Kamis, 28 November 2013

Cinta Dalam Bingkai Surealis

credit
Menur mengetuk-ngetukkan jari-jemari ke meja sambil tangan satunya bertopang dagu. Matanya sesekali menatap sang kakak yang sibuk dengan tabletnya lalu berpindah ke lukisan-lukisan yang terpajang memenuhi dinding-dinding ruangan atau hanya tergeletak di lantai masih terbungkus kertas-kertas coklat muda. Kemudian bola matanya berputar-putar tak jelas menandakan ada sesuatu di otaknya. Ya, sesuatu. Sesuatu yang tak henti mengusiknya tentang seorang pria yang hanya sekali ia temui bertahun-tahun lalu tapi tiba-tiba sekarang dijodohkan dengannya.
“Dia itu bukan seniman biasa, Dek. Orangnya cerdas, berjiwa pengayom, peduli sesama walau terkadang dia asyik dengan pekerjaannya. Tapi aku yakin, kalau hatinya sudah terikat pada sesuatu, ia nggak macam-macam. Justru sekuat tenaga ia jaga.” Kakaknya masih saja membela pria itu.
“Lalu, kenapa bukan Mbak aja sama dia? Mbak kan, juga ingin mengakhiri masa menjanda, kan?” tukas Menur frontal.
Kakaknya mendesah kecil menatap Menur. “Dia sudah aku anggap saudara sendiri. Mana mungkin aku menikah dengannya? Jangan ngawur kamu kalau bicara,”
“Tapi Mbak tahu sendiri kan, di antara kami berdua itu nggak ada kecocokan. Sejauh ini kami jalan berdua, aku jalan ke mana, dia ke mana. Nggak nyambung dan nggak akan pernah nyambung!”
“Itu karena kamu sudah membangun tameng terlebih dahulu,” komentar kakaknya. “Ayolah Menur, buka hati kamu! Jodi itu masa lalu. Kamu harus melanjutkan hidupmu. Buat apa kamu membuang energimu untuk pria tukang selingkuh? Simpan energimu untuk pria yang tepat. Dan feeling-ku berkata si Gede Adante,”
Menur menelan ludah. Rasanya kupingnya sudah tidak mampu menampung nama itu lagi. Kakaknya, Saras, terlalu mengagung-agungkan sosok pemilik nama itu. Perupa berbakat lah, penyayang lah, pria tampan khas Indo-Italia yang berjiwa lembut walau tampangnya gahar, ini-itu dan semuanya diceritakan Saras dengan semangat membeludak. Tapi anehnya, Saras justru meletakkan adiknya di baris terdepan untuk terlibat interaksi intens dengan Dante –panggilan pria itu- beberapa waktu terakhir. Padahal segala macam topik pembicaraan, hanya Saras yang mafhum maksud Dante, begitu pula sebaliknya. Menur mengendus ada keanehan tapi selalu gagal menemukan kepastiannya.
“Minggu depan dia menggelar pameran lukisannya. Datanglah, temani dia!” suruh Saras membuat Menur mendengus keras. “Kan, kalian dalam masa pendekatan jadi ikutlah terlibat dalam setiap kegiatannya,” lanjut Saras.
“Mbak aja yang pedekate sama dia. Jalan pikiranku sama dia itu kayak Matahari ke Pluto. Jauh!” tolak Menur mentah-mentah. “Aku pergi dulu. Ada jadwal konseling.” Kemudian Menur beranjak dari kursi, meninggalkan galeri seni lukis kakaknya.
#
Menur menenggak air mineral dalam kemasan gelas sampai bersuara glek-glek. Ia baru saja melakukan sesi konseling dengan seorang remaja SMA.
“Kayak Unta kamu, Nur!” cetus Ramdan -seniornya seorang psikolog- meringis.
Menur mengulum senyum sambil menyapukan telapak tangannya ke bibirnya.
“Mas, aku boleh curhat nggak?”
Ramdan mengangguk. Kemudian mereka duduk berdua dengan santai dan meluncurlah kata demi kata dari mulut Menur sampai membentuk sebuah cerita utuh. Cerita tentang kegelisahan Menur terhadap dirinya sendiri yang masih saja menatap masa lalunya padahal ia tahu bahwa itu tindakan terbodoh yang ia lakukan. Juga tentang kegelisahan terhadap pembentukan benteng otomatis dari dalam dirinya terhadap hati yang baru padahal hidupnya harus terus berlanjut. Hal ini membuat kakaknya harus turun tangan agar dirinya bisa berpaling pada hati yang lain. Tapi upaya kakaknya pun menimbulkan masalah baru. Pria yang digadang-gadang Saras untuk jadi kekasihnya –bahkan kalau bisa menjadi suami- ternyata memiliki perbedaan dalam banyak hal dengan dirinya.
Pria itu seorang seniman lukis surealis yang mapan, tampan, cerdas, rendah hati dan tanpa cela. Tapi Menur tak bisa memahami dunia pria itu bahkan ketika kakaknya mencoba memperkenalkan Menur dengan berbagai macam jenis aliran lukisan dan menjelaskan detil aliran yang dianut pria itu, sungguh Menur merasa kognitifnya selalu gagal paham.
Menur memang seorang penikmat keindahan tapi keindahan yang pasti, keindahan yang tak aneh-aneh seperti yang ditawarkan hasil pemikiran pria itu. Aliran surealis yang dianut pria itu merupakan aliran yang terilhami oleh paham psikoanalisa Sigmund Freud sehingga aliran ini mengedepankan peluapan ekspresi atas apa-apa yang terkungkung di alam bawah sadar dan dibiarkan keluar begitu saja. Seolah liar. Tapi dibalut halus dengan kata  imajinasi kreatif.  
