Kamis, 10 Mei 2012

cerpen "Cinta Rasa Bolu Uni"


Cinta Rasa Bolu Uni
    
“Kamu tahu nggak, Mister Oni tadi ngomel-ngomel di kelas Teori Organisasi? Gara-gara ada mas-mas disuruh maju ke depan ngerjain tugas yang mustinya harus sudah dikerjain eh, dia kagak bisa. Habis deh, kita sekelas. Akhirnya suruh nge-resume buku Te-O dari bab satu sampai bab sepuluh. Mampus melek di depan kompi itu!” cerocos Uni ketika dia dan Ema asyik nonton turnamen basket nasional.
Uni terus saja nyerocos tanpa mau melihat mimik muka Ema yang sudah geram menahan kesebalannya pada Uni yang hampir tidak pernah bisa santai sejenak meninggalkan kuliah. Dimana-mana selalu obrolannya berkaitan sama kuliah. Meskipun bukan selalu materi mata kuliah yang dibahas tapi tetap saja semua dunia kuliah dia ceritakan setiap kali keluar bareng Ema, kayak nggak ada pembahasan lain aja.
“Jadi, tadi di kampus tuh... ” belum selesai Uni berkata, Ema memotongnya.
“Uni, please yah...stop ngomongin kuliah di tempat semacam ini! Seneng-seneng sedikit kenapa, sih!!!” kata Ema dengan nada jengkel.
Uni bisu seketika.
Gue kan, emang nggak bisa diem. Lagian nonton pertandingan olah raga mana mungkin cuman diem. Hhhmm...atau memang gue aja yang selalu cari perhatian. Tapi, ya, emang itu! Gue pengen diperhatikan sama kayak elo, Ema, diperhatikan banyak cowok, banyak temen, banyak senior. Jadi, ya, ini cara gue nyari perhatian karena cuman dunia kampus yang gue tahu. Bukan seperti elo yang magang, yang ekstrakurikuler, yang organisasi di luar dan di dalam kampus.
Uni beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar arena pertandingan.
“Mau kemana loe?” tanya Ema.
“Toilet,” jawab Uni bohong. Ia sudah menahan air mata. Rasanya sakit dikatain Ema seperti itu. Mungkin Uni terlalu sensitif tapi baginya kata-kata Ema tadi menyiratkan bahwa Uni adalah orang yang membosankan, selalu merepotkan, selalu membuat jengkel dan banyak omong dan sok cari perhatian pastinya.
Uni berjalan menuruni anak tangga gedung arena itu dan berpapasan dengan tim basket idolanya yang akan bertanding setelah pertandingan yang sedang berlangsung selesai. Ia tak menggubris ketika salah seorang idolanya yang sudah sering chatting by facebook maupun YM menyapanya. Uni terus melangkah menundukkan kepala menuju area parkir. Rencananya ia ke toilet untuk menangis tapi rasanya dadanya sesak dan membutuhkan udara segar di luar. Tapi di tengah perjalanan ia menabrak seorang cowok ber-jersey angka 13 dan ternyata ia anggota tim basket idola Uni.
“Aduh!!” keluh Uni.
“Elu jalan pakai dengkul??!!” kata si cowok lantang.
“Sori, sori, Mas! Nggak sengaja,” sahut Uni.
“Makanya, punya mata difungsikan dengan baik!” lanjut si cowok ketus.
Uni menelanjangi sosok di depannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Si cowok cuman melotot sambil membenarkan tas ransel yang dibawanya.
“Kamu pemain baru, ya? Kamu yang namanya Koko Ran, kan??” tanya Uni sambil menunjuk-nunjuk muka cowok itu.
“Sok tahu!!” timpal cowok itu judes dan meninggalkan Uni begitu saja.
“Huuu...belagu banget! Awas kualat loe! Apalagi jersey elo nomor 13, angka sial, tuh!!!” teriak Uni tapi tak digubris cowok yang memang bernama Ran itu.
JJJ
“Ema, nanti nontong basket lagi, yok!! Abang gue main loh, Rio!” ajak Uni di tengah kuliah Psikologi Abnormal.
“Abang? Abang ketemu gede maksud loe?” kata Ema. Uni mengangguk.
“Sori, gue ada acara di PMI sama anak-anak,” kata Ema membuat Uni kecewa dan mulai berpikir keras bagaimana caranya bisa nonton tim basket favoritnya nanti sore.
Dan sore itupun tiba. Uni nekat naik angkot dan berganti bus kota untuk sampai di arena pertandingan basket nasional yang sedang diadakan di Surabaya itu. Sesampainya di sana, ia segera membeli tiket dan duduk manis bareng penonton yang lain. Dan ketika para penonton menyoraki tim basket kebanggaan Surabaya, Uni sendirian mendukung tim basket idolanya dengan doa. Uni gengsi besar kalo harus teriak-teriak kayak di hutan aja.
Uni dengan hikmat memperhatikan jalannya pertandinagn yang membuat timnya kalah 45-54 melawan tim kebanggaan Surabaya. Uni kecewa dan sedih kemudian segera keluar arena untuk menanti tim basket favoritnya keluar dari gedung pertandingan dan ingin memberikan support moral bagi tim itu. Tapi, tiba-tiba perutnya mules dan terpaksa buang hajat dulu.
Kurang lebih sepuluh menit berlalu. Uni segera menuju area parkir dimana para pemain menunggu bus yang mengantar mereka kembali ke hotel. Betapa kagetnya Uni di sana melihat Ema dan dua orang kawannya yang lain sedang asyik ngobrol sama Rio, betapa sakit hatinya Uni.
