Senin, 04 Februari 2013

Pandangan: pertama vs kedua



Pandangan: pertama vs kedua

Ini bukan kemauan Ayu. Lulus sarjana lalu tiba-tiba jadi pembantu rumah tangga. Ooohhh...mau ditaruh mana muka Ayu? Ya, nggak dipungkiri, memalukan iya rasanya. Masa’ lulusan sarjana ujung-ujungnya jadi pembantu. Mending kalo murni pembantu di rumah sendiri aliasnya jadi ibu rumah tangga biasa setelah menikah, lah ini? Pembantu di rumah tangga orang lain! O-ow... Ayu ucap istighfar kuat-kuat dan banyak-banyak.
Demi mengurus cacing-cacing di usus perutnya dan menyambung kehidupan kedua orang tua dan adik-adiknya di kampung, Ayu terpaksa rela menjadi pembantu sementara waktu sampai ia benar-benar mendapatkan pekerjaan yang mapan dari sekian banyak lamaran yang sudah ia kirimkan.
Pekerjaan pembantu sudah Ayu jalani nyaris dua minggu tapi rasa malu dan tak rela masih menyelimuti hari Ayu.
Cuman segini? Padahal aku punya impian bisa jadi wanita karir yang berangkat pagi dan pulang malam untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Tapi... kerjaan ini sebenarnya sama saja, kerja mulai subuh dan berhenti jam sepuluh malam. Oh....bukan ini Ya, Tuhan yang kumau. Kerja di kantor, memakai pakaian rapi, otak digunakan sebagaimana mestinya, ya selayaknya wanita kantoran, itu yang kumau. Bukan baju seadanya, kain pel, kemucing, sabun cuci piring, detergen...oh... Tuhan...kutukan apa iniiii????
Ayu memasang tampang muka kusutnya dan dalam hati ia memendam kejengkelan tak berarah kemana ia akan jengkel karena memang ini bukan salah siapa-siapa. Ia menggerakkan gagang kain pelnya sesuka hati seiring dengan kejengkelannya dan akibatnya...
“BRUUKK!!” suara seseorang terpeleset jatuh.
“Waduh, Den Mas Robbi, maaf ya, saya nggak sengaja. Maaf,”
Ayu bergegas mencoba memberikan pertolongan pada majikannya yang tampan nan berkharisma itu.
“Kamu!” ucap Robbi datar memandangi Ayu yang takut. “Kecerobohan ke berapa ini? Rapikan segera! Aku bisa berdiri sendiri,”
Ayu merasa sangat bersalah atas kejadian itu dan sekuat tenaga meminta maaf. Robbi menuju kamarnya sambil tertatih-tatih. Ayu bergegas pergi ke belakang usai menyelesaikan tugas ngepelnya. Ia kemudian menghampiri mbok Parti yang sedang memasak untuk makan malam anggota keluarga majikan mereka yang terdiri hanya seorang ibu dan dua anak lelakinya yang salah satunya akan segera menikah dalam waktu dekat. Untungnya bukan lelaki bernama Robbi. Pikir Ayu. Melainkan adiknya yang tak kalah tampan dari Robbi. Tapi, bedanya, Roki masih memiliki daya humor cukup bagus dibandingkan kakaknya yang sering beraut wajah datar cenderung dingin.
Ayu meraih pisau tajam untuk mengiris sayuran yang akan dimasak. Sementara hatinya masih kacau merasa sangat bersalah tapi perminta maafannya tak diterima oleh orang lain, akhirnya berdampak pada kejadian berdarah. Tangan Ayu terisi hingga darahnya mengucur cukup deras.
“Aduh. Darahnya banyak lagi!” keluhnya.
“Gimana to, Nduk? Ayo ndang bersihkan dulu sana! Di deket kulkas ada kotak P3K, ambil hansaplas di sana! Makanya jangan sambil nglamun kalo ngiris-ngiris itu,” ujar mbok Parti.
Ayu bergegas mencuci tangannya dan mengambil hansaplas sesuai instruksi mbok Parti. Tapi, kok, ya sialnya kotak P3K ditaruh di tempat yang tak terjangkau oleh tinggi badannya. Terpaksa ia mengambil kursi untuk naik dan mengambil kotak P3K. Sembari tangan kanannya mencoba meraih kota P3K, tangan kiri Ayu masih mengeluarkan darah walau tidak sampai mengucur deras.
Kotak P3K tak kunjung teraih tiba-tiba seseorang menyenggol tubuhnya dan terjatuhlah Ayu menimpa tubuh orang yang menabraknya. Betapa malunya Ayu ketika tahu siapa yang ditimpanya. Robbi!!!
Entah magnet macam apa yang membuat keduanya terdiam terpaku memandangai bola mata masing-masing. Ayu menelan ludah. Ini persis seperti di FTV-FTV di tivi itu.
“Kita begini sampai kapan? Kalau terjadi apa-apa dengan posisi begini, bagaimana?” kata Robbi membuat Ayu malu bukan main. Terkadang konten ucapan Robbi agak genit menggoda tapi ekspresi wajahnya tetap datar saja.
Ayu segera bangkit dan meminta maaf pada Robbi.
@@@
Robbi. Robbi. Robbi. Ibu Elsa itu ngidam apa ya, dulu punya anak setampan itu? Tapi bagaimana pola asuhnya sampai dia sedatar itu, seolah nggak punya rasa. Atau cuman pencitraan aja biar terlihat oke di mata wanita? Biasanya lelaki yang bikin cewek klepek-klepek kan, yang cool-cool gitu. Rasa penasaran bikin mereka meleleh. Dan aku masuk ke dalam golongan cewek seperti itu. Ahhh....
Tiba-tiba pintu kamar Ayu diketuk oleh seorang wanita. Ternyata mbok Parti. Ayu segera bergegas keluar kamar.
“Ada apa, Mbok?” tanya Ayu.
“Disuruh ibuk ke ruang makan. Cepetan, ya?”
Usai merapikan diri, Ayu bergegas ke ruang makan.
“Iya, Buk, Ibuk manggil saya?” tanya Ayu.
“Oh, ini Yuk, kamu ikut mas Robbi ke pertokoan depan sana, ya? Tolong kamu belikan kotak kue yang kemarin kamu beli sama ibuk,” kata majikan Ayu.
Robbi dan Ayu pergi berdua naik motor ke pertokoan di ujung gang perumahan mereka. Ayu turun duluan dan berjalan ke arah toko yang dimaksud majikannya tapi tiba-tiba Robbi memanggil Ayu.
“Kenapa, Mas?”
“Tunggu,” kata Robbi sambil melepas jaketnya.
“Pakek nih, jaket! Merah, tuh!” kata Robbi lirih di telinga Ayu dan tangannya melingkarkan jaketnya di bagian belakang tubuh Ayu.
Ayu spontan malu bukan main. Dia sedang datang bulan dan tembus. Oh,...memalukan!
“Makasih, Mas!” sahut Ayu.
Mereka pun segera membeli keperluan seperti yang disampaikan ibunya Robbi.
Usai itu mereka bergegas pulang. Sesampainya di rumah Ayu meminta maaf pada Robbi karena sudah mengotori jok motor Robbi.
“Segera cuci, ya? Tiga hari lagi mau aku pakai keluar kota,” suruh Robbi. Ayu mengangguk, masih menahan malu.
@@@
Dua minggu berlalu. Acara resepsi pernikahan Roki, adik Robbi, majikan Ayu berlangsung. Kali ini Ayu dipercaya jadi penerima tamu. Ia didandani dengan sangat cantik kali ini. Setidaknya cukup membuat majikannya Robbi terpukau walau berbohong memungkirinya.
“Ayu!!” kata seorang lelaki setengah bertampang bule.
Ayu menoleh dan matanya terbelalak.
“Kamu kenal dia, Co?” tanya Robbi yang ada di samping lelaki itu.
“Ya, iyalah, Brad! Dia itu penulis cukup terkenal. Blognya juga sudah lebih dari ratusan ribu viewer. Tanya aja ke dia,”
Lelaki bernama Marco merupakan rekan baik Robbi dan Roki itu menghampiri Ayu.