Menur tak asing dengan istilah teori psikologi itu, malah dia hafal betul struktur kepribadian psikoanalisa yang terdiri dari id, ego, superego dan fase perkembangan kepribadian dari oral sampai genital. Tapi dia merasa tak bisa menyelami pemikiran pria itu yang banyak dipengaruhi paham psikoanalisa. Tampaknya kakaknya yang paling memahami pria itu karena Saras seorang kurator muda yang cukup handal. Lagi pula mereka sudah berteman lama. Apa lagi yang harus dipersoalkan? Mereka juga punya konsep pemahaman terhadap lukisan yang sama baiknya. Mereka punya banyak kesamaanlah, singkatnya.
“Nur, aku nggak tahu alasan kakakmu. Tapi yang aku mau sampaikan adalah bahwa jodoh itu bukan kesamaan tapi perbedaan. Perbedaan yang saling mencocokkan satu sama lain. Analoginya adalah nih...” Ramdan menggerakkan kedua telapak tangannya lalu menyematkan jari-jemarinya kemudian mengeratkannya satu sama lain. “...jari-jari kita ini. Ada bagian yang sama sih, tapi tetep aja jempol kiri di kiri, nggak tepat kalau di kanan. Dan antara jemari kanan dan kiri, mereka saling melengkapi dan menguatkan untuk tujuan tertentu. Misalnya mau menampik bola voli. Butuh kekuatan dua tangan, bukan cuma satu tangan. Persoalan jodoh itu memang agak rumit tapi kalau sudah jodoh, diapa-apain ya, tetep jodoh,” jelas Ramdan.
Menur paham kalimat Ramdan tapi ia belum bisa mengaitkannya dengan permasalahan yang dihadapinya. Menur mengernyitkan kening.
“Ayo, kemampuan konselingnya dipakai. Kita kasih konseling itu bukan serta-merta memberikan solusi tapi menggiring klien menemukan solusinya sendiri melalui analisa permasalahannya sendiri, perasaannya sendiri. Psikolog hanya perantara saja. Kamu harus bisa mengasah kemampuan itu seiring nanti kamu benar-benar jadi psikolog,” imbuh Ramdan yang menyadari air muka kebingungan Menur. Sementara Menur hanya manggut-manggut.
#
Pukul tujuh malam Menur sudah cantik simpel bersiap ke pameran lukisan Dante. Saras berhasil membujuknya mati-matian.
“Senyum dong, Dek!” pinta Saras pada Menur yang sedari tadi cembetut karena aslinya ia tak berniat menghadiri pameran itu.
Kemudian Saras menggandeng tangan Menur melangkah masuk ke galeri yang memuat sekitar seratusan lukisan hasil goresan tangan Dante.
“Aku ke toilet bentar, ya,” pamit Saras meninggalkan adiknya sendiri di ambang pintu masuk. Menur mengangguk.
Menur malas rasanya memasuki area itu sampai akhirnya fokus tatapannya jatuh pada sebuah lukisan begitu besar tak jauh dari pintu masuk seolah merupakan lukisan penyambut bagi pengunjung yang hadir.
Lukisan itu berisi bentuk dua mata yang meneteskan air mata, di tengahnya bentuk hati seolah ada darah yang merembes menetes darinya. Kedua gambar itu terlingkupi oleh deburan ombak yang samar membentuk paras cantik perempuan laksana seorang Dewi pada salah satu ujungnya. Menur mencoba memersepsikan makna lukisan itu sebisanya. Lalu matanya tertuju pada judulnya, Love in hurt. Persis! Kini pemaknaannya tak meleset jauh. Penderitaan cintalah intinya. Mendadak ia ingat pada kisahnya sendiri, menyedihkan!
“Jangan pandangi lukisan ini terlalu lama dan memaknainya terlalu dalam. Hidup ini nggak sepedih itu,” sebuah suara membuyarkan pikiran Menur.
Menur menoleh cepat. Ia terhenyak Dante berdiri di sampingnya dekat. Kemudian Menur merasa ada sentuhan halus di punggung tangannya, mengelus lembut guratan-guratan benang yang menjahit lukanya akibat kecelakaan hebat bertahun-tahun lalu. Menur merasa ada energi dingin menenangkan ketika kulit itu menggesek bekas lukanya. Seketika ia tersadar, energi itu seolah seperti aliran koneksi mengingatkan dirinya saat ada di ambang pintu hidup dan mati dan ketika dirinya mengarungi mimpi-mimpi malam setelah fase koma itu.
Kesadaran Menur terpantik untuk segera mengambil kesimpulan. Dante lah orangnya! Pemberi energi yang selalu mendamaikan jiwanya saat dirinya terkatung-katung di ruang hampa nan luas tak berbatas dan di saat ruhnya lepas dari jasad untuk sementara waktu dan kembali esok paginya. Dan kini energi itu mampu meluruhkan segala kegelisahan Menur terhadap segala hal yang menghantuinya.
