Senin, 11 Februari 2013

cerpen: My Love, From Fat To Slim


My Love, From Fat To Slim

Carla menarik nafas dalam dan segera menenggak segelas besar air es di meja makan. Dia pusing mendadak dan jantung berdebar. Belum apa-apa dia sudah rugi. Hari ini hari pertama dia mengambil stok barang ke temannya yang sudah mengepakkan sayapnya lebar-lebar di dunia bisnis handy craft seharga ratusan ribu. Carla ternyata tidak mempersiapkan segala macam bentuk resiko yang harus ditanggung. Di pikirannya kalau pun ia rugi bisnis handy craft mungkin hanya karena tak laku tapi kecelakaan lalu membuat barangnya hancur di hari pertama dan belum sempat ia perdagangkan? Oh... noooo! Tapi semua sudah terjadi.
“Gue nggak boleh nyerah. Ini masih belum apa-apa. Siapa tahu, rugi di awal, untung di akhir. Bismillah... pasti bisa!” ucapnya sendiri.
“Tapi... gue nggak bisa kalau selapar ini. Kenapa tadi gue nggak beli fast food aja coba? Tapi kan, gue sudah berkomitmen makan fast food sebulan sekali. Minggu lalu gue barusan makan di fast food dekat food court. Yap! Gue harus konsisten kalo pengen kurus!” celoteh Carla lagi yang berambisi ingin kurus tapi sering gagal total.
Bel rumah berbunyi. Carla menoleh lemas. Pasti pak pos yang setiap minggu nganter surat bank atau semacamnya langganan kakaknya, Renatha. Ini kan, hari Rabu. Pak pos rutin ngasih hari Rabu. Carla berjalan lempeng membuka pintu rumahnya lalu pagar rumahnya.
“Iya, Pak, mana pulpennya?” tanya Carla seperti biasa kepada pak pos untuk menandatangani surat tanda terima kiriman yang disampaikan pak pos.
Carla tak menyimak baik-baik siapa datang. Ia sibuk menyingkirkan kerikil-kerikil di area  pagar rumahnya. Lalu ia mendongakkan kepalanya dan ternganga seketika.
Tuhan... pangeran ini jatuh darimana? Di bumi yang menua ini ada ya wajah setampan ini?
“Elo! Hei!” sapa lelaki itu.
Carla masih menganga. Takjub.
“Renatha ada?” tanyanya lagi. Carla masih terhipnotis, belum sadar.
Lelaki itu mengguncang-guncangkan tubuh Carla.
“Eh, em, anu, Carla. Nama gue Carla,” kata Carla pede mengulurkan tangan memperkenalkan diri. Lelaki itu menyambut datar dan tersenyum kecut. Carla mengabaikan itu.
“Renatha ada?” tanya lelaki itu sekali lagi.
“Oh, kak Rena? Kak Rena ke Phuket kemarin lusa. Mungkin dua hari lagi baru dateng,” jawab Carla.
“Oh, begitu. Sampaikan ke dia ya, kalo udah di sini, suruh nyamperin gue, Elang,” kata lelaki itu.
Oh, namanya Elang. Sepadan dengan tatapan matanya yang membius. Tapi bukan seperti Limbad! Hiii.
Lelaki itu meninggalkan Carla dalam keterpukauannya sendiri. Tanpa pamit, tanpa basa-basi, begitu saja masuk ke mobil mewahnya lalu pergi. Carla tetap tak mencatat itu sebagai sebuah keburukan.
@@@
Semenjak pertemuan pertama dengan lelaki bermata Elang dan memang bernama Elang, Carla jadi sering cengar-cengir sendirian di kamar, di ruang makan, di depan tivi, di kampus, di kantor dan dimana pun dan kapan pun termasuk ketika dia sedang berinteraksi dengan para konsumen yang hendak membeli barang dagangannya. Suatu kali ia terlibat percakapan dengan sahabatnya mengenai ini.
“Woii!!! Ada yang mulai kena simptom halusinasi, nih! Ati-ati loe, bisa-bisa loe menuhi kriteria diagnosis sakit mental kronis!” celetuk Sarah, sahabat Carla di kampus dan di kantor. Carla tak menggubrisnya dan masih  senyum-senyum sendiri.
“Wah, sinting beneran nih, anak!” kata Sarah lalu usik memencet hidung Carla sampai Carla tersengal-sengal nafasnya.
“Eh, eh, apaan, nih?! Mentang-mentang hidung gue pesek!” suara Carla aneh. Sarah melepasnya dengan tertawa.
“Abis elo sih, nyengir kuda begitu! Sendirian lagi! Kesambet zombie mana loe di siang bolong begini, hah?” tanya Sarah.
“Waduh, zombie... eh, tapi sempet baca di koran ada film romantis tentang zombie. Mirip-mirip gitu deh, sama Twilight tapi ini zombie bukan vampir. Pemerannya ganteng, lho. Tapi gue juga lupa apa judulnya,” Carla masih sempat berbagi info.
“Aduh, selera elo tuh, syaiton ganteng, ya? Sekalipun ganteng kalo itu dari dimensi lain itu nggak boleh, La! Kita sudah diciptakan dengan bangsa kita sendiri, jodoh pun dari bangsa sendiri. Elo ngerti kan, maksud gue ayat tentang itu,”
“Tahu, tahu, Nyai. Tapi, gue juga nggak sehoror itu lah! Itu cuman felem. You know? Gue masih normal. Doyan lelaki dari bangsa manusia,”
“Oke dokey. Eh, ceritain dong, lelaki tampan yang elo twit beberapa waktu lalu ke gue! Siapa dia?” tanya Sarah penuh rasa penasaran.
Carla berpikir sejenak. Emang pernah dia memberitahukan lelaki tampan ke Sarah?
“Itu lho, yang matanya kayak elang,”
“Oh, Elang! Iya, Sar... dia gantengnya minta ampuuunnn.... haduh. Artis beken mana pun lewat!”
“Denny Sumargo!”
“Lewat,”
“Anjasmara?”
Carla menggeleng.
“Darius Sinathrya?”
Carla mengibaskan telapak tangannya tanda tak sepadan.
“Primus Yustisio?”
“Sarah! Selera lu bapak-bapak, ya? Haduh, capek deh,”
“Ngaco bapak-bapak. Om-om tahu. Mereka masih muda. Yang pertama gue sebut juga masih ngejomblo, tuh!”
What ever lah, ya, yang pasti elu suka yang se-cohort sama kakak gue. Kakak gue sudah tiga lima, hahaha... tapi betewe jauh juga ya, sama gue? Gue sekarang dua tiga,”
“Ah, tapi lelaki emang makin berumur makin keren gila tahu, La!”
“Ya, ya, itu selera elo. Gue seleranya sedeng-sedengan aja yah, nggak muda, nggak tua. Sepantaran is oke. Tapi kalo boleh tua sedikit, ya maksimal lima tahun, deh,”
“Itu harga mati?”
Carla mengangguk.
“Jodoh emang harga mati tapi soal siapa, gimana-gimananya dia kan, nggak ada yang tahu. Siapa tahu elo dapet brondong tujuh tahun di bawah elo atau malah meroket bertahun-tahun di atas elo. Di atas om-om ganteng yang gue sebut tadi, hahaha....” ejek Sarah. Carla spontan mengucap naudzubillah mindaliq dan istighfar banyak-banyak.
“Elu, Sar, mulut lu pedes! Pedesan elu ketimbang gue,” omel Carla kesal. Sarah hanya tertawa.
Lalu mereka kembali menyeruput jus yang mereka pesan di sebuah food court mall dan menikmati donat yang baru mereka beli di lantai paling bawah tadi.
Sejenak berlalu, Sarah menyenggol lengan Carla.
“La, itu baru lelaki kece badai, tuh!” ucap Sarah.
“Mana? Mana?” Carla ingin tahu.
Carla mendadak melotot.