“Hei, Ayu. Inget dong, sama gue? Blogger dengan nama Marco Antony,”
Ayu gelagepan. Ia tak tahu harus berkata apa. Kedoknya terbuka.
“Gimana wisudamu kemarin? You looks so pretty, Yu! Congratulation, ya? Aku lihat postingannya di blogmu. Kok, nggak nulis lagi? Aku nunggu, lho, cerita romansanya,” lanjut Marco.
Ayu tersenyum dan menerima uluran tangan Marco dan berjabat tangan.
“Makasih. Emm, masih off dulu.”
Ayu masih salah tingkah bagaimana harus bersikap di depan Robbi yang ia bohongi tentang identitasnya.
Robbi menatap Ayu tajam dan tak terbaca bagaimana ekspresinya.
@@@
Ayu merasa bersalah karena tak berterus terang tentang siapa dirinya sebenarnya kepada keluarga Robbi. Tapi apa untungnya juga ia menyampaikan bahwa ia lulusan sarjana dan seorang penulis yang sudah cukup lama beredar di dunia maya? Toh, yang ia kerjakan hanya perkerjaan rumah tangga. Sementara ini hanya Robbi yang tahu siapa Ayu sebenarnya.  Tapi hal ini membuat Ayu sangat resah bagaimana menjelaskannya kepada Robbi.
Suatu malam yang menjadi awal kerusakan suasana hubungan Ayu dan Robbi.
“Aku ketrima di perusahaan provider itu dan aku harus berhenti dari kerjaan ini. Itu juga sesuai janjiku sendiri bahwa aku akan berhenti jadi pembantu setelah dapet kerjaan tetap. Tapi, bagaimana aku mengakhirinya? Terutama sama dia,” kata Ayu pada Alin, sahabatnya di seberang sana.
Ehmm, katakan saja kamu dapat kerjaan baru di tempat lain. Beres, kan?
“Kalau mereka tanya kerja apaan? Dimana?”
 “Katakan apa adanya. Kamu kerja dimana aja itu sudah cukup. Baru kalau mereka menyuruhmu jujur ya, lakukan. Jujur lebih baik. Toh, jujurmu ini bukan mengenai suatu hal yang buruk. Bukan perihal kriminal,
“Begitu, ya? Semoga aku siap menghadapi segala konsekuensinya,”
Pasti bisa. Eh, by the way, Robbi? Sudah kamu sampaikan kamu suka dia?”
“Apah??? Edan! Nggak mungkin lah! Mau ditaruh mana mukaku? Majikan sama pembantu. Mending aku malu ketimbang dimalu-maluin. Aku sendiri juga belum yakin apakah ini benar cinta. Kamu tahu, aku sering tergoda yang lebih bagus. Ingin seperti Denny Sumargo, ingin seperti Adipati Dolken, ingin seperti Rizal Al Idrus, seperti Fauzi Badillah, Novak Djokovic alah hahaha... Kan, nggak mungkin sebanyak itu dalam satu sosok. Ya, sudah lah, aku mau beres-beres lagi. Ini pekerjaanku membabu terakhir sebelum akhirnya beneran jadi wanita karir, hehehe. Doakan aku ya, Lin! Bye...”. Ayu memutus sambungan telepon dengan Alin.
Usai menelpon Alin, Ayu bergegas masuk ke dalam rumah tapi langkahnya terhenti oleh Robbi  yang menghadangnya di depan pintu.
Ayu kaget dan ia berharap Robbi tak mendengar percakapannya tadi.
“Permisi, Den Mas, saya mau lewat,”
“Jadi, yang dikatakan Marco itu benar? Ayu Santika, penulis, sarjana universitas ternama?” tanya Robbi.
Ayu terdiam sejenak. Ia mengambil nafas dalam menguatkan hati untuk jujur. Kemudian ia mengangguk menatap Robbi.
“Kenapa kamu bohong?”
“Semua itu nggak ada artinya kalau cuman jadi pembantu. Betul, kan?”
“Betul. Cuman aku nggak habis pikir, why? Nggak ada pekerjaan lain apa? Dan jelas-jelas kamu menyembunyikan identitas kamu dari kami semua,”
“Intinya, ijazahku tak penting untuk pekerjaan ini, Mas. Dan aku minta maaf kalau itu memang kekeliruan. Tapi aku butuh dan peluang pekerjaan ini yang datang ke aku saat aku butuh. Pembantu bukan pekerjaan hina, kan?”
Robbi diam menatap Ayu membuat Ayu salah tingkah. Ia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya cepat.
“Kapan kamu pergi?” celetuknya.
“Segera. Mungkin besok,”
“Sebaiknya memang begitu. Lebih cepat lebih bagus,”
Robbi melenggang masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba Ayu merasakan hatinya sakit. Ia pikir Robbi akan menahannya. Ah, tapi memang benar. Robbi tak pernah menaruh barang secuil perhatian kepadanya. Robbi memandangnya seperti pembantu biasa yang baru saja membuat kesalahan, “penipuan”.
“Kenapa aku sakit begini? Ini sakit hati karena ia tak peduli padaku yang selama ini menaruh simpati padanya atau sakit hati pembantu yang merasa tak diperhatikan juragannya? Ah, Ayu wake up! He isn’t care about you! Dia sama dengan lelaki lain yang tak pernah berselera menjadikanmu sebagai wanitanya!” gumam Ayu sendiri lalu ia pergi ke kamarnya.
@@@
Enam bulan berlalu. Ayu sudah tak lagi bekerja menjadi pembantu. Ia memulai hidup baru dengan pekerjaan yang lebih mapan dengan gaji cukup menggiurkan tapi pas sesuai dengan kualifikasinya sebagai fresh graduate.
Semenjak malam itu ia meminta maaf pada ibu Robbi tanpa mengatakan dengan jelas kenapa minta maaf, rasanya Ayu masih merasa menanggung dosa karena tak berterus terang tentang siapa dirinya kepada ibu Robbi. Dan persoalan hati, ternyata sosok Robbi tertanam kuat di memori. Memenuhi memori otaknya tanpa bisa dihapus. Ayu juga tidak menyangka kenapa cinta pandangan pertamanya bisa bertahan selama ini. Biasanya kalau dia suka pada seseorang dan ternyata bertepuk sebelah tangan, rasa sukanya tak lebih dari tiga bulan. Ia akan segera move on mencari gebetan lain. Tapi ini berbeda. Bahkan ketika ada teman sekantornya menawarkan hati untuk jadi pelengkap separuh hati Ayu yang masih kosong, Ayu terkesan menjauh.
Suatu malam tepat malam minggu, Ayu pergi dengan Rikaz, teman sekantornya yang menaruh hati padanya. Intinya, Ayu mencoba kencan dengan Rikaz, siapa tahu ia bisa melupakan Robbi. Ayu memaksakan diri padahal ia sudah merasa tidak enak badan sejak Subuh tadi. Nyeri haid tak tertahankan datang membuat Ayu seperti merasakan panas-dingin keringat keluar bukan main.  Mulanya tak begini tapi setelah ia dan Rikaz berada di festival jajanan di sebuah pusat perbelanjaan besar di kotanya, Ayu merasakan itu.
Fisik Ayu tak dapat berbohong, ia pucat. Tapi ia mengaku pada Rikaz tidak apa-apa. Rikaz menawarkan pulang tapi Ayu menolak. Ia memaksa untuk tetap berkeliling area festival jajanan untuk menepis rasa sakit itu. Entah, kesurupan setan apa hingga Ayu rela berjalan-jalan padahal dirinya sakit.
Ayu dan Rikaz terus berjalan hingga fokus mata Ayu berhenti pada satu titik. Sosok Robbi, ya, dia melihat sosok Robbi berdiri di tengah kerumunan orang menawarkan slebaran kertas dan mengenakan celemek. Ayu baru ingat, sebelum dia berhenti jadi pembantu, ia mendengar Robbi sedang merintis usaha kuliner makanan khas Banjar.