Akhirnya Menur mendapatkan jawaban dari puzzle-puzzle samar yang sulit ia artikan selama ini dan alasan tindakan Saras. Kini puzzle-puzzle itu sudah utuh dan teramat jelas di depan matanya. Menur pun menarik seluruh sumpah serapahnya terhadap perbedaan yang tak mungkin bersatu sebab hati tak bisa berbohong. Selama ini ternyata Dante sudah masuk ke dalam pembuluh darahnya dengan energi dahsyat tiada terkira –cinta- dan mengendap lama di alam bawah sadarnya. Ia juga tak lagi peduli tentang sulitnya memahami Dante seperti ia sulit memahami aliran lukisan surealis yang terkadang di luar nalar atau logika. Sebab rasanya detik ini juga, ia sudah menerobos palang nalarnya untuk menerima Dante apa adanya walau perbedaan mereka bak langit  lapis ketujuh dan dasar sumur.
“Sudah ingat semuanya?” tanya Dante seolah memberi kode.
Menur tersenyum. “Terima kasih. Maaf kalau terlalu lama aku harus menyimpulkan jawabannya,”
Kini Dante yang tersenyum sambil menggenggam erat tangan Menur.
“Yang ditakdirkan bersatu, nggak akan terpisah begitu saja. Aku tahu, luka ini...” Dante kembali menyentuh bekas jahitan luka di tangan Menur. “adalah jalanku untuk bisa membuatmu ingat kembali bahwa kita pernah dan akan selalu bersatu. Darahku, darahmu. Menyatu,”
Menur meraih jemari Dante untuk menyematkan jemarinya di sana. Kemudian kedua tangan mereka tergenggam erat seolah tak akan pernah lagi terlepas. Selamanya.
-selesai-
 *Ditulis untuk event Kampus Fiksi oleh Penerbit Diva Press dan lolosss insya Allah untuk angkatan ke-8, Mei 2014 :)

I'm a Shadow

credit

Risa menggigit bibir bawahnya berulang kali. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Kedua tangannya mengepal-membuka bergantian selama lima menit terakhir. Sementara itu sorot matanya tertuju pada sosok bocah kelas satu di sebuah Sekolah Dasar (SD) inklusi[1] swasta. Bocah itu berkulit kuning langsat, rambut lurus yang terjurai sesekali menutupi wajahnya, senyumnya mengembang, langkah kakinya ke sana-sini, kedua tangannya mengayun tak tentu arah dan ia sedang berkejaran dengan teman sekelasnya. Dan bocah ini mengingatkan Risa pada seseorang yang menjadi sumber kecemasannya beberapa waktu terakhir.
Risa menatap anak itu dengan perasaan berkecamuk sampai ia lupa anak didiknya memanggil-manggil namanya dengan pelafalan yang tak jelas. Akhirnya, si anak didiknya bernama Nanda memeluknya secara mendadak, membuyarkan keterpakuan Risa.
“Hei! Apa, Nak?” tanya Risa lembut sambil merangkul Nanda.
“Eee... hihu... hain hola,” suara Nanda tak begitu jelas sambil menunjuk-nunjuk ke arah guru olah raga yang menggamit bola di antara lengan dan pinggul kanannya. Risa mengerti, Nanda ingin main bola. Nanda memang hobi main bola.
Nanda menunjuk sekali lagi. Risa memegang kedua pundak Nanda. “Nanda, ikut olah raga dulu, ya?” kata Risa.
“Apa?” tanya Nanda. Hanya kata itu yang sering terdengar jelas dari mulut Nanda.
“Nanda-ikut-olah raga. Main-bolanya-nanti-pas-istirahat. Oke?” usul Risa sambil mencoba gerakan tangan juga kalimat yang terputus-putus agar Nanda paham.
“Iyha,” sahut Nanda.
Sekalipun Nanda mengiyakan tapi ia malah menggelayutkan diri pada Risa. Risa sigap menyuruhnya untuk segera bergabung dengan teman yang lain.
“Come on, Nanda! Olah raga dulu, baru main bola,” tegas Risa sambil menggiring Nanda ke arah barisan anak kelas dua berlabel kelas 2 (dua) Climbing.
Nanda masih bermalas-malasan. Maklum, moodnya kadang tak menentu. Kalau sudah malas, maunya menggelayutkan diri tapi jika Risa tak mau menjadi tempat ia bermanja diri maka Nanda bisa berteriak membentak dan mogok mengerjakan tugas di kelas.
Risa memaksa Nanda berdiri tegap dan “menyusupkan”nya di tengah barisan supaya Nanda tak lari dari barisan dan menuju dirinya. Setidaknya dulu pertama kali Risa menjadi shadow teacher (guru pendamping untuk Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK) untuk Nanda, Nanda sering bertingkah seperti itu. Belum lagi Nanda yang suka membelot  ketika pelajaran sedang berlangsung. Fokus Nanda sering terpecah ke mana-mana, padahal sebenarnya ia bisa memahami materi yang diajarkan. Walau memang, Nanda tidak bisa dengan jelas melafalkan kata, tidak bisa membaca, menulis apalagi menghitung. Semuanya berakar dari kejang ketika ia balita yang berimbas pada saraf pusatnya. Saraf pusat yang terganggu membuat perkembangan kognitif dan motoriknya tak maksimal. Sampai sekarang Nanda berusia delapan tahun tapi kemampuan kognitif dan mentalnya seperti anak berusia TK.
Nanda. Siswa laki-laki dengan learning disability atau hambatan belajar. Belum ada diagnosa ia menderita apa, orangtuanya juga hanya membawa Nanda ke terapi fisik “membenahi” saraf di sekitar otot leher untuk membantu kelancaran wicaranya. Risa juga tak bisa mendiagnosa Nanda kenapa, apalagi memberikan intervensi macam apa pun. Dia bukan psikolog yang berlisensi memberikan itu. Ia lulusan S1 Psikologi yang hanya berhak mengaplikasikan ilmu semasa kuliahnya, minimal mata kuliah “modifikasi perilaku”.