“Itu, Sar! Itu!” Carla heboh sendiri membuat orang di sekitar mereka menoleh seketika ke arah mereka.
“Yee, hebohnya jangan nunjuk-nunjuk gitu! Malu tahu...” protes Sarah sambil menurunkan tangan Carla yang menunjuk-nunjuk ke arah lelaki yang dimaksud Sarah itu.
“Elang!” seru Carla agak lantang. Kali ini membuat si empunya nama juga ikutan menoleh. Carla dan Sarah melotot. Sigap mereka berdua membalikkan badan dan membuang muka ke arah lain dan menutupi wajah mereka dengan tangan mereka.
“Elo malu-maluin banget, sih, Carla! Habis gini gue bawa loe ke dokter biar disuntik penenang biar kehorean elo itu bisa berkurang,”
Carla menyikut Sarah kesal, ia tak sengaja spontan seperti tadi. Lalu Sarah menyeretnya pergi dengan paksa. Mereka mengambil langkah seribu. Lalu menuruni eskalator secepat kilat. Mereka tiba juga di lantai paling bawah. Mereka mengambil nafas lega. Terasa jantung mau copot abis dikejar satpol PP atau bahkan hantu. Tapi di tengah keramaian mall begini? Dikejar satpam karena ketahuan ngutil itu lebih tepat. Tapi ini bukan. Untungnya bukan.
“Gila lo, ya, La!”
“Ya, sori Sar, gue spontan tadi. Gue kaget banget itu orang di sana,”
“Jadi, itu Elang?”
“Iyes!”
“Tapi... nggak ganteng amat, sih,”
 “Orang serupawan tak terbantahkan begitu? Masih level tiarap menurut elo? Setinggi apa selera elu, Sar? Atau karena dia bukan bapak-bapak muda?”
“Ye... ngaco! Stigma elo tuh, jangan kelewatan sama gue! Gue emang suka lelaki dewasa kali tapi gue bukan perusak hubungan orang,” Sarah sewot.
“Sori, sori. Gue nggak maksud begitu. Tapi, wah, parah lu, bilang dia level rata-rata,”
“Serius. Masih ada yang lebih kece dari itu aslinya. Banyak malah di kota metropolis begini, La,”
Carla mengiyakan pernyataan Sarah. Sarah memang sangat tahu pergaulan dan gaya hidup orang kota masa kini. Jauh di atasnya.
“Tapi, tadi dia sama siapa ya, La? Berdua sama cewek. Wah, jangan-jangan itu istrinya. Wah, elu beneran suka sama om-om. Selevel sama gue,” kata Sarah.
“Ngaco! Tapi, ah, masa sih, dia beristri. Kayaknya dia nggak jauh-jauh amat dari kita. Gue sih, nggak terlalu merhatiin cewek tadi. Masa’ istrinya? Yah, ogah ah.. masa gue suka lelaki beristri. No way!”
“La, pulang yuk, gue lebelet pup, nih!”
“Sarah... elu tuh, ya... haduh, hobi elu selalu begitu kalo lagi asyik jalan. Lama-lama lu bawa we-ce berjalan aja, deh!”
Sarah nyengir kuda.
@@@
Carla menikmati susu coklat hangat bikinannya. Ini ritual rutin yang ia lakukan menjelang tidur. Obat ampuh untuk membuatnya segera tidur dan segera mengosongkan perutnya esok pagi. Sirkulasi pencernaannya berjalan lancar untuk esok pagi.
Ia membawa secangkir besar susu coklat menuju kamarnya. Tapi ketika ia melewati kamar kakaknya, Carla berhenti sejenak. Ia samar-samar mendengar suara lantang kakaknya yang sepertinya nampak marah-marah.
“Gue nggak mau tahu lagi. Itu urusan elu lah! Gue nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Romi,”
Sejenak diam, Carla tak mendengar apapun suara di seberang telpon sana.
“Romi itu sudah ngrusak rumah tangga gue sama Iqbal. Mau apalagi dia?”
Carla ikut terenyuh mendengar kalimat kakaknya. Iqbal. Mantan kakak iparnya. Kakaknya dan lelaki bernama Iqbal menikah baru tiga tahun, belum punya anak kemudian rumah tangga mereka diterpa badai besar. Romi. Lelaki itu datang dengan pesonanya yang menghipnotis Renatha ketika mereka berdua terlibat tour ke Wakatobi. Lelaki borju yang punya segala-galanya itu menarik simpati Renatha hingga ke jantung hatinya kala Renatha sedang ada masalah tentang keturunan dengan Iqbal dan mertuanya, orangtua Iqbal. Waktu berjalan, Renatha hanyut dalam romansa dengan Romi dan Iqbal makin menjauh. Hingga tepat setahun lalu, hakim memutuskan Renatha dan Iqbal bercerai.
Renatha jelas akhirnya kecewa karena aslinya cintanya hanya untuk Iqbal dan Romi hanya cinta sesaat. Bulan-bulan pertama pasca sidang perceraian diputuskan, Renatha masih merasa pilu. Romi datang menawarkan obat pilu itu. Tapi, isi otak Renatha hanya untuk Iqbal. Sampai waktu menjawab semuanya. Iqbal sudah berpindah ke lain hati begitu cepat. Renatha tak habis pikir. Pilunya semakin menjadi. Akhirnya hatinya tak terbuka untuk siapapun, lelaki manapun. Tapi di sisi lain, Romi menunggunya tulus.
Suara pintu terbuka. Carla kaget.
“Ngapain kamu berdiri di sini, La? Kakak berharap kamu nggak denger apapun itu!” ujar Renatha.
“Oh, enggak kok, Kak. Aku cuman lewat aja, dari dapur mau ngamar langsung,” sahut Carla lalu segera pergi ke kamarnya.
Carla mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Dia merenung. Kakaknya itu ternyata wanita kuat. Ia tak patah arang walaupun sudah dikecewakan lelaki yang dicintainya. Kakaknya itu juga wanita rapuh kadang kala, ia mudah terbujuk rayuan lelaki lebih “wow”. Tapi dia juga segera kembali dalam keadaan sadar meninggalkan lelaki itu. Kakaknya itu cantik, cerdas, prestasinya bergaris linear lurus selalu cemerlang semenjak di bangku sekolah sampai kerja bahkan secermelang kisah romantisnya yang selalu beruntung, terkecuali peristiwa setahun lalu yang menyakitkan. Menurut catatan Carla secara tidak tertulis, Renatha itu banyak dikagumi para lelaki tampan. Banyak yang berusaha meminangnya tapi Renatha sering menolak karena ia masih mengejar karirnya di bidang pariwisata. Hingga ia benar-benar jatuh cinta pada lelaki tampan dari kalangan biasa, fotografer yang pernah ikut proyek dengannya. Di usia ke tiga puluh satu Renatha melepas masa lajang dengan bahagia tapi ternyata jalannya tak mulus. Walhasil gerbang perceraian dilaluinya.
Agak beda dengan Carla. Sekalipun saudara kandung penampilannya casual biasa saja. Ia tak banyak bergincu. Palingan pelembab, bedak dan lip balm yang menghiasi wajahnya sehari-hari baik di kampus, di kantor, dimana pun. List daftar pacar juga tak ada. Satu pun! List lelaki penembak juga tak ada! Kosong mlompong! Ada yang salah? Carla sempat stres memikirkan itu. Nampaknya ada yang salah tapi ia tak bisa melihat itu. Bicara tampang, ia tak jelek-jelek amat. Mpok Omas bisa juga berjodoh. Bicara berat badan, Oki lukman bisa berpacaran. Masalah materi? Anak-anak SMP yang masih minta uang jajan mamanya juga sudah punya pacar. Apa dong? Hingga suatu titik Carla jenuh stres sendiri, ia mengabaikan segalanya. Tapi hasratnya untuk menikmati ketampanan para kaum Adam tak pernah luntur. Tapi ya itu, ternyata hanya sepintas lalu. Cuci mata. Tak pernah turun ke hati lagi.