“Katanya nggak bisa nonton eh, sekarang ngecengin abang Rio lagi. Busuk banget sih, Ema!! Temen macem apa itu???!!! Tapi...gue juga sering ngrepotin dia suruh nganter kemana-mana, emang dia tukang ojek gue??? Sori ya, Ma...elo pantes bersikap gitu ke gue. Emang gue pembawa sial buat semua orang,” gumam Uni sambil memasang tampang manyun dan hati sedih kemudian dia membalikkan badan hendak pulang tanpa bertemu tim kesayangannya itu. Tapi ketika ia membalikkan badan ia menabrak orang lagi dan itu Ran!
“Elu lagi. Punya mata nggak sih, lu??!!!” suara Ran sewot.
“Sori...gue nggak sengaja,” timpal Uni.
“Alesannya nggak sengaja mulu!! Atau emang elu sengaja nabrak gue biar dapet perhatian dari gue kayak elu dapat perhatian dari Rio???!!!” tuduh Ran. Uni melotot pada Ran.
“Elo pikir gue jablay apa?? Hati-hati ya, elo kalo ngomong. Elo juga sih, pembawa sial! Angka punggung elo itu emang pembawa sial. Terima saja, hidup elo itu emang selalu sial! Buktinya elo tadi kagak menghasilkan poin satupun! Bahkan kalo gue perhatikan ya, selama elo main basket, elo itu selalu sial. Di tim elo yang dulu elo juga jadi cadangan doang, kan? Belagu banget sih, baru segitu aja? Elo belum jadi seperti bang Rio atau ko Denny Sumargo ya...belagu elo sudah selangit!” cerocos Uni memarahi Ran.
“Haasshh!! Kebanyakan ngoceh kayak beo lu!!” balas Ran.
“Terserah apa kata elo. Dasar koko-koko belagu. Semuanya sama aja, sok kecakepan!!! Oh, ya, satu lagi, ini kue dari gue tapi bukan buat elo tapi pemain yang lain. Jangan pernah makan kue buatan gue karena gue nggak akan rela hasil karya tangan gue dicicipin orang belagu macem elo!”
“Gue juga nggak sudi incip kue buatan cewek gila sok cari perhatian macem elo!!”
Keduanya saling membuang muka.
“Jangan lupa sampaikan ke pemain yang lain kue itu. Elo jangan makan!” kata Uni setengah berteriak tanpa memalingkan muka.
JJJ
Enam bulan berlalu. Turnamen basket nasional yang selalu ada setiap tahun di beberapa kota besar di Indonesia itu mencapai babak championship. Kebetulan tim favorit Uni lolos ke babak championship. Di awal-awal tim favoritnya bertanding, Uni nggak bisa memberi support langsung di lapangan karena ia sedang sakit thypus dan harus dirawat di rumah sakit. Tapi pada hari-hari terakhir penentuan 4 besar pada turnamen 2011 ini, Uni rela datang meskipun dia masih lemas setelah dua hari pulang dari rumah sakit. Ia juga masih sempat membuatkan kue bolu untuk tim favoritnya.Uni datang sendiri tanpa teman seorang pun. Ema sahabatnya pun sedang pergi ke Malang untuk acara diklat PMI di sana.
Uni menyaksikan perjuangan tim favoritnya untuk bisa lolos ke 4 besar. Tapi kesialan demi kesialan terjadi di pertengahan jalannya pertandingan. Tim lawan terlalu tangguh membuat poin tim Rio tertinggal jauh. Rio sendiri harus cedera tangan ketika sudah quarter 3. Padahal dia kunci penting keberhasilan banyak poin yang dicetak timnya. Ran turun lapangan dengan kondisi yang tidak fit karena sempat demam beberapa waktu lalu. Kekhawatiran sempat meliputi perasaan Uni. Tapi...akhirnya bintang cemerlang lain, Leo turun lapangan sekalipun ia belum sembuh seratus persen dari cedera kakinya beberapa bulan lalu. Dan Leo inilah Rio ke-2 di timnya. Leo mulai mengejar ketertinggalan dengan kegesitannya dan kelihaiannya mencetak poin dan menggagalkan lawan setiap kali hendak memasukkan bola ke ring. Dan end of the game, tim favorit Uni menang 85-71 atas tim lawan. Uni berteriak histeris meneriakkan nama tim idolanya. Setelah itu, Uni segera keluar ke tempat dimana ia menunggu tim idolanya keluar dan menunggu bus mereka. Beberapa menit kemudian keluarlah Leo dan diikuti pemain yang lain tapi Rio dan Ran belum terlihat.
“Mas Leo...keren banget tadi. Sumpah...keren banget kalian semua!!! Selamat yah....” seru Uni menyambut Leo. Leo tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas dukungan Uni selama turnamen season 2011 ini. Walau terbilang fans baru, tapi bagi Leo dkk, support Uni sangat bermanfaat untuk mereka.
“Oh, iya, ini kue buat kalian,” kata Uni sambil memberikan kue buatannya pada Leo.
“Buatan kamu lagi?” tanya Leo. Uni manggut-manggut tersenyum bangga.
Tiba-tiba kue yang dibawa Leo diserobot Ran.
“Mana bolu gosong kapan bulan lalu itu? Masa’ bolu kayak gini dikasihin kita?? Mau ngracuni kita apa?” celetuk Ran setengah mengomel pada Uni.
“Gosong gimana? Kok, bang Rio dan Mas Leo nggak bilang apa-apa, ya? Hey, Mas Edo, boluku gosong yang waktu itu?” tanya Uni memastikan tuduhan Ran pada pemain lain. Tapi, Edo dan Leo justru cengar-cengir.
“Malah cengengas-cengenges. Nggak gosong, kan? Emang sih, waktu itu trial and error gitu tapi gue nggak mungkin salah masukin kue lah...” jelas Uni.
“Emang gosong, Ni. Maaf. Kalau kita bilang nanti kamu sakit hati. Jadi, waktu itu kita makan kue dari temen kamu,” kata Leo.
“Temenku??” tanya Uni.
“He-em. Ema,” jawab Edo.
“APA????!!!!” teriak Uni.