“Cari tempat lain aja, yuk, Kaz!” ajak Ayu dengan mata masih menatap ke arah Robbi.
“Kedai itu aja belum kita datengin, Yu,” kata Rikaz. Ayu ngotot mengajak Rikaz pergi.
Terlambat. Ayu terlambat menghindari Robbi. Robbi cepat mengetahui sepasang bola mata Ayu yang sedang menatap ke arahnya. Tapi Ayu justru bergegas pergi, menyeret Rikaz pergi. Rikaz bingung.
Setelah dirasa aman dari penglihatan Robbi, Ayu berkata,”Aku sudah nggak tahan, Kaz. Kita pulang saja, ya?” kata Ayu.
“Oke, kamu tunggu di sini dulu ya, aku ambil mobil bentar. Duduk di situ dulu, ya, kalau nggak kuat berdiri. Tenang, kita segera pulang,” kata Rikaz khawatir terjadi apa-apa pada Ayu. Ayu mengangguk pelan.
Ayu menunggu Rikaz mengambil mobilnya dalam kondisi lemas, perutnya sakit melilit. Keringatnya keluar tak karuan di sekujur tubuh. Baru kali ini dia merasakan nyeri datang bulan begini, di waktu yang tak tepat. Mata Ayu kemudian mulai berkunang-kunang, penglihatannya mengabur, perlahan. Lalu keseimbangan tubuhnya melemah dan.... ia melihat raut wajah, wajah Robbi dengan buram. Yakin tak yakin. Tubuhnya terasa disangga oleh seseorang. Mungkinkah itu Robbi?
“Ayu! Ayu!” panggil sosok itu tapi Ayu makin gelap penglihatannya. Ia tak sadarkan diri.
Beberapa menit kemudian Ayu siuman. Matanya masih berusaha mengenali area sekitar dirinya berada. Ia baru sadar ia ada di mobil ambulans. Di depan matanya tepat ada segurat wajah spontan membuat jantung hatinya berdegup cepat. Cepat sekali seolah jantungnya hendak copot. Wajah itu mengamati Ayu.
“Sudah enakan?” tanya lelaki di depannya. Robbi. Suaranya lembut ramah. Ayu mengangguk lemah.
 “Bertemu denganku saja pingsan, bagaimana kalau kamu bertemu Novak Djokovic, hah?”kata Robbi menyindir Ayu dengan menyebut petenis idola Ayu itu.
Ayu masih terdiam. Ia masih berusaha mengumpulkan tenaga untuk mengeluarkan sepatah dan berpatah-patah kata untuk Robbi.
“Kalau sudah merasa enakan, segera rapikan dirimu! Pacarmu sudah menunggu di luar. Jangan lupa, ikat celemek itu di pinggangmu!” kata Robbi.
Ayu melirik ke tubuhnya. Otaknya segera mengerti maksud kalimat terakhir Robbi. Matanya melotot pada Robbi dan perlahan normal.
“Maaf, Mas!” ucap Ayu. Ia membuat ulah lagi dengan kejadian yang sama. Ulah “tamu” bulanannya.
Nggak apa. Tapi segera cuci, besok aku pakai lagi,” tungkas Robbi.
Ayu melaksanakan perintah Robbi dan bergegas keluar ambulans dipapah oleh Robbi.
“Sebaiknya kamu rajin olah raga, konsumsi makanan sehat, jangan stres dan minum obat. Dan selalu berpikir positif. Selalu prepare pada hari pertama. Kalau perlu periksa ke dokter. Kamu sering seperti ini kan, pada hari pertama,” cerocos Robbi selama membantu Ayu berjalan ke arah Rikaz.
Ayu heran dan segera menatap Robbi.
“Kelihatannya aku cuek, tapi aku perhatian untuk hal sedetail itu. Aku sudah pernah kehilangan wanita karena kanker rahim, jadi jangan terulang kedua kali,”
Naudzubillah!” spontan Ayu mengeluarkan kata itu.
“Makanya lebih baik segera periksa ke dokter,”
“Tapi ini pertama kalinya sampai pingsan,”
“Ke berapa kali, intinya kalau masih begini, segera periksa! Apa perlu aku yang antar?”
Ayu salah tingkah. Ia menggeleng.
“Pacarmu tampan,” celetuk Robbi.
“Bukan,”
“Bukan apa? Bukan pacarmu? Tapi dia menggandeng tanganmu dari tadi kita bertemu. Dia juga cemas sekali kamu pingsan,”
Enggak,”
“Apanya enggak? Yang jelas dong, bicaranya,”
“Dia bukan pacarku. Dia melakukan itu ya, itu haknya dia,”
“Lalu hak kamu? Hak kamu untuk menolak dipegang-pegang oleh orang yang tidak kamu cintai?”
Ayu berhenti berjalan. Kalimat tanya Robbi barusan agak mengusik kenyamanan Ayu.
“Lelaki yang aku cintai juga tak begitu saja berhak memegang-megangku,”
“Jadi, aku tak berhak?”
Ayu menautkan kedua alisnya.
“Sekalipun kamu melarangku, aku akan tetap melakukannya. Bahkan seperti ini pun akan kulakukan,” kata Robbi kemudian segera mendekap tubuh Ayu. Ayu kaget.
“Mas,” ucap Ayu.
“Hanya sebatas ini. Nggak lebih, kok. Yang lebih kulakukan ketika kita sah suami-istri,”
“Kenapa tiba-tiba berkata seperti ini?”
Robbi akhirnya berkata apapun yang ia tahu selama enam bulan berlalu tentang Ayu dan sebelumnya. Ia tahu Ayu sering memperhatikannya diam-diam semasa masih menjadi pembantu di rumahnya. Ia juga tahu maksud percakapan Ayu dan temannya di ponsel sehari sebelum Ayu berhenti bekerja di rumahnya. Robbi paham benar setiap cerita romansa dan puisi yang ditulis Ayu di blognya setelah berhenti jadi pembantu mengarah kepada dirinya. Robbi peka semuanya. Mulanya Robbi mengabaikan itu. Ia meremehkan “cinta pandangan pertama” yang diagung-agungkan Ayu untuknya. Robbi butuh banyak bukti bahwa Ayu benar-benar mencintainya. Dan Ayu membuktikannya selama enam bulan terakhir tak pernah bersua dengan dirinya. Robbi semakin mantab terpesona pada Ayu walau hanya memandangi potret Ayu di blog Ayu saja. Berulang kali ia menatap dan sebanyak itu pula rasanya semakin bertumbuh subur. Ia jatuh cinta pada Ayu, mantan“pembantu”nya.
“Maaf. Aku butuh proses untuk menyadari semuanya,” ucap Robbi. Ia melepas pelukannya.
“Tak masalah. Kesabaranku berbuah manis,” sahut Ayu tersenyum.
Robbi menggenggam kedua tangan Ayu.
“Menikahlah denganku! Kita ukir sejarah baru menjadi Habibie dan Ainun edisi baru,” tutur Robbi.
Ayu tersenyum tapi ia meneteskan air mata.
“Kita beda kasta,” kata Ayu.
“Kasta itu buatan manusia, Tuhan membuat kemustahilan manusia menjadi kenyataan. Aku mencintaimu,” tungkas Robbi.
“Aku harus percaya?”
“Harus! Kamu pernah tahu aku berbohong?”
Ayu mengangkat kedua bahunya.
“Aku bukan majikan pembohong. Kecuali saat kamu pergi dulu, aku menyuruhmu pergi aslinya aku tak rela. Soalnya nggak ada yang buatin aku kopi setiap hari lagi,” ujar Robbi tersenyum sambil memencet hidung Ayu.
“Ini pasti bohong! Aslinya Mas suka, kan? Alibi!” goda Ayu.
“Yang pasti aku jujur soal perasaanku ini. Aku nggak main-main melamarmu,” tegas Robbi.
