Kamis, 10 Mei 2012

cerpen "Mimpi yang Tertunda"



Mimpi yang Tertunda

“Hah?? Yang bener aja elu suka sama om-om gini!” celetuk Rima ketika melihat foto sahabatnya, Tika, bersama seorang atlet basket nasional.
“Enak aja wajah om-om! Umurnya masih dua tujuh! Nggak jauh-jauh amat sama gue. Coba deh, elu cermatin wajahnya! Aslinya ganteng, loh, bang Riko,” tungkas Tika tak terima.
Rima ketawa ngakak membuat Tika terheran-heran.
“Elu nggak kehilangan kewarasan elu, kan, Rim?”
“Enak aja elu bilang gue kagak waras! Yang ada elu itu yang setengah nggak waras. Bisa-bisanya elu suka sama pemain basket berwujud begitu? Kalau mau pacar atlet basket, sekalian yang ganteng kayak Wellyanson Situmorang, kaptennya Satria Muda. Jangan yang tampang ngepas begitu. Mau dipas-pasin aja susah juga tampang begitu! Hahahahah,....”
“Masalahnya di sini itu masalah hati. Sekalipun jelek, kumisan, botak, pendek, sombong lagi, kalo hati bicara suka, mau apa??”
“Ah, lebay lu! Terserah deh, elu suka sama sapa aja, tapi gue cuman pesen jangan terlalu ber-euforia. Kalau jatuh, sakit. Gue nggak mau sahabat gue satu ini mewek lagi gara-gara patah hati,” kata Rima.
“Siippp. Gue pastikan gue akan lebih bertindak cermat dan bijaksana untuk dapet cowok kali ini. Percaya sama gue,” sahut Tika tersenyum percaya diri.
Mereka berdua pun segera beranjak dari kantin, membawa seabrek buku dan menjinjing tas laptop jadul mereka menuju perpustakaan untuk belajar bareng menyambut Ujian Tengah Semester esok hari.

Hari ini gue harus berhasil bikin Riko buka mulut di YM. Masa’ sudah tiga bulan ini gue samperin pagi, siang, malem lewat YM dan facebook, kagak pernah dibales. Sombong sekali dia. Please, Bang Riko...bales sekali aja...betapa gue ngefans sama elu. Perhatikan nasib perasaan gue ke elu. Nampaknya sudah lebih dari sekedar ngefans. Yah, walaupun untuk bisa deket sama elu itu hil yang mustahal alias hal yang mustahil.
Tikaantik: malem bang Riko....
Tulis Tika di YM pada Riko. Lama sekali Riko tak membalas. Dalam hati Tika berdoa dengan sekuat tenaga Riko mau membalasnya.
Sejam. Dua jam. Tiga jam. Lima jam. Tepat pukul dua belas malam, seiring selesainya Tika belajar –aslinya cuman membuka-buka file power point-, seiring itu pula ia masih menunggu balasan YM dari Riko. Tika mulai desperate. Tika memutuskan sign out dan segera tidur. Dibawanya rasa sebal dan kecewa ke alam tidurnya.
Dan esok paginya, mentari menyapanya dengan senyum semangat tapi balasan Tika mengecewakan. Ia memasang muka masam dan menyimpan kesebalan teramat sangat pada Riko.
Dia itu cuman pebasket nasional yang ecek-ecekan. Dia cuman pemain cadangan! Kenapa sih, elu bisa suka sama dia, Tik??!
Karena siapa tahu nyantol. Kan, belum banyak fans tuh, jadi nggak banyak saingan.
Iya, kalo dia suka sama elu? Kalo nggak? Bales YM dan wall Facebook elu aja kagak. Itu artinya, nggak perlu jadi artis, minimal artis lapangan basket, dia sudah punya bibit mental artis yang sombongnya selangit lapis ketujuh.
Tapi, gue yakin dia baik. Terakhir foto sama dia, dia mau senyum kok, waktu gue sapa. Foto terakhirnya juga senyum, nggak kayak foto pertama kali yang no ekspresi. Dan gue juga terlanjur suka sama dia. Sejelek apapun dia, gue mau.
Elo cuman bernafsu pengen punya cowok dan berprofesi pebasket. Itu nggak tulus. Dan sesuatu yang nggak tulus itu nggak akan awet. Mending elo pikirin baik-baik sebelum jauh melangkah, sebelum terlanjur malu dan sebelum yang jelek-jelek terjadi. Jangan ngoyo meraih bintang yang nggak mungkin diraih. Dia bisa dikatakan artisnya basket walau nggak mentereng. Siapapun dan gimanapaun wujud rupanya, kalau sudah embel-embel pebasket, olah raga bergengsi itu, cewek mana yang menolak jadi pacarnya??? Jangan mimpi deh, saingan elu terlalu banyak.
Ah, perasaan kagak ada yang ngincer gue. Gue capek jomblo. Gue pengen punya pacar. Gue mau punya pacar. Gue mau kayak Riko. Bodo amat kata orang!
Tika berjalan menuju kampus sambil memikirkan Riko tanpa ia sadari itu membahayakan dirinya karena dia nggak fokus menyeberang jalan. Nyaris saja dia tertabrak mobil ketika menyeberang. Ia pun diomeli si supir mobil. Tika pun meminta maaf atas keteledorannya.
Ketika hampir sampai di kampusnya, handphonenya berbunyi. Ia segera mengangkat telepon dari nomor tak dikenalnya itu.
“Halo,” kata Tika.
“Dengan Tika Safitri?” tanya seorang cewek di seberang sana.
“Iya, betul! Maaf, dengan siapa ya? Ada perlu apa?”
“Kita dari official Pasific Jaya. Kita mau ada kumpul bareng pemain skuad PJ di Mentari Timur Mall Surabaya, malam ini. Gratiiiss. Dateng, ya?” lanjut cewek di seberang sana.
“Hah??? Yang bener, Mbak? Bang Riko dateng juga?”
“Pastinya,”
“Wah, pasti. Pasti. Aku pasti dateng, Mbak. Jam berapa? Sebelah mana MT Mall? Musti persiapan aja?”
“Kita cuman nongkrong aja di food courtnya. Nggak usah persiapan apa-apa. Kita tunggu jam tujuh malem, ya? See you, Tika,”
Lalu sambungan telpon itu putus dan Tika kegirangan habis. Dan semangatnya memuncah menyambut malam ini. Bertemu Riko Febrian.