“Heh!! Sopan sedikit, dong! Teriak di deket gue lagi,” protes Ran.
“Oh, sori-sori, kelepasan. Tapi, dijamin ini nggak akan gosong. Lihat aja dan rasain pasti enak. Kalau begitu, aku permisi dulu, ya?”
“Oh, iya, Ni, muka kamu pucet banget, yakin nggak apa?” tanya Leo.
“Oh, nggak apa, Mas. Permisi ya, semua. Dan elo, minggir sedikit kenapa, mau lewat, nih!” kata Uni menegur Ran.
“Silakan tuan putri jablay..” kata Ran menyindir dan tersenyum kecut.
“Sekali lagi elo bilang gue jablay, gue sumpahin sial seumur hidup loe!” ancam Uni.
“Dasar jablay!” balas Ran.
Uni segera berjalan menuju halte dan pikirannya berkecamuk tentang Ema yang tega menyakiti dia dari belakang.
Ya, itu memang hak dia juga sebagai fans tapi waktu itu dia ngebohonginn gue katanya nggak nonton eh, tiba-tiba nongol ngobrol sama bang Rio sampai-sampai gue nggak berani nyamperin bang Rio gara-gara takut dibilang sialan Ran itu, j.a.b.l.a.y! Ih, ogah! Trus pakai ngasih kue buat anak-anak yang lain lagi. Hadeuhh...temen makan temen banget sih, itu orang. Oke, elo emang lebih cantik, lebih kaya, lebih multitalent dibanding gue, Ma. Tapi elo terlalu tega sama gue. Sejahat-jahatnya gue ke elo dengan manfaatin elo jadi tukang ojek gue, gue kagak pernah berusaha nikem elo dari belakang.
Saat menunggu bus kota di halte, tiba-tiba Uni merasa perutnya sakit bukan main hingga membuatnya membungkuk-bungkuk. Dan tak sengaja Ran dan kawan-kawan melewati halte bus itu untuk pergi makan malam di rumah makan cepat saji dekat gedung turnamen basket berlangsung. Ran yang menyadari kondisi Uni yang kesakitan segera menghampiri Uni.
“Kenapa lo cewek jablay??” tanya Ran khawatir begitu juga pemain yang lain.
“Gue...gue...” tak sempat meneruskan kata-katanya, Uni keburu pingsan membuat semua kelabakan. Kemudian mereka membawa Uni ke rumah sakit terdekat.
JJJ
“Gue dimana?” tanya Uni yang baru saja sadar dari pingsannya.
“Rumah sakit. Elo pingsan tadi,” jawab Ran yang sendirian menjaga Uni sampai siuman.
“Kok, elo ada di sini?”
“Eh,..anu...uhmm...ee, ya, kebetulan tadi gue nemuin elo pingsan di halte. Nyusahin orang aja, sih! Kita semua jadi bingung tadi! Dasar jablay!” kata Ran yang salah tingkah harus beralasan apa hingga akhirnya dia malah ngomel.
Uni pun mencubit tangan Ran sampai kemerah-merahan dan Ran pun menjerit kesakitan.
“Apa-apaan sih, loe?! Ditolongin bukan terima kasih malah nyubit lagi!” kata Ran.
“Elo sih, cari gara-gara mulu,” sahut Uni.
“Kalo ada apa-apa sama elo, gue yang khawatir bukan main!” kata Ran keceplosan.
“Apa?”
“Eh, maksud gue, ya tadi, gue dan temen-temen yang susah,”
“Sudahlah koko Ran...heheh..aneh manggil koko padahal setahu gue umur kita nggak beda jauh. Jujur aja deh,...”
“Jujur soal apa?”
“Masa’ gue cewek yang harus memperjelas? Cowok apaan tuh, cemen bilang suka!”
“Siapa yang suka sama elo??? Ge-Er banget jadi orang!”
“Salah, ya? Sori, deh! Emang gue nggak pernah bisa meraih perhatian orang lain, apalagi cowok. Nggak kayak Ema, tahu kan, Ema yang dibilang Mas Edo dan Mas Leo tadi di arena turnamen? Dia cantik, pinter, punya banyak relasi, nggak pernah ngegrecokin orang, sama sekali berbeda dari gue. Hhassshhh, apaan sih, gue, bisa cerita mellow gini? Sori,” tutur Uni sambil matanya berkaca-kaca.
“Hash??? Kok, elo ngucapin itu? Elo ikut-ikutan gue, ya?” protes Ran.
“Enak aja ikut-ikutan. Gue sering gini dari SMA kali!” sahut Uni.
“Gue dari SMP malah,”
“Tapi yang pasti kita nggak pernah satu sekolah, kan???” ucapa mereka berdua bersamaan. Kemudian mereka terdiam sejenak.
“Gue cinta sama elo !” celetuk Ran.
“Apa??!!”
“Semenjak Rio sering cerita siapa elo dan gue tahu twitter elo, lalu ketemu elo pertama kali enam bulan lalu dan mencoba kue bolu buatan elo yang enak itu,”
“Apa?”
“Apa-apa. Nggak ada siaran ulang!”
“Kuping gue juga masih berfungsi normal ko Ran. Iya, gue juga sayang sama elo,”
“Apa?”
“Apa-apa. Nggak ada siaran ulang! Semenjak pertengkaran itu, gue tertantang ngerjain elo eh, nggak tahunya malah luluh juga,”
“Luluh karena ketampanan gue, kan?” kata Ran membanggakan diri.
“Apa?”
“Apa-apa. Nggak ada siaran ulang!” kelakar mereka berdua.
“Jadi, bolu gue nggak gosong, kan, waktu itu?” tanya Uni mengingat nasib bolunya enam bulan lalu.
“Dilibas abis sama anak-anak bahkan coach Arif juga ketagihan! Hahaha...” kelakar Ran.
“Besok-besok gue buatin lagi, deh!” janji Uni.
“Jangan! Buatin spesial buat gue aja. Mereka nggak usah. Keenakan mereka dong, ngincip kue buatan pacar orang,” jelas Ran.
“Pede banget, sih, Mr. Jersey tiga belas pembawa sial...hahahah...”
Dan semenjak itu Uni dan Ran jadian, saling mengisi satu sama lain sekalipun harus long distance relationship. Kue bolu buatan Uni itulah yang membuat Ran semakin jatuh hati pada Uni. Dan cinta mereka berdua semanis bolu buatan Uni.