@@@
Carla sedang mendaftar barang-barang yang hendak ia jual setelah ia pulang lembur di kantor semalam. Ia masih tampak ngantuk padahal jam sepuluh nanti ada kuliah. Kemudian konsentrasinya pecah ketika bel rumah berbunyi berulang kali. Carla nampak kesal. Sekali dua kali pencet saja sudah cukup.
“Cari siapa?” tanya Carla lalu kembali ia ternganga pada posisi pertama kali ia bertemu lelaki menakjubkan. Elang kembali.
“Gue cari Rena. Ada kan? Di kantor nggak ada. Pasti di rumah,” kata Elang langsung menerobos masuk rumah Carla. Spontan Carla menarik ujung leher jas Elang dari belakang dengan susah payah karena postur tubuh Elang jauh lebih tinggi ketimbang dia.
“Apaan, sih? Nggak sopan!” protes Elang berusaha melepaskan diri dari Carla.
“Emangnya situ tahu sopan santun, hah? Lu kira ini rumah siapa, seenaknya masuk! Cakep-cakep bad attitude, ya,”
“Jangan sembarang ngomong lu ya! Lu siapa, sih? Ini rumah Renatha kan, wanita penggoda itu!” ujar Elang menohok hati Carla.
“PLAKKK!!!”
“Ini elu ngatain kakak gue wanita penggoda dan ini...”
“PLAKKK!!!”
“Elu sudah nggak sopan masuk rumah orang tanpa permisi,”
Astaga gue nampar orang. Lelaki tampan pula.
Elang mendekati Carla dekat, menatapnya tajam. Carla nyaris hilang keseimbangan tapi dia bertahan.
“Seumur hidup baru kali ini gue ditampar cewek. Level elu lagi! Penghinaan ini nggak akan gue lupain,”
Saat suasana tegang melingkupi Elang dan Carla, Renatha muncul dari dalam rumah.
“Lang, elu apain adik gue?” tanya Renatha sewot.
Elang menoleh sambil merapikan diri.
“Oh, dia adik elu, Ren? Kok, beda?” kata Elang mengandung unsur diskriminatif.
“Beda apanya? Muka kita tuh, mirip. Cuman kulit gue aja yang eksotis, tubuh gue yang subur ketimbang kakak gue. Ngomong jangan ngasal ya! Elu kayaknya perlu sekolah kepribadian deh, biar lebih rapi dalam bersikap dan bertutur kata. Huh!” omel Carla lalu dia masuk dengan hati dongkol bukan main. Elang memandangnya sinis tapi setengah takjub pula. Cewek itu bicara super pede mantab.
Carla benar-benar dongkol selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang serba lebih ketimbang dirinya dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Tuhan... kutukan apa ini? Kenapa aku jelek, kakakku cantik?? Memang. Ini bukan pertama kalinya gue denger perkataan menyakitkan begitu tapi oh nooooo... ini diskriminasi namanya!!! Inikah yang dirasakan ras kulit hitam dibedakan dari ras kulit putih?” keluh Carla.
“Carla Marissa. Nama itu nggak cocok sama gue. Mama sama papa salah kasih nama, nih. Atau Tuhan salah kasih bentuk sama aku? Ouucchh... astaghfirullah... sudah sudah sudah, La... ini ujian hidup naik derajat. Semua yang nempel di elu tuh masih wajar, di luar sana banyak yang lebih merana ketimbang elu. Jernihkan otak lu dari pikiran negatif! Oke, kalau begitu... mulai detik ini gue harus diet, harus perawatan dari rambut sampai kaki! Tapi... itu artinya gue harus merogoh kocek gue dalem-dalem padahal gue ngidam tablet keluaran terbaru,” celoteh Carla di depan cermin sambil memegang bagian-bagian tubuhnya yang menyimpan timbunan lemak.
@@@
Suatu pagi yang jauh berlalu dari hari cercaan Elang keluar. Carla bangung melihat dirinya di cermin. Ia mengeluh kenapa tubuhnya masih begitu gendut. Ia langsung menyabet baju olah raga yang tergantung di balik pintu kamarnya. Ia bergegas mengenakan sepatu jogging lalu ia pergi jogging keliling kompleks rumahnya. Saat ia jogging ia bertemu teman SD-nya dulu yang juga tetangganya agak jauh.
“Eh, ada Carla... jogging neng, pagi-pagi,” sapa lelaki itu. Namanya Eza.
“Eh, Za, iya nih... biar kurusan. Biar nggak lu kata kebo lagi,”
“Hehehe. Elu mah, sekarang angsa cantik, La...”
“Gombal tsunami lu, ah, Za!”
“Seriusan, La. Lo sekarang seksi, manis lagi. Cantiknya Indonesia banget,” puji Eza.
“Hyahahaha... akhirnya elu bisa berkata begitu, Za. Ah, tapi gue sih, nggak akan tergoda sama gombal elu ya, sori-sori kusei, ya, hahaha. Apa kabar lo? Udah lulus lo? Kerja dimana?”
“Weittss.. satu-satu neng, tanyanya. Sudah, barusan tapi masih job seeker,”
“Oh. Eh, betewe Za, temen SMP lu si Edgar gimana kabarnya? Masih jomblo?”
“Edgar? Elu masih demen sama dia? Dia sekarang kebalikan elu kali, La. Dia makin tambun setelah berbini,”
Hwhaattt?? Bini?!!”
Eza mengangguk.
“Berani mati ya, seumur dia kawin,”
“Kenapa memangnya? Banyak kok lelaki nikah muda. Gue aja mau nikah muda, apalagi sama elu, La...”
Carla menimpuk Eza menggunakan handuk kecil yang ia kenakan mengusap keringatnya.
“Ogah ah, ntar kalo lu lihat yang lebih bening dari gue, elu kabur lagi,” tungkas Carla. “Gue lanjut dulu ya, Za. Kapan-kapan main lu ke rumah, ada jambu biji merah tuh! Lu kan demen jambu itu,”
“Oke deh, kapan-kapan gue ngapelin elu deh, La. Eh, betewe jangan kenceng-kenceng larinya nanti elu kesamber angin, terbang lu. Badan kurus ceking begitu masih lari-lari,”
“Ngigo mulu lu, Za... lalalala,” ucap Carla lalu seolah tak mendengar ucapan Eza. Justru bernyanyi-nyanyi tak jelas.
...
“La, sarapan dulu, ya... abis gini nemenin mama ke pasar mau belanja buat persiapan lamaran,”
Carla tersedak minum air mineral.
“Lamaran siapa? Aku kan, belum ngenalin pacarku ke mama,” ujar Carla ngasal.
“Memangnya kamu punya pacar?” tanya mamanya melirik tersenyum.
“Iya kan, mama... nggak percaya amat sih, aku bisa punya pacar seganteng Adam Levine. Plis deh, Ma, jangan pesimis begitu. Nanti ya, menantu mama nih, dari bangsa Catalonia yang prianya ganteng-ganteng itu. Percaya deh, Ma,” lanjut Carla lebih ngaco lagi.
“Mama percaya. Percaya kamu ngigau, hahaha. Lagian, bahasa inggris aja kamu nggak pecus mau bersuami bule, nanti nggak nyambung, sayang,” tungkas mamanya.
“Ah, mama pesimis mulu. Aku dilamar bule Spanyol awas lo ya! Mama harus traktir aku apaaaaa aja yang aku minta,”
Mamanya tersenyum lebih lebar lagi. Carla justru hendak pergi ke kamarnya.
Nggak sarapan dulu?” tnaya mamanya.
Enggak ah, nanti Carla gendut!” kata Carla mengheningkan suasana sejenak.
“Carla, mama pengen ngobrol,”
Carla memalingkan badannya. Mamanya mendekat dan mengajaknya duduk di teras samping rumah.