Tika sudah berdandan rapi untuk mertemu dengan Riko. Malam ini, hatinya spesial untuk Riko meskipun ia nanti akan bertemu pemain lainnya.
Ia berjalan menuju food court MT Mall dengan langkah cepat dan bahagia. Sesampainya di sana ia bergabung dengan fans PJ lainnya yang tergabung dalam fans club PJ di Surabaya. Ia juga sempat menyapa beberapa pemain yang sudah ngobrol dengan fans-fans lain. Mata Tika mencari-cari Riko. Dan seorang wanita menyapanya dari arah belakang.
“Tika?” tanya wanita itu. Tika mengangguk cepat.
“Riko ada di sana,” lanjut  wanita itu. Tika merasa aneh sejenak tapi juga kegirangan bukan main. Ia segera menuju Riko berada.
Tika menyapa Riko dengan senyuman.
“Silakan duduk! Mau minum apa?” tanya Riko dingin.
Tika menjadi kikuk kemudian ia duduk.
“Jus Melon aja,”
Riko memesankan jus Melon untuk Tika.
“Kok, di sini, Bang? Temen-temen kan, pada ngumpul di sana?” tanya Tika ragu-ragu karena ia tak tahu harus bicara apa.
“Mau ngobrol sama kamu,” sahut Riko mencengangkan Tika.
“Sama aku? Hehehe, jadi Ge-Er,”
“Aku nggak suka cara kamu sering nyapa aku di facebook dan YM,” celetuk Riko.
“Emang ada yang salah ya, Bang?” tanya Tika.
“Nggak suka aja. Aku nggak suka dikejar-kejar cewek. Apalagi cewek macem kamu,” sambung Riko.
Cewek macem apa maksudnya?
“Macem gimana ya, Bang?”
“Ya, kamu pasti nyadar lah siapa aku dan siapa kamu. Jangan mimpi, deh!” kata Riko membuat Tika tersinggung.
Tika sadar sekali arah perkataan Riko. Ternyata Riko penganut paham mukaisme.
“Permisi,” kata Tika meninggalkan tempat bahkan ia melangkah pulang. Sementara Riko masih tetap tanpa ekspresi dan merasa tak berdosa telah menyinggung perasaan Tika.
Saat meninggalkan food court, tiba-tiba seorang lelaki membawa sebuah pisau tajam menghentikan langkah Tika bahkan mendekap Tika. Ternyata dia seorang perampok di mall yang sedang berusaha melarikan diri. Tapi karena sudah ketahuan banyak orang akhirnya dia berulah menyandera pengunjung dan sialnya itu Tika. Diarahkannya pisau yang dibawanya itu pada leher Tika. Spontan, semua orang, tak terkecuali para pemain PJ dan para fans, juga Riko terhenyak dari tempat duduknya.
“Jangan macam-macam! Atau wanita ini saya bunuh!” ancam si perampok.
Tika ketakutan bukan main hingga ia merasa pasrah, mungkin memang nasibnya harus berakhir di tangan perampok. Perampok itu menyeret Tika keluar gedung mall. Tapi tiba-tiba perampok itu melepaskan Tika dengan paksa tanpa ia sadari ketika melepaskan Tika itu, pisaunya menyabet tangan Tika hingga lengan Tika terluka. Perampok itu berhasil lari. Tika terduduk lemas tak berdaya di halaman mall. Dia menangis. Para pemain PJ dan para fans segera menghampiri Tika.
“Saya pulang aja, ya? Maaf nggak bisa ikut ngumpul bareng,” kata Tika pada semuanya.
“Aku anter aja, ya, Tika?” tawar seorang cowok yang juga fans PJ yang cukup kenal baik dengan Tika.
“Nggak usah. Biar gue aja yang nganter dia. Kalian ngumpul lagi aja,” celetuk Riko tiba-tiba sambil secepat mungkin menggandeng tangan Tika satunya.
Lalu Riko dan Tika segera pergi. Sebelum pulang mereka mampir dahulu ke rumah sakit terdekat mengobati luka Tika.

“Makasih banyak, Bang, sudah dianterin. Dengan apa ya, aku harus membalasnya? Ehm, aku tahu...balasannya adalah menjauhi Bang Riko dan berhenti menyapa Bang Riko di YM maupun di facebook. Oke, aku pasti lakukan itu,” kata Tika.
“Sok tahu banget sih, lo?!”
“Emang itu kan, jawabannya?” tanya Tika tersenyum.
“Sayangnya gue nggak mau dengan ide yang elo ungkapin barusan,”
Tika memandang Riko dengan kerutan di dahi.
“Gue mau elo jadi pacar gue mulai detik ini juga!”
“Aku nggak mau pacaran sama orang yang nggak citna sama aku, Bang. Cuman bikin sakit hati,”
“Siapa bilang gue nggak cinta sama elo?”
“Lah, tadi, bilangnya di food court apa coba kalo nggak itu artinya?”
“Elo itu sok tahu dan sok jadi penafsir bahasa, ya? Gue nggak suka sama orang seperti itu! gue nggak bilang gue nggak cinta sama elo,”
“Tapi, kata-kata Abang tadi di sana sudah menjelaskan Abang nggak suka sama Tika,”
“Oke, gue tahu tadi kata-kata gue salah. Tapi, sedetik setelah kata-kata itu muncul gue nyesel. Ternyata gue nggak bsia ngebenci elo. Gue suka sama elo dari sapaan elo yang setiap waktu, setiap hari itu. Dan gue merasa kehilangan kala elo nggak pernah nyapa lagi. Kemana eja elo semingguan terakhir?”
“Ngapain aku musti nerusin nyapa orang mati?”
“Kok, mati?”
“Lah, situ disapa nggak pernah bales,”
“Ya, emang gue males ngejawab,”
“Ya, itu artinya situ nggak suka sama aku dan situ nggak bisa menghargai orang!”
“Kok, sewot begitu?”
“Ya, situ yang mulai bikin sewot,”
“Ya, gue begini adanya. Paling males sama dunia maya. Gue harap elo ngerti itu. Dan gue pesen satu hal, gue pantang ditolak!”
Waduh, tampang begini aja berani bilang pantang ditolak, gimana kalo tampangnya tampang Galang Gunawan-Satria Muda coba.
“Kok, diem?”
“Iya,”
“Iya, apanya?”
“Loh, tadi katanya ngajak jadian kok, nanya apanya?”
“Oh...Makasih banyak Tika antik...” kata Riko mengagetkan Tika karena ternyata Riko hafal nicknamenya di YM dan di facebook.
Hhhmmm...mimpi apa gue semalem, malem ini gue jadian sama Riko, atlet basket profesional. Tuhan, terima kasih banyak...nggak akan aku sia-siakan dia. Sekarang gue nggak jomblo lagi. Dapet pemain basket pula. Heheh...bisa pamer juga nih, gue ke anak-anak dan cowok-cowok yang sudah bikin gue patah hati. Aku bahagia....

“TIKAAAA....................BANGUNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN.....” teriak Rima di telinga Tika yang masih molor pada pukul delapan pagi.
Tika spontan bangun.
“Rima! Gue nggak budeg tahu??!!”
“Elo sih, dibangunin dari tadi kagak bangun-bangun. Sudah jam delapan, tuh! Katanya ujian Psikologi Kesehatan jam delapan,” kata Rima.
“APA???!! Sekarang jam delapan??? Mam-the-de-pus alias mampus....gue cuci muka aja deh, nggak mandi. Thanks ya, Rima, negbangunin gue. Dan astaga..gue juga baru aja baca judul power point aja. Gimana dong, gue nggak belajar semalem. Mampu 2012 ini. Kalo nanti studi kasus yak apa?” Tika nyerocos kagak jelas sambil menyambar handuk dan keperluan alat mandi yang ditaruhnya di manapun sudut kamarnya. Rima hanya melongo melihat tingkah Tika.
“Dasar bawaan orok, sulit diubah!” gumam Rima.
Tika sudah siap berangkat ke kampus dan ia segera berlari tunggang langgang menuju kampusnya. Dan ketika ia sudah sampai di ruang ujian, dia menjadi tegang dan ia berusaha keras untuk stay cool.
“Semoga beruntung, Tika,” gumamnya.
Ia pun menjalani ujian tulis dan sejenak sebelum ia mengerjakan ujiannya ia berpikir.
Ternyata gue dan Riko jadian itu cuman mimpi. Kapan mimpi ini tercapai, Tuhan?  Tapi, yang pasti Tuhan, jangan cuman mimpi saya mengerjakan ujian hari ini. Please, Tuhan, beri saya keberuntungan hari ini. Dan Riko, mimpi yang tertunda untuk lain hari. Semangat, Tikaaa.....






cerpen "Ku Pinang Wanita Pencemburu Buta"