JJJ




cerpen "Lelaki Pemuja Rahasia Widi"


Lelaki Pemuja Rahasia Widi
      
Widi berebut masuk bus patas jurusan Blitar-Surabaya dengan belasan penumpang lain yang memiliki tujuan yang sama dengannya. Setelah bersusah payah masuk ke dalam bus, ia harus berdiri berdesak-desakan dengan penumpang lain.
“Katanya kalo patas antarkota nggak sama dengan bus ekonomi. Ini lebih parah dari ekonomi. Sabar deh, Wid! Yang penting keangkut,” kata batin Widi sambil memasang tampang pasrah.
Kondisi yang berdesak-desakan membuat Widi sesak nafas dan salah seorang lelaki yang duduk di sampingnya mengetahui itu.
“Mbak, Mbak bengek’an, ya? Sini Mbak, duduk di tempat saya aja,” kata lelaki itu.
Tanpa pikir panjang Widi menuruti kata-kata orang itu. Walau aslinya dia kagak bengek’an tapi ia memanfaatkan sekali kesempatan itu.
“Mbak nggak bawa obat asma?” tanya lelaki itu. Widi menggeleng kuat dengan berakting sesak nafas.
“Tenangin diri dulu aja, Mbak! Ambil nafas dalam-dalam dan perlahan keluarkan,”
Elo pikir gue mau ngelahirin, pake’ ambil nafas dalam trus keluarin pelan-pelan. Sudah ngatain gue bengek’an! Tapi, makasih tempat duduknya. Sudah cakep,baik lagi!
Membutuhkan waktu kurang lebih tiga setengah jam untuk sampai di Surabaya dari Pare, sebuah kota kecil di Kabupaten Kediri. Dan hampir selama itu pula, Widi berakting jadi orang bengek’an. Entah sudah persis atau belum tapi hal ini menguntungkan dirinya untuk tidak lelah-lelah berdiri dari Pare ke Surabaya. Tapi, itu juga berkat lelaki yang menganggapnya kena asma tadi.
Sesampainya di terminal Purabaya-Surabaya, Widi segera bergegas menuju parkiran bus kota untuk menuju kost-nya. Tiba-tiba, lelaki yang baik hati tadi menegurnya dari belakang.
“Sudah sehat, Mbak?” tanya lelaki itu.
“Ehm, sudah, Mas! Sudah lebih baik daripada tadi. Terima kasih banyak lho, tadi nawarin tempat buat saya. Entah gimana saya harus membalas kebaikan Mas,” kata Widi basa-basi padahal hatinya ogah ketemu orang itu lagi, takut ketahuan kagak punya asma.
“Membalasnya pakai kenalan aja, ya?” kata lelaki itu. Widi mengernyitkan dahi.
Akhirnya mereka berdua berkenalan dan lelaki yang bernama Edwyn itu selalu memancing pembicaraan basa-basi, membuat Widi mulai eneg. Widi cuman cengar-cengir mendengarkan Edwyn nyerocos tanpa henti. Dan ketika hendak naik bus kota, barulah Edwyn berpamitan pergi. Widi menarik nafas lega.
JJJ
Keesokan harinya di kampus, berita bahagia datang pada Widi.
“WIDIIIIIII..............!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Nika, sahabatnya.
“Apaan sih, lo? Teriak-teriak kayak di hutan aja?” protes Widi.
“Nama elo keterima magang di lembaga psikologi favorit di kota ini! Selamat ya...” kata Nika bersemangat sambil mencubit pipi Widi.
“Yang bener lo?” tanya Widi tak percaya. Nika hanya mengangguk kuat. Dan mereka saling histeris berpelukan.
Semenjak saat itu, kesibukan Widi bertambah. Selain kuliah dan berorganisasi di Badan Eksekutif Mahasiswa, dia juga magang di lembaga psikologi milik seniornya yang sudah tersohor namanya kemana-mana. Meskipun harus pulang-pergi naik angkot tapi Widi tetap bersemangat menjalani semuanya.
“Semua demi masa depan cerah!” gumam Widi suatu kali.
Mulanya kehidupannya di tempat magang tenang-tenang saja tapi beberapa minggu kemudian semuanya menjadi menyebalkan. Ia bertemu lagi dengan lelaki baik hati waktu di bus dulu. Dan kali ini benar-benar menyebalkan.
“Kamu juga sih, Wid, nggak ngecek dulu cetakan yang mau ditempel. Jadinya pak Edwyn marah-marah besar. Ya, gitu deh, orang itu perfecto sekali, cerewet juga pastinya!” kata Ratna, teman magang Widi yang lain.
Widi hanya menghela nafas panjang tanda sebal karena semua orang menyudutkannya karena salah tempel pengumuman. Ia juga tak menyangka, Edwyn yang dikenalnya waktu di bus yang ternyata jadi bosnya sungguh 180 derajat berbeda.
JJJ
Keesokan harinya ada briefing untuk psikotes seribu calon karyawan sebuah bank swasta keesokan harinya dan Widi datang terlambat. Briefing itu dipantau oleh Edwyn yang kebetulan sedang tidak mengajar kuliah waktu itu. Ketika Widi masuk dan meminta maaf, Edwyn buka suara.
“Cukup sekali ini kamu telat untuk acara akbar seperti ini. Kamu pikir kita sedang main-main?? Sekarang cepat duduk dan ikuti briefing yang ada!!” bentak Edwyn membuat Widi keder.
Beberapa waktu berlalu, Widi bisa menarik nafas lega usai briefing berakhir dan Edwyn pergi keluar makan siang.
“Sialan bener sih, pak Edwyn itu. Songong banget jadi orang. Mentang-mentang dia dosen, manager di sini, pinter ini dan itu trus seenaknya aja marah-marahin orang. Aku ini sudah berusaha sebaik mungkin, selalu aja ada yang salah!” omel Widi ketika duduk bersama dengan Ratna di ruang tunggu.
“Lalu apalagi yang akan kamu katakan tentang saya?” suara Edwyn yang tiba-tiba berdiri di belakang Widi. Widi langsung mati gaya.
“Jaga kelakuan kamu di sini kalau tidak mau saya keluarkan dari sini!” tegas Edwyn sembari pergi dari hadapan Widi.
Nyali Widi semakin ciut sekaligus sebal minta ampun.
JJJ
“Widi! Widi! Ada yang nyari!” teriak teman satu kost Widi.
“Siapa?” tanya Widi.
“Entahlah!” sahut temannya.
Widi segera pergi ke ruang tamu melihat siapa yang bertamu. Sesampainya di ruang tamu, Widi kaget bukan main.
“Maaf, mengganggu malam-malam. Saya minta maaf soal tadi siang di kantor,”
“Nggak masalah kok, Pak!”
Kemudian keduanya duduk dan saling terdiam.
“Widi...saya..saya...ingin mengatakan sesuatu untuk kamu,” celetuk Edwyn.
“Silakan!”
“Saya cinta sama kamu!” kata Edwyn membuat Widi dua kali kaget.
“Kamu ingat mawar dan coklat yang sering kamu terima waktu SMA dulu? Itu dari saya,” lanjut Edwyn.
“Kok, bisa?”
“Retha adik saya, sahabat kamu, kan?”
“Iya. Tapi, Retha kan, nggak punya kakak?”
“Saya kakak sepupunya. Saya tahu kamu dari Retha. Semenjak itu saya menyukai kamu tapi karena saya harus kuliah ke Jakarta, saya kesampingkan perasaan itu dan berjanji akan menjemput kamu bila suatu saat kamu belum menjadi milik siapapun. Dan keberuntungan sekali bagi saya bertemu kamu di bus waktu lalu dan kamu magang di tempat saya kerja. Sekarang saya bertanya pada kamu, bagaimana dengan kamu?”
“Ehm, bagaimana, ya?” sahut Widi bingung. Ia memang sempat jatuh hati dengan sosok abstrak waktu SMA itu. Ia sempat berjanji pada diri sendiri jika bertemu dengan sosok pemuja rahasianya itu, ia akan menerima orang itu menjadi kekasihnya. Dan sekarang ia bertemu dengan orang itu. Tapi dengan kondisi yang rasanya tiba-tiba, rasanya aneh.
Widi perang batin dalam hatinya dan pikirannya bergelanyut bimbang menerima cinta Edwyn atau tidak. Dan akhirnya, “Iya. Saya terima cinta Pak Edwyn,” kata Widi tersenyum.
“Panggil saja Edwyn. Terima kasih memberi saya kesempatan membina hubungan dari perasaan yang saya jaga bertahun-tahun yang lalu. Saya sayang sama kamu sampai kapanpun,” kata Edwyn sembari mengenggam erat jemari Widi.
JJJ