Nanda memang harus mendapatkan modifikasi perilaku, salah satunya terkait toilet training. Di rumah ia mau ke toilet sendiri untuk buang air, sementara di sekolah ia memakai popok –karena pembiasaan orangtua yang mengatakan Nanda takut bilang ke guru kalau ia mau buang air-. Akibatnya Risa harus siap mengganti popok Nanda ketika Nanda poop atau pipisnya sudah merembes ke pakaian terluarnya.  Hal ini membuat Risa stres mulanya. Tapi setelah masuk bulan kedua, Risa sudah bisa mengendalikan rasa tegang dan cemasnya terhadap segala konsekuensi menjadi shadow teacher Nanda, profesi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Baik, sekarang Risa sudah bisa mengatasi Nanda yang nyaris saja tidak bersemangat mengikuti pelajaran olahraga. Kini tampaknya Nanda sudah hanyut dalam riuh riang bersama kawan-kawannya. Risa lega. Tapi tiba-tiba saja ada yang menarik-narik kemejanya. Betapa mata Risa hendak copot keluar ketika tahu siapa yang melakukannya.
“Itu!!” suara anak lelaki itu dengan aura wajah garang dan menunjuk ke arah temannya.
Risa menoleh ke arah teman anak lelaki itu. Teman anak lelaki itu menjulur-julurkan lidah ke anak lelaki di samping Risa. Sementara anak lelaki di samping Risa sudah bersiap melayangkan bogem mentahnya. Risa pun melerai keduanya.
“No, no, no! Nggak boleh bertengkar, ya? Itu pelanggaran,” kata Risa sembari ujung jarinya bergerak ke kanan-ke kiri kepada kedua anak itu.
Setelah dirasa keduanya tak bersitenggang, si teman berlari ke arah lain, Risa mengelus punggung anak lelaki tadi dengan hati-hati. Rasa tegang dan cemas kembali menerpa Risa karena bocah itu adalah anak yang diamatinya sedari tadi.
“Nama kamu siapa?”
“Viko,”
“Oh, Viko,” sahut Risa mencoba tersenyum lembut. “Viko, nggak boleh berantem ya sama temen. Kalau berantem nanti Viko nggak punya temen lagi,”
“Dia dulu!” sergah Viko.
“Iya, tapi jangan dibales sama pukul, ya? Bilang, jangan pukul aku! Jangan berantem ya, nanti nggak punya temen, loh. Nggak bisa main sama-sama,” jelas Risa sebisanya. Ia juga tak banyak pengalaman menjadi guru yang baik dan benar seperti apa, apalagi untuk anak-anak SD, terutama ABK yang masih membutuhkan role model tepat dan benar agar bisa menjamin perkembangan perilaku dan karakter yang baik di jenjang pendidikan selanjutnya dan kesehariannya.
“Nah, sekarang Viko kembali ke kelompok kelas satu. Olahraganya belum selesai. Sana! Ke pak Samsul, ya?” suruh Risa.
“Sama Ibu,” pinta Viko menyentuh hati Risa. Risa tak menyangka saja. Padahal baru kali ini dia berinteraksi dengan Viko.
Risa menuruti Viko dan “menyerahkan” Viko pada guru olah raga kelas satu.
Risa membalikkan badan hendak pergi tapi Viko menarik kuat kemeja Risa.
“Apa, Viko?”
Viko melambaikan tangan, memberi tanda agar Risa menunduk.
Risa menunduk dan CUPP! Viko mencium pipi Risa. Risa mendelik lalu tertegun. Sedetik kemudian ia menyunggingkan senyumnya. Ia mengelus lembut dagu Viko.
“Olah raga dulu ya, Nak! Semangat!” kata Risa mengepalkan kedua tangan memberi semangat.
Viko tersenyum lebar lalu berpaling ke arah pak Samsul. Sementara Risa berjalan ke arah gazebo, lebih dekat dengan gerombolan anak kelas dua. Ia duduk dengan tatapan mata kosong tapi pikirannya kembali berkecamuk. Perasaannya juga tak bisa didefinisikan secara pasti. Tangannya mengelus-elus pipi kanannya yang dicium Viko.
#
Risa kelojotan di atas kasur. Ia meringkuk memegangi perutnya. Perutnya bermasalah karena kemarin seharian makan pedas dari pagi sampai malam.
Keadaan dirinya bertambah kacau karena pertemuan yang sungguh tak terduga dengan sosok yang ia lihat dalam diri Viko tadi siang.
Kali ini bertatapan langsung dengan sosok itu membuat perasaan Risa menjadi tak keruan. Nyaris sembilan tahun lamanya mereka tak berjumpa semenjak kematian kakak perempuan Risa satu-satunya. Kala itu Risa masih duduk di bangku SMA kelas sepuluh.
Ale. Aleandro Sukotjo. Lelaki cinta pertama dan terakhir Siska, kakak perempuan Risa. Cinta pertama ketika mereka menjadi rekan kerja di sebuah bank swasta. Cinta terakhir untuk Siska sebelum kepergiannya karena kecelakaan maut.
Kini lelaki itu sudah menjelma sebagai lelaki dewasa dengan seorang anak lelaki tampan walau memiliki wajah  mongolism, wajah khas anak Down Syndrome[2].
Ya, Viko Aleandro Putra adalah anak dengan Down Syndrome.