Kupinang Wanita Pencemburu Buta

Di dunia ini tak pernah ada yang kekal dan abadi. Selalu ada yang datang dan pergi, ada yang lahir dan meninggal, ada rezeki dan ada pula kehilangan. Seperti roda yang terus berputar selama si empunya juga memutarnya. Dan si empunya putaran hidup ini hanyalah Tuhan yang Maha Diraja memutar roda kehidupan. Kita hanya aktor dari cerita yang didesain sedemikian apiknya oleh Sang Desainer Kehidupan. Makna ini baru disadari Octo semenjak kedua orang tuanya meninggal karena bencana letusan gunung berapi di daerahnya yang terjadi kurang lebih hampir enam bulan yang lalu. Tapi untuk menuju proses kesadaran diri itu, Octo harus berjuang keras melawan dirinya sendiri yang terus larut dalam kesedihan dan pasrah pada keadaan yang baginya sama sekali membuatnya sial dalam hidup. Tapi, semenjak kehadiran Niah, gadis cerdas yang memiliki keterbatasan fisik, semangat hidupnya memuncah. Niah membantunya untuk merombak 180 derajat keterpurukan dan keputusasaannya yang kini sebatang kara.
“Hidup ini memang sebuah panggung sandiwara tapi tidak untuk dijadikan permainan. Kita menjalankan skenario-Nya yang tak dapat kita elakkan. Hidup dan mati itu harga mati dari Tuhan untukmu. Sedang jodoh dan rejeki, sekalipun itu juga harga mati tapi masih bisa kau usahakan. Ke-tak lengkapan jari-jari tanganku juga harga mati dari Tuhan untukku yang sempat aku sesalkan. Tapi, itu tak memberikan kebahagiaan hidup. Kita tidak boleh egois memikirkan diri sendiri. Masih banyak hal lain yang membutuhkan perhatian kita, membutuhkan manfaat dari yang mungkin kita berikan. Itulah cara kita membahagiakan orang yang kita cintai sekalipun mereka tiada lagi ada di sisi kita. Bahagia itu tak langsung kita berikan pada mereka tapi dengan berbuat baik kepada sesama, pahala kita akan tercatat untuk bisa menolong orang tua kita yang sudah tiada. Itulah anak sholeh,” jelas Niah suatu kali setelah Octo berusaha meminum racun serangga tiga bulan sepeninggal kedua orang tuanya.
JJJ
“Assalammu’alaikum. Permisi, Dokter Octo ada?” tanya Niah pada salah seorang dokter muda teman Octo di ruangan kerja Octo.
“Dokter Octo ada di kantin tadi, Mbak. Coba saja nyusul ke sana!” jawab si dokter muda itu.
Niah pun segera ke kantin sembari membawa sekotak nasi bekal makan siang untuk Octo. Dengan semangatnya Niah membawa bekal makan siang itu untuk orang yang diakunginya jauh sebelum mereka bertemu lagi saat kondisi Octo benar-benar kacau.
Niah bertemu Octo ketika Octo magang di sebuah klinik kesehatan milik paman Niah. Ketika itu mereka saling berkenalan dan mereka mulai akrab. Hingga akhirnya tumbuh benih cinta di hati Niah tapi tidak sama halnya dengan Octo karena Niah pun tak memiliki keberanian menyatakannya. Hanya tiga bulan Octo magang dan selanjutnya kembali ke kota perantauan untuk meneruskan kuliah kedokterannya. Semenjak itu pula tidak ada komunikasi lagi di antara mereka. Tapi Niah meyakini suatu saat ia akan bertemu kembali dengan Octo. Tapi ketika bertemu kembali, kondisi Octo hancur. Kondisi psikologisnya terguncang karena orang tuanya meninggal dalam bencana letusan gunung berapi. Dan Niah pun mencoba mendekati Octo, tak ingin menjauhi sang pujaan hati. Mulanya sulit tapi perlahan tapi pasti usaha Niah tak sia-sia. Octo menerima kehadiran Niah sebagai malaikat penolongnya. Gadis yang baik hati tapi tak pernah ia sadari. Dan hatinya tetap terpaut pada sang kekasih hati putri kawan lama orang tuanya, Riri yang ia pacari jauh sebelum ia bertemu dengan Niah. Dan kini menjalin hubungan long distance. Namun, hal ini tak jua diketahui Niah.
Niah sampai di kantin dan penglihatannya segera mencari Octo ke berbagai sudut kantin. Tapi, betapa hatinya teriris perih ketika mengetahui Octo sedang mengecup kening seorang wanita dengan mesra dan nampaknya juga tulus. Niah tak kuasa menahan tangis. Ia pun segera pergi dari kantin dan pulang. Sesampainya di rumah ia meletakkan dengan paksa kotak nasi yang hendak ia berikan pada Octo di meja makan dan ia segera lari ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya.
“Tuhan, kali ini aku berani berbicara lantang bahwa ENGKAU TAK PERNAH ADIL PADAKU!!!! Kenapa Engkau ambil kedua orang tuaku semenjak aku kecil, Engkau buat aku lahir cacat, Engkau menghancurkan semuanya, Tuhan! Engkau berikan aku semua yang buruk dari dunia ini! Dan sekarang Octo Engkau jodohkan dengan yang lain. Satu-satunya orang yang kucintai saat ini,” kata Niah sambil meraung-raung menangis.
“Tidakkah sekalian Engkau ambil nyawaku sekarang juga agar Engkau puas mengambil semua kebahagiaan dariku???”
Kemudian bibi Niah yang menyadari kedatangan Niah dengan tangisan memberanikan diri menyapa Niah.
“Nduk, kenapa tiba-tiba kamu ngomong seperti itu sama Gusti Alloh?” tanya bibinya sambil mengelus rambut Niah. Niah segera mendekap erat bibinya.
“Aku ndak pantes bahagia, Bude! Semua yang kucintai pergi,” kata Niah.
“Lha, mbok pikir, aku sama pakdemu ini ndak cinta to sama kamu?” balas budenya.