“La, kamu bisa nggak stop diet ketat? Kamu banyak mengurangi asupan karbohidratmu. Kamu olah raga ekstrim sampai nggak kenal waktu. Kamu kenapa, nak?”
“Aku? Aku nggak apa-apa, Ma. Soal diet ketat mama nggak perlu khawatir, aku tahu sampai mana batas kemampuanku,”
“Menurut mama itu berlebihan. Apalagi kamu sekarang benar-benar kurus begini. Lebih kurus ketimbang mama dulu waktu SMA yang cuman tiga lima kilo,”
“Bobotku tiga sembilan, Ma,”
“Tiga sembilan? Itu nggak cocok sama tinggi kamu. Itu sudah nggak proporsional,”
Nggak proporsional gimana, Ma? Justru menurutku ini masih kelebihan,”
“Carla... itu abnormal, sayang...”
“Ma... apanya sih yang abnormal? No problem dengan semuanya. Aku masih ngrasa kelebihan berat badan, Ma. Ini belum proporsional. Aku mau kayak model di finalis ajang pencarian bakat model itu lho, Ma. Walaupun aku juga nggak mau jadi model yang terbuka sana-sini,”
Mimik muka mama Carla berubah cemas.
“Kalau sudah nggak ada yang dibicarakan aku permisi istirahat bentar trus siap-siap nganter Mama, ya?” kata Carla beranjak dari kursi.
“Mama tahu kamu jarang makan nasi bahkan pernah stop karbohidrat, terlebih pas sakit kamu  nggak mau makan sama sekali. Kamu sering menahan lapar,”
Carla menahan nafas sejenak. Ia kaget dengan pernyataan mamanya. Gimana mamanya tahu? Selama ini tak satupun orang tahu di menahan lapar bahkan membuang makanannya. Ia hanya berpura-pura membawa bekal dari rumah padahal seringnya ia membuang makanan bahkan jika ia sayang membuang, ia berikan pada security kantor atau kampusnya.
“Carla baik-baik aja kok, Ma. Carla cuman merasa perlu diet biar kurus. Itu saja,”
“Itu abnormal. Kamu sudah kurus kering begitu kamu bilang gemuk. Nanti sore kita ke tante Lina,”
Tante Lina? Beliau kan, psikolog? Mampus. Disangka gue kelainan jiwa apa?
“Terserah mama,” kata Carla sebenarnya tak rela. Ia akan memikirkan cara menghindar nanti sore.
@@@
Seminggu berlalu. Carla tak bisa mengelak ajakan mamanya minggu lalu. Ia datang ke di psikolog dan di sana ia positif anorexia nervosa. Carla kaget bukan main tapi ia tak bisa menolak fakta yang dia alami, pikiran yang tak rasional dan tindakan-tindakan ekstrim. Rasanya bumi berhenti berputar. Lalu ia merasa terkungkung di dalamnya. Ia harus memulai terapi pikiran dan perilaku untuk mengubah kebiasaannya yang sudah berjalan lima bulan terakhir. Stres berat dialami Carla padahal ia harus tampil prima untuk acara lamaran kakaknya Renatha dan mantan selingkuhannya, Romi.
“Ma, Carla boleh main dulu ke tempat tante Lina?” tanya Carla.
“Bukannya mama melarang La, tapi tante Lina nanti juga ke sini, ke lamaran kakakmu. Kamu di sana sama siapa? Lagian kalau di rumah, mama bisa mengontrol semua yang kamu lakukan biar nggak nyuri-nyuri kesempatan melakukan yang sudah-sudah,”
“Mama, Carla sumpeg di rumah,”
“Sayang, ini lamaran kakak kamu. Masa kamu mau melewatkan begitu saja,”
“Kalau begitu, dokumentasi jangan aku ya, Ma? Serahin di Dipta ya? Aku di kamar aja,”
“Kalau itu maumu, ya sudah. Tapi jangan kemana-mana, ya?”
Carla mengangguk.
...
Acara lamaran berlangsung khidmat dan lancar. Dua insan yang pernah merajut asmara lalu bekonflik itu kini kembali bersatu. Semoga lebih awet ketimbang sebelumnya. Tapi bagaimana Carla? Dia mendekam di kamar. Oh tidak. Ia mencoba mengurangi kecemasannya atas impulsivitas yang ditekannya karena ingin mencoba treadmill ekstrim di teras rumah dengan mendengarkan musik klasik insrumental di teras kamarnya.
Perlahan Carla hanyut dalam ketenangan. Damai. Tapi, mendadak kacau dan itu karena lelaki.
Parfum maskulin merek mahal didengus oleh Carla. Sangat menusuk hidung. Carla membuka matanya kemudian ia terbelalak.
*Kiss pertama*
Kecupan mendarat mendadak di bibir seksi Carla. Carla siap mencakar muka di depannya dan ponselnya berisi lantunan musik klasik jatuh begitu saja.
“Lelaki kur...”
*Kiss kedua*
“Sinting lu, ya! Lu kira gue cewek apaan?!!” omel Carla.
“Cewek penggoda macem elu itu harus dikasih imbalan setimpal,” uajar lelaki itu.
“Kapan gue ngegoda elu?!! Sekali lagi lu bilang gue wanita penggoda, gue sumpel lu sama ikan mas koki,” Carla menunjuk ikan di kolam depan teras kamarnya.
“Tegang amat sih? Biasa aja kali. Bibir elu masih perawan, ya? Kayak kecolongan gitu,”
“Ya, iyalah. Semua di diri gue itu aset berharga buat suami gue nanti,”
“Oh, ya? Terus gimana dong, kalau sudah dicolong orang lain?”
Carla geram tapi ia menahan diri. Ia juga malu. Maka dari itu dia bergegas masuk ke kamar tapi lelaki itu mencegahnya.
“Tunggu! Gue nggak akan berbuat lebih, kok. Sebatas colong bibir aja. Kita ngobrol bentar yuk!” ajak lelaki itu.
“Ogah! Ngobrol sama lelaki bad attitude kayak elu cuman bikin muntah!”
Carla bergegas masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Lelaki itu tak beranjak dari sana. Ia malah duduk di teras kamar Carla. Malah dia berusaha mengajak Carla bicara.
“La, gue mau bilang sesuatu, nih. Gue minta maaf, ya, perlakuan gue beberapa bulan lalu bikin sebel elu. Gue emag salah ngatain elu begitu. Habis, Renatha juga nggak pernah cerita dia punya adik. Gue sadar sih, perkataan gue waktu itu kasar tapi itu spontan. Bukan dari hati gue terdalam. Gue minta maaf,”
“Terserah ya, elu bilang apa. Kata-kata elu itu jelas mencerminkan elu lelaki seperti apa. Lelaki borju berkelas yang hanya bernafsu sama wanita seksi berbaju super ketat, minimal elegan kayak kakak gue, kan? Ah... lelaki buaya!” sahut Carla dari dalam.
“Kata siapa? Gue nafsu sama elu,”
“Gue sumpel mulut loe sama keset lama-lama, Lang!”
“Serius. Eh, maksud gue bukan nafsu begituan. Maksud gue itu gue bukan lelaki buaya yang doyan wanita megumbar aurat sana-sini. Serius. Ya, walo gue kadang tergoda sih,...eh tapi gue nggak terjerat, kok.”
“Sama aja!”
“La, maafin gue, ya? Sungguh gue minta maaf. Aslinya gue kangen sama elu, La,” ucap Elang membuat Carla tak percaya melayang seketika. Lelaki tampan itu merindukannya.
“Elu kalo mau ngegombal, lu ngegombal aja sama domba belakang rumah sono! Di sini bukan sampah buat ngegombal!”
“La, kita bicara kayak dipenjara luar negeri gini, La? Ini lebih parah elu ngunci kamar trus gue nggak bisa lihatin elu. Gue kayak bicara sama hantu, La...”