Risa tak menyangkanya. Sekian tahun tak pernah bersua, tak pernah memperoleh kabar tentang Ale, kali ini Tuhan mempertemukan keduanya dengan status yang sudah berbeda. Dan... dengan kondisi yang... ah, Risa speechless. Ale-Viko-Down Syndrome.
 “Risa!” seru Ale ketika bertatap muka dengan Risa. Ia terkejut.
Risa juga terperanjat. Seketika ia mengambil langkah sejengkal ke belakang. Ia tak mau bersua dengan Ale atau setidaknya jangan sekarang. Tapi tubuh Risa terpancang di tempat. Entah, kakinya seolah tak mau bergerak untuk segera berlari. Tapi ia ingin sekali berlari. Tapi mana mungkin, Ale semakin dekat saja jaraknya.
“Risa, kan?” tanya Ale memastikan. Risa mengangguk bak robot. Tersenyum pun kaku.
“Apa kabar?” tanya Ale bersemangat, senyumnya merekah. Tangannya memegang pundak Risa mantab kemudian melepaskannya pelan.
“B-ba-baik, Mas,” Risa cepat merespon tapi kikuk.
“Bapak sama ibu apa kabar?”
“Baik,”
“Kamu ngapain di sini?”
“Aku jadi shadow teacher di sini,”
“Oh, ya? Kelas berapa? Anakku juga di sini,”
“Iya tahu,” Risa nyeplos begitu saja. Ya, dia memang tahu kalau Viko anak Ale karena sebelumnya Risa sudah terlebih dulu dikagetkan pada minggu-minggu pertama ia bekerja. Ia melihat Ale nyaris tiap hari berjalan berdampingan dengan Viko sampai depan pintu kelas dan bertemu shadow teacher-nya. Tampaknya Ale tak menyadari itu. Jelas saja, Risa selalu menyembunyikan dirinya dari Ale. “Beberapa waktu lalu tahu Mas nganter,” imbuh Risa.
“Iya. Namanya Viko, masih kelas satu,”
“Kebetulan nih, kita ketemu. Pulang sekolah ada waktu? Makan siang bareng, yuk! Sama Viko juga. Kamu pulangnya sama kayak Viko, kan, jam dua belas?”
Risa menelan ludah. Secara tiba-tiba jantungnya berpacu lebih kencang. Ia ingin menolak tapi tak punya alasannya, berbohong sekalipun tak bisa. Di hati kecilnya, ia juga ingin menjalin kembali silaturahim yang sempat terputus selama ini. Lagipula perasaan maha dahsyat bertahun-tahun lalu itu ternyata tak pernah musnah sama sekali. Tapi rasa malu teramat sangat pada Ale sesaat setelah Siska pergi, tak bisa Risa lupakan.
Risa tahu tindakannya kala itu konyol, menawarkan diri menjadi pelipur lara Ale atas kepergian Siska, kakak kandungnya sendiri. Risa dengan lantang menyatakan ia juga mencintai Ale. Jelas, ini adalah cinta terlarang. Mencintai pacar saudara sendiri. Tapi Risa tak bisa dengan mudah mengontrol perasaannya. Terlebih ketika Ale jatuh terpuruk sepeninggal Siska.
Risa menyesal setelah waktu itu berlalu. Beban malu tak terperikan dan rasa bersalah pada mendiang Siska. Risa kalut dengan perasaannya sendiri. Sementara itu Ale pergi bak ditelan bumi. Kisah asmara Risa yang bertepuk sebelah tangan tinggal cerita.
Tapi kini ia dihadapkan pada masa lalu itu. Mungkinkah hanya akan menjadi cerita -lagi- seperti sebelumnya? Risa akan membuktikannya seiring berjalannya waktu. Dimulai dengan cerita makan siang bersama.
Ale menepati janjinya mengajak Risa makan siang di sebuah restoran sehat di tengah kota Surabaya. Ale, Risa dan Viko.
Ketika mereka bertiga bertemu, Viko berseru kegirangan.
“Horeee, Ibu ikut makan,” seru Viko sambil terlihat gemas mencengkeram tangan Risa.
“Sayang, jangan gitu. Tangannya bu Risa nanti sakit,” kata Viko.
“Nggak kok, Mas. Dia gemes paling,” sahut Risa. “Ya, Viko? Viko gemes sama bu Risa?” tanya Risa pada Viko.
Viko tersenyum lebar.
Mereka berdua duduk bertiga di suatu sudut restoran dan segera memesan makanan. Di sana ada makanan yang bisa menjadi alternatif untuk anak Down Syndrome, sehingga Ale tak perlu khawatir mengajak makan Viko di sana.
Risa mencoba membuka pembicaraan basa-basi dengan Ale. “Emm... Mas... kita bertiga di sini nggak apa-apa?” tanya Risa berbelit, berharap Ale paham.
“Jelas nggak apa-apalah. Atau kamu yang kenapa-kenapa? Sudah izin cowok kamu belum?”
Risa melotot kemudian mukanya memerah. “Ah, Mas... cowok apaan? Aku nggak apa-apa, kok. Emm.. maksudku... mama, mamanya Viko,”
“Ouh, sorry, sorry... nggak apa-apa. Virni sudah meninggal sejak Viko masih bayi,”
Risa tertegun. Meninggal? Sejak bayi? Lelaki dewasa muda yang tampan dan duda dengan anak Down Syndrome. Seketika Risa merasakan suasana masa lalu. Rasa pedih nan pilu menyelimuti Ale dan seolah menjalar ke hati Risa pula.
“Entah ya... kenapa Tuhan selalu mengambil orang yang aku cintai,” celetuk Ale tersenyum pilu. Tampak ia memaksakan diri tersenyum.
