan Nania. Ada apa dengan ilmu psikologi? Ada apa bila Nia bergaul dengan mereka yang memiliki keterbelakangan mental dan bahkan gangguan jiwa? Kenapa orangtua Nia begitu tidak meridhoi anaknya berhubungan dengan itu semua. Nia menghanyutkan tubuhnya di kasur dan menangis sejadi-jadinya. Hidupnya sial! Orangtua otoriter, tak pernah disukai lawan jenis, persahabatan yang penuh dusta, tak pernah ada yang beres dalam hidupnya. Kemudian terlintas pikiran gila di otak Nia. Bunuh diri. Ah, tapi tidak, sekalipun ia marah pada orangtuanya tapi ia masih ingin membahagiakan orangtuanya. Lari ke narkoba? Ah, apa kata orang nanti?
“Niatku adalah mengabdikan hidupku untuk kebaikan membantu sesama yang mungkin merasakan hal yang sama denganku. Menjadikan diriku sendiri sebagai contoh yang bisa survive dalam semua masalah yang menempaku, seberat apapun itu. Aku harus survive. Seperti Nania dan kawan-kawan yang lain itu. Mereka mampu melewati kepahitan yang terjadi dalam hidup mereka. Dan aku yang lebih dari mereka harus lebih bisa berpikir sehat,” gumam Nia sambil menyeka air matanya.
###
Nia baru selesai kuliah dan hendak pergi makan siang bersama teman-temannya tapi tiba-tiba telepon dari panti Melati memberitahukan bahwa Nania kecelakaan parah dan dibawa ke rumah sakit dekat kampus Nia. Spontan Nia cemas dan bergegas ke rumah sakit. Tapi di tengah jalan ia bertemu Edo dan Edo “menghadangnya” sebentar.
“Nia, bisa bicara sebentar?”
“Kenapa? Cepetan!”
“Kita ketemu Sabtu besok di taman kota, ya? Ada yang pengen aku omongin ke kamu,”
“Oke, aku bisa dateng. Duluan ya, urgent, nih!” kata Nia sambil buru-buru lari sedang Edo nampak bingung sendiri.
Sesampainya di rumah sakit dengan jalan kaki, Nia segera menuju ruang operasi di mana Nania berada. Di sana ia menemui ketua yayasan yang memang selama ini juga dekat dengan Nania dan menyayangi Nania.
“Gimana Nania, Bu?” tanya Nia khawatir.
“Masih dioperasi, Nia,” jawab ibu itu.
Setelah beberapa waktu menunggu akhirnya dokter keluar dengan raut wajah murung.
“Nania gimana, Dok?? Selamat kan, Dok? Dokter, gimana Nania?” tanya Nia beruntun.
“Maaf, saudara Nania....” kata dokter itu terhenti sejenak.
“Kenapa, Dok?” tanya ibu ketua yayasan tak kalah khawatir.
“Saudara Nania tak tertolong. Kami sudah berusaha keras tapi pendarahan di kepalanya sungguh parah. Kami mohon maaf,” lanjut si Dokter sambil beranjak pergi.
Nia dan Ibu ketua yayasan yang merangkap sebagai kepala sekolah shock berat. Nia segera masuk ruang operasi dan memeluk Nania yang sudah terkapar tak bernyawa itu. Rasanya benar-benar sulit diterima, “malaikat”nya pergi tanpa pamit sebegitu mendadaknya. Nia belum siap kehilangan orang kepercayaannya dan yang paling disayanginya itu. Nia kemudian pingsan untuk beberapa waktu. Bahkan sampai proses pemakaman Nania, Nia masih sering jatuh bangun pingsan. Nia juga sempat menunggui pusara Nania hingga hari hampir menjelang senja setelah Nania dikebumikan. Hingga beberapa hari setelahnya Nania masih menutup diri untuk hal-hal berkaitan dengan Nania.
###
Dua minggu berlalu Nia menyambangi panti Melati, tempat di mana banyak kenangan dengan sahabatnya terekam indah. Sesampainya di sana, ibu ketua yayasan memberikan secarik kertas pada Nia. Kertas itu ternyata bergambar orang-orang yang dinamai pada masing-masing orang: Nia, Nania, keluarga Nia dan Edo dengan ekspresi wajah bahagia. Mungkin itu adalah doa Nania selama ini untuk dirinya. Tak terasa Nia meneteskan air mata. Kehilangan Nania seolah-olah kehilangan separuh jiwa. Sekalipun Nania tak sesempurna dirinya tapi Nania punya hati yang bersih, tak pernah berburuk sangka dan jahat pada orang lain. Dan Nia kembali merenung, tak lagi ada yang mengerti dia, sementara orangtuanya tetap sama tak pernah berubah. Dan Edo ternyata hanya ingin menegaskan bahwa di antara mereka hanya teman dan tak akan pernah terjalin cinta kasih karena di mata Edo, Nania tak ubahnya pungguk merindukan rembulan. Bagi Nia, semenjak kematian Nania, semua orang semakin kejam dan memuakkan!
...
“Biarkan aku dengan ketidakwarasanku yang menganggap semua orang kejam karena bagiku semua begitu adanya! Hanya dengan ketidakwarasanku ini, aku bisa berkhayal bertemu dengan Nania kembali, bercengkerama dengannya dan menghapus semua kepedihan. Jangan sadarkan aku dari ketidakwarasan ini karena kalian pun tak akan pernah mau mengerti diriku. Jadi, buat apa aku mewaraskan diriku? Percuma!” batin Nia dalam hati sambil memeluk foto kenangan saat ia dan Nania berfoto bersama di salah satu sudut taman panti Melati.
-selesai-


