Jumat, 20 Januari 2017

Day 3 #10DaysKF: Sebutkan 5 Hal Yang Ingin Kamu Capai Di Tahun Ini


Hari ke-3 #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge, yuhu ~~~

Kali ini diminta menyebutkan 5 hal yang ingin saya capai di tahun 2017. Lima aja, ya? Nggak bisa lebih? Hahahha... 


credit: dribbble.com


Well, saya pengen... 


1. Jalan-jalan ke Semarang, Bandung, dan Bali. 
credit: traveliscolour.com

Semarang, soalnya udah janji sama 3 temen di sana untuk main. Bahkan janjinya ada yang dari setahun lalu. Huhu. 

Bandung, ada janji juga kepengen ke sana. Pengen ngerasain Bandung lebih dari sekadar PKL zaman kuliah. Haha.

Bali... pengen tahu sebagus apa sih, Bali yang sering muncul di TV dan diceritain temen-temen. Mwehehehe.


2. Nulis novel lagi & lolos seleksi redaksi penerbit mayor.
credit: joylovelyjoy.wordpress.com

Semenjak #DistanceBlues, belum nulis lagi. Menyedihkan! 😢

Sudah ada 10% gambaran tapi selalu kena malas. Parah!

Pengennya tahun ini nulis terus lolos seleksi redaksi penerbit. Perkara terbit tahun ini juga atau tahun depan wallahi. Pokoknya pengen lebih ngeluwesin kemampuan nulis fiksi. 


3. Nurunin 5 kilogram berat badan.
credit: giphy.com

Semenjak hidup di Jogja, berat badan membengkak, hwaaaaa... Minimal 5 kg aja dululah... Yang penting sehat pola kehidupan sehari-hari.

Selama ini doyan makan sama tidur. 😂  Kopi sama teh, apalagi soda hampir nggak pernah. Tapi kalau gorengan sama yang manis-manis, juga pedes, nggak bisa lepas. Olahraga juga jarang. Huhu.

Dan poin pentingnya, pengen sehat lahir-batin. 😉


4. Ketemu calon suami.
credit: blog.boundless.com

Ahai bener ya nih kepengenan #4. Hwahahaha. 20 sekian tahun, temen udah pada nikah, bahkan udah punya momongan. Banyak yang udah S2 dan melanglang buana ke berbagai negara. Saya?

Tapi saya tetap senang dengan pencapaian saya sekarang ini. Mungkin jalan saya memang butuh waktu, bukan masalah. Dengan begitu saya bisa menghargai yang saya punyai.

Sebetulnya nggak ngebet nikah cepet juga. Udah dari dulu pengennya, sekolah yang bener, dapet kerjaan yang mantep, terus nikah. Tapi setelah dijalani, dijalani, dijalani... seakan saya nggak punya kendali soal jodoh.

Perkara jadi pinter, nilai bagus, dapet kerjaan sesuai kepengenan itu terasa seperti di dalam kendali, walau memang Tuhan penentu. Tapi soal jodoh, rasanya Tuhan punya kendali penuh.

Wallahi... pengennya membuktikan kembali bahwa...


Tuhan akan mengikuti prasangka hamba-Nya, meski butuh waktu dan pengorbanan

Bukan masalah, selama ini saya sudah menjalani beberapa bagiannya. 😊



5. Punya e-paspor dan motor sendiri.
credit: cermati.com

Ya, ya, ya. E-paspor buat kalau sewaktu-waktu siapa tahu bisa ke LN. Pokoknya punya dulu. Mau ke mana, urusan belakangan. Hahaha. 

Motor... emmm... sebetulnya nggak nyangka sih, akhirnya saya bisa naik motor. Ya, walau matic, itu prestasi 2016 yang nggak terduga, lho. 😇

Saya pikir, bisa naik motor adalah salah satu wujud kemandirian buat saya. Saya nggak perlu nebeng temen, minta anter temen, apalagi ngojek. Bahkan kalau perlu tuh motor saya buat jalan-jalan ke mana aja. Ahai! 😃

Bismillah... semoga tercapai... Tertulis di sini, diikat di langit, Tuhan mengijabah. Aamiin.

Kamis, 19 Januari 2017

Day 2 #10DaysKF: Sebutkan 3 Hal yang Kemungkinan Besar Akan Membuatmu Histeris


Oke, hari ke-2 disertai harapan semangat konsisten ikutan #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge. 😊

Tema kali ini tentang hal yang mungkin bikin histeris.

Sejauh ini saya nggak pernah histeris, sih. Orang darah A, sebergejolak apa pun, rasanya kaget pun tampangnya tetap terkendali. Betul nggak? 

Kalaupun sampai saya histeris bisa jadi itu akibat....


1. Ketemu idola. 

Saya bingung sekarang mengidolakan siapa, ya. Secara umur dewasa muda, namanya idola udah nggak bikin histeris saat masih usia remaja, kan ya. 