Risa menelan ludah dan otaknya berpikir kata-kata apa yang tepat untuk menghibur Ale. Yang jelas bukan melakukan kekonyolannya waktu dulu.
“Sabar, Mas. Nggak ada hamba yang disayang Tuhan tanpa diberi ujian dan cobaan. Kenaikan derajat kehidupan, Mas,”
Ale tersenyum menatap Risa.
“Jadi, kamu jadi shadow teacher? Gimana rasanya?” tanya Ale mengalihkan topik pembicaraan.
“Ya, gitu deh. Butuh kesabaran ekstra,”
“Sudah lama?”
“Dua bulan,”
“Kenapa pilih jadi shadow teacher?”
“Ya, ini sinkron banget sama kuliahku dulu, psikologi klinis. Aplikasi ilmu lah. Tapi aslinya aku pengen kerja di bagian HRD, Mas. Aku pengen jadi wanita karir,”
“Ya, ditelateni aja, Ris. Beramal ilmu. Siapa tahu ke depan kamu bisa lebih dari ini. Yang penting di sini,” Ale menepuk dadanya. “Keikhlasan dan kesungguhan hati. Jangan lupa berdoa dan berserah, biar Tuhan yang bertindak terbaik buat kamu. Aku sekarang usaha restoran loh, Ris. Aku keluar dari bank. Aku pengen wiraswasta sendiri,”
“Oh, ya? Jadi cita-cita bareng mbak Siska dulu masih ada, ya? Kesampaian sekarang?” tanya Risa. Ale mengangguk tersenyum simpul.
“Pa! Papa! Ini!” teriak Viko dari kejauhan menunjuk ikan Arwana di sebuah akuarium besar di suatu sudut restoran yang lain. Ale melambai dan mengacungkan jempol.
Beberapa menit kemudian setelah mereka bercengkerama, Ale melambaikan tangan ke arah belakang Risa. Risa ikut menoleh.
Risa melongo, takjub. Seorang wanita berjalan mendekat ke meja mereka. Nun ayu tiada terkira.
“Hai, Hunny, maaf terlambat. Ada meeting,” ucap wanita itu sembari mencium pipi kiri dan kanan Ale.
Risa merasa hatinya terbakar hebat. Dan kini kuncup yang semula bersemangat untuk mekar kini layu, lesu, kuyu.
“No problem. Hun, ini gurunya Viko. Adik teman dekatku dulu,”
Risa mengerucutkan kelopak matanya sedikit tersinggung.
Wanita itu melempar senyuman pada Risa dan mengulurkan tangan.
“Andien,”
“Risa,”
Keduanya tersenyum. Tapi Risa jelas tersenyum yang dipaksakan.
“Dia calon ibu Viko, Ris,” tegas Viko membuat Risa merasa bumi meledak bak teori Big Bang, BOOM!!!
Lidah Risa kelu nan kaku. “Ja-jadi... Mbak Andien calonnya Mas Ale?” tanyanya untuk memastikan.
Mereka berdua mengangguk tersenyum menambah sayatan luka di kuncup bunga yang telah layu. Rasanya kini kursi dengan busa empuk yang didudukinya  juga terasa seperti berduri tajam, membuat pantat Risa ingin segera beranjak mencuat jauh.
“Oohh.. begitu...” Risa mengambil nafas berat.
Kini kuncup itu mati.
“Selamat, ya,” sambung Risa.
“Terima kasih. Nanti undangannya nyusul. Dateng, ya?” tukas Ale.
Risa mengangguk tersenyum tapi hatinya pedih.
“Bu, ayo ke sini!” Viko datang tiba-tiba dan langsung menyeret tangan Risa.
Sementara Andien mencoba menyapa Viko dengan lembut tapi justru Viko membentak Andien.
“Huh! Nggak mau!!” bentak Viko.
“Viko!” sentak papanya.
“Huh!” suara Viko pada papanya. “Ayo, lihat ikan! Sana!” Viko menyeret terus tangan Risa dan sebelah tangannya menunjuk ke akuarium besar.
Risa mengikuti langkah Viko. Sedikit ada kelegaan. Setidaknya untuk detik ini karena ia tak tahan melihat Ale bersandingan dengan wanita yang lebih sempurna darinya.
Risa larut bermain dengan Viko bahkan makan semeja dengan Viko, terpisah dari Ale dan Andien. Sesekali Risa mencuri pandang ke arah mereka berdua. Pediiihhh.
Ternyata baik dulu maupun sekarang Risa tiada artinya di hati Ale. Menjadi bayangan kakaknya untuk bisa dicintai Ale juga tak bisa. Tapi apa untungnya menjadi sebuah bayangan? Maya, kelihatan riil tapi bukan yang sebenarnya. Terkecuali guru bayangan. Mereka riil dan amat penting untuk bisa membantu para ABK bisa struggle di kehidupan sehari-hari khususnya di sekolah, bisa  memahami materi di sekolah umum, bersosialisasi dengan teman-teman mereka yang “normal” dan bisa hidup layaknya orang “normal” juga.
Ya, dari sekian banyak “bayangan” yang diketahui Risa, hanya jadi guru bayangan atau shadow teacher lah yang paling nyata baginya.
Risa tersentak bangun dari pikirannya yang berkecamuk tentang Ale tadi siang setelah ponselnya menyalak keras di dekat kepalanya.
Satu panggilan masuk dari pak Fahmi, guru di kelas Nanda.
“Halo, Bu Risa?”
“Ya, Pak Fahmi? Ada apa?”