*Ditulis ulang untuk event Moment to Remember 2013 dengan tema "friendship"

Senin, 11 Maret 2013

Ibu-Ayah cuman bilang...

Usiaku nyaris 23 tahun, entah aku bisa melampaui 23 tahun atau tidak, wallahi... 
Aku merasa belum dapat melakukan apapun untuk orang terkasih. Jelas, pasti, orangtua dan kedua adikku.
Tapi aku sering mendengar wejangan dari orangtua
Ayah bilang meski kita tidak kaya harta, kita harus kaya iman, islam, ikhsan dan jangan melakukan tindak kriminal
Ayah bilang menjadi wanita jangan agresif karena tidak ada harganya di mata lelaki
Ayah bilang berbaut baiklah karena siapa tahu anak-cucuku kita juga diperlakukan baik, walau bukan pada kita langsung
Ayah bilang wanita tidak boleh kasar dan kaku
Ayah bilang wanita harus pintar memasak
Ayah bilang kalau makan tidak boleh disangga
Ayah bilang kalau sudah malam nggak boleh nyapu
Ayah bilang nggak boleh berdiri di depan pintu
Ayah bilang kalau aku mapan aku disuruh rendah hati membangun sebuah musholla dan panti asuhan kalau perlu lembaga pendidikan
Ayah bilang jangan berhenti berdzikir dalam hati
Ayah suruh aku jangan meninggalkan ibadah wajib
Ayah suruh aku berhijab dengan baik
Ayah bilang dalam setiap doanya supaya hidupku sejahtera dunia-akhirat.
Itulah ayahku... ayah bilang...
Lalu ibu...
Ibu bilang aku harus mengenyam pendidikan tinggi walaupun biayanya harus utang sana-sini
Ibu bilang aku harus sabar dan kuat menghadapi cobaan
Ibu bilang aku tak boleh suka mengeluh
Ibu bilang aku harus berniat dan konsisten berdiet
Ibu bilang untuk sabar nunggu uang kiriman
Ibu bilang akan membelikan aku apa yang kuperlukan kalau ayah sudah punya rezeki
Ibu bilang ia bercita-cita anaknya bisa sukses dan mapan barokah dunia-akhirat
Ibu bilang ia tak pernah memaksakan kehendaknya padaku dan dua adik laki-lakiku
Ibu bilang aku tak usah iri pada mereka yang berlebih
Ibu bilang aku tak cantik tapi aku harus punya inner beauty
Ibu bilang dia ingin menantu yang sholeh, mapan dan bertanggungjawab
Ibu bilang semuanya... bahkan terdengar olehku ketika kami sholat berjamaah, aku ada di setiap doa’nya.
Itulah yang ibuku bilang...

semua itu sering kudengar selama 23 tahun -pas bayi mungkin aku juga menyaringnya di otakku- 
berusaha kuresapi dan kuamalkan tapi sementara ini aku masih bebal cuman bisa bilang ya itulah yang ibu dan ayahku bilang