Tapi sih, kalau bicara idola saya sekarang ini adalah pilot-pilot pesawa tempur AURI. 😍

Sebetulnya kagum sama pilot pesawat tempur AURI tuh sejak SMP apa ya. Tapi nggak pernah kesampaian ketemu. Kediri jauh dari pangkalan militer TNI AU. Adanya di Malang, Madiun, Solo, sama Jogja. Jadi, udah perlahan biasa begitu aja.

Nah, saat "terlempar" hidup di Jogja, bener-bener anugerah! Soalnya bisa deket sama markas TNI AU. Bahkan momen paling nggak terlupakan adalah bersalaman dan foto bareng pilot pesawat tempur pada pertengahan Desember 2015 lalu. Pulangnya, semua temen sekantor diceritain. Cerita sama orangtua dan kedua adik kayak orang lagi kasmaran. Itu prestasi! 😂

Bahkan sekarang ketika bepergian ke arah Solo, pulangnya diusahakan lewat kawasan Berbah, Jogja. Soalnya ngelewatin pintu belakang Akademi AU, Paskhas, sama perumahan TNI AU. Buahahaha. Agak 'sinting' ala remaja gitu, ya? Yasudahlah, ya ~~~ 


2. Ketinggian atau aktivitas pemacu adrenalin yang melibatkan ketinggian.
credit: allthesherlockgifs.tumblr.com

Saya sih, nggak punya trauma sama ketinggian, ya. Tapi dulu kerap banget mimpi kayak mau jatuh dari ketinggian. 

Katanya, dilihat dari sisi psikologi, itu adalah representasi alam sadar/kenyataan yang mana saya nggak bisa/belum bisa mencapai sesuatu yang dipengen akibat rasa takut menuju poin tinggi/kesuksesan dan sejenisnya itu.

Ya, bisa jadi begitu. Saya merasa ada hambatan yang bikin apa yang saya pengen nggak segera tercapai. Belum lagi ada rasa takut. Namun sekarang, perlahan apa yang saya mau ada di tangan. Saya merasa, mimpi itu nggak pernah lagi datang.

Sayangnya sih, kalau sama ketinggian dalam arti sebenarnya masih keder. Naik pesawat oke, sih karena berada di dalam ruangan. Naik Gunung Purba Nglanggeran, Jogja, bisa. Tapi kalau suruh naik tangga berundak puluhan bahkan ratusan anak tangga yang mana kanan kiri seakan nggak ada pembatas, kalau ada pembatas seakan nggak kokoh, atau pemandangannya langsung lepas jurang, duh... matur nuwun. Saya jaga kandang aja.

Bukan histeris lagi, bisa pingsan kalau udah keder. Eh, tapi saya seumur-umur belum pernah pingsan, sih. Nggak berdoa pingsan juga, kok. Hohoho.


3. Dilamar. 💖
credit: teen.com

Sori, pamit ketawa dulu. 😁

Saya nggak yakin juga bakal histeris atau nggak ketika dilamar. Tapi boleh juga tuh histerisnya ditahan dulu ke puncak bukit atau pantai terus teriak sekeras-kerasnya. Yeah, yang berharga memang datengnya butuh waktu dan pengorbanan #uhuk.

Rabu, 18 Januari 2017

DAY 1 #10DaysKF: Jelaskan Bagaimana Tipe Kekasih yang Kamu Dambakan




Uyeah, dapet kabar ada tantangan menulis 10 hari, rasanya terlecut semangat nulis lagi. Walau tiap hari kerjaan nulis juga, tapi beda rasanya kalau ini soal apa yang menyangkut pribadi 😄 #hawahawanarsisterdeteksi #ups.

Soalnya awal tahun 2017 ini bertebaran tantangan menulis 30 hari. Saya yang lemah iman takutnya nggak konsisten. #payahahtin 😄


Well, kali ini saya terima tantangan #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge ya.




Kekasih dambaan saya itu... menilik kembali ke masa lalu, ya. Pertama kali saya suka cowok itu zaman SD. Sama kakak kelas, beda dua tingkat. Selanjutnya sama cowok yang usianya ummm... 15 tahun lebih tua kali ya. #gubrakk! #seriously


Terus selanjutnya tergila-gila sama Mas-Mas Sheila On 7, terus akhirnya ke karakter Adit di film legend Eiffel... I'm In Love yang diperankan Samuel Rizal.


Nah, pada intinya... bisa ditarik kesimpulan, cowok idaman saya adalah sebagai berikut:

1. Lebih tua dan dewasa.
credit: moustacheluke.tumblr.com
2. Jutek-jutek ngegemesin bolehlah asal sense of humornya dapet 😉
credit: cumicumi.com

Mau cerita lagi ngefans sama prajurit AURI terkhusus pilot pesawat tempur, nanti dibilang terlalu picky sama cowok. #tsah.


Tapi semakin bertambah usia, perkara tampang memang bukan tolok ukur utama. Hohoho. Saya lebih memilih cowok yang...