“Dokter Octo ternyata sudah punya kekasih. Dan Niah ndak pernah tahu itu. Padahal sikapnya dulu waktu magang di tempat pakde, Bude tahu sendiri, kan? Dan ketika dia menjalani rehabilitasi pemulihan trauma, semua terasa...ah, atau memang aku yang terlalu Ge-Er Bude...” jelas Niah dengan menahan tangis.
“Sabar yo, Nduk! Mungkin memang nak Octo bukan jodoh kamu. Pasti ada yang lebih baik dari dia. Kamu jangan berkecil hati. Itu bukan Niah yang Bude kenal. Kamu ini sudah kayak anak Bude sendiri, gantinya Wisnu yang sudah tenang di alam sana. Nek kamu sedih, Bude juga sedih. Sudah, jangan nangis lagi. Sekarang cuci muka kamu dan segera pergi ke klinik pakdemu. Banyak pasien hari ini karena ada bakti sosial kesehatan di sana. Ayo, cepetan!” hibur budenya.
“Bude, terima kasih ya, sudah menerima Niah apa adanya. Entah tanpa Bude dan pakde, Niah jadi apa,”
JJJ
Niah berusaha menata hati secepat kilat dan menghapus air matanya ketika menghadapi pasien-pasien pamannya. Niah mencoba tersenyum meski hati pahit.
“Bisa minta obat sakit kepalanya, Mbak?” tanya seorang lelaki pada Niah yang sedang sibuk menata rapi obat-obat yang akan diberikan pada pasien-pasien.
“Boleh lihat resepnya, Mas?” tanya Niah balik. Niah pun menatap siapa yang sedang di hadapannya. Seketika itu ia langsung diam dan mengubah drastis raut wajahnya.
“Kenapa kamu? Kayak ngelihat setan gitu?” tanya Octo yang ada di depannya.
“Kamu jangan bercanda, Dok! Ini bukan waktunya main-main!” jawab Niah.
“Siapa yang main-main? Aku beneran sakit kepala. Sekarang cepet kasih aku obat pusing!” suruh Octo.
Niah segera memberi Octo obat sakit kepala.
“Ngomong-ngomong nggak dikasih air putih, ya? Gimana mau minum obat kalo’ nggak ada air putih? Aku kan, nggak bisa minum obat pakai pisang atau roti, ” kata Octo.
Niah mengambil nafas panjang, memendam sebal.
“Tempat air minum masih belum pindah untuk waktu sepuluh tahun. Ambil sendiri di dekat ruang receiptionist,” balas Niah.
“Jutek banget jadi perawat? Pasien pada lari semua lho, Sus!” goda Octo dengan senyum nakal.
“Maaf, hari ini bawaan aku pengen muntah. Jadi, dari pada Dokter terkena muntahan aku, lebih baik Dokter pergi dari depan aku!” tegas Niah. Sementara Octo, bukannya pergi malah duduk di kursi samping Niah yang kosong. Menambah kesebalan Niah.
Setelah beberapa menit, Octo nyeletuk.
“Katanya tadi, bawaannya mau muntah? Kok, nggak muntah-muntah sih, Suster?” goda Octo lagi.
“Aku punya sopan santun, Dok!”
“Trus, kenapa nyuruh aku pergi kalo kamu punya sopan santun? Kan, itu artinya kalo mau muntah, kamu pasti ke kamar mandi, kan? Kenapa sih, kamu hari ini? Marah-marah gitu? Nggak biasa-biasanya Niah yang aku kenal seperti itu?”
“Nggak papa,”
“Gini ya, Niah, aku pengen mengakhiri kebersamaan kita ini dengan indah,”
Niah tersentak sejenak dan memandang Octo.
“Aku akan kembali ke Semarang dan menetap bekerja di sebuah rumah sakit di sana. Seperti yang aku bilang dulu, di kota ini, aku cuman sementara sampai ada pengangkatan jabatan menjadi dokter tetap. Sebenarnya, susah juga karena kota ini kota kelahiranku. Tempat semua kenangan bersama orang tuaku berada. Tapi, gimana lagi, itu ketetapan dari sana. Lagi pula semakin aku lama di sini, ingatan itu akan terus ada,” jelas Octo. Niah malah terdiam.
“Ni! Niah!” panggil Octo menyadarkan Niah.
“Oh, eh, ya, sudah. Kenapa harus bilang sama aku?? Kalo’ pergi, pergi aja!” sahut Niah salah tingkah.
“Kenapa kamu kayak salah tingkah gitu?” tanya Octo.
“Ah, enggak...siapa yang salah tingkah?”
JJJ
Satu minggu berlalu. Hari di saat Octo harus kembali ke Semarang datang. Ia harus berangkat ke Semarang pukul tiga sore nanti. Sementara Niah, ia gundah gulana. Ia ingin mengantar kepergian Octo tapi ia nggak mau tambah sakit hati setelah mengetahui kebenaran dugaannya dari orang lain bahwa Octo sudah memiliki tunangan di Semarang. Harapannya memberi tahu Octo akan perasaannya jelas pupus sudah. Niah pusing dan entah harus berbuat apa. Akhirnya ia memilih tidur hingga petang menjelang.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore, itu artinya Octo sudah berangkat ke Semarang. Hhmm..kisah cinta Niah tak semanis cerita cinta di sinetron-sinetron televisi yang tiba-tiba sang pujaan datang atau tak jadi pergi dan mengungkapkan perasaannya pada orang yang mencintai. Niah menyadari, hidup ini tak semanis konstruksi imaji orang-orang yang lihai mencipta karya cerita cinta yang pernah ada. Dunia fiktif yang happy ending hanya milik Romeo dan Juliet atau Rama dan Shinta. Dunia cinta Niah akan menjadi gelap karena kasihnya tak sampai pada Octo. Dan Niah tak boleh menyerah begitu saja. Seperti yang pernah ia katakan pada Octo, kita masih bisa memberi manfaat yang mungkin kita beri pada sesama. Hidup tak selamanya tentang pasangan hidup sekalipun itu adalah hal yang cukup penting bagi beberapa orang. Bagi Niah memang penting tapi bukan yang terpenting. Kembali ia menyadari, mana ada lelaki yang mau hidup bersama gadis cacat fisik seperti dia. Mimpi!!!
“Niah, makan dulu , Nduk!” teriak budenya dari ruang makan.
“Iya, Bude. Sebentar!” sahut Niah dari dalam kamar sembari merapikan tempat tidurnya.