Kamis, 18 Maret 2010

cerpen "Topi untuk Denny"


Topi untuk Denny

Sudah terhitung delapan bulan sampai sekarang, Ami cinta mati sama seniornya bernama Denny. Walaupun nggak secakep Denny Sumargo tapi kharismanya jadi ketua BEM fakultas Ami kuliah, bikin hati para kaum hawa kebat-kebit. Walau Ami termasuk di dalamnya namun ia tak seberani cewek-cewek lain untuk pedekate. Teman untuk jadi mak comblang aja dia nggak punya.
“Kalau kamu diem terus, nanti Denny melayang kayak cowok lain yang kamu incer lo!” kata Fima, sahabat Ami.
“Masa’ aku nyamperin duluan?” tanya Ami ragu.
“Why not?” balas Fima.
“Tapi, aku takut dia berpikir aku cewek ganjen,” timpal Ami.
“Hello…ini zaman sudah super duper maju. Sudah nggak ada lagi cewek cuman duduk manis dan menunggu ada pinangan cowok. Cewek punya hak untuk mencari dan memilih. Mau kamu jadi perawan tua kalau diem terus???” cerocos Fima, Ami menggeleng kuat.
“Makanya, jemput pangeran kamu di “pintu gerbang”!” tambah Fima.
“Apa aku harus nurutin sarannya Fima, ya? Lagipula tak ada salahnya kalau memulai dengan pertemanan?” gumam Ami di dalam kamar sambil melototin hapenya setelah sebelumnya ia terngiang dengan percakapannya dengan Fima tempo hari.
Ami memulai saran Fima untuk pedekate pada Denny. Tanpa berbohong siapa dirinya, ia mengajak Denny berkenalan lewat facebook dan SMS. Denny membalasnya dengan perlakuan yang baik tapi itu hanya di dunia maya. Di dunia sebenarnya, mereka tak saling sapa. Trik pedekate kucing-kucingan ini berjalan beberapa minggu yang pada mulanya baik-baik saja. Tapi, hingga suatu saat komunikasi lewat dunia maya ini terhenti begitu saja. Tak pernah ada balasan wall dan SMS dari Denny untuk Ami. Untuk sementara, Ami berpikir mungkin Denny tengah sibuk dengan organisasinya yang sedang menghadapi event-event besar fakultas. Tapi untuk selanjutnya, Ami berubah pikiran. Denny pasti sebal padaku.
“Nggak mungkinlah mas Denny begitu! Mungkin dia emang sudah bosan kalau terus berkomunikasi lewat dunia maya. Sudah waktunya kamu show up, girl!” tutur Fima saat Ami menyatakan bahwa Denny pasti sudah berpikiran dia cewek agresif dan sok kenal, sok dekat.
“Aku masih belum berani nyapa langsung, Fim,” kata Ami.
“Mau sampai kapan menunda cinta?” tanya Fima.
“Aku malu,” jawab Ami.
“Masalah BB alias berat badan lagi? Tampang nggak kece? Adeeeuuuuhhhh..plis ya…malu dong sama umur kalau terus nggak pede. Kamu itu sudah remaja akhir yang harusnya mulai menemukan jati diri. Kaya aku dong, pede-pede aja dengan kulit item dan rambut kribo. Jadinya kayak Shania. Cintai aku lagi…seperti waktu itu…tak bisa kuhindari…hati selalu merindu,” cerocos Fima dengan lagu penutup dari Sania, Cintai Aku Lagi.
“Nglawak aja kamu!” kata Ami sambil menyemburkan air minumnya dengan sedotan ke muka Fima.
Usai mengisi perut di kantin, Ami dan Fima segera pergi mencari topi buat Denny yang tiga hari lagi ulang tahun ke-21. Merupakan ciri khas ketua BEM satu ini, memakai topi dimanapun dan kapanpun. Makanya, Ami berniat menghadiahinya topi. Sekaligus terbesit pemikiran Ami untuk memberikan kadonya sendiri pada hari H Denny berulang tahun.
ÞÞÞ
“Ini aja Fim, warnanya cerah. Mas Denny kan, putih bersih,” kata Ami menunjukkan sebuah topi berwarna merah cerah pada Fima.
“Eh, jangan! Yang gelapan dikit, yang netral. Masa badan warna cerah kasih aksesoris cerah? Kalau sudah cerah kasih dong yang gelapan. Biar match, adil gitu ceritanya,” kata Fima. Dan akhirnya Ami mengiyakan kata sahabatnya.
Saat asyik melihat-lihat barang di toko mereka berada, tiba-tiba tak sengaja Fima menabrak seorang cowok dan itu Denny! Kebetulan banget. Hati Ami spontan deg-degan bukan main. Dia berusaha mengalihkan pandangannya.
“Hai, mas Denny! Kebetulan banget yah, ketemu di sini,” kata Fima sambil menyenggol Ami yang tak mau bertatap muka dengan Denny.
“Iya, kebetulan banget, yah? Ngapain?” tanya Denny balik.
“Ini cari…” belum selesai Fima menyatakan sesuatu, Ami menginjak kaki Fima.
“Aduh! Oh, cari syal tapi nggak ketemu. Ya, sudah, kalau begitu, kami pulang dulu, ya? Mari,” kata Fima sambil menyeret Ami.
“Fim, jangan lupa, Jum’at datang ke rumah. Ada syukuran kecil-kecilan,” teriak Denny kala Fima sudah agak jauh berjalan. Fima hanya cengengas-cengenges mengacungkan jempol tanda ‘iya’ dari kejauhan.
“Kok, kamu nggak pernah cerita kalau keluargamu dan keluarga mas Denny kenal deket?” tanya Ami penuh selidik.