Keduanya bertatapan jauh ke dalam bola mata masing-masing. Ayu percaya, cinta pandangan pertama itu ada walaupun ia harus bersabar menuai hasilnya menunggu kebenarannya itu. Robbi tetap percaya, cinta butuh proses dan terkadang juga membuat sedikit menyesal karena agak terlambat menyadari sampai orang yang dicintai nyaris lenyap. Tapi, Tuhan sudah terlebih dahulu menuliskan takdir manusia jauh sebelum manusia berupa segumpal daging dan bernyawa. Jodoh akan bertemu pada saat yang tepat. Setepat waktu yang sekarang Robbi dan Ayu nikmati.
Gerimis pun turun merayakan cerita romansa yang dimulai malam itu. Dan satu hati yang lain harus merelakan orang yang dicintai bahagia dengan jodohnya. Satu hati itu akan menemukan jodohnya di lain tempat, lain waktu, segera atau masih harus menunggu. Rikaz.
@@@

Senin, 17 Desember 2012

Lelakiku, menikahlah denganku!



Terlahir di tengah keluarga yang masih menjunjung tinggi adat sopan santun wanita Jawa membuat Rasti memiliki gunungan es hasrat memberontak atas aturan yang ada. Keluarganya memang berpikiran maju, masih mau terbuka terhadap perkembangan zaman dengan menyekolahkan keturunannya ke jenjang lebih tinggi, tertinggi jika perlu. Rasti merasa beruntung.
Sekalipun keluarganya bukan keluarga sangat berada tapi semangat menyambut kemajuan perkembangan zaman yang harus diimbangi dengan pendidikan yang berkualitas bagus, sangat dijunjung tinggi kedua orangtuanya. Meski, orangtuanya juga tidak mengenyam pendidikan sarjana. Tapi, ada hal yang masih tak dimengerti Rasti.
Meskipun mendukung anak-anaknya mengenyam sekolah tinggi tapi orangtuanya masih memiliki pemikiran kolot, -menurut Rasti-.  Bagaimana tidak? Mereka bisa mau mencoba hal-hal baru di zaman modern tapi masih percaya aturan zaman dulu dan seringnya tidak memberikan alasan rasional kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Misalnya, dilarang berdiri di tengah pintu, dilarang menyangga piring ketika makan, anak gadis dilarang berkata kasar dan tertawa keras dan gadis perawan tidak boleh mengejar lelaki. Contoh-contoh larangan itu ada yang bisa dirasionalisasi ada yang tidak. Dan larangan yang terakhir itu yang agak mengusik hati Rasti. Rasti mengartikan “gadis perawan tidak boleh mengejar lelaki” secara luas. Itu artinya wanita tidak boleh centil pada lelaki dan pastinya mengutarakan cintanya pada sang lelaki. Rasti tidak terima. Karena dia pernah melakukan itu. Tapi, bukankah cinta itu untuk dibagi, orang lain harus tahu kalau kita cinta kepadanya. Kalau kepentok aturan wanita tidak boleh memulai dahulu menyatakan perasaan atau memulai hubungan apa jadinya? Apakah harus mempertahankan “semboyan” wanita hanya berhak menerima dan menolak lelaki?
Ini nggak adil!!. Pikir Rasti.
Nampaknya Rasti tipe wanita yang suka mengejar ketimbang dikejar. Terbukti dari sekian banyak pengalamannya jatuh hati pada lelaki, ia dahulu yang merasakan cinta dan berusaha mendekati lelaki itu untuk mendapatkan hati lelaki yang ia kehendaki. Meski hasilnya nol besar! Ia selalu gagal menjalin hubungan asmara dengan lelaki manapun yang pernah ia sukai. Tapi, Rasti tak pernah jera mencoba jatuh cinta lagi, “mengejar” lagi dan lagi. Meski akhirnya sakit hati lagi dan lagi karena bertepuk sebelah tangan, baik sebelum ia berhasil menunjukkan perasaannya maupun setelah benar-benar ditolak mentah-mentah.
Banyak cerita yang ia dengar dari banyak mulut bahwa beberapa pernikahan yang langgeng dibangun berawal dari kisah wanita yang mengutarakan rasa cintanya dan memulai hubungan asmara lebih dulu. Mereka melaluinya dengan tenaga ekstra memenangkan hati lelaki pujaan mereka. Mereka berhasil. Tapi, mengapa Rasti Enggak?? Sekali lagi ini tak adil bagi Rasti.
Rasti ingin membuktikan omongan orang-orang itu tapi ia terbentur pesan ayahnya agar tak mengejar lelaki, juga pesan sahabat baiknya. Rasti gamang, penat. Tapi, jika mengingat pengalaman selama ini, mengejar lelaki memang menyakitkan tapi Rasti tidak dapat membayangkan jika ia justru didekati orang yang tidak ia cintai. Bagaimana menghindarinya? Rasti tak punya pengalaman menolak lelaki, pacaran saja tidak pernah selama nyaris 25 tahun ia hidup di bumi ini. Rasti semakin bertampang kusut memikirkan hal ini. Hal ini lebih membuat galau dibandingkan kala ia galau terhadap lelaki.
“Mbak, saya boleh duduk di sini? Soalnya bangku lain penuh. Boleh? Boleh, ya?” kata seorang lelaki tiba-tiba, membangunkan Rasti dari kepeningan pikirannya.
Rasti menoleh ke arah lelaki yang langsung duduk di hadapannya. Rasti terkesima bukan main. Matanya terpaku mengamati setiap inci garis lekuk paras tampan lelaki di hadapannya. Wajahnya segar memancar. Tiba-tiba Rasti deg-degan sekali. Ia sulit mengatur distribusi oksigen dan karbondioksida yang keluar-masuk hidungnya. Tangannya melemas. Ah, kebiasaan Rasti jika bertemu lelaki tampan setampan pangeran keraton Solo, Paundra Karna, ia langsung lemas!
Lelaki itu tak peduli ekspresi Rasti yang menatapnya terpaku. Lelaki itu melahap makanan dan minumannya dengan buru-buru. Kemudian Rasti sadar. Dan mulai mengatur nafasnya agar tak kentara grogi di depan lelaki rupawan.
“Mas, buru-buru banget makannya?” sapa Rasti memberanikan diri.
“Oh, iya, Mbak, seharusnya nggak boleh tapi saya buru-buru mau ada interview kerja. Saya belum makan sedari pagi,” ujar lelaki itu.
Rasti kembali terkesima. Mata lelaki itu mata elang.
Wohooo... ini benar-benar pangeran Paundra kawe 2!! Nggak mirip tapi setipe! Aiihhh...
Rasti banyak diam di hadapan lelaki itu hingga akhirnya lelaki itu selesai makan dan berpamitan pergi dengan langkah tergesa-gesa. Mata Rasti tak terlepas dari lelaki itu sampai lelaki itu sudah terlihat seperti semut di kejauhan sana.
Rasti masih mengagumi lelaki itu. Ia mencoba mengukir jelas wajah lelaki itu di memorinya. Kemudian ia kembali sibuk dengan laptopnya mengurusi tesisnya yang sedang berjalan dan sesekali menilik bisnis online-nya yang sedang berkembang di bidang fashion busana muslim dan cup cake kopi miliknya. Sesekali ia menyeruput kopi yang ia pesan sejak dua jam lalu di kedai kopi di pertokoan dekat kampusnya. Jam di laptopnya masih menunjukkan pukul 1 siang. Matahari masih terlalu terik bagi pejalan kaki, sekalipun hanya beberapa langkah saja. Seperti Rasti yang tak mau berpanas ria berjalan menuju parkir motor yang hanya beberapa langkah dari kedai kopi itu.
JJJ
Hari yang melelahkan bagi Rasti. Seharian ia harus mengurusi pengambilan data untuk skripsinya, orderan cup cake kopi-nya juga cukup banyak dari pelanggannya yang kebanyakan teman-teman kampusnya yang memang menyukai kopi dalam berbagai varian.
Hari yang melelahkan sekaligus menjengkelkan secara tiba-tiba. Semua berawal dari perbincangan di ruang keluarga bersama kedua orangtuanya.
“APA?? NIKAH???” seru Rasti dengan suara meninggi.
“Iya, kenapa? Usiamu sudah cukup, bentar lagi kamu lulus. Masalah pekerjaan, cari saja sambil nanti kalau sudah menikah,” ujar ayahnya.