Dengan mata masih belekan karena tidur seharian setelah gundah gulana memikirkan Octo dan rambut masih acak-acakan, Niah hendak menuju kamar mandi. Tapi, betapa kagetnya Niah ketika melewati ruang makan. Matanya melotot bak menjumpai sosok makhluk gaib.
“Mau maghrib masih molor aja kerjaannya! Mana bisa jadi istri yang baik nanti?” sindir seorang cowok dan ternyata itu Octo sedang mencicipi masakan bude Niah.
Niah yang diajak bicara justru ngacir kembali ke kamarnya. Dan menutup pintunya rapat-rapat.
“Tuhan, itu tadi Dokter Octo?? Kenapa dia masih di sini? Bukannya dia harus balik ke Semarang? Aduh, betapa malunya aku dengan tampang seperti ini,” gumam Niah.
Setelah cukup bisa menenangkan diri dan merapikan diri meski belum mandi, Niah bergabung dengan pakde, bude dan Octo di ruang makan. Dengan sedikit malu dan salah tingkah, Niah mencoba makan dengan lahap.
“Pelan-pelan makannya, nggak baik buat kesehatan. Nanti gemuk lho, dengan nafsu makan seperti itu dan cara makan yang nggak sehat,” celetuk Octo menyindir Niah. Niah berhenti makan sejenak.
“Kenapa selalu salah aku di mata Dokter?” protes Niah.
“Bukan salah tapi perlu dibenahin,” sahut Octo.
“Apa bedanya coba?” tungkas Niah.
“Sudah, jangan berantem pas makan. Niah, setelah makan, kita semua perlu membicarakan sesuatu,” kata paman Niah menegahi keduanya.
“Soal apa ya, Pakde?” tanya Niah penasaran.
“Nanti saja. Sekarang makan masakan spesial budemu ini. Jarang-jarang kan, bude masak kayak ginian,” jawab pamannya sambil melirik ke arah bude Niah yang tersipu malu.
Usai makan malam bersama, mereka berempat segera membahas apa yang dimaksud paman Niah tadi.
“Kok, pada diem semua? Katanya mau ngomong? Pakde, ada apa, ya?” tanya Niah yang memecah suasana keheningan.
“Dokter Octo, silakan bicara!” suruh paman Niah.
“Niah, aku...aku...aku ingin melamarmu malam ini!” kata Octo yang sempat berat dan ragu di awal.
“APA??!! Mana mungkin? Dokter kan, sudah punya tunangan di Semarang,” kata Niah.
“Kami sudah putus seminggu yang lalu karena dia sendiri yang ingin mengakhiri semuanya sejak lama. Dan aku sadar, orang yang selama ini ada untuk aku ya, hanya kamu. Aku menyadarinya juga berkat Bu Rima. Aku minta maaf kalau selama ini tak pernah menyadarinya,” jelas Octo.
“Bude...kenapa Bude mengatakannya?” tanya Niah yang menyesal dan menahan malu atas perbuatan budenya.
“Kami nggak tega ngelihat kamu terus menerus mengalami kekecewaan kehilangan orang yang kamu cintai sekalipun kamu tampak tegar dan tersenyum di luarnya. Kamu sudah seperti anak kami sendiri. Jadi, kalau kamu sedih, kami juga nelangsa, Niah. Sekarang, Dokter Octo sudah menyatakan niat baiknya kepada kamu dan kita semua. Sekarang terserah kamu,” tutur paman Niah.
“Ini bukan paksaan dari Dokter Rizal dan Bu Rima, Niah. Ini kehendakku sendiri,” sambung Octo.
“Kami permisi. Ini urusan kalian berdua. Pikirkan dengan tenang dan baik-baik,” kata paman Niah sambil beranjak pergi dari tempat makan bersama bude Niah.
Octo mendekati Niah dan memegang tangan Niah.
“Perasaan itu tumbuh tidak dalam waktu yang singkat. Sudah mulai aku rawat semenjak aku direhabilitasi. Percayalah, aku tidak sedang menggoda dan membual semata, ”
“Jadi, Dokter orang yang mudah jatuh hati pada kebaikan orang lain. Dan bisa jadi, jika waktu itu bukan aku, Dokter akan jatuh cinta dan melamar orang itu sama seperti yang Dokter lakukan sekarang. Aku nggak bisa menerima cinta lelaki yang setengah hati mencintai apa adanya diri aku,” tegas Niah.
“Kalau aku hanya setengah hati, mana mungkin aku memutuskan untuk tetap tinggal di kota ini, mana mungkin aku melamar kamu di hadapan orang yang sangat aku segani yaitu pakde dan bude kamu seketika itu juga, mana mungkin aku pamit pada kamu ketika hendak pindah ke Semarang, mana mungkin aku selalu meminta kamu membawakan makan siang untuk aku setiap hari, mana mungkin aku selalu ingin berada dekat dengan kamu setiap hari dengan alasan ingin konsultasi dengan Dokter Rizal di rumah ini? Apa perlu aku sebutkan satu per satu pertanda aku menyayangi kamu? Supaya kamu menyadari bahwa aku jelas nggak bisa hidup tanpa kamu? Atau mungkin setiap apa yang aku lakukan tidak pernah ada artinya sama sekali di mata kamu, Niah???” celoteh Octo mencoba meyakinkan kebenaran cintanya pada Niah yang terdiam terpaku.
“Apa jaminan yang bisa Dokter berikan bila semua itu benar?” tanya Niah sambil meneteskan air mata.
“Kita mulai hidup baru bersama. Ini bukan keputusan dalam beberapa detik. Sudah lama aku memikirkan ini, memberanikan diri untuk menjadikan kamu istri sekaligus ibu bagi keturunanku kelak,” jawab Octo mantab.
“Dengan keterbatasan fisikku?” tanya Niah masih ragu. Octo mengangguk.
“Aku wanita pencemburu buta dan selalu berkecil hati melihat kesempurnaan yang tak kumiliki,” lanjut Niah.
“Aku lelaki yang dua kali lipat pencemburu buta dan aku lelaki yang akan mengubah kebodohanmu memandang dunia yang sebentar ini,” tungkas Octo menggenggam erat tangan Niah.
“Ku pinang wanita pencemburu buta itu malam ini juga!” celetuk Octo membuat Niah menangis bahagia. Octo mengecup tangan Niah dengan senyuman maut yang hanya dimiliki Octo –menurut Niah-.
JJJ