“Heheheh…maaf! Kamu nggak tanya, sih!” jawab Fima nyengir kuda. Ami membalasnya dengan bibir manyun.
“Ah, sudahlah! Yang terpenting adalah tadi dia curi…curi-curi pandang sama kamu!” sambung Fima sambil bernyanyi lagu Naif, Curi-curi Pandang dan mengerling-ngerlingkan matanya pada Ami. Ami pun tersipu.
“Tanda bagus , tuh!” tambah Fima.
“Mudah-mudahan. Tapi aku masih takut nyapa dia,” kata Ami.
“Tenang, ada Fima gitu loh!” balas Fima sok superhero.
ÞÞÞ
Malam tasyakuran ulang tahun Denny datang juga. Ami yang sengaja diajak Fima datang memilih tinggal di rumah karena sejak tadi siang ia merasa asmanya sedikit kambuh. Mungkin kelelahan karena kemarin dia sibuk menebar poster seminar ke beberapa tempat di Surabaya. Ia pun menitipkan kado buat Denny pada Fima. Malam itu, Ami hanya berdua dengan pembantunya karena orang tuanya pergi ke Bandung menjenguk neneknya yang sakit. Tapi bukannya si pembantu, bi Sumi menungguinya eh, justru pacaran sama satpam rumah sebelah. Dan sialnya saat malam semakin membawa udara dingin yang menusuk, Ami tak dapat lagi menahan asmanya yang kambuh. Tersungkurlah dia di lantai kamarnya.
“Malam ini adalah malam paling berbahagia bagi keluarga kami karena anak kami, Denny Fajar Sumargono dan Fima Arisanti akan bertunangan malam ini bersamaan dengan ulang tahun Denny,” tutur ayah Denny yang disambut gemuruh tepuk tangan para hadirin yang datang. Rona kebahagiaan juga terpancar dari wajah Denny dan Fima.
“Kenapa kamu tega nyakitin aku, Fim?” gumam Ami dalam ketidaksadarannya. Ia pingsan untuk beberapa waktu. Untung bi Sumi langsung tahu kalau Ami pingsan dan langsung menelepon dokter keluarga Ami dan Fima.
“Ami, Ami, Ami…ini aku, Fima,” kata Fima khawatir.
Lalu Ami pun sadar. Ia melihat banyak orang di sekitarnya. Kedua orang tua Fima, Fima, dokter Fadli dan Denny.
“Kenapa semuanya ada di sini?” tanya Ami yang masih linglung.
“Kamu itu bodoh banget, sih! Sudah tahu asmanya agak kambuh dari tadi siang kok nggak check up? Kita kan, khawatir,” omel Fima.
“Kan, sudah ada obatnya, Fim,” timpal Ami.
“Tapi, kalau sudah pingsan gini? Susah juga, kan?” balas Fima.
“Maaf buat semuanya jadi nyusahin dan ngebatalin acara pertunangan Fima dan mas Denny,” kata Ami sembari tertunduk kepalanya.
Tiba-tiba Fima tertawa disambut senyum semuanya.
“Ada yang salah?” tanya Ami mengangkat kepalanya.
“Tunangan apaan?? Wah, ini nih, efek cinta terpendam. Makanya to neng,neng, kalau cinta ungkapin aja! Ini sudah ada orangnya,” kata Fima sambil mendorong Denny lebih dekat dengan Ami. Kemudian semua orang keluar.
Suasana hening sejenak karena baik Denny maupun Ami masih kikuk.
“Thanks ya topinya. Bagus,” celetuk Denny memecah kebisuan sambil menyentuh topi yang dipakainya yang merupakan kado dari Ami.
“Sama-sama,” balas Ami.
“Kenapa kamu nggak pernah nyamperin aku di kampus?” tanya Denny membuat tenggorokan Ami tercekat. Ia tak tahu harus beralasan apa.
“Aku…aku…aku takut aja mas Denny cuek,” jawab Ami terbata-bata.
“Mana mungkin aku cuek sama orang yang selama ini peduli sama aku?” kata Denny tersenyum.
“Boleh aku duduk deket kamu?” tanya Denny disambut anggukan Ami.
“Boleh megang tangannya?” tanya Denny lagi. Dengan tersipu malu Ami mengiyakan.
“Aku minta maaf kalau beberapa waktu terakhir ini aku nggak pernah bales SMS kamu. Sengaja. Aku pengen membuktikan apakah kamu akan terus berjuang untukku dan nyamperin aku langsung. Aku nggak mau hubungan kita cuman di dunia maya karena aku sudah nyaman denganmu. Aku ingin semuanya lebih dari yang sudah kita jalani,” tutur Denny. Ami terdiam
“Dengerin aku baik-baik karena aku nggak akan mengulanginya! Aku-cinta-kamu,” kata maut keluar dari mulut Denny. Mengingat cerita Fima tentang Denny yang sulit jatuh cinta, sudah bisa dipastikan Denny serius dengan ucapannya. Tanpa pikir panjang, Ami langsung mengiyakan ucapan Denny sebagai tanda ia menerima cinta Denny.
“Non, bibi minta maaf sekali sudah ninggalin non Ami! Maafin bibi, ya? Jangan kasih tahu bapak sama ibu!” pinta bi Sumi sambil nangis-nangis asal masuk kamar Ami. Ami dan Denny tak menggubrisnya karena Denny tengah hikmat mengecup kening Ami. Bi Sumi yang kemudian menyadarinya bergumam, ”Andai bang Sapri begitu sama saya…terasa indah dunia,”, tiba-tiba Fima menarik bi Sumi keluar dengan paksa.
“Gangguin orang pacaran aja,” kata Fima.
“Kan, bibi pengen juga kayak non Ami,” kata bi Sumi.
“Ngayal aja kerjaannya!” kata Fima ketus.