Wait! Tunggu, Yah! Ayah pernah bilang kan, kalau aku harus bisa settled dulu karirku? Kalau perlu kuliah lagi. Kenapa tiba-tiba begini?” protes Rasti.
“Mapan bisa dicapai seiring kamu membangun rumah tangga,”
No! Mana bisa sukses kalau diriwuki urusan lawan jenis sedini ini? Rasti pengen jadi wanita karir dan sukses. Membuktikan juga ke lelaki kalau Rasti harus masuk perhitungan mereka kalau ingin Rasti menjadi pasangan mereka. Rasti nggak mau cuman menjadi ibu rumah tangga biasa. Rasti nggak mau ditindas seperti bude Yuli yang pasrah atas kelakuan suaminya yang seenaknya,”
Rasti bicara mengikuti emosinya yang meletup-letup hingga tak sadar ia menyinggung perasaannya ayahnya.
“RASTI!! Begitu juga dia yang mengasuhmu sejak kecil!”
Rasti menyesal dan meminta maaf segera lalu ia lanjut berargumen agar ayahnya membatalkan perjodohannya dengan lelaki pilihan ayahnya.
“Ayah tidak melarangmu jadi wanita karir. Tapi ayah tidak ingin kamu terlalu lama sendiri. Ayah dan ibu harus segera mencarikan jodoh yang tepat untukmu untuk menggantikan kami menjagamu di masa depan. Kita tidak pernah tahu usia seseorang. Makanya ayah berjaga-jaga sejak awal,” jelas ayahnya.
“Tapi, saat ini Rasti masih belum butuh pengganti ayah dan ibu. Kalian masih segar bugar dan insyaAllah berumur panjang sampai aku punya anak yang sukses!”
“Cobalah dulu! Setidaknya kenalilah dia dulu, Nduk. Dia pemuda yang baik dan ibu yakin dia tipe lelaki yang seperti kamu inginkan selama ini,” kara ibunya.
“Memang Ibu tahu bagaimana tipe lelakiku?”
“Ibu lebih tahu, lebih dari kesadaranmu sendiri. Kamu terlalu lama di kandungan ibu, masa’ nggak tahu gimana maumu?” goda ibunya.
Rasti mendengus keras.
JJJ
Waktu dua minggu berlalu. Rasti menjalani hidupnya dengan penuh pikiran. Tesis, bisnis, urusan perjodohan. Hal yang terakhir ini yang lebih menggundahkan hati Rasti dibandingkan tesisnya yang akan mengantarkan dia sebagai seorang psikologi klinis.
Rasti mengabaikan laptopnya yang memutar musik dengan volume nyaris 100%. Padahal di layarnya tesis menunggu untuk dijamah dituntaskan. Rasti memikirkan perjodohan itu. Dia mencoba membayangkan seperti apa wajah lelaki yang akan dijodohkan dengannya, bagaimana kepribadiannya, bagaimana pola hubungan -maaf- suami istri yang suami inginkan dan bagaimana kelanjutan kisah hidupnya setelah menikah. Hal itu berputar-putar di otak Rasti. Tak ada habisnya!
Pikiran Rasti tentang perjodohan itu buyar seketika ketika ibunya memanggilnya. Tapi, perasaan Rasti dibuat berlipat-lipat tidak karuan karena ia harus menemui calon suami dan calon mertuanya yang merupakan kawan lama ayahnya.
Rasti sudah merapikan diri dan ia tidak bisa menghindari pertemuan itu. Dan akhirnya Rasti bertemu sosok lelaki yang katanya akan jadi suaminya.
Rasti takjub! Ini lebih dari ekspektasinya! Prince Paundra kawe 2! Rasti memastikan.
“Ini yang dimaksud ayah dan ibu?” tanya Rasti pada ayah dan ibunya di hadapan keluarga calon suaminya.
Ayah dan ibu Rasti tersenyum tanda iya.
“Kalau begini, bagaimana bisa menolak. Mau banget!” seru Rasti. Ibunya menyenggol Rasti menandakan sikap Rasti kurang sopan.
“Hai, Mas, masih inget di kedai kopi kapan hari lalu?” tanya Rasti pada lelaki itu.
“Jelas. Sebelum-sebelumnya juga selalu inget kamu. Sudah terhitung tujuh belas tahun inget kamu,” jawab lelaki itu.
Hari Rasti berbunga-bunga. Merekah seketika. Seolah selama ini ia kekeringan tiada hujan segar yang menyirami.
“Tunggu, tujuh belas tahun?” tanya Rasti heran.
“Masa’ kamu ndak inget, Nduk? Restu ini teman waktu kamu kecil. Kemana-mana mesti sama Restu. Restu yang jagain kamu kemana-mana, ke sekolah, main. Kamu masa’ juga nggak ingat dia pernah ngasih baju kamu dan kamu bawa itu baju kemana kamu pergi tapi sebagai gombal? Hahahah. Kalau nggak ada gombal itu kamu nangis-nangis, hahahah,” jelas ibu Rasti disambut tawa semua orang.
Rasti menahan malu.
“Rasti sengaja lupa, Bu, soalnya dia kan, ndak suka sama saya setelah dia jatuh dari pohon rambutan gara-gara saya. Dia marah-marah nggak mau ketemu saya. Dan setelah itu saya ikut mama sama papa ke Makassar,” tungkas Restu.
Rasti mencoba tersenyum. Otaknya mulai menelusuri memori lama masa kecilnya.
“Maaf, ya, lupa. Maaf semuanya. ” kata Rasti sambil menundukkan kepalanya menahan malu.
“Rasti... dia ini alasan ayah melarang kamu pacaran. Melarang kamu mengejar lelaki. Soalnya ada dia yang nungguin kamu selama ini. Restu tidak diragukan lagi sebagai lelaki yang berkualitas buat kamu. Tipe lelaki seperti ini kan, maumu? Ngaku sekarang,” kata ayah Rasti menggoda.
Rasti tak bisa membantah pernyataan ayahnya. Ia masih menahan malu.
Perbincangan antarorangtua berlangsung, di tempat lain Rasti dan Restu berbincang sendiri mencoba membuka memori romansa lama yang pernah terjalin di antara mereka berdua dan Rasti sempat melupakannya.
Nggak nyangka, aku punya teman kecil yang ternyata begini ceritanya. Persis FTV lho, Mas! Memang yang namanya rejeki itu nggak akan kemana, yah? Dulu aku mengejar lelaki yang aku suka dan tak satupun berhasil aku dapatkan dan di saat sedikit putus asa begini ternyata rejeki itu datang, hehehe. Ini keajaiban namanya,” ujar Rasti terhadap Restu.
“Semangat kamu ngedapetin sesuatu nggak pernah pudar, ya? Salut. Tapi, untungnya kamu gagal terus dapet lelaki. Kalau kamu berhasil, aku nggak punya peluang besar lagi,”
“Kenapa kamu masih kukuh ingin bersamaku setelah sekian lama berpisah? Lagian untuk lelaki seperti kamu biasanya maunya sama wanita yang... yang yah, levelnya Olla Ramlan mungkin?” tanya Rasti. Restu tersenyum maniiiiissss sekali!
“Cinta. Tuhan menakdirkan aku hanya punya satu hati yang terpaut ke kamu,”
Sumpah! Ini seperti mimpi Rasti! Lelaki tampan ini menjatuhkan hati ke kamu!
 “Kalau begitu, jadilah lelakiku selamanya dan nikahilah aku!” celetuk Rasti seketika.
Restu terdiam sejenak menatap Rasti. Rasti salah tingkah.
“Kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku? Terlalu agresif, ya? Aduuhhh, maaf...” kata Rasti.
Restu menarik tubuh Rasti tiba-tiba, mendekapnya erat-erat,
“Dengan senang hati, wanitaku,” tungkas Restu.