3. Karismatik. Soalnya, ganteng belum tentu karismatik, kalau karismatik pasti ganteng. #ehem
credit: popsugar.com

Selanjutnya, selain soal agama (kenapa jadi bawa agama ya? emm... soalnya kekasih di sini udah ngarah ke serius sih pengennya #eh), yang WAJIB dipunya kekasih dambaan adalah...

4. Sayang dan cinta sama keluarga saya, 'emas' dan 'borok'nya, dia kudu nerima. 😇


credit: tenor.co
5. Bersedia saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain.
credit: thoughtcatalog.com

Jiah... ini lebih ke pengumuman kriteria suami yang saya cari nggak, sih? Apalah saya ini 🙈


Ya, siapa tahu apa yang tertulis bisa jadi salah satu doa yang diijabah. Aamiin 😉


Sekian...


=========


NB:


Dear, kamu yang jadi jodoh saya...


Semoga nggak mengumpat-umpat apa yang saya tulis ini. Mau berbangga diri silakan, semisal memang cocok sama kamu. 😄



Sabtu, 22 Oktober 2016

Menilik Rumah Sendiri (Sekaligus Kenalan Sama 'Penghuni' Baru)




Menilik rumah sendiri.

Demikian aku kasih judulnya. Pasalnya udah lamaaaa banget nggak menilik blog pribadi ini, apalagi 'bersih-bersih' dan menambah 'penghuni' baru. #tampardirisendiri

Setelah dilihat waktu terakhir posting ternyata Desember 2015 lalu. Hampir setahun! Pemalas sekali diriku ini, ya. Xoxoxo.


Well...  lama banget pengen nulis random. Yup, selama ini isi blog ini juga random, sesuai yang pengen ditulis :D

Kali ini pengen ngasih kabar bahwa Maret 2016 lalu satu novel dengan nama Agustine W telah terbit. Berkat bimbingan dengan salah satu editor DIVA Press, akhirnya novel fiksi tersebut bisa lahir juga ke dunia. Fasilitas bimbingan ini juga ditawarkan setelah ikut Kampus Fiksi reguler. Terima kasih nggak terhingga untuk keluarga DIVA Press :)

Seneng banget! Ya, impian bikin nama abadi (aamiin) terwujud. Berharap banget novel dengan tema Long Distance Relationship (LDR) dan Gangguan Obsesif-Kompulsif tersebut bisa menghibur dan bermanfaat buat kamu yang baca. Gimana ceritanya?

Berikut ada review dari temen-temen yang udah baca:




"Kadang saya kesal membaca novel ini dan rasanya pengin nyemprot Elmi, "Oi, Mbak, nyantai dikit napa, sih?!", saking gemasnya akan cara pikir OCD Elmi. Tapi saya angkat jempol buat penulisnya. Pasalnya, gangguan psikologis tokoh utamanya berhasil digambarkan sedemikian detail dan terasa nyata, jadi pembaca bisa merasakan sendiri betapa ribetnya isi otak Elmi dan, bisa jadi, merasa kesal seperti saya. Konflik yang menghampiri hidup tokoh utamanya membangun alur dengan apik. Saya lega karena penulis menyelesaikan konflik-konflik yg dibuatnya secara dewasa dan nggak jadi nge-drama queen. Ending yang heartwarming dan melegakan." -  Frida -

"Sejujurnya, saya paling menghindari cerita orang ketiga. Rasanya nggak tega banget melihat hati seseorang hancur karena orang lain, meskipun itu tokoh fiksi. Terlebih, orang ketiga itu bagi saya pribadi berarti merusak hubungan orang lain dan rasanya … kayak nggak ada yang namanya kesetiaan dalam cinta. Untungnya, Distance Blues ini menghancurkan ketakutan saya. Saya suka bagaimana penulis mengeksekusi masalah demi masalah yang dihadapi Elmi dengan dewasa. Sesuai untuk usianya. Terlebih terkait isu orang ketiga ini.
“Aku nggak mau curiga sama pasangan sendiri. Bukankah sesuatu itu terjadi karena pikiran kita yang mengendalikan? Kalau pikiran kita negatif, ya kejadian yang menimpa kita negatif.” (h. 29-30)
Akhir yang dipilih penulis juga bagi saya pilihan yang baik. Suka sama eksekusi problema orang ketiga dalma hubungan Elmi ini. Cocok banget buku ini dibaca mereka-mereka yang tengah menjalin LDR. Mungkin hubungan Elmi bakal membantumu. X) - Wardahtuljannah -

Selain itu, beberapa waktu setelah dikabarin buku keluar, dengan senang hati minta tolong beberapa temen untuk bantuin promo dan giveaway novel. Moga mereka juga seneng :D. Berikut link review mereka:



Nah, rencananya pengen banget dalam waktu dekat bikin giveaway lagi dengan bonus berikut ini: 


A photo posted by agustine w (@agustine_w) on



Mau???

Kapan dan dengan siapa bakal kerja sama? Kita tunggu kabar baiknya, yaa :)