ÞÞÞ

Selasa, 28 Juli 2009

cerpen "Cinderella Kesiangan"


Cinderella Kesiangan

Jam di tangan Mira menunjuk pukul sembilan malam. Larut memang, tapi Mira masih berada di perjalanan menuju pulang ke rumah. Ia baru saja pulang memberi les privat pada seorang siswa SMP.
Mira pulang jalan kaki menuju kostnya. Membutuhkan waktu dua puluh menit untuk sampai kostnya. Ketika sedang santai berjalan, tiba-tiba ada segerombolan orang yang berlari-lari menuju ke arahnya sambil berteriak,”COPET! COPET!”. Dan salah satu dari mereka yang ada di barisan paling depan -nampaknya orang itu yang menjadi sasaran pengejaran- menabrak Mira dan menyerahkan sebuah dompet dengan paksa padanya. Mira bingung. Si pencopet lolos, Mira yang jadi tersangka.
Sekuat tenaga Mira mengelak tapi orang-orang tak percaya. Hingga Mira digiring ke pos satpam terdekat.
”Maling mana ada yang mau ngaku?!” seru si empunya dompet.
“Mas ganteng, harusnya mas dan semua yang ada di sini jeli dan inget gimana ciri-ciri pencopetnya. Dan harusnya mikir pakai otak, mustahil dong, kalau saya pencopetnya terus ketangkep basah mau nyerah gitu aja. Tolol itu namanya!” jelas Mira membela diri.
Suasana riuh menuduh Mira bersilat lidah. Kemudian pak satpam meminta Mira menunjukkan kartu identitasnya. Dikeluarkanlah Kartu Tanda Mahasiswanya.
“Mbak ini kan, mahasiswa universitas ternama, jadi ngaku sajalah kalau berbuat salah. Kita bisa bertindak halus kalau mbak mau ngaku, tapi kalau nggak urusannya tambah ribet,” kata si satpam.
“SAYA BUKAN PENCOPET!!!” teriak Mira.
“Ehm…gini pak, kita selesaikan dengan cara damai. Saya juga nggak punya banyak waktu ngurusin hal kayak gini. Biarin pencopet kelas teri ini lepas, yang penting dompet saya balik,” tutur si empunya dompet berubah pikiran yang awalnya ngeyel pengen Mira diadili secara hukum sekarang ‘melepaskan’ Mira begitu saja.
“Saya bukan copet! Budeg ya?!” cela Mira.
Akhirnya perkara selesai. Mira pulang dengan muka sebal. Pengen nangis rasanya karena baru sekali ini dalam seumur hidup dia dituduh mencopet padahal bukan dia pelakunya.
ÿÿÿ
“Kenapa muka kamu ditekuk-tekuk gitu?” tanya Ony, sahabat Mira yang juga teman satu kostnya.
“Sial bener nasibku tadi malam. Masa’ aku dituduh mencopet?” dumel Mira.
“HAH?! Gimana ceritanya?” tanya Ony penasaran. Dan Mira pun mulai bercerita panjang lebar tentang kejadian semalam.
“Hehehe…lagi apes aja kamu, Mira! O, iya, lusa jangan lupa ketemu direktur operator seluler ‘Sinyal Lancar Terus’ buat ngajuin proposal dana acara festival pendidikan dan kebudayaan kita dua bulan lagi,” jelas Ony.
“Kok, aku?”
“Kan, ketua kamu terkapar di rumah sakit. Jadi, kamu sebagai wakil yang harus mewakili. So, jangan banyak bicara!”
“Iya,” sahut Mira berat hati.
Usai mengisi perut yang tak diisinya sejak pagi, Mira dan Ony siap mengikuti kuliah Asas-asas Manajemen atau Asmen. Saat asyik ngobrol dengan Ony, datanglah dosen baru yang beberapa hari terakhir banyak diperbincangkan para mahasiswi, m-a-h-a-s-i-s-w-i. Kenapa? Karena menurut kasak-kusuk yang beredar, dosen muda baru ini, kerennya minta ampun. Vino G Sebastian lewat.
Si dosen masuk dengan menebar senyum pada seluruh penghuni kelas dan saat pandangannya jatuh pada satu orang di kelas itu, senyumnya spontan musnah.
“Selamat siang, Saudara-saudara?” sapa si dosen.
“Siang…” sahut seisi kelas termasuk Mira yang ikut bersuara dengan malas, padahal mahasiswi yang lain terkagum-kagum melihat dosen itu.
Dia sibuk membenahi tali sepatunya dan saat kembali ke posisi duduk semula, Mira ternganga melihat siapa dosen barunya.
“Mampus riwayat gue,” gumam Mira.
“Kenapa?” tanya Ony sambil menyenggol Mira.
“Ah, nggak apa,” jawab Mira nyengir kuda.
Si dosen mulai memperkenalkan diri kemudian mengabsen satu persatu mahasiswa yang ada. Dan tibalah Mira dipanggil.
“Mira Arumitasari,” panggil si dosen yang bernama Wendha.
“Iya, saya!” sahut Mira tak ramah. Wendha hanya tersenyum sinis.
ÿÿÿ
Mira telah menunggu selama lebih dari dua jam untuk bertemu direktur utama sebuah operator seluler ternama di Indonesia. Mira nyaris menyerah tapi justru di puncak keputusasaannya itu yang bersangkutan datang dari meetingnya di luar kota. Kemudian Mira bergegas menemui orang tersebut tapi sial, ternyata orang yang harus dihadapinya adalah orang yang bermasalah dengan dirinya beberapa hari terakhir ini. Mulanya Mira berniat undur diri saja tapi mana sopan. Akhirnya dengan berat hati, Mira memasang tampang ramah di depan dirut perusahaan operator selular yang tajir itu.