JJJ
















Jumat, 03 Agustus 2012

Ketika Hati Jungkir Balik

KETIKA HATI JUNGKIR BALIK
Gadis itu berlari sekuat tenaga mengejar ketertinggalan bus antarkota yang membawa sang pemuda, kekasihnya pergi jauh ke ibu kota. Gadis itu berteriak-teriak bak orang gila memanggil-manggil nama kekasihnya dan memintanya untuk tetap tinggal tapi bus itu melaju begitu cepat hingga ia musnah dari pandangan gadis itu. Gadis itu terjatuh bersimpuh menangis.
Yak, adegan di atas memang sebuah take adegan sinetron terbaru Vika. Vika Oen, artis pendatang baru yang tengah naik daun. Sinetron stripping, tiga kali menjadi video klip grup band ternama, model iklan sampo dan sabun mandi.
"Yak! Kita break dulu!" ucap sang sutradara. 
Vika segera mengambil posisi duduk yang nyaman untuk dia bersandar melepas lelah sebentar. Kemudian asistennya bernama Beby alias Bagas menghampirinya untuk  memberikan sebotol air mineral dan mengipasi Vika.
"Semangat bangkek hari ini, Cyin? Kalo iye gini terus pasti makmur deh, iye," celetuk Beby.
Vika tersenyum lebar. 
"Beb, abis gini temenin gue ke stasiun, ya?" pinta Vika usai menenggak air mineral dari botol di tangannya. "Jemput Farhan dari Surabaya, liburan dia ke sini," lanjut Vika sambil menenggak air lagi.
"APAHH??!!" seru Beby mengagetkan Vika hingga ia menyemburkan air dari mulutnya keluar. "Adik iye yang super duper ganteng macem Nadzar Rizky itu dateng ke sini??!!"
"Elo kira-kira dong, Beb! Gue jantungan gimana?" protes Vika menabok Beby. "Elo juga musti inget, gue haramin elo deket-deket Farhan. Maaf-maaf kata nih, Beb, adik gue punya orientasi seksual lurus. Pacarnya elo tahu, wuhh, super bohay ketimbang gue," tukas Vika pedas.
Beby mencibir. "Terserah iye bilang apa, deh, Cyin... yang penting gue bakal dandan sekece badai ketemu Farhan, hihihi,"
Vika mengalihkan pandangannya ke arah lain tersenyum asal. Apa pun usahanya untuk bisa menghentikan keinginan Beby, asistennya itu tak akan pernah gentar. Selalu maju, never give up. Tapi ia juga tahu pasti Beby hanya melakukan itu sesaat saja. It's mean hal serupa juga akan ia lakukan terhadap lelaki yang sama beningnya dengan adiknya. 
Sang sutradara beberapa menit kemudian menyapa Vika, memintanya untuk berkenalan dengan seseorang yang wajahnya begitu asing namun memesona segar bagi Vika, pun Beby.
"Hai, Vika!" sapa lelaki itu mengulurkan tangannya bersalaman dengan Vika.
Vika sigap membalasnya. "Hai, emmm..." Vika mencoba mengenali tapi tetap tak bisa karena ia memang tak pernah kenal sebelumnya.
"Edgar," sahut lelaki itu.
"Beliau putra sulung pak Edi yang akan menggantikan beliau memimpin  Citra Sinema," tungkas si sutrada menjelaskan. Citra Sinema, PH yang memekerjakan Vika sebagai artisnya. "Baru nyelesaikan studi  masternya di Boston," 
Beby ber-oh ria terkesima melihat anak bosnya. Mulutnya berkomat-kamit tak karuan memuji ketampanan lelaki tulen di depannya. Vika juga hanya ber-oh plus berusaha tersenyum manis. Senyumnya memang manis dengan lesung di kedua pipinya.
***
"Barang-barang elo banyak banget sih, Han!" keluh Vika membantu adiknya mengangkut tas dan kardus ke bagasi taksi. "Nggak lagi berniat migrasi ke apartemen gue, kan?" 
"Berisik lo Mbak! Itu tas isinya oleh-oleh dari mami. Segala macam masakan mami ada di situ, tuh, tuh, di kardus oranye itu. Terus tas kresek itu isinya segala macam keripik, keripik rambak, ketela ungu, pisang dan semuanya. Gue aslinya juga ogah, masa' cowok bawa ginian? Ribet! Tapi demi elo kakak tercinta, gue lakukan! Kalo enggak gue sudah dikira kurir pengantar barang!" celoteh Farhan merapikan barang-barang di bagasi. Usai itu dia dan Vika, termasuk Beby yang sedari tadi ngiler mandangin Farhan masuk ke dalam taksi.
"Mbak, temen lo itu udah disuntik rabies belom?" ucap Farhan di samping supir. Ia tak nyaman dengan tatapan Beby yang begitu bergairah. Sementara Beby tak jua urung mengalihkan pandangan. Ia bahkan seolah tak mendengar ucapan Farhan yang begitu menusuk telinga. Like sister, like brother. Dua bersaudara itu memang berbakat untuk menjadi kritikus atau bahkan penghina kelas ulung. Tapi sebenarnya mereka hanya bercanda. 
Setelah sedikit bercek-cok, taksi yang mereka tumpangi pun melaju menuju apartemen Vika. Sayangnya di pertengahan jalan, ada sedikit masalah menimpa taksi mereka. Taksi mereka bergesekan dengan sebuah mobil mewah keluaran pabrik mobil sporty dari Italia. 
Vika dan supir taksi keluar ketika mereka tahu pengendara mobil "lawan" keluar.
"Yang bener dong, Pak bawa taksinya!" protes salah seorang lelaki berkaus putih polos dan berkerah "V" menunjukkan sisi maskulin sebagian dadanya.
"Loh, Mas, mobil Mas duluan yang nyalip saya nggak aturan. Saya nyetirnya udah bener," sanggah si supir taksi.
Vika sibuk melihat seksama lelaki yang sedang mengomel itu. Sedetik kemudian ia terperangah. Lelaki ini!!
"Terus maunya gimana, Mas?" tanya Vika tegas.
Lelaki itu menoleh ke arah Vika. Dia juga tak kalah terperanjat dari Vika.
"Mau gue? Elo ganti rugi gesekan yang udah ngerusak cat mobil gue!" sahut lelaki itu.
"Oke, gue ganti. Nomor rekening elo berapa? Gue transfer habis ini,"
"Gaya bener lo!" ejek lelaki itu. "Oh, gue lupa, elo kan sudah jadi artis terkenal ya, jadi gunungan lembar rupiah elo juga banyak. Iya, iya, gue lupa," 
Vika menghujamkan tatapannya tajam ke arah lelaki itu.
"Sekalipun harus menguras tabungan gue, itu lebih baik ketimbang gue berurusan lama-lama sama lelaki busuk macem elo! Cepetan kasih tahu rekening elo!" Vika tak sabar ingin segera pergi dari hadapan lelaki ini.
Kemudian lelaki lain yang lebih rapi penampilannya muncul dan menyela pembicaraan mereka berdua. "Hei, berisik banget, sih?" tanya lelaki itu. Vika kedua kalinya kaget. "Loh, Vika!" seru lelaki itu. 
"Iya, Mas Edgar. Ada sedikit masalah," kata Vika.
"Oke, oke, Dit, mending diselesaikan secara damai, deh. Elo jangan suka main otot dan toak mulu, ya. Inget umur!" kata Edgar. "Lagian, masa' elo nggak  tahu, Vika ini artis PH kita. Kita tadi juga buru-buru, nggak bener juga jalannya. Jadi, bapak taksi nggak salah juga," Edgar berpihak pada supir taksi dan Vika.
Vika terhenyak. PH kita? Lelaki busuk yang dia sebut tadi siapanya Edgar? Edgar siapanya lelaki busuk itu? Kalau begitu, lelaki busuk itu ada kaitannya sama PH yang menaunginya? Vika menatap Edgar dan lelaki busuk itu ke kanan dan ke kiri bergantian.
Tanya Vika yang tergambar jelas dari raut wajahnya dijawab oleh Edgar. Edgar memerkenalkan lelaki busuk -demikian Vika menyebut- adalah adiknya, Radit.