“Hahhaha... lucu! Basi tahu nggak? Udah deh, pergi sono loe! Ngapain di sini? gangguin orang aja!”
“Lah, elu sendiri kenapa ngurung diri di kamar padahal kakak elu lagi seneng?”
Carla mencari lakban dan mengguntingnya seukuran mulut Elang yang hendak ia bungkam. Lalu ia membuka pintunya. Elang memasang wajah sumringah. Carla segera mendekat dan menutup mulut Elang dengan lakban. Elang kemudian menggenggam tangan Carla yang hampir berhasil membungkam mulutnya. Elang cepat melepas lakban yang hampir terpasang penuh di mulutnya.
“La, gue cinta sama elu. Serius,”
Carla diam. Lalu kembali ke kesadaran semula.
“Elu sekarang suka gue karena gue sudah kurusan, kan? Gue sudah cantik, kan? Elu sama brengseknya sama Iqbal. Baik di luar, busuk di dalam,” serang Carla.
“La, elu sekarang lebih buruk dari yang gue temui pertama kali. Dulu elu seger buger, elu cantik, elu hidup normal tapi sekarang? Elu kurus begini. Elu bilang elu sekarang cantik? Cantikan dulu, La. Serius,”
“Elu pasti kongsian sama mama atau Renatha, kan? Sudah gue bilang, ini tanpa perlu dipaksa. Gue bakal ngejalani semua terapi itu, kok. Gue itu nggak lagi sakit jiwa! Gue sadar gue nglakuin apa aja. Terapi-terapi segala. Oke, gue bakal nglakuin semua yang dibilang mama!” celoteh Carla kesal.
Carla melepaskan diri dari Elang dengan paksa. Ia memalingkan diri dari Elang.
“Demi Tuhan, ini kehendak pribadi gue. Gue sadar dengan apa yang gue lakuin barusan. Gue memang tahu beberapa waktu terakhir elu aneh soal penampilan elu dari Rena tapi sungguh, gue nggak ada niat memojokkan elu. Gue cuman mau elu semangat lagi. Ini bukan kesalahan, ini bukan aib, dosa atau apa, ini hanya soal persepsi elu yang agak kliru. Akhirnya elu terobsesi bertubuh kurus. Percaya sama gue, La, elu cantik saat kita pertama ketemu. Elu nggak kurus kering begini. Gue juga nggak mau kali punya istri sekurus ini. Melihat aspek kesehatan, sistem reproduksinya juga buruk. Lelaki mana yang mau,”
“Itu!”
“Itu apa?”
“Itu! Elu mojokin gue dengan kondisi begini. Elu seolah menghakimi gue! Pergi! Pergi! Pergi!” usir Carla.
“Salah lagi gue. Oke, sori banget. Tapi ini semata-mata gue pengen elu semangat lagi untuk hidup normal. Hidup sehat. Gue bisa bantuin elu hidup sehat. Gue begini juga nggak instan, butuh waktu setahun bisa punya badan kotak-kotak begini,”
“Emang lu manusia beton, badan kotak-kotak,”
“Salah lagi. La, bilang sama gue biar gue bisa bener di mata elu,”
Carla mendongak ke atas menatap Elang.
“Demi apa lu berusaha bener di mata gue?” tanya Carla.
“Demi jadi suami elu. Gue kalau nggak salah denger dari Renatha sih, elu suka sama gue dan mendamba lelaki tampan kayak gue jadi suami elu. Dan kalo gue nggak salah lihat sih, pertama kita ketemu dan kedua kalinya ketemu elu ternganga gitu merhatiin gue. Lalu pas di mall duluuuuu banget lu spontan teriak nama gue, seolah gue artis dari mana gitu, inget?”
What? Dia sadar tindak-tanduk gue, termasuk di mall itu. Padahal kala itu baru dua kali bertatap muka. Lah... lelaki ini...
Carla kikuk salah tingkah.
“Itu dulu,” elak Carla.
“Ah, masa sih? Kalo sekarang udah enggak, elo pasti nolak gue cium,”
“Elunya ngrampok!”
“Kalo nggak gitu, elu nggak akan tahu gue suka elu.”
“Elunya yang keburu nafsu,”
Enggak lah. Biasa aja. Udah deh, La, ketahuan banget lu suka sama gue, dulu dan sekarang. Sekarang gue baru sempet menjelaskan semuanya. Dulu sih, gue sering mengelak gue suka elu tapi mata elu itu bikin gue nggak bisa merem tiap malem. Elu punya mata terbuat dari apa, sih? Coba lihat,”
Elang mencoba memegang kepala Carla untuk melihat matanya.
“Nah, bener kan, mata ini tetep sama. Elu cinta sama gue. Tuh, pupil membesar,”
Carla terpaksa bertatap mata dengan Elang.
“Mata elu juga tetep sama, setajem elang,”
“Makanya nama gue Elang. Kalau elu kenapa namanya Carla Marissa,”
“Mama salah kasih nama,”
“Karena elu cantik, secantik namanya,”
“Gue sakit, Lang,”
“Kita bisa perbaiki bersama. Elu nggak sendirian, La. Ada gue di samping elu,”
Elang memeluk Carla. Carla membalasnya.
“Gue cinta sama elu,” ucap mereka bersamaan sembari tersenyum.
“Elu kan, benci sama kakak gue. Ke gue kok, enggak?” tanya Carla tiba-tiba.
“Mana bisa kalo tiap mau merem selalu ada mata elu. Sama Rena, semua kesalahpahaman aja. Gue kasihan sama sepupu gue, Romi yang nyaris gila gara-gara kakak lu,”
“Oh... begitu,”
“Di dalem ada orangtua gue, gue lamar elu sekalian ya?” tawar Elang.
“Jangan sekarang! Belum siap,” tolak Carla.
 “Cuman lamaran. Nikahnya bisa besok-besok. Gue nggak mau ya, gadis gue disamber orang,”
Elang mengajak Carla masuk ke dalam rumah lewat depan rumah.
Wait... kalo elo jadi suami gue, elo terima gue apa adanya, kan? Gemuk, kurus, setengah gemuk?” tanya Carla.
Elang mengangguk tersenyum manis dan tulus. Carla mempererat genggaman tangannya yang sedari tadi digenggam Elang. Dia tak ingin jauh-jauh lagi dari Elang. Cinta pandangan pertama yang ternyata -akan- menjadi jodohnya kelak selamanya. Perasaan Carla dalam kondisi sangat bahagia. Harapnya, semoga cintanya awet dari dia gendut ke kurus, siapa tahu gendut lagi, kurus lagi. Entah itu nanti. Intinya sekarang dia bahagia.
@@@

Senin, 04 Februari 2013

Pandangan: pertama vs kedua



Pandangan: pertama vs kedua

Ini bukan kemauan Ayu. Lulus sarjana lalu tiba-tiba jadi pembantu rumah tangga. Ooohhh...mau ditaruh mana muka Ayu? Ya, nggak dipungkiri, memalukan iya rasanya. Masa’ lulusan sarjana ujung-ujungnya jadi pembantu. Mending kalo murni pembantu di rumah sendiri aliasnya jadi ibu rumah tangga biasa setelah menikah, lah ini? Pembantu di rumah tangga orang lain! O-ow... Ayu ucap istighfar kuat-kuat dan banyak-banyak.
Demi mengurus cacing-cacing di usus perutnya dan menyambung kehidupan kedua orang tua dan adik-adiknya di kampung, Ayu terpaksa rela menjadi pembantu sementara waktu sampai ia benar-benar mendapatkan pekerjaan yang mapan dari sekian banyak lamaran yang sudah ia kirimkan.
Pekerjaan pembantu sudah Ayu jalani nyaris dua minggu tapi rasa malu dan tak rela masih menyelimuti hari Ayu.