“Siang, Pak!”
“Siang. Silakan duduk! Ada perlu apa?” tanya si dirut secara beruntut. Ternyata dirut itu adalah Wendha, dosen barunya. Mira pun mulai menjelaskan maksudnya bertandang ke kantor Wendha.
Sejenak setelah membaca proposal dari Mira….
“Proposal macam apa ini??!! Anggaran dananya saja nggak rasional! Nama saya saja salah ketik. Becus nggak sih, kalian kerja? Niat nggak??!!” bentak Wendha sembari melemparkan proposal ke arah Mira.
Mira memendam amarah yang tak kalah hebat. Dengan berat hati, kata maaf meluncur dari mulut Mira. Kemudian Mira pamit pulang.
ÿÿÿ
Hidup Mira terasa di neraka saat kuliah semenjak Wendha mengajar di kelasnya. Nyaris setiap hari ia bertemu dengan Wendha dengan segala triknya untuk bisa menjatuhkan Mira. Semuanya membuat Mira stress, belum lagi persoalan tugas kuliah yang kian hari kian menumpuk. Alhasil, asmanya kambuh dan terpaksa ia dirawat di rumah sakit. Saat terbaring lemah di rumah sakit, datanglah Wendha dengan tampang sok perhatian.
“Ngapain bapak ke sini?” tanya Mira ketus.
“Ternyata wonderwoman bisa sakit juga,” sahut Wendha.
Wonderwoman bisa sakit kalau dipukul tangan besi!” timpal Mira dengan menyebut panggilannya untuk Wendha.
“Sudah jadi kewajiban saya sebagai dosen mengarahkan mahasiswa saya menjadi lebih disiplin. Terserah kamu, stay di kelas saya atau keluar. Mudah kan?” jelas Wendha.
Mudah apanya? Sama-sama nggak menguntungkan buat gue!
“Ke poinnya aja deh, Pak! Bapak mau apa ke sini? Bapak tuh, kerjaannya selain jadi dosen dan dirut perusahaan ternyata suka bikin apes saya!” tuduh Mira.
“Saya nggak bikin kamu apes!” elak Wendha.
“Kamu aja ke-geer-an!” tambah Wendha.
“APA??!! Saya geer sama bapak? Untungngnya nggak ada,”
“Nilai Asas Manajemenmu E!”
Mira diam sejenak ingin merengek agar Wendha tak melakukan itu tapi gengsi dong.
“Barusan bapak bikin saya apes! Bapak itu maunya apa, sih? Masalah dompet tempo hari? Saya sudah bilang kan, saya bukan pencopet. Atau masalah proposal yang nggak bener? Iya, itu memang salah saya. Atau masalah baju bapak saya tumpahi kuah bakso lusa kemarin? Itu salah bapak sendiri, jalan nggak pakai mata!” todong Mira dengan berbagai pertanyaan.
“Kamu nggak pernah berubah, ya dari dulu. Tetap Mira yang mudah marah dan volume suara yang nggak bisa pelan. Cinderella kesiangan,” kata Wendha mengagetkan Mira. Mira mengobrak-abrik memori otaknya dengan paksa, segera. Hanya Arman, masa lalunya yang memanggilnya begitu.
“Kenapa, cinderella kesiangan?” tanya Wendha sekali lagi yang menyadari Mira tengah bengong.
Jangan-jangan dia mas Arman gembulku dulu.
“Nih!” kata Arman memerlihatkan bekas luka akibat pecahan kaca di leher bagian belakang.
“Mas Arman??!!” seru Mira bahagia lalu memeluk Wendha alias Arman.
“Aku kangen sama mas Arman,” tambah Mira.
“Apalagi aku,” sahut Wendha.
Keduanya melepas rindu dan saling berbagi cerita setelah nyaris lima belas tahun berpisah begitu saja. Dan mereka menghabiskan waktu berdua untuk selanjutnya.
ÿÿÿ
“Jangan capek-capek!” nasihat Wendha saat Mira sibuk menjadi panitia festival pendidikan dan kebudayaan.
“Siipp,” sahut Mira mengacungkan jempolnya.
Keromantisan mereka semakin terlihat saat Wendha bersama band yang beranggotakan dosen-dosen muda yang lain menyanyikan lagu milik Numata yang berjudul Pesona. Lagu itu jelas-jelas ditujukan pada Mira, membuat Mira malu setengah mati di hadapan teman dan para dosennya yang lain. Semenjak itu, kisah cinta mereka berdua bak dongeng di dunia Cinderella bersepatu kaca. Tapi…Cinderella kesiangan!
“BYYUUURRRR….!!!” suara guyuran air membasahi tubuh Mira yang tengah pulas tidur.
“HUAAAA….!!” Teriak Mira bangun kelabakan.
“Ony, tega banget, sih?” keluh Mira.
“Gimana nggak tega kalau kamu setengah jam lagi harus konsultasi proposal penelitian sama pak Wendha! Molor mulu!” omel Ony.
“Aduuh, kenapa sih, gue selalu berurusan sama dosen baru sialan itu? Nggak kuliah, nggak permintaan dana festival, nggak proposal penelitian. Adeuh…bisa-bisa asma gue kambuh karena kelakuannya yang aneh-aneh. Hhhrrrggghhh….,” omel Mira.
Ternyata cuma mimpi. Dia bukan mas Arman.
Ony memercikkan air ke muka Mira karena ia menyadari Mira tengah melamun.
“Mandi, cepetan!” suruh Ony.
“Iya, iya, mandi!” sahut Mira sambil beranjak dari tempat tidur.
ÿÿÿ