“Besok pulang sekolah free nggak?”
“Kayaknya iya. Kenapa, ya?”
“Mau nonton NBL[3] besok? Saya ada tiket free entry, VIP, Bu. Beberapa waktu lalu Bu Risa bilang suka nonton basket, jadi saya ngajak Bu Risa. Bu Risa masih suka nonton NBL, kan?”
“Wah! Mau banget, Pak!” suara Risa kegirangan.
“Kalau begitu besok ketemu sepulang sekolah, ya?”
“Oke,”
Beep. Suara telepon terputus.
Senyum Risa mengembang karena diajak nonton pak guru paling ganteng satu sekolah. Aduh... rasanya mulasnya hilang, kegalauan patah hati karena Ale hilang. Mudah-mudahan bukan hanya sementara.
Semoga aku bisa benar-benar move on ke depannya. Aku memang shadow teacher, tapi bukan berarti aku harus jadi bayangan untuk sisi hidupku yang lain. Heeemmm... asmara... deritanya tiada akhir, kata  Cu Pat Kai. Ya, sudahlah... sekarang waktunya senang-senang dengan semua yang aku miliki. Termasuk pekerjaan mulia untuk ABK. Lagipula  jodoh nggak akan lari ke mana.
-end-


*Ditulis untuk event lomba menulis  Love In The City: Pilih Karir atau Jodoh? oleh @nbc_ipb tapi nggak lolos :') dan sekarang ikutan Moment to Remember 2013 dengan tema karir



[1] Sekolah regular (biasa) yang menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) dan menyediakan sistem layanan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak tanpa kebutuhan khusus (ATBK) dan ABK melalui adaptasi kurikulum, pembelajaran, penilaian, dan sarana prasarananya. (sumber: http://upikke.staff.ipb.ac.id/2011/06/07/sekolah-inklusi-bagaimanakah/)
[2] Suatu kelainan kromosom pada kromosom 21 di mana terjadi penambahan jumlah kromosom sehingga menyebabkan gangguan keterbelakangan mental pada anak (sumber: http://kesehatan.kompas.com/read/2010/03/29/11191896/Teori.Baru.Penyebab.Down.Syndrome ) 
[3] National Basketball League, liga basket tertinggi di Indonesia.

Jangan Pinang Aku!


Jangan Pinang Aku!

Sari memperhatikan seorang anak gadis di dekapan seorang ayah, sesenggukan setelah jatuh akibat berlarian kecil dan kepalanya terantuk meja. Ayahnya mengelus dan mencium kepala putri kecilnya yang berusia sekitar lima tahun itu lalu menghibur sang putri agar tak lagi menangis. Sungguh manis, pikir Sari. Hal ini sukses membuat kelenjar air matanya mengeluarkan air mata begitu saja. Terharu.
Sari teringat ayahnya dahulu ketika dirinya masih kecil juga melakukan hal serupa pada dirinya yang jatuh dari aksi perdananya mengendarai sepeda roda dua. Ayahnya meniup lukanya, mengobatinya, memlesternya dan mencium lutut Sari.
“Ya, Tuhan sembuhkan lutut putri cantikku,” ucap sang ayah sambil tersenyum pada Sari.
Ia segera memalingkan pandangannya keluar jendela bening cafe and resto Mango La Rasa, milik kekasihnya. Kemudian ia menyeka rembesan air mata di kedua pipinya yang merona ulasan blush on.
Sari lalu menyapukan pandangannya ke seluruh sudut jalanan padat dirayapi puluhan mobil dan motor berlalu-lalang. Fokusnya jatuh pada sebuah pemandangan di bibir trotoar. Ada dua bocah, lelaki dan perempuan, sedang duduk melepas lelah. Di samping mereka tergeletak tumpukan koran.
Beberapa menit kemudian datanglah seorang ibu separuh baya membawa kantong kresek besar. Terlihat ibu itu mengeluarkan bungkusan coklat, nasi bungkus. Kedua bocah itu tampak riang gembira bukan main. Tanpa pikir panjang mereka membuka bungkusan itu dan melahap nasi mereka. Sesekali mereka berdua bercanda dengan saling mengambil jatah masing-masing. Sungguh lucu.
Sari tersenyum manis. Melihat kedua bocah itu, ia jadi ingat masa kecilnya dengan Bayu, adiknya yang kini berlayar nun jauh mengarungi samudra dan menyinggahi satu benua ke benua lain. Mereka berdua juga sering berbagi bersama. Misalnya soal makanan, mereka selalu berbagai kue yang dibawa ibunya dari toko kue milik tetangga mereka, tempat ibu mereka bekerja sebagai penjaganya. Kue itu tak banyak, makanya mereka saling berbagi.
Mendadak ponsel Sari berdering keras di dekat gelas jusnya.
“Ya, Sayang?... Apa? Telat? Oh, iya, nggak apa. Aku juga nggak keburu, kok. Ini tadi meetingnya selesai lebih awal jadi jam istirahat lebih lama.” Sari terkekeh. “Apa? Aku curang? Yee, enak aja. Itulah enaknya kerja di kantorku, santai tapi serius, serius tapi santai... Oke, aku tunggu, ya? Hati-hati,” ujar Sari menerima telepon dari kekasihnya yang  terlambat datang karena harus mengurus beberapa urusan penting di cafe cabang.