Vika merasa kepalanya berkunang-kunang. Kenapa dunia ini begitu sempit? Radit, lelaki congkak teman SMA-nya dulu adik seorang tampan seperti Edgar dan anak dari Pak Edi, produser tersohor di negeri ini. Vika mau jungkir balik seketika untuk menyadarkan dirinya sendiri terhadap kenyataan yang ada tapi jelas itu tak mungkin.
***
Beberapa hari berikutnya di tempat syuting sinetron stripping Vika, Edgar berjalan ke arah Vika yang sedang break  syuting sembari membawa dua botol minuman isotonik. Ia menyapa Vika dan menyerahkan satu botol untuk Vika.
"Maafin Radit kemarin, ya? Dia aslinya baik, kok,"
Psstt!! Baik? 
"Tapi memang agak kekanak-kanakan,"
Asli. Dulu begitu dan kayaknya sekarang juga. Kemarin saja sikapnya nggak bijak banget, apalagi sama gue. Selalu nyolot. Dua lima tahun masih tetep gitu aja. Cih!
"Elo tahu nggak kita saudara beda ibu?"
Vika memutar kepalanya cepat ke arah Edgar. Dua alasan. Pertama, fakta yang memang mengejutkan. Kedua, Edgar begitu jujur membuka hal bersifat pribadi.
"Kita beda ibu tapi gue sayang banget sama dia," Edgar membuka lebih dalam tabir hubungannya dan Radit. "Dia anak kedua dari istri kedua papa dan didiagnosa sebagai anak dengan temper tantrum. Tahu kan, temper tantrum?" Edgar memandang Vika. Vika menggeleng tapi ia yakin pernah mendengar istilah itu. "Bukan masalah yang amat serius tapi memang merepotkan juga. Jadi, dia itu kalau ada mau harus segera dituruti, kalo enggak dia pasti marah-marah, teriak-teriak. Dan setiap kali pinginya nggak terpenuhi, dia bakal ngancem marah dan nangis kejer-kejer. Itu terjadi pas dia masih anak-anak dan berulang selama itu. Tapi katanya sih, seiring beranjak dewasa hal itu bisa saja menghilang tapi yah, gue mencoba meyakini. Tapi terkadang pribadi impulsifnya masih kelihatan. Dia juga nggak terlalu bagus kontrol emosi kalo sudah tersulut emosinya. Gue harap suatu hari ada yang bisa menjinakkan perangainya, hehehe,"
"Dikira hewan buas, dijinakkan? Hahaha. Ada-ada saja nih, Mas Edgar," tungkas Vika. Kemudian  ia tercenung. Temper tantrum? Hemm... mungkin... bisa jadi kelakuan nakal Radit ketika SMA itu salah satu gejalanya yang masih tertinggal. Atau mungkin saja bukan. Tapi beralih ke gangguan perilaku lainnya? Siapa yang tahu? Iya, Vika ingat pas SMA Radit dikenal sebagai siswa super nakal dari kalangan parlente. Bolos sekolah, tidur pas mata pelajaran berlangsung bahkan ketika ujian, suka ngerjain siswa-siswa minoritas semacam mereka yang kutu buku atau lebih terlihat pendiam mungkin lebih tepatnya suka nge-bully kali ya dan semua maunya harus dianggap perintah yang wajib dilaksanakan. Ekstrimnya dia tukang tawuran di luar sekolah. Ah, entahlah! Ada hubungannya atau tidak dengan keterangan Edgar, yang pasti di antara dirinya dan Radit telah terjadi suatu peristiwa yang tak bisa dimaafkan Vika begitu saja. Jengkel setengah mati. Ya terhadap dirinya sendiri, ya terhadap Radit.
"Oh, iya, katanya kalian saling kenal? Radit juga nyebut elo beruang buruk rupa, elo bilang dia lelaki busuk, bener? Kalian sudah kenal lama?"
"Lama, Mas!" seru Vika. "Dan amat mendalam!" lanjutnya berapi-api teringat jengkelnya pada Radit.
Alis Edgar terangkat sebelah.
"Lelaki busuk eh, maksudnya Radit itu... teman sekolah saya pas SMA di Surabaya sebelum  saya sempat pindah ke Banjar tahun berikutnya. Dia itu...  suuuupppperrr trouble maker! Dan satu hal yang nggak bisa saya maafin dari dia..." Vika hampir nyeplos begitu saja, seketika ia menghentikan ucapannya.
"Apa?" tanya Edgar.
Vika lekas menggeleng kuat-kuat dan meringis. Tapi Edgar terus mendesaknya dengan begitu halus tapi akurat tepat sasaran. Akhirnya, Vika menceritakan semua yang ia alami bersama Radit beberapa tahun silam
Vika merasa benar-benar dungu bisa menyukai lelaki tipe bad boy seperti Radit kala itu. Semata-mata karena aksi Radit itu begitu memesonanya. Ya, dirinya siswi yang tak pernah melanggar satu pun aturan sekolah yang menyukai siswa badung yang menentang semua peraturan yang ada. Kalau bukan orang dungu apa coba? Tapi itulah yang dirasakan Vika. Hingga akhirnya suatu hari Vika diam-diam menyelipkan sebuah puisi romantis untuk Radit. Tapi kejamnya Radit membacakan puisi itu di hadapan semua siswa seantero SMA ketika turnamen futsal berlangsung di gedung serba guna sekola mereka. Sontak wajah Vika memerah padam. Malu tak tertahankan dan amarah yang tak terperikan lagi. Plus luka yang menyayat hati ketika Radit mengolok-oloknya sebagai beruang buruk rupa. Semenjak itu rasa cinta Vika berputar 180 derajat berubah jadi benci. Sampai detik ini.
Edgar dan Vika impas. Edgar bercerita siapa dirinya, siapa Radit dan Vika membeberkan siapa dirinya hingga bisa mengenal Radit. Singkat cerita semenjak percakapan lebih dalam ini, keduanya semakin dekat.
***
Pagi-pagi sekali Vika mampir ke rumah Edgar sebelum berangkat syuting. Pastinya itu juga rumah Radit. Vika sengaja membawakan sekotak bubur untuk Edgar yang kabarnya sedang sakit. Keduanya sekarang rekan dekat, jadi Vika memberikan perhatian untuk rekan dekatnya itu.
Vika memencet bel tak jauh dari pagar rumah Edgar. Beberapa detik kemudian keluar lah Radit dari garasi dengan hanya mengenakan kaos dalam dan celana pendek dengan muka penuh oli, hitam-hitam. Ia mendorong pintu harmonika garasinya. Vika setengah menahan ketawa dan sempat berpikir gila,"Nih, orang sejak kapan jadi berotot bagus begini? Keren juga." Lalu Vika segera menggeleng-gelengkan kepala cepat membuyarkan pikiran konyolnya itu, sebelum Radit mendapatinya tengah mengaguminya.
"Elo?" tanya Radit. "Ngapain pagi-pagi ke sini?"
"Mau ngasih ini buat Edgar." Vika menunjukkan kotak yang dibawanya, mendekati Radit yang ada di ambang pintu garasi mobilnya. "Semalem dia bilang dia sakit, jadi gue bawain bubur buat dia." 
Radit menerima kotak kue itu dari Vika dan menaruhnya di sebuah kursi panjang di pinggir tembok garasi mobilnya.
"Perhatian banget? Lo lagi usaha cari muka di depan Edgar?" 
"Ih, biarin! Suka-suka gue, apa urusan elo?"
"Ngimpi lo!" Radit ketus sembari sibuk dengan mesin mobilnya.
"Kalo iya dia suka sama gue, gimana? Pada akhirnya elo harus terima,"
"Berisik lo beruang buruk rupa!" kata Radit membuat Vika kaget. Radit menatapnya tajam. "Mulut lo makin comel ya semenjak jadi artis! Butuh disekolahin, tuh!" Radit membuang obengnya kemudian menatap Vika. "Atau perlu gue yang nyekolahin tuh, mulut?" Radit mendadak menarik kepala Vika, mendekatkan wajahnya pada wajah Vika. Sepersekian senti jarak bibirnya dan bibir Vika, begitu dekat.