Cuman segini? Padahal aku punya impian bisa jadi wanita karir yang berangkat pagi dan pulang malam untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Tapi... kerjaan ini sebenarnya sama saja, kerja mulai subuh dan berhenti jam sepuluh malam. Oh....bukan ini Ya, Tuhan yang kumau. Kerja di kantor, memakai pakaian rapi, otak digunakan sebagaimana mestinya, ya selayaknya wanita kantoran, itu yang kumau. Bukan baju seadanya, kain pel, kemucing, sabun cuci piring, detergen...oh... Tuhan...kutukan apa iniiii????
Ayu memasang tampang muka kusutnya dan dalam hati ia memendam kejengkelan tak berarah kemana ia akan jengkel karena memang ini bukan salah siapa-siapa. Ia menggerakkan gagang kain pelnya sesuka hati seiring dengan kejengkelannya dan akibatnya...
“BRUUKK!!” suara seseorang terpeleset jatuh.
“Waduh, Den Mas Robbi, maaf ya, saya nggak sengaja. Maaf,”
Ayu bergegas mencoba memberikan pertolongan pada majikannya yang tampan nan berkharisma itu.
“Kamu!” ucap Robbi datar memandangi Ayu yang takut. “Kecerobohan ke berapa ini? Rapikan segera! Aku bisa berdiri sendiri,”
Ayu merasa sangat bersalah atas kejadian itu dan sekuat tenaga meminta maaf. Robbi menuju kamarnya sambil tertatih-tatih. Ayu bergegas pergi ke belakang usai menyelesaikan tugas ngepelnya. Ia kemudian menghampiri mbok Parti yang sedang memasak untuk makan malam anggota keluarga majikan mereka yang terdiri hanya seorang ibu dan dua anak lelakinya yang salah satunya akan segera menikah dalam waktu dekat. Untungnya bukan lelaki bernama Robbi. Pikir Ayu. Melainkan adiknya yang tak kalah tampan dari Robbi. Tapi, bedanya, Roki masih memiliki daya humor cukup bagus dibandingkan kakaknya yang sering beraut wajah datar cenderung dingin.
Ayu meraih pisau tajam untuk mengiris sayuran yang akan dimasak. Sementara hatinya masih kacau merasa sangat bersalah tapi perminta maafannya tak diterima oleh orang lain, akhirnya berdampak pada kejadian berdarah. Tangan Ayu terisi hingga darahnya mengucur cukup deras.
“Aduh. Darahnya banyak lagi!” keluhnya.
“Gimana to, Nduk? Ayo ndang bersihkan dulu sana! Di deket kulkas ada kotak P3K, ambil hansaplas di sana! Makanya jangan sambil nglamun kalo ngiris-ngiris itu,” ujar mbok Parti.
Ayu bergegas mencuci tangannya dan mengambil hansaplas sesuai instruksi mbok Parti. Tapi, kok, ya sialnya kotak P3K ditaruh di tempat yang tak terjangkau oleh tinggi badannya. Terpaksa ia mengambil kursi untuk naik dan mengambil kotak P3K. Sembari tangan kanannya mencoba meraih kota P3K, tangan kiri Ayu masih mengeluarkan darah walau tidak sampai mengucur deras.
Kotak P3K tak kunjung teraih tiba-tiba seseorang menyenggol tubuhnya dan terjatuhlah Ayu menimpa tubuh orang yang menabraknya. Betapa malunya Ayu ketika tahu siapa yang ditimpanya. Robbi!!!
Entah magnet macam apa yang membuat keduanya terdiam terpaku memandangai bola mata masing-masing. Ayu menelan ludah. Ini persis seperti di FTV-FTV di tivi itu.
“Kita begini sampai kapan? Kalau terjadi apa-apa dengan posisi begini, bagaimana?” kata Robbi membuat Ayu malu bukan main. Terkadang konten ucapan Robbi agak genit menggoda tapi ekspresi wajahnya tetap datar saja.
Ayu segera bangkit dan meminta maaf pada Robbi.
@@@
Robbi. Robbi. Robbi. Ibu Elsa itu ngidam apa ya, dulu punya anak setampan itu? Tapi bagaimana pola asuhnya sampai dia sedatar itu, seolah nggak punya rasa. Atau cuman pencitraan aja biar terlihat oke di mata wanita? Biasanya lelaki yang bikin cewek klepek-klepek kan, yang cool-cool gitu. Rasa penasaran bikin mereka meleleh. Dan aku masuk ke dalam golongan cewek seperti itu. Ahhh....
Tiba-tiba pintu kamar Ayu diketuk oleh seorang wanita. Ternyata mbok Parti. Ayu segera bergegas keluar kamar.
“Ada apa, Mbok?” tanya Ayu.
“Disuruh ibuk ke ruang makan. Cepetan, ya?”
Usai merapikan diri, Ayu bergegas ke ruang makan.
“Iya, Buk, Ibuk manggil saya?” tanya Ayu.
“Oh, ini Yuk, kamu ikut mas Robbi ke pertokoan depan sana, ya? Tolong kamu belikan kotak kue yang kemarin kamu beli sama ibuk,” kata majikan Ayu.
Robbi dan Ayu pergi berdua naik motor ke pertokoan di ujung gang perumahan mereka. Ayu turun duluan dan berjalan ke arah toko yang dimaksud majikannya tapi tiba-tiba Robbi memanggil Ayu.
“Kenapa, Mas?”
“Tunggu,” kata Robbi sambil melepas jaketnya.
“Pakek nih, jaket! Merah, tuh!” kata Robbi lirih di telinga Ayu dan tangannya melingkarkan jaketnya di bagian belakang tubuh Ayu.
Ayu spontan malu bukan main. Dia sedang datang bulan dan tembus. Oh,...memalukan!
“Makasih, Mas!” sahut Ayu.
Mereka pun segera membeli keperluan seperti yang disampaikan ibunya Robbi.
Usai itu mereka bergegas pulang. Sesampainya di rumah Ayu meminta maaf pada Robbi karena sudah mengotori jok motor Robbi.
“Segera cuci, ya? Tiga hari lagi mau aku pakai keluar kota,” suruh Robbi. Ayu mengangguk, masih menahan malu.
@@@
Dua minggu berlalu. Acara resepsi pernikahan Roki, adik Robbi, majikan Ayu berlangsung. Kali ini Ayu dipercaya jadi penerima tamu. Ia didandani dengan sangat cantik kali ini. Setidaknya cukup membuat majikannya Robbi terpukau walau berbohong memungkirinya.
“Ayu!!” kata seorang lelaki setengah bertampang bule.
Ayu menoleh dan matanya terbelalak.
“Kamu kenal dia, Co?” tanya Robbi yang ada di samping lelaki itu.
“Ya, iyalah, Brad! Dia itu penulis cukup terkenal. Blognya juga sudah lebih dari ratusan ribu viewer. Tanya aja ke dia,”
Lelaki bernama Marco merupakan rekan baik Robbi dan Roki itu menghampiri Ayu.
“Hei, Ayu. Inget dong, sama gue? Blogger dengan nama Marco Antony,”
Ayu gelagepan. Ia tak tahu harus berkata apa. Kedoknya terbuka.
“Gimana wisudamu kemarin? You looks so pretty, Yu! Congratulation, ya? Aku lihat postingannya di blogmu. Kok, nggak nulis lagi? Aku nunggu, lho, cerita romansanya,” lanjut Marco.
Ayu tersenyum dan menerima uluran tangan Marco dan berjabat tangan.
“Makasih. Emm, masih off dulu.”
Ayu masih salah tingkah bagaimana harus bersikap di depan Robbi yang ia bohongi tentang identitasnya.
Robbi menatap Ayu tajam dan tak terbaca bagaimana ekspresinya.