cerpen "Cinta Rasa Bolu Uni"


Cinta Rasa Bolu Uni
    
“Kamu tahu nggak, Mister Oni tadi ngomel-ngomel di kelas Teori Organisasi? Gara-gara ada mas-mas disuruh maju ke depan ngerjain tugas yang mustinya harus sudah dikerjain eh, dia kagak bisa. Habis deh, kita sekelas. Akhirnya suruh nge-resume buku Te-O dari bab satu sampai bab sepuluh. Mampus melek di depan kompi itu!” cerocos Uni ketika dia dan Ema asyik nonton turnamen basket nasional.
Uni terus saja nyerocos tanpa mau melihat mimik muka Ema yang sudah geram menahan kesebalannya pada Uni yang hampir tidak pernah bisa santai sejenak meninggalkan kuliah. Dimana-mana selalu obrolannya berkaitan sama kuliah. Meskipun bukan selalu materi mata kuliah yang dibahas tapi tetap saja semua dunia kuliah dia ceritakan setiap kali keluar bareng Ema, kayak nggak ada pembahasan lain aja.
“Jadi, tadi di kampus tuh... ” belum selesai Uni berkata, Ema memotongnya.
“Uni, please yah...stop ngomongin kuliah di tempat semacam ini! Seneng-seneng sedikit kenapa, sih!!!” kata Ema dengan nada jengkel.
Uni bisu seketika.
Gue kan, emang nggak bisa diem. Lagian nonton pertandingan olah raga mana mungkin cuman diem. Hhhmm...atau memang gue aja yang selalu cari perhatian. Tapi, ya, emang itu! Gue pengen diperhatikan sama kayak elo, Ema, diperhatikan banyak cowok, banyak temen, banyak senior. Jadi, ya, ini cara gue nyari perhatian karena cuman dunia kampus yang gue tahu. Bukan seperti elo yang magang, yang ekstrakurikuler, yang organisasi di luar dan di dalam kampus.
Uni beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar arena pertandingan.
“Mau kemana loe?” tanya Ema.
“Toilet,” jawab Uni bohong. Ia sudah menahan air mata. Rasanya sakit dikatain Ema seperti itu. Mungkin Uni terlalu sensitif tapi baginya kata-kata Ema tadi menyiratkan bahwa Uni adalah orang yang membosankan, selalu merepotkan, selalu membuat jengkel dan banyak omong dan sok cari perhatian pastinya.
Uni berjalan menuruni anak tangga gedung arena itu dan berpapasan dengan tim basket idolanya yang akan bertanding setelah pertandingan yang sedang berlangsung selesai. Ia tak menggubris ketika salah seorang idolanya yang sudah sering chatting by facebook maupun YM menyapanya. Uni terus melangkah menundukkan kepala menuju area parkir. Rencananya ia ke toilet untuk menangis tapi rasanya dadanya sesak dan membutuhkan udara segar di luar. Tapi di tengah perjalanan ia menabrak seorang cowok ber-jersey angka 13 dan ternyata ia anggota tim basket idola Uni.
“Aduh!!” keluh Uni.
“Elu jalan pakai dengkul??!!” kata si cowok lantang.
“Sori, sori, Mas! Nggak sengaja,” sahut Uni.
“Makanya, punya mata difungsikan dengan baik!” lanjut si cowok ketus.
Uni menelanjangi sosok di depannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Si cowok cuman melotot sambil membenarkan tas ransel yang dibawanya.
“Kamu pemain baru, ya? Kamu yang namanya Koko Ran, kan??” tanya Uni sambil menunjuk-nunjuk muka cowok itu.
“Sok tahu!!” timpal cowok itu judes dan meninggalkan Uni begitu saja.
“Huuu...belagu banget! Awas kualat loe! Apalagi jersey elo nomor 13, angka sial, tuh!!!” teriak Uni tapi tak digubris cowok yang memang bernama Ran itu.
JJJ
“Ema, nanti nontong basket lagi, yok!! Abang gue main loh, Rio!” ajak Uni di tengah kuliah Psikologi Abnormal.
“Abang? Abang ketemu gede maksud loe?” kata Ema. Uni mengangguk.
“Sori, gue ada acara di PMI sama anak-anak,” kata Ema membuat Uni kecewa dan mulai berpikir keras bagaimana caranya bisa nonton tim basket favoritnya nanti sore.
Dan sore itupun tiba. Uni nekat naik angkot dan berganti bus kota untuk sampai di arena pertandingan basket nasional yang sedang diadakan di Surabaya itu. Sesampainya di sana, ia segera membeli tiket dan duduk manis bareng penonton yang lain. Dan ketika para penonton menyoraki tim basket kebanggaan Surabaya, Uni sendirian mendukung tim basket idolanya dengan doa. Uni gengsi besar kalo harus teriak-teriak kayak di hutan aja.
Uni dengan hikmat memperhatikan jalannya pertandinagn yang membuat timnya kalah 45-54 melawan tim kebanggaan Surabaya. Uni kecewa dan sedih kemudian segera keluar arena untuk menanti tim basket favoritnya keluar dari gedung pertandingan dan ingin memberikan support moral bagi tim itu. Tapi, tiba-tiba perutnya mules dan terpaksa buang hajat dulu.
Kurang lebih sepuluh menit berlalu. Uni segera menuju area parkir dimana para pemain menunggu bus yang mengantar mereka kembali ke hotel. Betapa kagetnya Uni di sana melihat Ema dan dua orang kawannya yang lain sedang asyik ngobrol sama Rio, betapa sakit hatinya Uni.
“Katanya nggak bisa nonton eh, sekarang ngecengin abang Rio lagi. Busuk banget sih, Ema!! Temen macem apa itu???!!! Tapi...gue juga sering ngrepotin dia suruh nganter kemana-mana, emang dia tukang ojek gue??? Sori ya, Ma...elo pantes bersikap gitu ke gue. Emang gue pembawa sial buat semua orang,” gumam Uni sambil memasang tampang manyun dan hati sedih kemudian dia membalikkan badan hendak pulang tanpa bertemu tim kesayangannya itu. Tapi ketika ia membalikkan badan ia menabrak orang lagi dan itu Ran!
“Elu lagi. Punya mata nggak sih, lu??!!!” suara Ran sewot.
“Sori...gue nggak sengaja,” timpal Uni.
“Alesannya nggak sengaja mulu!! Atau emang elu sengaja nabrak gue biar dapet perhatian dari gue kayak elu dapat perhatian dari Rio???!!!” tuduh Ran. Uni melotot pada Ran.
“Elo pikir gue jablay apa?? Hati-hati ya, elo kalo ngomong. Elo juga sih, pembawa sial! Angka punggung elo itu emang pembawa sial. Terima saja, hidup elo itu emang selalu sial! Buktinya elo tadi kagak menghasilkan poin satupun! Bahkan kalo gue perhatikan ya, selama elo main basket, elo itu selalu sial. Di tim elo yang dulu elo juga jadi cadangan doang, kan? Belagu banget sih, baru segitu aja? Elo belum jadi seperti bang Rio atau ko Denny Sumargo ya...belagu elo sudah selangit!” cerocos Uni memarahi Ran.
“Haasshh!! Kebanyakan ngoceh kayak beo lu!!” balas Ran.
“Terserah apa kata elo. Dasar koko-koko belagu. Semuanya sama aja, sok kecakepan!!! Oh, ya, satu lagi, ini kue dari gue tapi bukan buat elo tapi pemain yang lain. Jangan pernah makan kue buatan gue karena gue nggak akan rela hasil karya tangan gue dicicipin orang belagu macem elo!”
“Gue juga nggak sudi incip kue buatan cewek gila sok cari perhatian macem elo!!”
Keduanya saling membuang muka.
“Jangan lupa sampaikan ke pemain yang lain kue itu. Elo jangan makan!” kata Uni setengah berteriak tanpa memalingkan muka.
JJJ
Enam bulan berlalu. Turnamen basket nasional yang selalu ada setiap tahun di beberapa kota besar di Indonesia itu mencapai babak championship. Kebetulan tim favorit Uni lolos ke babak championship. Di awal-awal tim favoritnya bertanding, Uni nggak bisa memberi support langsung di lapangan karena ia sedang sakit thypus dan harus dirawat di rumah sakit. Tapi pada hari-hari terakhir penentuan 4 besar pada turnamen 2011 ini, Uni rela datang meskipun dia masih lemas setelah dua hari pulang dari rumah sakit. Ia juga masih sempat membuatkan kue bolu untuk tim favoritnya.Uni datang sendiri tanpa teman seorang pun. Ema sahabatnya pun sedang pergi ke Malang untuk acara diklat PMI di sana.