Sari mengambil nafas dalam dan menghembuskannya cepat lalu terdiam sejenak. Ia teringat lagi, tujuannya bertemu Johan, kekasihnya hari ini adalah untuk melihat-lihat desain cincin pernikahan mereka tiga bulan lagi. Tiba-tiba saja cemas menyusup ke palung hatinya. Kecemasan yang sudah berulang kali ia coba bunuh tapi tetap saja datang kembali.
Sari menjalin asmara dengan Johan sejak lima tahun lalu setelah mereka diperkenalkan oleh seorang teman dekat. Mereka saling mencintai dan tampak serasi di mata semua orang. Namun, ketika banyak orang mengelu-elukan mereka pas untuk berjodoh, sebuah perasaan aneh menerpa Sari. Ia merasa tak pantas untuk Johan, seorang pengusaha cafe and resto terkenal di Surabaya, tampan, matang, berkarakter pria sejati dan berasal dari keluarga bermartabat. Sementara dirinya? Latar belakang keluarganya sungguh memiliki perbedaan  bagai sumur dan langit dengan keluarga Johan.
Sari tersentak ketika matanya mendadak gelap. Ada tangan menutupi penglihatannya.
“Johan...” ujar Sari.
“Surprise!” seru Johan tersenyum lebar, lalu mengambil duduk di seberang Sari, terpisah oleh meja.
Sari mengernyit lalu berkata, “Belum ada lima menit telepon tadi, sekarang udah sampai,”
“Ya kan, kejutan, Sayang,” sahut Johan. “Oh, iya, tunggu,” lanjut Johan sambil merogoh saku celananya.
Johan mengeluarkan sebuah kotak kecil, membukanya dan menyodorkannya pada Sari.
Isi kotak itu berkilau indah. Cincin berbahan emas dan bertahtakan permata. Sari melotot menatap sepasang cincin itu.
“Katamu hari ini kita baru mau lihat cincinnya, lalu ini...” tunjuk Sari.
Johan tersenyum mantab. “Ya, aku nggak sabar untuk mewujudkannya. Aku diam-diam ambil salah satu cincin manik-manikmu lalu aku bawa sebagai contoh ukuran jari manismu, Sayang. Gimana, kamu suka? Kalau nggak pas, bisa desain ulang,” Johan bersemangat bercerita.
Sari membisu. Ajakan menikah dari Johan saja sudah membuatnya syok, apalagi cincin pernikahan mereka sudah jadi. Cemas itu makin menjadi.
Sari menelan ludah kuat-kuat lalu menggeleng pelan. Matanya menatap cincin itu.
“Kenapa, Sayang?”
“Jangan pinang aku, Jo,”
Johan tersentak. Tanggal pernikahan sudah ditetapkan, rencana demi rencana segera dieksekusikan, dan mendadak Sari menolak. Apa-apaan ini?
“Pikirkan kembali, Jo. Keluarga besarmu tak sepenuhnya menerimaku. Aku anak orang miskin yang punya jutaan hutang. Ayahku sering berjemawa dirinya keturunan ningrat dari garis keturunan buyutnya sehingga membuatnya selalu merasa uang turun dari langit. Belum lagi, buyutku ada yang mengidap Skizofrenia, gangguan jiwa yang sering dipandang sebagai aib kebanyakan orang. Ibuku hanya penjaga toko kue di kampung dengan adik yang mengalami retardasi mental, pamanku. Permasalahan keluargaku amatlah kompleks, Jo. Pikirkan kembali,” jelas Sari panjang lebar.
Johan menghela nafas berat lalu meminta Sari menatapnya.
“Dengarkan aku! Aku harap ini yang terakhir kali aku bicara tentang ini. Aku bukan mau menikahi orangtuamu apalagi leluhurmu. Aku nggak peduli kata orang termasuk keluarga besarku. Keluarga intiku amat setuju aku menikahimu. Orangtuaku nggak sekolot keluarga besarku, mereka sudah banyak terpengaruh gaya berpikir orang barat selama hidup di Amerika. Budaya keluarga kami, ini pernikahan dua insan manusia. Tak peduli keluarga besar. Memangnya kita minta makan dari keluarga besar? Enggak. Abaikan omongan nggak penting!”
“Nggak segampang itu, Jo,”
“Gampang. Percaya padaku! Orangtuamu mungkin punya pengalaman nggak baik di masa lalu, tapi peduli apa aku! Aku mencintaimu. Aku mau menikahimu,” tegas Johan. Kini tangan Sari sudah ada di genggaman Johan. “Tolong, Sari, jangan lagi merendahkan dirimu sendiri. Percaya dirilah! Kini kamu seorang manajer HRD sebuah perusahaan advertising besar dan ternama. Kamu punya segalanya sekarang hasil kerja kerasmu selama ini. Aku tahu jerih payahmu dari nol. Hargailah dirimu sendiri. Percaya dirilah bahwa kamu pantas untukku,”
Sari masih terpaku. Johan makin mengeratkan genggamannya.
“Menikahlah denganku! Kita mulai keluarga yang lebih baik dari yang pernah ada dalam kehidupan kita,” pinta Johan.
Tatapan Sari kini menghangat, rasa cemasnya mulai memudar. Lalu mereka berdua saling bertukar senyum menunjukkan bahwa cinta di antara mereka teramat kuat untuk bisa menghalau segala rintangan, sekarang dan nanti. Mereka berusaha  melupakan masa lalu dan menatap masa depan bersama.
Well, tampaknya Sari harus sudah mulai benar-benar memantabkan diri menjadi calon nyonya Johan Suryawiryawan.
-end-

 *Ditulis untuk lamaran lowongan kerja di penerbit Plot Point tapi nggak lolos :D