@@@
Ayu merasa bersalah karena tak berterus terang tentang siapa dirinya sebenarnya kepada keluarga Robbi. Tapi apa untungnya juga ia menyampaikan bahwa ia lulusan sarjana dan seorang penulis yang sudah cukup lama beredar di dunia maya? Toh, yang ia kerjakan hanya perkerjaan rumah tangga. Sementara ini hanya Robbi yang tahu siapa Ayu sebenarnya.  Tapi hal ini membuat Ayu sangat resah bagaimana menjelaskannya kepada Robbi.
Suatu malam yang menjadi awal kerusakan suasana hubungan Ayu dan Robbi.
“Aku ketrima di perusahaan provider itu dan aku harus berhenti dari kerjaan ini. Itu juga sesuai janjiku sendiri bahwa aku akan berhenti jadi pembantu setelah dapet kerjaan tetap. Tapi, bagaimana aku mengakhirinya? Terutama sama dia,” kata Ayu pada Alin, sahabatnya di seberang sana.
Ehmm, katakan saja kamu dapat kerjaan baru di tempat lain. Beres, kan?
“Kalau mereka tanya kerja apaan? Dimana?”
 “Katakan apa adanya. Kamu kerja dimana aja itu sudah cukup. Baru kalau mereka menyuruhmu jujur ya, lakukan. Jujur lebih baik. Toh, jujurmu ini bukan mengenai suatu hal yang buruk. Bukan perihal kriminal,
“Begitu, ya? Semoga aku siap menghadapi segala konsekuensinya,”
Pasti bisa. Eh, by the way, Robbi? Sudah kamu sampaikan kamu suka dia?”
“Apah??? Edan! Nggak mungkin lah! Mau ditaruh mana mukaku? Majikan sama pembantu. Mending aku malu ketimbang dimalu-maluin. Aku sendiri juga belum yakin apakah ini benar cinta. Kamu tahu, aku sering tergoda yang lebih bagus. Ingin seperti Denny Sumargo, ingin seperti Adipati Dolken, ingin seperti Rizal Al Idrus, seperti Fauzi Badillah, Novak Djokovic alah hahaha... Kan, nggak mungkin sebanyak itu dalam satu sosok. Ya, sudah lah, aku mau beres-beres lagi. Ini pekerjaanku membabu terakhir sebelum akhirnya beneran jadi wanita karir, hehehe. Doakan aku ya, Lin! Bye...”. Ayu memutus sambungan telepon dengan Alin.
Usai menelpon Alin, Ayu bergegas masuk ke dalam rumah tapi langkahnya terhenti oleh Robbi  yang menghadangnya di depan pintu.
Ayu kaget dan ia berharap Robbi tak mendengar percakapannya tadi.
“Permisi, Den Mas, saya mau lewat,”
“Jadi, yang dikatakan Marco itu benar? Ayu Santika, penulis, sarjana universitas ternama?” tanya Robbi.
Ayu terdiam sejenak. Ia mengambil nafas dalam menguatkan hati untuk jujur. Kemudian ia mengangguk menatap Robbi.
“Kenapa kamu bohong?”
“Semua itu nggak ada artinya kalau cuman jadi pembantu. Betul, kan?”
“Betul. Cuman aku nggak habis pikir, why? Nggak ada pekerjaan lain apa? Dan jelas-jelas kamu menyembunyikan identitas kamu dari kami semua,”
“Intinya, ijazahku tak penting untuk pekerjaan ini, Mas. Dan aku minta maaf kalau itu memang kekeliruan. Tapi aku butuh dan peluang pekerjaan ini yang datang ke aku saat aku butuh. Pembantu bukan pekerjaan hina, kan?”
Robbi diam menatap Ayu membuat Ayu salah tingkah. Ia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya cepat.
“Kapan kamu pergi?” celetuknya.
“Segera. Mungkin besok,”
“Sebaiknya memang begitu. Lebih cepat lebih bagus,”
Robbi melenggang masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba Ayu merasakan hatinya sakit. Ia pikir Robbi akan menahannya. Ah, tapi memang benar. Robbi tak pernah menaruh barang secuil perhatian kepadanya. Robbi memandangnya seperti pembantu biasa yang baru saja membuat kesalahan, “penipuan”.
“Kenapa aku sakit begini? Ini sakit hati karena ia tak peduli padaku yang selama ini menaruh simpati padanya atau sakit hati pembantu yang merasa tak diperhatikan juragannya? Ah, Ayu wake up! He isn’t care about you! Dia sama dengan lelaki lain yang tak pernah berselera menjadikanmu sebagai wanitanya!” gumam Ayu sendiri lalu ia pergi ke kamarnya.
@@@
Enam bulan berlalu. Ayu sudah tak lagi bekerja menjadi pembantu. Ia memulai hidup baru dengan pekerjaan yang lebih mapan dengan gaji cukup menggiurkan tapi pas sesuai dengan kualifikasinya sebagai fresh graduate.
Semenjak malam itu ia meminta maaf pada ibu Robbi tanpa mengatakan dengan jelas kenapa minta maaf, rasanya Ayu masih merasa menanggung dosa karena tak berterus terang tentang siapa dirinya kepada ibu Robbi. Dan persoalan hati, ternyata sosok Robbi tertanam kuat di memori. Memenuhi memori otaknya tanpa bisa dihapus. Ayu juga tidak menyangka kenapa cinta pandangan pertamanya bisa bertahan selama ini. Biasanya kalau dia suka pada seseorang dan ternyata bertepuk sebelah tangan, rasa sukanya tak lebih dari tiga bulan. Ia akan segera move on mencari gebetan lain. Tapi ini berbeda. Bahkan ketika ada teman sekantornya menawarkan hati untuk jadi pelengkap separuh hati Ayu yang masih kosong, Ayu terkesan menjauh.
Suatu malam tepat malam minggu, Ayu pergi dengan Rikaz, teman sekantornya yang menaruh hati padanya. Intinya, Ayu mencoba kencan dengan Rikaz, siapa tahu ia bisa melupakan Robbi. Ayu memaksakan diri padahal ia sudah merasa tidak enak badan sejak Subuh tadi. Nyeri haid tak tertahankan datang membuat Ayu seperti merasakan panas-dingin keringat keluar bukan main.  Mulanya tak begini tapi setelah ia dan Rikaz berada di festival jajanan di sebuah pusat perbelanjaan besar di kotanya, Ayu merasakan itu.
Fisik Ayu tak dapat berbohong, ia pucat. Tapi ia mengaku pada Rikaz tidak apa-apa. Rikaz menawarkan pulang tapi Ayu menolak. Ia memaksa untuk tetap berkeliling area festival jajanan untuk menepis rasa sakit itu. Entah, kesurupan setan apa hingga Ayu rela berjalan-jalan padahal dirinya sakit.
Ayu dan Rikaz terus berjalan hingga fokus mata Ayu berhenti pada satu titik. Sosok Robbi, ya, dia melihat sosok Robbi berdiri di tengah kerumunan orang menawarkan slebaran kertas dan mengenakan celemek. Ayu baru ingat, sebelum dia berhenti jadi pembantu, ia mendengar Robbi sedang merintis usaha kuliner makanan khas Banjar.
“Cari tempat lain aja, yuk, Kaz!” ajak Ayu dengan mata masih menatap ke arah Robbi.
“Kedai itu aja belum kita datengin, Yu,” kata Rikaz. Ayu ngotot mengajak Rikaz pergi.
Terlambat. Ayu terlambat menghindari Robbi. Robbi cepat mengetahui sepasang bola mata Ayu yang sedang menatap ke arahnya. Tapi Ayu justru bergegas pergi, menyeret Rikaz pergi. Rikaz bingung.
Setelah dirasa aman dari penglihatan Robbi, Ayu berkata,”Aku sudah nggak tahan, Kaz. Kita pulang saja, ya?” kata Ayu.
“Oke, kamu tunggu di sini dulu ya, aku ambil mobil bentar. Duduk di situ dulu, ya, kalau nggak kuat berdiri. Tenang, kita segera pulang,” kata Rikaz khawatir terjadi apa-apa pada Ayu. Ayu mengangguk pelan.