Uni menyaksikan perjuangan tim favoritnya untuk bisa lolos ke 4 besar. Tapi kesialan demi kesialan terjadi di pertengahan jalannya pertandingan. Tim lawan terlalu tangguh membuat poin tim Rio tertinggal jauh. Rio sendiri harus cedera tangan ketika sudah quarter 3. Padahal dia kunci penting keberhasilan banyak poin yang dicetak timnya. Ran turun lapangan dengan kondisi yang tidak fit karena sempat demam beberapa waktu lalu. Kekhawatiran sempat meliputi perasaan Uni. Tapi...akhirnya bintang cemerlang lain, Leo turun lapangan sekalipun ia belum sembuh seratus persen dari cedera kakinya beberapa bulan lalu. Dan Leo inilah Rio ke-2 di timnya. Leo mulai mengejar ketertinggalan dengan kegesitannya dan kelihaiannya mencetak poin dan menggagalkan lawan setiap kali hendak memasukkan bola ke ring. Dan end of the game, tim favorit Uni menang 85-71 atas tim lawan. Uni berteriak histeris meneriakkan nama tim idolanya. Setelah itu, Uni segera keluar ke tempat dimana ia menunggu tim idolanya keluar dan menunggu bus mereka. Beberapa menit kemudian keluarlah Leo dan diikuti pemain yang lain tapi Rio dan Ran belum terlihat.
“Mas Leo...keren banget tadi. Sumpah...keren banget kalian semua!!! Selamat yah....” seru Uni menyambut Leo. Leo tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas dukungan Uni selama turnamen season 2011 ini. Walau terbilang fans baru, tapi bagi Leo dkk, support Uni sangat bermanfaat untuk mereka.
“Oh, iya, ini kue buat kalian,” kata Uni sambil memberikan kue buatannya pada Leo.
“Buatan kamu lagi?” tanya Leo. Uni manggut-manggut tersenyum bangga.
Tiba-tiba kue yang dibawa Leo diserobot Ran.
“Mana bolu gosong kapan bulan lalu itu? Masa’ bolu kayak gini dikasihin kita?? Mau ngracuni kita apa?” celetuk Ran setengah mengomel pada Uni.
“Gosong gimana? Kok, bang Rio dan Mas Leo nggak bilang apa-apa, ya? Hey, Mas Edo, boluku gosong yang waktu itu?” tanya Uni memastikan tuduhan Ran pada pemain lain. Tapi, Edo dan Leo justru cengar-cengir.
“Malah cengengas-cengenges. Nggak gosong, kan? Emang sih, waktu itu trial and error gitu tapi gue nggak mungkin salah masukin kue lah...” jelas Uni.
“Emang gosong, Ni. Maaf. Kalau kita bilang nanti kamu sakit hati. Jadi, waktu itu kita makan kue dari temen kamu,” kata Leo.
“Temenku??” tanya Uni.
“He-em. Ema,” jawab Edo.
“APA????!!!!” teriak Uni.
“Heh!! Sopan sedikit, dong! Teriak di deket gue lagi,” protes Ran.
“Oh, sori-sori, kelepasan. Tapi, dijamin ini nggak akan gosong. Lihat aja dan rasain pasti enak. Kalau begitu, aku permisi dulu, ya?”
“Oh, iya, Ni, muka kamu pucet banget, yakin nggak apa?” tanya Leo.
“Oh, nggak apa, Mas. Permisi ya, semua. Dan elo, minggir sedikit kenapa, mau lewat, nih!” kata Uni menegur Ran.
“Silakan tuan putri jablay..” kata Ran menyindir dan tersenyum kecut.
“Sekali lagi elo bilang gue jablay, gue sumpahin sial seumur hidup loe!” ancam Uni.
“Dasar jablay!” balas Ran.
Uni segera berjalan menuju halte dan pikirannya berkecamuk tentang Ema yang tega menyakiti dia dari belakang.
Ya, itu memang hak dia juga sebagai fans tapi waktu itu dia ngebohonginn gue katanya nggak nonton eh, tiba-tiba nongol ngobrol sama bang Rio sampai-sampai gue nggak berani nyamperin bang Rio gara-gara takut dibilang sialan Ran itu, j.a.b.l.a.y! Ih, ogah! Trus pakai ngasih kue buat anak-anak yang lain lagi. Hadeuhh...temen makan temen banget sih, itu orang. Oke, elo emang lebih cantik, lebih kaya, lebih multitalent dibanding gue, Ma. Tapi elo terlalu tega sama gue. Sejahat-jahatnya gue ke elo dengan manfaatin elo jadi tukang ojek gue, gue kagak pernah berusaha nikem elo dari belakang.
Saat menunggu bus kota di halte, tiba-tiba Uni merasa perutnya sakit bukan main hingga membuatnya membungkuk-bungkuk. Dan tak sengaja Ran dan kawan-kawan melewati halte bus itu untuk pergi makan malam di rumah makan cepat saji dekat gedung turnamen basket berlangsung. Ran yang menyadari kondisi Uni yang kesakitan segera menghampiri Uni.
“Kenapa lo cewek jablay??” tanya Ran khawatir begitu juga pemain yang lain.
“Gue...gue...” tak sempat meneruskan kata-katanya, Uni keburu pingsan membuat semua kelabakan. Kemudian mereka membawa Uni ke rumah sakit terdekat.
JJJ
“Gue dimana?” tanya Uni yang baru saja sadar dari pingsannya.
“Rumah sakit. Elo pingsan tadi,” jawab Ran yang sendirian menjaga Uni sampai siuman.
“Kok, elo ada di sini?”
“Eh,..anu...uhmm...ee, ya, kebetulan tadi gue nemuin elo pingsan di halte. Nyusahin orang aja, sih! Kita semua jadi bingung tadi! Dasar jablay!” kata Ran yang salah tingkah harus beralasan apa hingga akhirnya dia malah ngomel.
Uni pun mencubit tangan Ran sampai kemerah-merahan dan Ran pun menjerit kesakitan.
“Apa-apaan sih, loe?! Ditolongin bukan terima kasih malah nyubit lagi!” kata Ran.
“Elo sih, cari gara-gara mulu,” sahut Uni.
“Kalo ada apa-apa sama elo, gue yang khawatir bukan main!” kata Ran keceplosan.
“Apa?”
“Eh, maksud gue, ya tadi, gue dan temen-temen yang susah,”
“Sudahlah koko Ran...heheh..aneh manggil koko padahal setahu gue umur kita nggak beda jauh. Jujur aja deh,...”
“Jujur soal apa?”
“Masa’ gue cewek yang harus memperjelas? Cowok apaan tuh, cemen bilang suka!”
“Siapa yang suka sama elo??? Ge-Er banget jadi orang!”
“Salah, ya? Sori, deh! Emang gue nggak pernah bisa meraih perhatian orang lain, apalagi cowok. Nggak kayak Ema, tahu kan, Ema yang dibilang Mas Edo dan Mas Leo tadi di arena turnamen? Dia cantik, pinter, punya banyak relasi, nggak pernah ngegrecokin orang, sama sekali berbeda dari gue. Hhassshhh, apaan sih, gue, bisa cerita mellow gini? Sori,” tutur Uni sambil matanya berkaca-kaca.
“Hash??? Kok, elo ngucapin itu? Elo ikut-ikutan gue, ya?” protes Ran.
“Enak aja ikut-ikutan. Gue sering gini dari SMA kali!” sahut Uni.
“Gue dari SMP malah,”
“Tapi yang pasti kita nggak pernah satu sekolah, kan???” ucapa mereka berdua bersamaan. Kemudian mereka terdiam sejenak.
“Gue cinta sama elo !” celetuk Ran.
“Apa??!!”
“Semenjak Rio sering cerita siapa elo dan gue tahu twitter elo, lalu ketemu elo pertama kali enam bulan lalu dan mencoba kue bolu buatan elo yang enak itu,”
“Apa?”
“Apa-apa. Nggak ada siaran ulang!”
“Kuping gue juga masih berfungsi normal ko Ran. Iya, gue juga sayang sama elo,”
“Apa?”
“Apa-apa. Nggak ada siaran ulang! Semenjak pertengkaran itu, gue tertantang ngerjain elo eh, nggak tahunya malah luluh juga,”
“Luluh karena ketampanan gue, kan?” kata Ran membanggakan diri.
“Apa?”
“Apa-apa. Nggak ada siaran ulang!” kelakar mereka berdua.
“Jadi, bolu gue nggak gosong, kan, waktu itu?” tanya Uni mengingat nasib bolunya enam bulan lalu.
“Dilibas abis sama anak-anak bahkan coach Arif juga ketagihan! Hahaha...” kelakar Ran.
“Besok-besok gue buatin lagi, deh!” janji Uni.
“Jangan! Buatin spesial buat gue aja. Mereka nggak usah. Keenakan mereka dong, ngincip kue buatan pacar orang,” jelas Ran.
“Pede banget, sih, Mr. Jersey tiga belas pembawa sial...hahahah...”
Dan semenjak itu Uni dan Ran jadian, saling mengisi satu sama lain sekalipun harus long distance relationship. Kue bolu buatan Uni itulah yang membuat Ran semakin jatuh hati pada Uni. Dan cinta mereka berdua semanis bolu buatan Uni.