Vika beringsut segera, mendorong tubuh Radit menjauh.
"Gue nyesel pernah ngenal elo!" Vika bersuara lantang.
"Gue nggak ngelakuin apa-apa. Tapi nyaris, sih! Tapi gue nggak sebejat yang elo kira, beruang buruk rupa!!" Suara Radit meninggi, sementara Vika makin menjauh.
***
Pekan ini Edgar kembali sehat. Dia kembali beraktivitas di PH milik ayahnya yang sekarang ia kelola. Hari ini sinetron yang dibintangi Vika akan syuting di daerah pegunugan teh. Semua kru dan pemain pendukung sinetron itu segera berangkat pada sore harinya untuk beristirahat semalam saja sebelum esok harinya syuting. Edgar turun langsung memantau jalannya syuting yang ternyata menduduki rating tertinggi di hati penikmat tayangan sinetron di Indonesia. Radit juga ikut dalam rombongan ini. Meski tak terlalu terganggu dengan keberadaan Radit tapi setiap kali bertemu Radit, Vika tetap merasa tak nyaman bahkan merasa terancam. 
Dua hari berlalu.
Malam ini jam dinding menunjukkan pukul tujuh, hawa dingin sudah teramat menusuk tubuh-tubuh mereka yang bekerja malam hari, para artis, kru dan manajemen sinetron yang memasangkan Vika sebagai tokoh utamanya.
Syuting akan dimulai kembali sekitar pukul delapan. Vika menyempatkan diri beristirahat dan menghangatkan diri. Beberapa detik kemudian ia ke kamar kecil dan usai itu ia tak sengaja melihat dua orang lelaki tengah duduk bermesraan seolah tengah melepas rindu di sebuah gazebo. Vika mengucek-ucek kedua matanya. Benar kah yang dilihatnya dua orang sesama jenis?
Vika penasaran dan mencoba memastikan siapa dua lelaki itu. Dan ketika tahu salah seorang lelaki itu, Vika hendak berteriak tapi tiba-tiba sebuah tangan membungkam mulutnya dari belakang. Sosok itu segera menyeret Vika bersembunyi di balik semak-semak.
"Lepasin!!" pinta Vika meronta. Ia kemudian terbelalak ketika tahu itu Radit.
"Sssstttt, diem!!! Elo bisa ketahuan Edgar!"
"Iya, tapi nggak usah kayak gini, pakai nikem orang dari belakang! "
"Heheh, sori, sori, nggak sengaja. Jangan berisik! Ayo ikut gue!"
"Kemana?"
"Ah, selalu berisik lo, cepetan!"
"Dari dulu yang berisik dan badung itu elo, bukan gue. Gua paling diem dan patuh, tahu!"
Radit menyosorkan mulutnya. Vika tahu artinya dan segera menutup mulutnya erat-erat.
"Elo berisik, gue sosor lo!" ancam Radit.
Mereka berdua pun menyingkir ke tempat yang lebih jauh dari Edgar dan "pasangan"nya. Di dekat bawah temaran lampu taman, duduk berdua di sebuah bangku semen cukup untuk berdua.
"Mau ngapain lo di tempat sepi gini? Pasti elo punya niat jahat sama gue!" tuduh Vika.
"Parno banget sih, lo? Diapa-apain elo tetep beruang buruk rupa yang punya pantat segede beruang eh, salah panda kali ya yang super ge--"
Vika spontan menginjak kaki Radit. 
"Aduh! Sialan lo, nginjek-nginjek kaki. Jadi cewek jangan sadi-sadis, dong!"
"Gue? Sadis? Terus kata-kata elo barusan itu nggak sadis? Itu pelecehan! Seharusnya gue laporin elo ke komnas perlindungan wanita. Dari dulu harusnya,"
"Sori, sori,"
"Bisanya bilang sori. Apa upaya elo nebus kesalahan elo sama gue? Nggak ada,"
"Iya, gue ngaku salah. Puas?" Vika menggeleng mantab. "Gue salah keterlaluan sama elo. Makanya gue ngajak elo ke sini. Minta maaf, juga ngasih tahu bahwa yang elo lihat tadi adalah alasan kenapa elo sama Edgar itu nggak mungkin bersatu. Dia suka sesama lelaki,"
Vika terperanjat tapi tak terlalu seperti pertama mendapati Edgar tadi.
"Nggak mungkin. Mana mungkin?"
"Mungkin aja lah. Dia hidup lama di negara liberal. Kemungkinan bergaya hidup seperti itu besar banget. Dan itu sudah jadi kenyataan. Elo harus terima dan gue minta elo berhenti berharap sama dia,"
"Tapi masa nggak ada harapan?"
"Masih. Tapi bukan sama dia,"
"Sama siapa?"
"Sama gue. Hem?" tawar Radit sambil menaik-turunkan alisnya.
Vika tersenyum sadis. "Elo? Elo lupa elo pernah nolak gue sampai bikin malu gue di depan umum? Lupa lo? Kenapa sekarang elo niat banget sama gue?"
"Ya gue suka sama elo, gimana dong? Elo mau ngelarang? Ya gue tahu gue keliru dulunya tapi asal elo tahu pas itu gue nggak setulusnya mau ngehina elo. Gue nyesel setelah hari itu. Aslinya... elo nggak jelek-jelek banget, kok. Serius. Hanya saja perlu banyak permak, hehehe,"
Vika mendengus.
"Tapi nggak seharusnya elo bilang sebegitu menyakitkan di depan anak-anak, Radit...."
"Elo marah?" tanya Radit sembari memutar posisi tubuhnya menghadap Vika.
"Ya, iyalah gue marah!" balas Vika sambil menghindar dan salah tingkah.
"Maaf," suara Radit tampak tulus. 
Vika menatapnya dengan kedua mata yang siap merebakkan air mata.
"Rasanya belum cukup, Dit. Gue bener-bener malu waktu itu. Cowok yang gue sukai pas itu ngehina gue di depan banyak orang. Harga diri gue jatuh, Dit," Vika mulai berat bersuara. 
"Apa yang perlu gue lakukan untuk menebus kesalahan gue? Memulihkan rasa sakit harga diri elo?" tanya Radit menatap Vika lekat.
"Cukupkah ini..." Radit mengecup bibir Vika yang baginya menawan sejak dulu. Vika memasrahkan diri tak lagi meronta seperti di depan rumah Radit tempo hari.
"Sudah lebih baik?" tanya Radit melepas kecupannya.
Vika menggeleng lemah.
"Bukan ini, Dit. Tapi... tapi kenapa begini? Kenapa elo suka bikin hati gue jungkir balik, sih? Dulu elo nolak gue sekarang elo deketin gue,"
"Elo tuh, yang bikin gue jungkir balik saltoan. Gue nyesel pas itu ngehina elo. Walau dulu elo gendut, elo masih menawan aslinya. Sampai sekarang, elo menawan tak terbantahkan," tutur Radit. "Maafin gue ya, Vik? Please! Jangan bikin hati gue jungkir balik patah hati lagi, ya? Gue bener-bener nyesel ngatain elo beruang buruk rupa pas itu, sampai elo pindah sekolah gue nggak bisa maafin diri gue sendiri karena nggak sempet minta maaf. Sialnya awal kita ketemu setelah lama berpisah, gue belum bisa bersikap manis sama elo tapi gue pingin banget tapi gue bingung. Elo juga malah deket sama Edgar," ujar Radit meyakinkan Vika. 
Vika seolah terhipnotis. Radit menatapnya lekat jauh ke dalam. Radit mantab mengucapkan kalimat mujarab itu dan membuat hatinya luluh.
"Gue ralat, ya?" kata Vika. "Gue rasa ini cukup untuk tanda minta maaf." Vika memeluk  Radit erat. Selama ini ia memang memendam amarah tak terelakan tapi ia juga tak bisa berbohong ia masih mengharapkan Radit kembali padanya dengan kabar yang lebih membahagiakan. Mengembalikan hatinya ke posisi semula, tak lagi jungkir balik, tapi kembali merasakan cinta yang bersemi dan tumbuh subur meninggi. 
***