Ayu menunggu Rikaz mengambil mobilnya dalam kondisi lemas, perutnya sakit melilit. Keringatnya keluar tak karuan di sekujur tubuh. Baru kali ini dia merasakan nyeri datang bulan begini, di waktu yang tak tepat. Mata Ayu kemudian mulai berkunang-kunang, penglihatannya mengabur, perlahan. Lalu keseimbangan tubuhnya melemah dan.... ia melihat raut wajah, wajah Robbi dengan buram. Yakin tak yakin. Tubuhnya terasa disangga oleh seseorang. Mungkinkah itu Robbi?
“Ayu! Ayu!” panggil sosok itu tapi Ayu makin gelap penglihatannya. Ia tak sadarkan diri.
Beberapa menit kemudian Ayu siuman. Matanya masih berusaha mengenali area sekitar dirinya berada. Ia baru sadar ia ada di mobil ambulans. Di depan matanya tepat ada segurat wajah spontan membuat jantung hatinya berdegup cepat. Cepat sekali seolah jantungnya hendak copot. Wajah itu mengamati Ayu.
“Sudah enakan?” tanya lelaki di depannya. Robbi. Suaranya lembut ramah. Ayu mengangguk lemah.
 “Bertemu denganku saja pingsan, bagaimana kalau kamu bertemu Novak Djokovic, hah?”kata Robbi menyindir Ayu dengan menyebut petenis idola Ayu itu.
Ayu masih terdiam. Ia masih berusaha mengumpulkan tenaga untuk mengeluarkan sepatah dan berpatah-patah kata untuk Robbi.
“Kalau sudah merasa enakan, segera rapikan dirimu! Pacarmu sudah menunggu di luar. Jangan lupa, ikat celemek itu di pinggangmu!” kata Robbi.
Ayu melirik ke tubuhnya. Otaknya segera mengerti maksud kalimat terakhir Robbi. Matanya melotot pada Robbi dan perlahan normal.
“Maaf, Mas!” ucap Ayu. Ia membuat ulah lagi dengan kejadian yang sama. Ulah “tamu” bulanannya.
Nggak apa. Tapi segera cuci, besok aku pakai lagi,” tungkas Robbi.
Ayu melaksanakan perintah Robbi dan bergegas keluar ambulans dipapah oleh Robbi.
“Sebaiknya kamu rajin olah raga, konsumsi makanan sehat, jangan stres dan minum obat. Dan selalu berpikir positif. Selalu prepare pada hari pertama. Kalau perlu periksa ke dokter. Kamu sering seperti ini kan, pada hari pertama,” cerocos Robbi selama membantu Ayu berjalan ke arah Rikaz.
Ayu heran dan segera menatap Robbi.
“Kelihatannya aku cuek, tapi aku perhatian untuk hal sedetail itu. Aku sudah pernah kehilangan wanita karena kanker rahim, jadi jangan terulang kedua kali,”
Naudzubillah!” spontan Ayu mengeluarkan kata itu.
“Makanya lebih baik segera periksa ke dokter,”
“Tapi ini pertama kalinya sampai pingsan,”
“Ke berapa kali, intinya kalau masih begini, segera periksa! Apa perlu aku yang antar?”
Ayu salah tingkah. Ia menggeleng.
“Pacarmu tampan,” celetuk Robbi.
“Bukan,”
“Bukan apa? Bukan pacarmu? Tapi dia menggandeng tanganmu dari tadi kita bertemu. Dia juga cemas sekali kamu pingsan,”
Enggak,”
“Apanya enggak? Yang jelas dong, bicaranya,”
“Dia bukan pacarku. Dia melakukan itu ya, itu haknya dia,”
“Lalu hak kamu? Hak kamu untuk menolak dipegang-pegang oleh orang yang tidak kamu cintai?”
Ayu berhenti berjalan. Kalimat tanya Robbi barusan agak mengusik kenyamanan Ayu.
“Lelaki yang aku cintai juga tak begitu saja berhak memegang-megangku,”
“Jadi, aku tak berhak?”
Ayu menautkan kedua alisnya.
“Sekalipun kamu melarangku, aku akan tetap melakukannya. Bahkan seperti ini pun akan kulakukan,” kata Robbi kemudian segera mendekap tubuh Ayu. Ayu kaget.
“Mas,” ucap Ayu.
“Hanya sebatas ini. Nggak lebih, kok. Yang lebih kulakukan ketika kita sah suami-istri,”
“Kenapa tiba-tiba berkata seperti ini?”
Robbi akhirnya berkata apapun yang ia tahu selama enam bulan berlalu tentang Ayu dan sebelumnya. Ia tahu Ayu sering memperhatikannya diam-diam semasa masih menjadi pembantu di rumahnya. Ia juga tahu maksud percakapan Ayu dan temannya di ponsel sehari sebelum Ayu berhenti bekerja di rumahnya. Robbi paham benar setiap cerita romansa dan puisi yang ditulis Ayu di blognya setelah berhenti jadi pembantu mengarah kepada dirinya. Robbi peka semuanya. Mulanya Robbi mengabaikan itu. Ia meremehkan “cinta pandangan pertama” yang diagung-agungkan Ayu untuknya. Robbi butuh banyak bukti bahwa Ayu benar-benar mencintainya. Dan Ayu membuktikannya selama enam bulan terakhir tak pernah bersua dengan dirinya. Robbi semakin mantab terpesona pada Ayu walau hanya memandangi potret Ayu di blog Ayu saja. Berulang kali ia menatap dan sebanyak itu pula rasanya semakin bertumbuh subur. Ia jatuh cinta pada Ayu, mantan“pembantu”nya.
“Maaf. Aku butuh proses untuk menyadari semuanya,” ucap Robbi. Ia melepas pelukannya.
“Tak masalah. Kesabaranku berbuah manis,” sahut Ayu tersenyum.
Robbi menggenggam kedua tangan Ayu.
“Menikahlah denganku! Kita ukir sejarah baru menjadi Habibie dan Ainun edisi baru,” tutur Robbi.
Ayu tersenyum tapi ia meneteskan air mata.
“Kita beda kasta,” kata Ayu.
“Kasta itu buatan manusia, Tuhan membuat kemustahilan manusia menjadi kenyataan. Aku mencintaimu,” tungkas Robbi.
“Aku harus percaya?”
“Harus! Kamu pernah tahu aku berbohong?”
Ayu mengangkat kedua bahunya.
“Aku bukan majikan pembohong. Kecuali saat kamu pergi dulu, aku menyuruhmu pergi aslinya aku tak rela. Soalnya nggak ada yang buatin aku kopi setiap hari lagi,” ujar Robbi tersenyum sambil memencet hidung Ayu.
“Ini pasti bohong! Aslinya Mas suka, kan? Alibi!” goda Ayu.
“Yang pasti aku jujur soal perasaanku ini. Aku nggak main-main melamarmu,” tegas Robbi.
Keduanya bertatapan jauh ke dalam bola mata masing-masing. Ayu percaya, cinta pandangan pertama itu ada walaupun ia harus bersabar menuai hasilnya menunggu kebenarannya itu. Robbi tetap percaya, cinta butuh proses dan terkadang juga membuat sedikit menyesal karena agak terlambat menyadari sampai orang yang dicintai nyaris lenyap. Tapi, Tuhan sudah terlebih dahulu menuliskan takdir manusia jauh sebelum manusia berupa segumpal daging dan bernyawa. Jodoh akan bertemu pada saat yang tepat. Setepat waktu yang sekarang Robbi dan Ayu nikmati.
Gerimis pun turun merayakan cerita romansa yang dimulai malam itu. Dan satu hati yang lain harus merelakan orang yang dicintai bahagia dengan jodohnya. Satu hati itu akan menemukan jodohnya di lain tempat, lain waktu, segera atau masih harus menunggu. Rikaz.
@@@