JJJ




cerpen "Lelaki Pemuja Rahasia Widi"


Lelaki Pemuja Rahasia Widi
      
Widi berebut masuk bus patas jurusan Blitar-Surabaya dengan belasan penumpang lain yang memiliki tujuan yang sama dengannya. Setelah bersusah payah masuk ke dalam bus, ia harus berdiri berdesak-desakan dengan penumpang lain.
“Katanya kalo patas antarkota nggak sama dengan bus ekonomi. Ini lebih parah dari ekonomi. Sabar deh, Wid! Yang penting keangkut,” kata batin Widi sambil memasang tampang pasrah.
Kondisi yang berdesak-desakan membuat Widi sesak nafas dan salah seorang lelaki yang duduk di sampingnya mengetahui itu.
“Mbak, Mbak bengek’an, ya? Sini Mbak, duduk di tempat saya aja,” kata lelaki itu.
Tanpa pikir panjang Widi menuruti kata-kata orang itu. Walau aslinya dia kagak bengek’an tapi ia memanfaatkan sekali kesempatan itu.
“Mbak nggak bawa obat asma?” tanya lelaki itu. Widi menggeleng kuat dengan berakting sesak nafas.
“Tenangin diri dulu aja, Mbak! Ambil nafas dalam-dalam dan perlahan keluarkan,”
Elo pikir gue mau ngelahirin, pake’ ambil nafas dalam trus keluarin pelan-pelan. Sudah ngatain gue bengek’an! Tapi, makasih tempat duduknya. Sudah cakep,baik lagi!
Membutuhkan waktu kurang lebih tiga setengah jam untuk sampai di Surabaya dari Pare, sebuah kota kecil di Kabupaten Kediri. Dan hampir selama itu pula, Widi berakting jadi orang bengek’an. Entah sudah persis atau belum tapi hal ini menguntungkan dirinya untuk tidak lelah-lelah berdiri dari Pare ke Surabaya. Tapi, itu juga berkat lelaki yang menganggapnya kena asma tadi.
Sesampainya di terminal Purabaya-Surabaya, Widi segera bergegas menuju parkiran bus kota untuk menuju kost-nya. Tiba-tiba, lelaki yang baik hati tadi menegurnya dari belakang.
“Sudah sehat, Mbak?” tanya lelaki itu.
“Ehm, sudah, Mas! Sudah lebih baik daripada tadi. Terima kasih banyak lho, tadi nawarin tempat buat saya. Entah gimana saya harus membalas kebaikan Mas,” kata Widi basa-basi padahal hatinya ogah ketemu orang itu lagi, takut ketahuan kagak punya asma.
“Membalasnya pakai kenalan aja, ya?” kata lelaki itu. Widi mengernyitkan dahi.
Akhirnya mereka berdua berkenalan dan lelaki yang bernama Edwyn itu selalu memancing pembicaraan basa-basi, membuat Widi mulai eneg. Widi cuman cengar-cengir mendengarkan Edwyn nyerocos tanpa henti. Dan ketika hendak naik bus kota, barulah Edwyn berpamitan pergi. Widi menarik nafas lega.
JJJ
Keesokan harinya di kampus, berita bahagia datang pada Widi.
“WIDIIIIIII..............!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Nika, sahabatnya.
“Apaan sih, lo? Teriak-teriak kayak di hutan aja?” protes Widi.
“Nama elo keterima magang di lembaga psikologi favorit di kota ini! Selamat ya...” kata Nika bersemangat sambil mencubit pipi Widi.
“Yang bener lo?” tanya Widi tak percaya. Nika hanya mengangguk kuat. Dan mereka saling histeris berpelukan.
Semenjak saat itu, kesibukan Widi bertambah. Selain kuliah dan berorganisasi di Badan Eksekutif Mahasiswa, dia juga magang di lembaga psikologi milik seniornya yang sudah tersohor namanya kemana-mana. Meskipun harus pulang-pergi naik angkot tapi Widi tetap bersemangat menjalani semuanya.
“Semua demi masa depan cerah!” gumam Widi suatu kali.
Mulanya kehidupannya di tempat magang tenang-tenang saja tapi beberapa minggu kemudian semuanya menjadi menyebalkan. Ia bertemu lagi dengan lelaki baik hati waktu di bus dulu. Dan kali ini benar-benar menyebalkan.
“Kamu juga sih, Wid, nggak ngecek dulu cetakan yang mau ditempel. Jadinya pak Edwyn marah-marah besar. Ya, gitu deh, orang itu perfecto sekali, cerewet juga pastinya!” kata Ratna, teman magang Widi yang lain.
Widi hanya menghela nafas panjang tanda sebal karena semua orang menyudutkannya karena salah tempel pengumuman. Ia juga tak menyangka, Edwyn yang dikenalnya waktu di bus yang ternyata jadi bosnya sungguh 180 derajat berbeda.
JJJ
Keesokan harinya ada briefing untuk psikotes seribu calon karyawan sebuah bank swasta keesokan harinya dan Widi datang terlambat. Briefing itu dipantau oleh Edwyn yang kebetulan sedang tidak mengajar kuliah waktu itu. Ketika Widi masuk dan meminta maaf, Edwyn buka suara.
“Cukup sekali ini kamu telat untuk acara akbar seperti ini. Kamu pikir kita sedang main-main?? Sekarang cepat duduk dan ikuti briefing yang ada!!” bentak Edwyn membuat Widi keder.
Beberapa waktu berlalu, Widi bisa menarik nafas lega usai briefing berakhir dan Edwyn pergi keluar makan siang.
“Sialan bener sih, pak Edwyn itu. Songong banget jadi orang. Mentang-mentang dia dosen, manager di sini, pinter ini dan itu trus seenaknya aja marah-marahin orang. Aku ini sudah berusaha sebaik mungkin, selalu aja ada yang salah!” omel Widi ketika duduk bersama dengan Ratna di ruang tunggu.
“Lalu apalagi yang akan kamu katakan tentang saya?” suara Edwyn yang tiba-tiba berdiri di belakang Widi. Widi langsung mati gaya.
“Jaga kelakuan kamu di sini kalau tidak mau saya keluarkan dari sini!” tegas Edwyn sembari pergi dari hadapan Widi.
Nyali Widi semakin ciut sekaligus sebal minta ampun.
JJJ
“Widi! Widi! Ada yang nyari!” teriak teman satu kost Widi.
“Siapa?” tanya Widi.
“Entahlah!” sahut temannya.
Widi segera pergi ke ruang tamu melihat siapa yang bertamu. Sesampainya di ruang tamu, Widi kaget bukan main.
“Maaf, mengganggu malam-malam. Saya minta maaf soal tadi siang di kantor,”
“Nggak masalah kok, Pak!”
Kemudian keduanya duduk dan saling terdiam.
“Widi...saya..saya...ingin mengatakan sesuatu untuk kamu,” celetuk Edwyn.
“Silakan!”
“Saya cinta sama kamu!” kata Edwyn membuat Widi dua kali kaget.
“Kamu ingat mawar dan coklat yang sering kamu terima waktu SMA dulu? Itu dari saya,” lanjut Edwyn.
“Kok, bisa?”
“Retha adik saya, sahabat kamu, kan?”
“Iya. Tapi, Retha kan, nggak punya kakak?”
“Saya kakak sepupunya. Saya tahu kamu dari Retha. Semenjak itu saya menyukai kamu tapi karena saya harus kuliah ke Jakarta, saya kesampingkan perasaan itu dan berjanji akan menjemput kamu bila suatu saat kamu belum menjadi milik siapapun. Dan keberuntungan sekali bagi saya bertemu kamu di bus waktu lalu dan kamu magang di tempat saya kerja. Sekarang saya bertanya pada kamu, bagaimana dengan kamu?”
“Ehm, bagaimana, ya?” sahut Widi bingung. Ia memang sempat jatuh hati dengan sosok abstrak waktu SMA itu. Ia sempat berjanji pada diri sendiri jika bertemu dengan sosok pemuja rahasianya itu, ia akan menerima orang itu menjadi kekasihnya. Dan sekarang ia bertemu dengan orang itu. Tapi dengan kondisi yang rasanya tiba-tiba, rasanya aneh.
Widi perang batin dalam hatinya dan pikirannya bergelanyut bimbang menerima cinta Edwyn atau tidak. Dan akhirnya, “Iya. Saya terima cinta Pak Edwyn,” kata Widi tersenyum.
“Panggil saja Edwyn. Terima kasih memberi saya kesempatan membina hubungan dari perasaan yang saya jaga bertahun-tahun yang lalu. Saya sayang sama kamu sampai kapanpun,” kata Edwyn sembari mengenggam erat jemari Widi.
JJJ